Rabu, 09 Oktober 2019

KRISTOLOGI

KRISTOLOGI

Pdt MSM Panjaitan, MTh

Pendahuluan
            Kristologi berasal dari kata Yunani  “CristoV” (Christos)  yang artinya Kristus, dan “logoV”  (logos) yang artinya ilmu atau studi yang rasioanl mengenai …. Dalam ilmu teologi, Kristologi berarti  studi mengenai aajaran tentang Kristus, yang terpusat mengenai kehidupan, pribadi, karya dan leilahianNya.  Kristologi mempelajari tentang Yesus yang dinyatakan  nubuatan kemesiasan, inkarnasi,  pelayanannya sebagai nabi, Imam dan Raja. Kristus berusaha menunjukkan bahwa Allah hadir dan bekerja dalam Yesus, perantara manusia dan Allah.
            Pengertian “pengantara” terdapat hampir dalam semua agama. Semua agama membutuhkan pengertian tentang manifestasi dari kehadiran dan kuasa yang konkrit dari Tuhan Allah, dan proses dari pengantaraan (mediation) di antara Tuhan Allah dan makhluk manusia. Semua agama mengerti bahwa tanpa sesuatu bentuk pengantaraan di antara Allah dan manusia, hubungan manusia dengan Tuhan Allah menjadi tidak mungkin, dan oleh karena itu agama tidak berarti.
            Paul Tillich mengatakan bahwa di dalam dan di antara agama-agama ada dua ‘contrary pulls”  atau daya tarik yang saling  berlawanan yaitu:
1.      Faktor atau unsur yang membutuhkan Tuhan Allah dalam ke Mahakuasaannya, dalam TranscendenceNya, dalam Kemuliaannya yang jauh malah tidak ada perbantingannya dengan alam semesta.
2.      Faktor yang membutuhkan Allah yang selalu hadir secara konkrit dalam alam semesta, dalam hidup manusia, yang menjadi dasar dan penyokong segala sesuatu yang konkrit ada , dan yang dapat dibicarai dan dapat didengar.

Faktor yang pertama itu memang perlu untuk menyanggupkan  kita untuk menghormati, memuja dan mematuhi Tuhan Allah. Dan faktor yang kedua itu diperlukan untuk mempunyai Allah yang dapat menyentuh (mangantoi) kehidupan manusia.
Tetapi ada bahaya, yaitu apabila faktor yang pertama terlalu ditekankan oleh satu agama sehingga faktor kedua itu tidak nampak, maka keilahian dari Allah menjadi sesuatu fikiran filsafah saja dan tidak dapat dicapai oleh permohonan-permonohan kebutuhan manusia. Dan apabila suatu agama menekankan faktor kedua sehingga faktor nomor satu tidak jelas maka segala macam dari “idolatrous deification”  (penyembahan berhala) bisa terjadi. Penyembahan berhala adalah penyembahana  akan hal-hal yang konkrit misalnya: patung, tugu, manusia yang didewakan. Dan kita melihat segala agama di luar agama Kristen jatuh ke dalam bahaya yang memberikan tekanan yang terlalu berat kepada salah satu dari faktor yang dua itu.
Bahaya ini dapat diatasi hanya dalam adanya pengantara dari Allah dan manusia. Di dalam pengantara yang demikian ke dua faktor itu mendapat pemenuhan yang sama, karena di satu pihak Dia adalah Allah Yang mahakuasa (memenuhi faktor pertama),  dan karena Dia manusia (memenuhi faktor ke dua). Dari pengatara yang “truly God and truly man”itulah yang dapat menjadi pengantara yang sesungguhnya. Dari sinilah kelihatan keunikan dari agama Kristen, yaitu dengan adanya pengajarannya tentang “Kristus Pengantara”. Dalam diri Kristus Allah tetap “transcendens”, Tinggi dan Mulia; tetapi pada waktu yang sama dalam diri Kristus, Allah itu menjadi konkrit, immanent, ada di tengah-tengah kita, menyokong hidup kita dan memenuhi kebutuhan kita.
Memang pengajaran tentang Mesias yang tersalib adalah kebodohan bagi orang-orang Yunani (orang-orang kafir), dan juga kepada penganut agama yang bersifat mistik, karena bagi mereka Tuhan Allah tidak mungkin masuk dalam sejarah dan karena itu tidak mungkin didapati dalam sejarah. Tetapi bagi orang-orang Yahudi juga soal Mesias yang tersalib adalah menjadi batu sandungan (skandalon), karena walaupun bagi orang-orang Yahudi Tuhan Allah hadir dalam sejarah manusia, bagi  mereka seseorang pilihan Allah tidak mungkin dapat hidup sengsara dalam bentuk yang sangat hina. Bagi mereka kepercayaan akan Mesias yang tersalib hanya mengotori Kemuliaan Allah itu sendiri.
Ide tentang pengantaraan  Tuhan Allah yang Maha Agung secara konkrit di dalam dunia manusia terang sekali didapati juga di dalam agama Budha. Pengertian mereka tentang Allah mencakup 3 pengertian, yakni:
1)           Buddha-buddha  sorgawi (heavenly Buddhas)
2)           Buddha-buddha yang ada dalam sejarah, pemberi ilham kepada manusia atau sumber ilham bagi manusia.
3)           Boddhisattwas  yaitu buddha-buddha yang datang dalam bentuk manusia untuk meneguhkan kebenaran-kebenaran dan memeliharanya.
Ketiga pengertian ini sebenarnya adalah satu kesatuan, tidak terpisah satu sama lain.

Agama Hindu juga mempunyai pengertian yang hampir sama, yaitu dengan adanya  pembedaan mereka akan tiga oknum dari Allah (catatan: Budha dan Hindu sebenarnya tidak ingin memmpergunakan istilah Allah), yaitu:
§  Brahma sebagai pencipta
§  Wisnu sebagai pemelihara
§  Shiwa sebagai pembinasa
Mereka mengharapkan dengan pembedaan tugas dari satu-satu oknum dewa tertentu, kebutuhan mereka akan prinsip yang kekal  yang dapat menjadi konkrit dapat dipenuhi.
Filsafat Neo-Platonisme juga membutuhkan pemikiran yang sama; itulah sebabnya mereka membedakan “World- mind” (dunia fikiran) dan "World- soul" (dunia jiwa) dan menempatkan adanya persimpangan antara world-soul dengan  individual souls.  "World soul" itulah yang menjamin kekonkritan dari world mind yang sebenarnya tidak konkrit.
Judaisme sebebanarnya dalam menekankan transendensi Tuhan Allah juga membutuhkan pengertian tentang campur tanganTuhan Allah yang demikian di dalam hidup sehari-hari. Itulah sebabnya dalam pengajaran mereka sangat penting  pengertian tentang malaekat-malaekat, hikmat, firman, dan roh Tuhan. Dan sebagai puncak dari pengantaraanTuhan Allah yang transcendence  itu ialah datangnya kelak  “Anak Manusia” yang akan datang dari sorga langsung dengan pemuh kemuliaan seperti diungkapkan dalam  Daniel 7. Dan sebelum Anak Manusia itu datang, Torahlah yang berfungsi sebagai pengantara sementara dari tuhan Allah dengan manusia.
Agama Kristen menuntut dan memberitakan bahwa kebutuhan seluruh manusia akan kekonkritan dari Tuhan Allah yang Maha Tinggi dapat dipenuhi, hanya dalam pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus. Inilah dasar kita membicarakan Kristologi.

1.            Pekerjaan Yesus Kristus

Kita lebih dulu membicarakan pekerjaan Yesus Kristus dari pribadi Kristus oleh karena pribadi seseorang dapat dikenal dari pekerjaannya. Memang gereja mula-mula sangat benar sekali di dalam membicarakan pekerjaan Yesus Kristus lebih dulu dari pada pribadinya; tetapi di dalam perkembangan  dogmatik Kristen banyak sekali pengaruh-pengaruh metaphysika Yunani. Dan oleh sebab pengaruh-p[engaruh metaphysika ini dogmatika Kristen lambat laun membicarakan pribadi Yesus Kristus lebih dulu dari pada pekerjaannya. Oleh karena kita ingin mengenal pribadi Yesus yang sesungguhnya, baiklah kita lebih dulu membicarakan soal pekerjaannya. Terlebih-lebih oleh karena Tuhan Allah sendirilah yang bekerja dalam pribadi Yesus.
Gelar-gelar yang dikenakan kepada Yesus Kristus menunjukkan pekerjaan Allah di dalam dirinya:
Gelar  CristoV  (Kristus) menunjukkan pekerjaan merajai dari pihak Tuhan Allah diatas bumi.  Gelar “Anak Allah” menunjukkan suatu jawatan pekerjaan. Dan janganlah kita menafsirkan istilah Anak Allah secara metafisis atau secara biologis. Memang filsfat Yunani dari dulu kala berusaha menafsirkan istilah  Allah secara metafisis yang biologis. Dalam pengertian Kristen gelar ini selalu menunjukkan bahwa Allah mempercayakan segala kekuasaan pemerintahannya hanya kepada Yesus Kristus. Mazmur 110 yang juga memakai sebutan Anak Allah ini tidak pernah ditafsirkan oleh orang Kristen secara metafisis. Gelar  KurioV  (Tuhan), juga menunjukan jabatan pekerjaan, karena  Kurios itulah Tuhan dari gereja (suatu jawatan kekuasaan yang ada hanya dalam tangan Tuhan Allah saja. Gelar  “Immanuel”, yang sebenarnya berarti “Allah ada bersama kita”, juga menunjukkan  suatu pekerjaan. Di dalam Yesus, Tuhan Allah bekerja memperdamaikan dunia ini dengan dirinya  ( 2 Kor.5:12).  Gelar: Pengantara, Juruselamat, Penolong, Penyembuh, mempunyai arti yang sama saja dan menunjukan satu pekerjaan yaitu pekerjaan menyelamatkan, melepaskan, menolong dan menyembuhkan.
Jadi bukanlah secara kebetulan bahwa para reformator terlebih-lebih J.Calvin mengajarkan adanya jawatan-jawatan dari Yesus Kristus. Segala jabatan Yesus yang ditunjukkan oleh gelar-gelarnya itu diperas oleh para reformator di dalam tiga pengertian yaitu tiga jabatan yang sesuai dengan jabatan-jabatan yang ada dalam P.Lama, yakni:
§  Jabatan Nabi  (Munus Propheticum)
§  Jabatan Imam (Munus Sacerdotium)
§  Jabatan Raja  (Munus Regium).

Di dalam P.Lama pekerjaan nabi-nabi ialah menyatakan dan mengungkapkan atau mengajarkan Firman Tuhan yang datang kepada nabi yang bersangkutan. Pekerjaan Imam ialah mengadakan korban atas nama bangsa Israel dan memberikan berkat  kepada bangsa itu atas nama Tuhan  Allah. Imam itu selalu berada di antara Tuhan Allah dan bangsa Israel melaksanakan pekerjaan perdamaian di antara ke dua belah pihak.  Pekerjaan jabatan Raja ialah untuk merajai atau memimpin bangsa Israel atas nama Tuhan Allah dan demi untuk kemuliaan Tuhan Allah.
Di dalam P.Lama ke tiga jabatan ini  sering berada dalam konflik. Itulah sebabnya orang-orang yangmemangku jabatan itu selalau berada dalam ketegangan (tension) karena sering kali terjadi jabatan yang satu berdada dalam pertikaian dengan jabatan yang lain.  Tetapi dalam pribadi Jesus Kristus ke tiga jabatan itu bersatu secara harmonis oleh karena sebenarnya ketiga jabatan itu mempunyai satu hakekat di dalam diri Jesus Kristus. Tidak ada sedikitpun ketegangan di antara tiga jabatan itu dalam pribadi Jesus. Ketiga-tiganya saling melengkapi satu sama lain.

1.1. Jawatan Nabi

Dalam Markus 1,21 f  kita melihat reaksi masyarakat Yahudi yang terus menerus menuduh Yesus sebagai Rabbi. Reaksi itu dapat dibenarkan, karena Yesus dalam penampakannya memang berfungsi  sebagai Rabbi.  Tetapi kerabbian itu adalah refleksi dari jawatan Nabi dari Kristus. Malah sesudah kita mempelajari kitab Suci P.B. kita harus mengatakan bahwa Yesus itu lebih dari seorang Nabi  ( Mat. 13: 9. 17).
Memang Yohannes Pembaptis dinamai juga nabi yang terbesar, karena dia  adalah yang terakhir dalam rentetan nabi- nabi dan dia adalah ‘forerunner” (bah. Belanda: voorreijder, yang mendahuli) dari Kristus sebagai “the final Revelation”. Dalam hidupnya dia menyaksikan sendiri final Revelation yang dilihatnya dengan mata sendiri. Tetapi Yohannes Pembaptis masih tergolong ke dalam “the Old Age” (zaman/ periode lama). Karena itu dia tidak mungkin sebagai nabi yang lebih besar dari Nabi Yesus.
Dengan Yesus sebagai Nabi datanglah suatu zaman yang baru (New Age). Yesus bukan hanya mengajarkan tentang zaman yang baru yang akan datang seperti nabi-nabi dalam PL, tetapi Dia sendiri membawakan Zaman Baru itu di dalam dirinya. Itulah sebabnya dia berhak atau berkuasa untuk mengatakan  :“legw¢umni” (lego humin: Aku berkata kepadamu0; bukanlah seperti nabi-nabi dalam PL  yang mengatakan: demikianlah Firman Tuhan.
Nabi-nabi PL selalu menanti-nantikan Firman Tuhan; sebelum seorang nabi menerima Firman  itu langsung dari Tuhan Allah, dia tidak berhak bicara kepada bangsa Israel. Tetapi Yesus tidak menanti-nantikan Firman Tuhan, karena Firman itu ada dalam dirinya sendiri. Jadi setiap waktu dia dapat mengatakan: “lego humin”.  Dengan kata lain pribadinya itu sama dengan Firman Tuhan. Jelaslah bagi kita kenapa Injil Yohannes mengatakan Yesus itu adalah :Firman yang menjadi daging”. Tuhan Allah bekerja dan bicara di dalam dan melalui pekerjaan dan pembicaraan Yesus.
Bahwa pengajaran Yesus tidak boleh dipisahkan dari hidupnya sering disangsikan oleh banyak ahli. Golongan rasionalis dan liberalis   suka sekali memandang pengajaran-pengajaran Kristus setaraf dengan pengajaran-pengajaran dari pendiri-pendiri agama lain. Memang dapat kita mengerti kenapa pandangan yang demikian timbul, karena dalam sejarah  pendiri-pendiri agama yang lain itu (mis. Muhammad, Buddha, dll), pengajaran selalu terpisah dan berbeda dari hidup  orang-orang yang mengajarkannya. Di antara ahli-ahli teologi yang kenamaan seperi  Harnack(Lutheran), Thurneysen, yang bukan leberal dan bukan rationalis juga menunjukkan kecenderungan untuk memisahkan pengajaran Yesus dari pribadinya.
Bagi kita yang ingin setia kepada  pesan Kitab Suci, pembedaan atau pemisahan pengajaran Yesus Kristus dari pribadinya tidak dapat kita terima karena zaman baru datang di dalam dan dengan pribadinya yang penuh dengan kuasa ke Allahan di dalam segala Firmannya.
Dalam pengajaran-pengajarannya, Yesus tidak merombak hukum-hukum P.Lama seperti sering dituduh oleh beberapa golongan Kristen (gol. Adventis,  Saksi Jahowa, golongan liberal, dll). Tetapi Dia menggenapinya dengan memberi arti yang sesunguhnya dari hukum Taurat itu, yaitu kasih yang sempurna. Oleh karena Yesus Kristus, kita mengerti bahwa Hukum Taurat itu bukanlah hanya soal  penggenapan lahiriah saja. Hukum Taurat selalu menuntut sikap bathin yang luhur terhadap Allah dan terhadap sesama manusia, demikian juga terhadap diri sendiri. Inti dari hukum Taurat yang lama terpendam mau dibongkar oleh Tuhan Yesus. Itulah  sebabnya orang-orang Parise menuduh Yesus sebagai perombak hukum Taurat.  Oleh karena Taurat bukanlah soal “legal commandment”, maka jelas sekali bahwa  kasih bukanlah soal lahiriah. Kalaupun diperintahkan oleh Yesus bahwa para muridnya harus mengasihi, ini bukanlah hukum Taurat yang lain di samping hukum Taurat yang sudah ada. Itu sebabnya dikatakan, kasih merupakan inti yang sebenarnya dari Hukum Taurat.  Inilah yang diajarkan oleh Nabi Yesus.
Benar juga bahwa pengajaran Yesus bersifat historis. Tetapi pengajarannya bukan dibatasi oleh sifat historis ini. Sebagaimana Yesus adalah “was, is and will come”,  yang berarti telah hadir pada waktu yang lalu, ada pada waktu sekarang dan akan ada pada waktu yang akan datang, demikianlah pengajaran-pengajarannya  mencakup segala waktu. Ini berhubungan dengan pengertian bahwa Allah, Kerajaan Allah, bukanlah soal yang diberitakan oleh Nabi Yesus saja, tetapi yang dibawakan dalam Dirinya. Kerejaan Tuhan Allah dan pengajaran Yesus Kristus dan pribadinya sendiri adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. (Catatan: Inilah yangsangat sukar diterima oleh aliran-aliran liberal). Sikap manusia terhadap Yesus Kristus sama dengan sikapnya terhadap kerajaan Allah sendiri. Dan sikap manusia terhadap pengajaran Yesus sama dengan sikapnya terhadap pribadi Yesus sendiri.
Demikian juga pengajaran-pengajaran dari para rasul tidak dapat dipisahkan dari pengajaran dan pribadi Yesus  sendiri. Karena pengajaran-pengajaran para rasul intinya adalah Kerajaan Tuhan Allah yang mempunyai kedalamannya (depth) dan ketinggiannya (height) di dalam pribadi Yesus yang tersalib, mati dan bangkit dari maut.
Pengertian pekerjaan Yesus tidak berakhir di dalam pengajarannya, melainkan kepada suatu pernyataan yang tertinggi dari Tuhan Allah, yaitu pribadinya sendiri di dalam mana Allah selalu hadir. (Yoh. 14: 9; 12:45). Yesus Kristus sendiri baik sebagai Nabi atau Imam aatau sebagai Raja selalau menyatakan Tuhan Allah. (Yoh. 17:6). Malah boleh dikatakan bahwa itulah kesimpulan dari hidup Yesus. Pernyataan Yesus tentang Tuhan Allah mencapai puncaknya di dalam kematiannya dan kebangkitannya. Dalam kesengsaraan dan kematiannya Yesus mencapai kedalaman dari hakekat manusia; di sanalah Tuhan Allah menjumpai manusia.
Pada titik di mana Yesus mengakhiri, melengkapkan, menutup hidupnya sebagai manusia, secara nabi dia menyatakan tiga hal, yaitu:
1)      Bahwa Tuhan Allah adalah suci dan pengasih, penayang.
2)      Bahwa manusia adalah makhluk yang berdosa di hadapan Tuhan Allah.
3)      Bahwa di dalam diri Yesus sendiri, manusia dimungkinkan hidup di dalam Tuhan Allah.


1.2. Jawatan  Imam

1.      Keimaman Yesus mencapai puncaknya  pada kematiannya di kayu  salib. Tetapi keimaman itu bukan mulai di kayu salib. Segenap hidupnya, termasuk pengajaran-pengajarannya adalah hidup Imam, karena segenap hidupnya adalah tangan Allah yang diulurkan kepada manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Boleh dikatakan bahwa segenap hidup historis dari Yesusadalah jalan salib  (via dolorosa).
Sangatlah salah bila kita mencoba memisah-misahkan hidup historis Yesus dengan memandang hanya sebagian saja dari hidupnya yang menunjukkan keimamannya. Umpamanya di kalangan Protestant Orthodox, pernah dibedakan ke “Oboedientia activa Christi” dari “Oboedientia passiva Christi”.  Oboedientia activa dianggap tidak mengandung nilai perdamaian. Dengan kata lain, oboedientia activa itu tidak diangap ada hubungannya dengan jabatan Imam Kristus. Dikatakan, hanya oboedientia  passiva yang mempunyai nilai memperdamaikan Allah dan manusia.
Bagi kita  pembedaan dan pemisahan demikian tidak dapat dibenarkan. Karena dalam hubungan Yesus dengan  BapaNya, pengertian activa dan passiva tidak berlaku. Di dalam sikapnya yang mengiakan rencana Tuhan Allah        BapaNya (yang kedengaran passif), dia  secara aktif  memenuhi tuntutan Tuhan Allah. Lagi pula salib itu dapat dimengerti hanya dalam sinar hidup total dari hidup Yesus Kristuis dan sebaliknya keseluruhan hidupnya dapat dimengerti dari sinar salib. Klimaks pekerjaan Imam Yesus Kristus yang mengorbankan dirinya itu kedapatan justeru pada titik yang terendah yaitu cara mati dari seorang penjahat atau yang melakukan tindak kriminal.

2.      Sejak mula pertama, gereja Kristen mula-mula mencoba mengerti apa arti salib. Kalau salib adalah event  (peristiwa)  yang direncanakan Tuhan Allah, bagaimana salib itu menghasilkan keselamatan?  Tetapi adalah unik sekali bahwa gereja mula-mula itu di dalam pemikirannya selalu mengingat kebangkitan Yesus Kristus dari mati. Dan hanya dengan  melihat kepada kebangkitan, mereka yakin bahwa salib itu harus mempunyai arti.Tentang kematian Yesus, kita sudah melihat murid-murid Yesus sendiri yang menuju Emmaus, berdiskusi tentang artinya, di mana murid-murid itu mengatakan bahwa Yesus Kristus mati sesuai dengan apa yang dikatakan Kitab Suci; dengan perkataan lain, bahwa kematian Yesus itu menggenapi nubuatan Kitab Suci  (PL), sangat mungkin sekali  bagian kitab Suci yang diingat mereka adalah Yesaya 53. Boleh dikatakan pendapat gereja mula-mula tentang matinya  Yesus Kristus sejajar dengan pendapat para murid yang menuju Emmaus.
      Hanya dengan  perkembangan secara lambat laun timbul pendapat yang sistematis dalam teologia tentang arti kematian dan salib Yesus Kristus. Pendapat itu sampai sekarang dipertahankan gereja-gereja Kristen yang ingin setia kepada kitab Suci. Dalam pendapat ini ada lima gambar yang merupakan metode penafsiran akan arti kematian Yesus Kristus, yakni:
  1. Gambar pengorbanan
Gambar ini melihat arti dari pengorbanan di dalam PL. Memang di dalam semua agama, di semua bangsa selalu ada kedapatan pengorbagan-pengorbanan yang dipikul manusia yang diuntukkan   kepada Allah. Tetapi unsur yang spesifik terdapat dalam PL ialah hubungan korban dengan pengenalan akan allah yang suci. Korban berarti pencaharian akan pendamaian dengan Tuhan Allah yang mahasuci,  karena kenazisan manusia sudah mendatangkan murka Allah. Dosa adalah suatu realitas, karena  itu sesuatu mesti terjadi untuk memperdamaiakan Tuhan Allah dengan manusia yang berdosa. Darah mesti mengalir, sebagai ganti darah manusia sendiri, yang seharusnya terumpah oleh karena murka Allah.  Jadi di dalam Surat Ibrani dikatakan bahwa Kristus itulah korban yang sebenarnya dapat dan telah mendirikan untuk selama-lamanya perdamaian di antara Tuhan Allah yang suci dengan manusia yang naziz.
  1. Gambar yang memakai ide hukuman
Kesengsaraan Yesus di sini menggambarkan kesengsaraan hukuman. Manusia oleh karena dosanya sebenarnya harus dihukum, dan manusia sepatutnya berada dalam kesengsaraan yang dibawakan oleh hukuman itu. Dengan istilah yang dipakai oleh rasul Paulus, manusia ada dalam kutuk Allah. (Gal. 3:13; Roma 8: 1) Tetapi Yesus dengan suka rela mengambil over kepada dirinya kutuk Allah yang seharusnya jatuh kepada manusia. Inilah yang dihunjuk oleh Yesya 53, tentang fungsi Ebed Jahweh (hamba Tuhan) yang menderita.
Jadi gambar ke dua ini sering juga dipakai oleh ahli  teologi sejak dulu sampai sekarang untuk menujukkan kesengsaraan, salib dari Yesus Kristus. Memang  hal inilah yang paling sulit dimengerti oleh orang-orang diluar Kristen,  bagaimana Kristus itu mau mengambil over kesusahan itu kepada dirimnya dalam hakekat  “katakrima”  (katakrima), istilah Yunani, yang artinya  kutuk.
Yesus mengambil alih segala kesengsaraan itu dan menanggung akibat dosa manusia. Manusia dipindahkan ke bawah salib, sehingga manusia lepas dari  “katakrima”  itu. Karena itu banyak yang tidak menerima hal ini, karena tidak mungkin masuk akal manusia.
Menurut  aliran Kristen yang liberal, manusia  yang percaya dapat secara langsung kepada Allah tanpa melalui Kristus. Tetapi manusia adalah simul justus et peccator. Manusia dibenarkan (benar) dan pada waktu yang sama  adalah berdosa.

  1. Gambar ikatan hutang
Dalam gambar ini manusia  diartikan sebagai makhluk yang mempunyai hubungan hutang kepada Allah, yaitu hutang yang tidak bisa dibayar. Manusia oleh karena hutannya mempunyai masa depan yang tidak menyenangkan. Tetapi Yesus dengan suka rela membayarkan hutang kita kepada Allah dengan hidupnya sendiri. Dengan demikian dia membebaskan kita. (Mat. 26:28), dan menyelamatkan manusia yang diancam oleh akibat hutang. ( 1 Petrus 1:18)

  1. Gambar  peperangan: Tuhan berperang melawan kuasa-kuasa Iblis
Dalam gambar ini ditunjukkan bahwa manusia sering menjadi objek dari pertikaian antara Tuhan Allah dan iblis itu. Dengan kata lain  bahwa dalam peperangan itu manusia sering berpindah tangan, di mana pada suatu saat dia berada di tangan Allah dan pada saat yang lain berada di tangan iblis. Tetapi kebanayakan manusia itu berada dalam tangan iblis yang disebut kerajaan kegelapan.
Salib atau kematian Yesus digambarkan sebagai suatu cara Allah untuk merebut manusia dari kuasa kegelapan, dan memindahkan manusia ke dalam tangan Tuhan Allah, yaitu  Kerajaan Anaknya Yesus Kristus. (Kol. 1: 13)

  1. Gambar tentang kortban Paskah
Dalam PL pengertian Paskah sangat besar sekali. Darah domba menyebabkan orang Israel terlepas dari satu hukuman yang direncanakan oleh Allah. Artinya dalam Paskah itu ada perjanjian di antara Allah dan manusia yang dikhasiatkan oleh darah domba. Oleh darah domba itu orang Israel dimungkinkan keluar dari  perbudakan Mesir.
Yesus Kristus dalam gambar ini diartikan sebagai domba yang asli yang dicurahkan darahnya, sebagai pertanda akan perjanjian yang baru di antara Tuhan Allah dengan umatnya. Oleh darah Kristus itu umat Allah dimungkinkan keluar dari perhambaan iblis dan perhambaan dosa. Sebenarnya darah Kristus itu bukan hanya berfungsi sebagai pertanda saja. Harus dikatakan bahwa oleh darah itu perjanjian baru didirikan.

            Konsep yang lima ini  memang berbeda satu sama lain. Tetapi karena konsep ini jalin menajlin, gambar yang lima itu menjadi suatu kesatuan yang lengkap.Semua ide itu mencoba menyatakan satu kebenaran: kebenaran dari arti salib yang historis itu. Ide-ide itu hendak menyatakan bahwa oleh karena dosa hubungan manusia kepada Allah menjadi hubungan yang berbahaya, karena  bersifat maut. Oleh karena itu hanya Tuhan Allah, dengan melalui kesengsaran dan kematian Yesus Kristus, yang dapat mengobah situasi hubungan itu. Dengan kata lain, kalau transformasi atau perobahan total harus terjadi, itu  haruslah atas tindakan Tuhan Allah sendiri; dan tindakan ini terjadi dalam kematian di atas salib. Di luar salib, trasformasi itu tidak mungkin terjadi. Hendaklah diingat bahwa lima gambar yang disebut di atas bukanlah teori, tetapi gambar-gambar yang dibutuhkan untuk menerangkan iman Kristen.
            Gambar yang lima itu juga menujuk kepada suatu misteri atau rahasia di belakang salib itu, yaitu rahasia yang tidak bisa kita mengerti. Kenapa Allah mesti memilih jalan salib. Dalam sejarah Dogmatika ada beberapa usaha membangun teori-teori untuk mengertikan misteri itu. Ada dua usaha yang besar yang di dalam proses sejarah gereja menentukan sikap ahli-ahli teologi mengenai soal ini, yakni:
Pertama, teori dari Abelardus yang dikemudian hari mendapat julukan bapak teologi modern/ liberal.
Kedua,  teori Anselmus yang sangat banyak mempengaruhi cara berfikir dalam gereja Rk dan reformasi.
            Abelardus, dalam teorinya yang bersifat subjektif mengajarkan sbb: Salib Kristus itu hanyalah bukti  dari kasih Allah. Oleh karena manusia di dalam dosanya tidak dapat lagi percaya bahwa Allah itu adalah kasih, maka Yesus harus membuktikannya di dalam kesanggupannya mati dengan tidak bersalah atau berdosa. Dengan kata lain, melalui salib Yesus, Tuhan Allah menolong manusia mengatasi ketidak sangupannya mempercayai bahwa Allah adalah kasih. Segala kesukaran-kesukaran kita untuk mempercayai Allah diambil oleh Yesus sendiri agar mata kita dan hati kita dimungkinkan terbuka. Dengan demikian orang yang percaya (orang yang telah terbuka mata dan hatinya) dapat memberikan respons kepada Tuhan Allah. Nyata dalam pengajaran itu tidak dibicarakan bahwa ada perdamaian, juga tidak dibicarakan akibat dari salib itu kepada orang berdosa. Yang ditekankan ialah iman manusia saja, yang dapat timbul oleh karena salib, yaitu iman sebagai perbuatan manusia. Itulah sebabnya pengajaran ini dikatakan bersifat subjektik. Iman itu adalah subjektif.
            Di kemudian hari timbullah teologi-teologi yang ingin memaparkan pengajaran Abeardus itu dan teologi inilah yang disebut teologi liberal. Umpamanya, Schleirmacher , seorang teolog abad 19, mengajarkan bahwa perdamaian (reconsiliation) atau atonement ialah terhapusnya sedikit demi sedikit kesukaran-kesukaran dan frustrasi-frustrasi setiap hari di bawah pengaruh Kristus. Dan inilah inti dari teologi liberal, yang hanya mementingkan tindakan manusia saja. Dengan kata lain menurut Schleirmacher, agama Kristen adalah soal “perasaan bergantung kepada Tuhan Allah”. Makin tebal perasaan tergantung ini makin besar kemungkinan mengatasi frustrasi-frustrasi seiap hari.
            Catatan: menurut kita soal beragama bukanlah soal perasaan. Karena sering perasaan kita bergantung kepada situasi. Kasih sehari-haripun, kalau hanya bergantung kepada perasaan bukanlah kasih yang sejati, karena perasaan tidak pernah menunjukkan hakekat yang sebenarnya dari manusia. Tetapi terlepas dari kita merasakan atau pun tidak, kita tetap di bawah naungan kasih Allah. Itu sebabnya bagi kita, pagi-pagi kita berdoa menyerahkan segala sesuatu yang akan terjadi bagi kita pada hari itu. Salib Kristus itu berlaku sekali untuk segala zaman.

            Dan seong filsuf yang bernama Fichte mengatakan lebih jauh. Kesengsaraan manusia bukanlah oleh karena dosa dan kesalahannya dan bukan pula oleh karena dia terpisah dari Allah. Akan tetapi kesengsaraan itu ialah rasa bersalah, rasa berdosa, rasa terpisah dari Allkah. Secara objektif menurut dia menusia tidak berdosa,  bersalah terhadap Allah. Yang penting ialah mengatasi dan menghapuskan perasaan ini. Dengan kata lain menurut Fichte, kesengsaraan manusia disebabkan oleh misunderstanding. Tuhan Allah adalah tetap Allah yang Mahakasih. Tetapi karena manusia salah mengerti maka dianggaplah Tuhan Allah itu Allah yang murka. Perdamaian adalah penghapuskan dan pengatasian akan perasaan –perasaan yang ditimbulkan oleh misunderstanding itu.

            Anselmus dalam bukunya  “Cur Deus Homo” (mengapa Allahmenjadi manusia) mengajukan suatu pengertian tentang arti salib yang sangat berlainan sekali dengan fikiran Abelardus di atas. Buku ini sampai sekarang dipakai baik oleh gereja RK maupun oleh gereja Protestan. Menurut Anselmus untuk menyelamatkan manusia yang sudah seharusnya dimusnahkan maut dan untuk mengadakan perdamaian di antara Tuhan Allah yang Mahsuci dan manusia yang murtad, Tuhan Allah “tidak boleh tidak harus memilih jalan salib. Jadi lain dari yang dikatakan oleh Abelardus, pelepasan menurut Anselmus terdiri dari tindakan Allah sendiri biarpun manusia dalam dosanya tidak mengerti akan jalan yang diplih oleh Allah. Dalam seluruh sistem dunia, Anselmus memberi tekanan kepada perbuatan Allah sedemikian rupa sehingga iman manusia hampir tidak mendapat tempat dalam pemikirannya. Jadi kalau pengajaran Abelardus disebutkan teori yang subjektif, maka pengajaran Anselumus ini disebutkan teori yang objektif.  Anselmus malah mengatakan bahwa Tuhan Allah tidak dapat memilih jalan lain dari pada jalan salib; dan implikasi dari pengajarannya itu, iman manusia tidak diperlukan untuk keselamatan.

            Sebenarnya soal kenapanya terjadi salib belum dapat dijawab secara pengertian manusia. Semua pendapat ahli-ahli teologi hanyalah merupakan usaha saja. Rasul  Paulus sendiri melihat salib Kristus dari sudut “kutuk dari Hukum Taurat” (bura ni patik i) . Kutuk Tauratlah yang mengharuskan manusia sengsara dan mati. Dan Yesus Kristus sengsara dan mati adalah sebagai ganti manusia. Perceraian manusia dari Tuhan Allah adalah persitiwa yang objetif, yaitu perceraian yang disebabkan oleh dosa yang sesungguhnya ada secara objektif. Kalau begitu perceraian itu bukanlah misunderstanding (salah pengertian) dari manusia sebagaimana diajarkan oleh Abelardus dan kawan-kawannya. Kekuatan dari perceraian itu sebenarnya datang dari Tuhan Allah sendiri melalui Hukum Taurat Oleh karena itu manusia tidak dapat memperbaiki perceraian yang telah ada, karena  dia tidak dapat menghapus dosanya sendiri. Dosanya harus ditiadakan oleh Allah sendiri. Dengan kata lain, hubungan antara Tuhan Allah dengan manusia harus diperbaiki oleh Tuhan Allah sendiri.

            Tetapi menurut rasul Paulus, perbuatan Tuhan Allah yang menghapuskan dosa melalui kematian Yesus Kristus,  perbuatan yang adalah  memperbaiki kembali hubungan yang telah rusak, harus diterima manusia dengan iman. Jadi bagi rasul Paulus arti dari  salib Kistus mempunyai aspek yang objektif dan subjektif:  Pengampunan dosa di dalam salib sebagai tindakan Tuhan Allah adalah nyata (objektif), tetapi iman manusia (subjektif) harus juga nyata menerimanya. 
            Kita melihat kebenaran ini hanya apabila kita dihadapmukakan dengan salib Yesus Kristus itu sendiri. Dengan kata lain, kebenaran ini bukanlah kebenaran rasionil. Untuk mengertikan ini kita membutuhkan pernyataan. Di dalam sinar pernyataan dan di dalam sinar iman, kita melihat bagaimana besarnya tindakan Allah dalam memperbaiki hubungan yang telah putus di antara Dia sendiri dan manusia. Di dalam sinar itu kita sungguh-sungguh menginsyafi keadaan kita kita yang sebenarnya dan pada waktu yang sama kita diperkenankan melihat dan mengecap arti salib Yesus sebagai bentuk kasih Allah.
            Beberapa ahli teologi kurang melihat hubungan salib Kristus dengan pantulan dosa. Alasan yang selalu dikemukakan ialah  perumpamaan tentang anak yang hilang. Dikatakan bahwa dalam perumpamaan tersebut anak yang hilang itu dapat dengan sendirinya datang kepada bapanya dan dosanya diampuni begitu saja. Di sana tidak ada arti pengorbanan dari sudut bapanya. Tetapi terhadap golongan ini dapat dikatakan bahwa:
1)      Mereka melupakan konteks dari perumpamaan itu. Memang yang ditekankan oleh Yesus dalam perumpamaan itu ialah kedudukan orang-orang Yahudi sebagai anak sulung, yang hanya membanggakan statusnya sebagai anak sulung. Dan dalam perumpamaan ini Yesus juga menekankan bahwa orang-orang kafir yang datang kepada Tuhan Allah menyebabkan kegembiraan yang lebih besar dari orang-orang Yahudi yang selalu bersungut-sungut. Di sini Yesus ingin mengingatkan rencana total dari Tuhan Allah.
2)      Golongan ini juga melupakan bahwa yang mengatakan perumpamaan ini bukanlah seorang nabi PL,  tetapi perumpamaan ini justeru dikatakan oleh Yesus sendiri yang pada dirinya adalah merupakan jalan kepada Tuhan Allah. Dengan kata lain, jalan itu sendirilah yang berkata di sini. Perumpamaan ini belum mengandaikan bahwa  pengorbanan dari pihak Tuhan Allah tidak diperlukan. Malah sebaliknya dia yang mengatakan perumpamaan ini, dia sajalah yang memungkinkan manusia menyesal dan datang kepada Tuhan Allah melalui dia sumber dari perumpamaan itu.

Rasul Paulus sendiri memang hanya kadang-kadang melihat pengampunan dosa dalam hubungannya dengan pengorbanan Yesus.  Tetapi secara keseluruhan dalam tulisan-tulisannya, rasul Paulus lebih banyak menghubungkan kematian Yesus dengan kutuk Taurat yang seharusnya ditujukan kepada manusia.
Memang soal pengampunan dosa adalah sesuatu yang tidak adil dari sudut fikiran manusia. Suatu negara yang mengampuni begitu saja suatu perbuatan jahat dari seorang kriminil memang tidak adil. Dan dari kenyataan hidup, kita mengerti bahwa pengampunan dosa yang diberikan begitu saja malah dapat merusak orang yang diampuni, karena orang yang diampuni itu nantinya bisa mendapat pengertian yang kabur tentang apa yang baik dan apa yang jahat. Memang hukuman mempunyai fungsi yang positif dalam hidup ini, yang kelihatan dari segala macam hukuman yang dikenal manusia. Lihatlah misalnya anak yang dalam kenakalannya tidak pernah dihukum oleh orang tuanya akan menjadi anak  yang kelak tidak mengerti akan nilai-nilai moral. Lihat juga seorang murid yang tidak mau atau yang malas belajar, kalau dia selalu diampuni saja dalam kemalasannya oleh gurunya dengan terus menerus memberi dia naik kelas, kelak dia akan menjadi seorang sarjana yang tidak dapat mengisi arti dari gelarnya itu. Demikian juga halnya manusia yang berdosa harus mendapat hukuman di dalam keberdosaannya yaitu dalam bentuk kesengsaraan dan maut. Dan hukuman ilahi itu harus berjalan demi kasih dan demi kesucian Tuhan Allah. Tetapi prosedur pelaksanan hukuman itu mengambil bentuk yang lain. Tuhan Allah menghukum manusia di dalam kesengsaraan dan kematian Kristus, karena manusia Yesus itulah manusia yang sebenarnya (asli). Jadi orang yang berpartisipasi dalam hidup Yesus dia sudah mendapat hukuman, tetapi itul;ah juga yang menjadi pengampunan dosa. Kebenaran inilah yang ditunjuk oleh pengertian teologi yang mengatakan bahwa  pengampunan dosa itu adalah bukti dari kebenaran Allah.
Tetapi haruslah kita ingat bahwa di dalam sejarah kerajaan Allah di atas bumi ada perbedaan bentuk-bentuk  pengampunan dosa  sesuai dengan perbedaan-perbedaan  pernyataan Tuhan Allah di dalam sejarah yaitu: Bentuk pengampunan dosa dalam PL adalah sesuatu pengampunan dosa yang diberikan Tuhan Allah dengan menerima  korban-korban makanan dan dengan pelarian ke dalam Baith Allah untuk memegang tanduk mezbah. (cacatan:   dari latar belang ini  keselamatan itu sering juga disebut: ‘tanduk haluan” atau tanduk keselamatan; dalam hal yang disebut belakang ini sebenarnya pengampunan dosa  hanya bersifat sementara karena hanya berupa kelepasan sementara dari orang-orang murka.
Selanjutnya pengampunan dosa dalam zaman hidup Yesus mengambil bentuk yang lain pula. Di sana Yesus langsung mengtakan kepada orang-orang yang bersangkutan: “dosamu telah diampuni”. Pengampunan dosa sejak peristiwa salib sampai sekarang adalah hasil dari pekerjaan Roh Kudus yang mengenakan buah-buah dari kesengsaraan dan salib Kristus kepada orang-orang yang bertobat.
Dalam zaman sesudah peristiwa salib pengampunan dosa dapat berarti dan dapat dihayati apabila manusia oleh pekerjaan Roh Kudus dapat mengindetifikasikan dirinya dengan Yesus yang tersalib. Kita membutuhkan pernyataan dari Roh Kudus untuk mengerti akan pengampunan dosa yang dibawakan oleh salib Kristus. Hanya oleh Roh Kudus kita mengerti bahwa murka Allah sebenarnya tidak sama dengan kasih Allah. Kasih adalah sifat hakiki dari Tuhan Allah, tetapi murka itu hanyalah hubungan orang-orang berdosa kepada Tuhan Allah.  Jadi di dalam pekerjaan perdamaian  Yesus nampaklah kebenaran asli yaitu bahwa dalam kebenarannya, Tuhan Allah selalu mengasihi manusia. Inilah sebabnya pengorbanan perdamaian dari Yesus sebagai Imam menjadi pusat dari berita Injil Perjanjian Baru.  

1.3. Jabatan Raja dari Yesus

Biasanya dalam uraian-uraian teologis dari gereja-gereja Kristen, jabatan Raja dari Yesus kurang mendapat perhatian yang secukupnya. Ini dapat dimengerti karena orang-orang beriman takut menimbulkan salah pengertian yaitu pengertian yang seolah-olah menyamakan pekerjaan Injil dari gereja dengan perbaikan masyarakat. Telah pernah terjadi bahwa segolongan orang-orang Kristen menganjurkan agar pekerjaan Injil dari gereja harus mengutamakan perbaikan masyarakat dari manusia yang diinjili.  Itulah misalnya yang dianjurkan oleh  aliran “Social Gospel” yang didirikan oleh Rauschenbusch pada abad  19 yang lalu. Idenya yang kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul  “Social Gospel”  mudah sekali menjalar karena memang ada unsur-unsur kebenaran di dalamnya, yaitu agar gereja janganlah hendaknya  tutup mata terhadap keadaan masyarakat dan keagamaan sekitar.
Tetapi pendapat  itu sebenarnya tidak benar karena menyamakan  kekuasaan Yesus sebagai raja dengan  kesanggupan gereja mentransformir (mengobah) masyarakat sekitar dari keadaan miskin ke dalam keadaan makmur. Pemberitaan Kristus tidak pernah senyawa dengan aktivitas-aktivitas social. Orang-orang Kristen bisa saja secara aktif dan berhasil memperbaiki masyarakat tanpa iman  akan Kristus.
Tetapi  ketakutan akan terjadinya salah pengertian sebenarnya tidak merupakan alasan yang dibenarkan untuk kurang memperhatikan jabatan Raja dari Yesus Tuhan kita. Di dalam PL kita melihat  kerajaan Israel sebagai kerajaan Teokrasi yaitu suatu prinsip yang mengakui Tuhan Allah langsung sebagai Raja bangsa itu, tetapi yang merajai  dengan perantaraan atau melalui raja-raja. Oleh karena itu sistem kerajaan Israel dalam PL sangat unik dan tidak dapat diperbandingkan dengan bentuk-bentuk kerajaan yang lain dalam sejarah manusia. Dikatakan juga bahwa pada permulaan dari teokrasi yakni sewaktu  bangsa Israel melakukan  pemilihan raja yang pertama, Tuhan Allahlah yang langsung mengadakan kampanye tentang raja Saul. Hanya dalam proses perkembangan selanjutnya dalam sejarah Israel, pemilu tidak diadakan lagi, sehingga arti dari demokrasi itu akan kabur.
Tetapi di dalam berjalannya teokrasi itu para nabi terus menubuatkan tentang datangnya Kerajaan Allah yang jauh lebih sempurna dari pada teokrasi yang dikenal Israel pada waktu itu. Ini berarti bahwa teokrasi  PL hanyalah merupakan pendahuluan kepada teokrasi yang datang.
Dalam pengertian teokrasi memang manusialah yang memerintah, tetapi Allahlah yang mengangkat raja itu melalui rakyat atau umatnya. Itu makanya raja itu selalu dikoreksi oleh nabi-nabi. Kemuliaan Allah akan menjadi rusak apabila raja itu menyeleweng.Johannes Pembaptis yang dalam pekerjaannya merupakan nabi terakhir dalam rentetan nabi-nabi PL dengan tegas menyerukan kepada orang-orang Israel agar bangsa itu bertobat, karena Kerajaan Allah sudah dekat. Pengertian sudah dekat dalam khotbah Yohannes Pembaptis menunjukkan bahwa Kerajaan Allah yang dikhotbahkan itu akan dapat dialami, dilihat dan didengar sebelum generasi itu mati. Secara sadar atau tidak, khotbah pertobatan dari Yohannes Pembaptis menunjuk langsung kepada Yesus. Dan apabila Yesus memproklamirkan datangnya Kerajaan Allah, Dia sebenarnya memproklamirkan datangnya kerajaan itu di dalam dirinya. Seandainya Yesus hanya meproklamirkan saja tanpa membawakan kerajaan itu di dalam dirinya dia akan merupakan  nabi saja. Tetapi dengan datangnya Yesus, zaman baru juga datang kepada mansia. Dirinyalah yang membawa kerajaan Allah. Mengkonfronter Yesus sama dengan mengkonfronter Kerajaan Allah. Sewaktu dia berkata   “legw ¢umin “, itu dikatakan dalam wibawa  kerajaan.
Kerajaan yang dibawakan  oleh Yesus Kristus  sangat berbeda dengan kerajaan  yang dijalankan sistem manusia, karena di dalam kerajaan yang dibawakan oleh Yesus terdapat kejujuran, keadilan, anuggerah, kebenaran dan damai sejahtera. Sebenarnya kerajaan itu belum lengkap  atau belum sempurna datangnya kepada manusia. Manusia dalam sejarah masih harus mengatakan bahwa kerajaan itu akan datang kelak. Tujuan sejarah ialah agar pada akhirnya kehendak Allah sajalah yang terjadi, dan semua manusia menjadi patuh kepada kehendak Allah. Bahwa kerajaan itu masih sesuatu yang diharapkan akan datang, kelihatan juga dari doa yang diajarkan oleh pembawa kerajaan itu sendiri (Yesus), yang mengatakan: “Datanglah kerajaanmu; jadilah kehendakmu di bumi seperti di sorga”.
Kerajaan Allah bukanlah sesuatu kerajaan yang hanya menuntut apapun dan memberikan syaarat-syarat saja. Kerajaan terutama adalah pemberian (gift), karena kerajaan itu sama dengan kuasa Tuhan Allah untuk melepaskan, menyelamatkan, mengampuni dan sama dengan kehadirannya yang selalu memberikan persekutuan.Oleh karena itu, Raja dalam kerajaan itu bukan merajai dengan kuasa yang sewenang-wenang melainkan dengan kasih. Di dalam kasih dia dalam kerajaan itu melawan kuasa-kuasa kegelapan. Pekerjaan kuasa dari raja itu sangatlah berlainan dari tindakan-tindakan keuasaan yang kita kenal  di dunia ini. Salib yang diartikan manusia sebagai kebodohan, kelemahan, kehinaan dan kekalahan, tetapi justeru itulah bentuk dari tindakan kekuasaab Allah untuk mengalahkan kuasa-kuasa yang jahat. Oleh karena itu di dalam kerajaan Allah, barangsiapa yang menghayati arti dari salib, dan yang sanggup memikul salib, itulah orang-orang atau warga yang sanggup mengalahkan kuasa Iblis. Melalui arti salib, Tuhan Allah merajai di dalam hati orang-orang percaya. Dan barangsiapa yang menghayati kerajaan Allah di dalam hatinya dialah yang dapat mengatasi konflik-konflik di antara kehenadak Allah dan kehendak pribadi.
Apakah artinya bahwa Yesus Raja atas segalanya . (Mat. 28:18; Epes. 1: 20 ff). Haruslah dibedakan pengertian “Yesus adalah raja atas segala-galanya”  dan pengertian “Yesus adalah raja dari orang-orag percaya”.  Bahwa Yesus adalah “Raja atas segala-galanya” (Raja di luar gereja),  itu adalah dalam arti “potential dominion” atau dalam arti “propective”. Haruslah kita bedakan yang potential dari yang actual. Bahwa segala lutut akan bersembah di hadapan kebesaran sang Raja Yesus, belumlah merupakan peristiwa yang actual. Peristiwa itu masih merupakan soal eschatolis. Memang benar bahwa di atas salib, Iblis secara prinsipiel telah dikalahkan, tetapi iblis itu  masih mempunyai kekuatan untuk berontak. Dan selama iblis masih mempunyai kekuatan ini, maka belum semua lutut dapat bersembah kepada Raja Yesus.
Sehubungan dengan belum nyatanya secara sempurna kerejaan Yesus di luar gereja,maka pemerintahan sekular masih sangat berguna di tengah-tengah umat mansia. Dengan kata lain, adanya pemerintahan sekuler adalah bukti bahwa kesempurnaan kerajaan Yesus belum nampak di dalam sejarah. Apabila kerajaan Yesus mengandung  “agape” 0kasih) sebagai satu-satunya bentuk dan cara memerintah, maka pemerintakan sekuler masih memerlukan hukum-hukum paksaan,  polisi, dan angkatan bersenjata. Hal-hal ini perlu, karena di dalam sistem pemerintahan sekuler tidak ada  “agape”. Sekali pemerintah sekuler memaki agape, pada saat itu sistem  pemerintahan itu sendiri akan bobrok. Oleh karena itu, apabila kita  katakan Yesus adalah raja atas segala pemerintahan, pengertian itu harus kita pakai secara hati-hati.
Aktualitas atau kenyataan dari “Yesus adalah Raja”, hanyalah terdapat di  antara manusia yang sungguh-sungguh telah nyata bersembah kepada Yesus yaitu gereja. Gereja yang merupakan persekutuan dari orang-orang yang imannya dan pelayanannya bersatu di dalam kasih Yesus Kristus. Hanya dalam gereja kerajaan itu dapat direaliser. Tetapi menurut gereja Protestan, gereja itu sendiri belum sempurna, karena orang-orang percaya yang menjadi warganya masih merupakan manusia  di dalam daging.  Kita masih menanti-nantikan kenyataan yang sempurna dari  “Yesus sebagai Raja”.  Musuh terakhir, yaitu maut harus lebih  dahulu dimusnahkan . (I Kor.15:26)  Hanya sesudah itu terjadi, baru bisa dinyatakan bahwa  semua musuh-musuhnya berada di bawah kaki Yesus. Sebelum itu terjadi perlawanan di antara kerajaan Yesus Kristus dan  kerajaan-kerajaan kegelapan masih terus berlangsung. Di dalam iman, kita mengharapkan dan melihat kemenangan terakhir di dalam tangan Yesus. Jaminan dari kemeangan itu ada dalam kebangkitan Yesus dari maut.

1.4. Jabatan yang tiga itu sebagai satu kesatuan

Pernyataan ( yang dilakukan oleh Yesus sebagai Nabi), Perdamaian (yang dilakukan Yesus sebagai Imam), dan kuasa yang bekerja  (yang dilakukan Yesus sebagai Raja), adalah tiga aspek dari satu hal yang sama, yaitu realitas dari pekerjaan Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus untuk kita. Di dalam PB ketiga aspek itu dibeda-bedakan dan kadang-kadang pembedaan itu sangat tajam, tetapi pembeda-bedaan itu mempunyai latar-belakang yang sama. Di dalam surat Kolosse 2:15, ketiga aspek itu nyata mempunyai satu kesatuan.  Sejajar dengan keadaan manusia kita melihat fungsi dari ketiga aspek itu:
1)      Di dalam keadaan buta dari manusia yang berjalan di dalam kegelapan, Yesus membawakan pernyataan terang.
2)      Di dalam keadaan berdosa dan bersalah dari manusia Yesus membawa pengampunan.
3)      Di dalam keadaan merajai diri sendiri, Yesus mencipta hati yang baru yang dapat diperintah oleh Dia sendiri.

Manusia sebagai ciptaan baru dari Yesus akan menjadi nyata dan sempuna apabila iman sudah berlalu (tidak perlu lagi).


2.                  Pribadi Yesus  Kristus

2.1. Kemanusiaan  Yesus

Kitab Suci memperkenalkan Yesus kepada kita pertama-tama sebagai manusia, lalu sebagai Tuhan dari seluruh alam semesta, dan kemudian sebagai Allah sendiri.  Bahwa Dia adalah manusia bisa nyata dari pemberitaan Kitab Suci itu sendiri yang mengatakan bahwa Yesus lahir di bawah  Hukum Taurat dan lahir dari seorang perempuan  (Gal. 4:4). Ini berarti bahwa  Dia lahir sebagai anak seorang Yahudi. Dia hidup dan dididik sesuai dengan tradisi  Yahudi. Selanjutnya dikatakan bahwa Dia mengalami pertumbuhan sesuai dengan hukum-hukum alam. (Luk. 2:52) dan ini sekaligus menunjukkan bahwa Dia mengalami keterbatasan seperti kita: dia makan, tidur, mengalami sakit dan mati.

2.1.1.      Arti dari Yesus manusia seperti kita

Sejak abad ke 5 M di dalam gereja Kristen ada pengertian tentang Yesus sebagai ‘vere homo”  (truly human, benar-benar manusia).   Istilah itu menunjukkan bahwa  kemanusiaan Yesus bukanlah sesuatu yang semu. Kita melihat dalam sejarah hidup Yeus, dia bekerja juga sebagai manusia harus bekerja. Di dalam Mark. 6: 3 disebutkan bahwa pekerjaannya adalah tukang kayu, seperti bapaknya Yosep yang juga adalah seorang tukang kayu. Di dalam menjalankan ke-Messiasannya, pekerjaannya adalah seperti Rabbi yang bepergian di tempat yang berlainnan untuk mengajar. Tidak ada sedikitpun indikasi dalam Kitab Suci yang menunjukkan seolah-olah dia manusia yang memandang hina akan pekerjaan. Dia malah mengatakan bahwa sebagaimana Bapaknya di sorga adalah bekerja, demikian juga dia bekerja.
Apakah  Yesus sebagai manusia juga berdosa seperti kita?  Di dalam Roma 8:3, dikatakan bahwa daging Yesus serupa dengan daging  yang dikuasai dosa. Tetapi keserupaan itu hanyalah dalam taraf gejala saja. Sesuatu yang suci bisa saja mengambil bentuk yang dalam taraf gejala serupa dengan bentuk-bentuk yang najis.  Di dalam Ibrani 4: 5, disebutkan bahwa Yesus, sama seperti kita telah dicobai tetapi dia sendiri tidak berdosa. Dan Yesus sendiri dalam Yoh. 8: 46, mengatakan tentang dirinya bahwa Dia tidak berbuat dosa.
Menurut fikiran manusia, ketidak berdosaan Yesus adalah sesuatu yang mustahil, apalagi di dalam dunia filsafat dikatakan bahwa apapun yang mengalami perkembangan dengan sendirinya berrarti berada dalam keterbatasan, dan apa yang terbatas berarti tidak sempurna, dan apapun yang tidak sempurna berarti di dalam kekuarangan baik di dalam arti badani maupun di dalam arti rohani. Dan barang siapa yang berkekurangan di dalam hidup kerohanian tentu hidup di dalam dosa. Demikianlah cara berfikir filsafat. Apabila gereja Kristen mengatakan bahwa  Yesus mengalami perkembangan sebagai manusia, tetapi dia tidak berdosa, gereja Kristen dengan statement itu telah merusak pengertian rationill dari manusia. Memang soal Yesus sebagai manusia yang tidak berdosa adalah terutama soal iman yang dibuahkan oleh Roh Kudus. Stament itu bukanlah sebagai konklusi dari proses berfikir rationil.
Tentang pengetahuanpun manusia Yesus terbatas seperti kita. (Mark. 13: 32). Dan Luk. 2: 52 mengatakan bahwa  ; “Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmatnya”. Seorang yang bertambah hikmatnya adalah orang yang tidak sempurna dalam pengetahuan, karena sekiranya dia sempurna tentu dia tidak bertambah. Di Getsemane juga dia berdoa seperti kita yang tidak mengetahui masa depan. Gereja Kristen tidak malu bahwa Yesus Tuhannya di dalam bentuk kemanusiaannya tidak tahu sama sekali akan ilmu pengetahuan-pengetahuan modern. 

2.1.2.      Manusia Yesus tidak seperti kita

a.       Di dalam kemanusiaannya Yesus bersatu dengan kehendak Tuhan Allah, di dalam kesatuan dimana dia sungguh-sungguh taat dan patuh kepada Tuhan Allah, yang menyebabkan dia sanggup melayani di dalam kasih, bahkan mengorbankan dirinya demi keselamatan manusia. Malah harus dikatakan bahwa dialah , dalam bentuk kemanusiaannya, personifikasi (perwujudan) dari kasih Allah. Dalam hal ini tidak ada seorangpun manusia yang serupa dengan Yesus.
b.      Tidak ada seorang makhluk pun yang dapat menyerupai Yesus dalam kesanggupannya mengadakan mujizat setiap saat. Walaupun banyak manusia yang dapat melakukan sesuatu pekerjaan yang besar umpamanya dengan  memakai tenaga dalam, namun tidak ada manusia yang pada setiap saat yang disukai dapat menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati.
c.       Ketidak serupaan Yesus dengan manusia juga dapat  diterangkan dari sudut  otoritas (kuasa) ke messiasannya. Inilah juga yang membedakan Yesus dari segala nabi-nabi. Kalau nabi-nabi hanya memberitakan kerajaan Allah, Yesus membawakan kerajaan Allah itu di dalam dirinya. Kerajaan yang dibawakan itulah yang menjamin keaslian dan kehebatan dari otoritasnya. Memang semua ini adalah soal mempercayai atau tidak mempercayai. Di dalam realitas sejarah, Yesus telah membuktikan bahwa  Dialah Kristus itu, tetapi hanya imanlah yang dapat melihat dan menerima kenyataan sejarah itu. Jadi mempercayai Yesus adalah Kristus, sama dengan mempercayai Yesus sebagai Anak Allah. Dan itu sama dengan mempercayai bahwa Yesus manusia itu  adalah Allah yang sesungguhnya.
d.      Semua manusia mengakui bahwa Yesus sebagai pribadi historis (hidup dalam sejarah manusia). Tetapi bukan semua manusia mengakui sifat keberadaannya itu yang supra historis,  di mana Yesus itu datang dari luar sejarah, melebihi dari pada yang pernah ada dalam sejarah. Ini disebabkan oleh karena manusia yang tidak mengakui itu lebih dahulu menolak kenyataan dari kebangkitan Yesus. Para rasul sendiri tidak pernah membicarakan sifat supra-historis dari Yesus sebelum kebangkitannya. Baru sesudah kebangkitannya segala-galanya menjadi terang bagi mereka.  Di dalam kebangkitan Yesus nampak “the beyond breaks into history” (yang di luar memasuki sejarah). Dan segala sesuatu yang terjadi dalam sejarah sesudah itu merupakan “historical continuum” (akibat-akibat/efek/ gelombang sejarah). Rasul Paulus sendiri melihat sukarnya soal ini dimengerti manusia. Itulah sebabnya dia mengatakan dalam Kissah  10: 40.41, bahwa pengertian sifat supra historis dari Yesus tidak mungkin diperoleh orang-orang yang tidak percaya. Di dalam kebangkitan Yesus kita sebenarnya menghadapi suatu sejarah yang lain coraknya dari pada sejarah hidup Yesus sebelum kematiannya. Hidup Yesus sebelum kematiannya dapat dimengerti dan dibahas manusia dari segala sudut, tetapi kebangkitannya merupakan sesuatu yang jelas sekali ada di luar pengertian manusia. Kebangkitan ini pada hakekatnya adalah soal dipercayai atau tidak dipercayai. Tetapi bagi rasul Paulus, kebangkitan itulah justeru yang menjadi  “stand point” (titk bediri) untuk memberitakan dan mengajarkan tentang Yesus, sehingga kita dapat mengatakan bahwa segala pengajaran yang mendalam tentang Yesus Kristus adalah buah dari perjumpaan dan “encounter”  (penghadap mukaan) dengan Yesus yang bangkit.
e.       Banyak sekali teologi Kristen suka mengertikan kemanusiaan Yesus yang bukan serupa dengan kemanusiaan kita dari sudut pengajaran “virgin birth” (kelahiran Yesus tanpa ayah, atau lahir dari anak dara). Tetapi bagi kita kebenaran dari “virgin birth” atau kepalsuannya bukan menjadi soal iman. Kita melihat bahwa di dalam PB, hanya Matius dan Lukas yang menyebutkan kelahiran Yesus tanpa ayah manusia. Rasul Paulus dan Yohannes menulis tanpa mengetahui soal “virgin birth”; demikian juga para rasul lainnya tidak pernah menuliskan tentang “virgin birth”. Karena  itu kita tidak salah apabila meragukan kebenaran dari “virgin birth itu. Ke Allahan dari manusia Yesus tidak penah dijamin dan ditentukan oleh “kelahiran tanpa ayah”. Itulah sebabnya bagi kita, soal   virgin birth tidak pernah menjadi inti dari kerugma. Inti dari kerugma Kitab Suci  adalah bahwa Yesus mati untuk keselamatan kita dan bahwa dia bangkit menaklukkan maut untuk kita.

2.2. Ke-Allahan  Yesus

2.2.1.      Yesus Kristus Anak Allah
Kitab Suci penuh dengan kesaksian bahwa Yesus  itu adalah Anak Allah, bukan saja Mesias dalam pengertian Yudaisme. Statusnya sebagai Anak Allah meliputi pengertian bahwa dia adalah juga  “the Revealer”(yang menyatakan), yang sangat lain sekali sifatnya dari sifat-sifat nabi-nabi. Status Anak Allah itu jugalah yang menyebabkan dia   sebagaimana disebut dalam Kitab Suci, Imam dan Penebus. Walaupun banyak tafsiran yang berlain-lainan tentang Yohannes 14: 9, di dalam mana Yesus mengatakan: “Barangsiapa melihat Aku dia juga melihat Bapa”, bagi kita hal itu sudah jelas yaitu di mana Yesus berada di situlah Allah berada. Dengan kata lain, apa yang dikatakan Yesus adalah perkataan Allah sendiri. Keberadaannya tidak terlepas dari keberadaan Allah sendiri. Paling tidak dalam kenyataan ini, kita dapat mengertikan ke Anak-an  Yesus dalam hubungannya dengan Allah. Karla Barth lebih terang mengatakan” “Apa yang diiperbuat Yesus adalah perbuatan Allah sendiri”. Namun pandangn ini adalah pandangan yang bersifat “Christo centris”.

2.2.2.      Ke Allahan yang kekal dari Yesus
Kesaksian-kesaksian yang pertama dari gereja Kristen mula-mula, sebenarnya tidak menyebut-nyebut “pre-existensi” dari Yesus. Demikian juga  surat-surat pertama dari rasul Pulus tidak menyebutkan pre-existen;  tema yang terutama dari surat-surat itu ialah pekerjaan Yesus. Tetapi di dalam surat-suratnya yang terakhir memang ada juga pengertian pre-existence, tetapi pengertian ini hanyalah menjadi dasar dari pengertiannya tentang pekerjaan Yesus. Ini perlu agar pengertian tentang pekerjaan Yesus jangan dipisah-pisahkan dari kehendak Allah yang kekal.
Hanya Yohannes di dalam Injilnya menyebut dengan jelas mengenai pre-existensi dari Yesus. (ps. 1). Tetapi harus kita ingat bahwa urutan  tulisan-tulisan dalam Kitab Suci adalah atas pimpinan Roh Kudus. Jadi bukanlah kebetulan bahwa dalam urutan tulisan di dalam Kitab Suci, Injil Yohannes ditempatkan sesudah Injil Synopsis. Injil Synopsis menekankan pekerjaan Yesus yang historis; sedangkan Yohannes menekankan pekerjaan Yesus yang bersifat supra-historis dengan menyebut-nyebut pre-existensi dari Yesus. Dengan kata lain  dalam urutan tulisan-tulisan Kitab Suci, kita dibimbing untuk mengenal Yesus dari sifatnya yang historis dan dengan demikian makin mengenal sifatnya yang supra-historis. Ini  sesuai juga dengan pengalaman manusia secara pribadi. Manusia mula-mula mengenal Yesus sebagai manusia lalu dalam pengalaman kerohaniannya lambat laun diperkenankan dengan pengenalan akan Yesus sebagai Allah.
Tetapi kemudian gereja Kristen segera membalikkan urutan itu. Gereja kemudian mengajarkan lebih dulu pre-existensi dari Yesus, baru mengajarkan pekerjaan-pekerjaan-Nya  dalam kemanusiaan-Nya. Sebenarnya pembalikan persoalan ini kurang baik, karena dengan demikian gereja seolah-olah takut kepada prinsip-prinsip yang ada di dalam prosedur berfikir secara filsafat. Filsafat selalu mengutamakan dan mendahulukan urutan yang logis. Memang sangat logis untuk membicarakan dan mempercayai pre-existensi Yesus lebih dahulu dari pada hidupnya dan pekerjaannya sebagai manusia. Tetapi gereja tidak seharusnya mengutamakan urutan-urutan logika yang demikian, karena Kitab Suci sendiri dalam urutan-urutan yang ada di dalamnya ingin lebih dahulu membicarakan Yesus manusia, sedangkan pengertian tentang pre-existensi dipakai sebagai dasar untuk mengerti kemanusiaan itu.  Kenapa kita harus mempercayai Yesus sebagai Anak Allah yang kekal, ialah:

1)      Oleh karena Kitab Suci sendiri dalam otoritasnya mengatakan bahwa Yesus sebagai  Anak Allah sendiri. Dengan kata lain Kitab Suci menunjukkan dan memberikan kepada kita Yesus Kristus sebagai Anak Allah.
2)      Tiap orang yang beriman selalu menjumpai Yesus sebagai Anak Allah, sebagaimana juga para rasul menjumpai Yesus sebagai Kristus. Sejarah Gereja belum pernah menunjukkan kepada kita adanya  seseorang yang sungguh beriman yaang di dalam pengalaman kerohaniannya menjumpai Yesus hanya sebagaimana  atau hanya sebagai setengah Allah. 

Di dalam sejarah gereja ada tiga teori tentang ke Allahan Yesus yang sama sekali tidak kita terima, yakni:

a.       Adoptionisme, yang timbul dalam abad ke dua. 
Aliran ini mendasarkan pandangannya tentang ke Anakan Yesus hanya atas Maz. 110 dan Roma 1: 3 ff. Menurut mereka pada mulanya Yesus adalah “jiloV anqropoV”  (manusia biasa. Tetapi dalam peristiwa pembaptisannya dia dipenuhi Roh  Tuhan yang menyebabkan dia mempunyai otoritas yang besar di tengah-tengah manusia zamannya. Ruh Tuhan itulah juga yang memungkinkan dia mengadakan mujizat-mujizat dan pekerjaan-pekerjaan besar lainnya. Baru pada peristiwa kebangkitannya dari maut, dia  diadopsi oleh Allah menjadi Anaknya.  Kita tentu menolak pandangan ini karena dengan demikian sebelum kebangkitannya, Yesus tidak lain tarafnya dari pada taraf nabi-nabi PL. Pada hal Kitab Suci jelas sekali mengatakan bahwa  Yesus bukan hanya nabi saja. Adapun teks yang dua itu yang selalu dihadapmukakan  oleh golongan Adopsianisme, menuru kita harus ditafsirkan dalam sinar tertentu, yaitu dalam sinar kesatuan Kitab Suci. Sekali kita berhasil  memisahkan tiap-tiap ayat dari kesatuan Kitab Suci, kita akan terjerumus ke dalam teologi yang tidak punya arti.
b.      Sabellianisme.
Aliran ini tidak mengindahkan sama sekali perbedaan di antara Allah Bapa dan Allah Anak, sedemikian rupa sehingga mereka mengatakan bahwa yang tersalib di Golgata ialah Allah Bapa itu sendiri. Itulah sebabnya golongan Sabellianisme ini juga disebut  “Patripassianisme”.
Terhadap pandangan ini kita juga harus hati-hati, karena kita mengenal Yesus baik di dalam kemanusiaannya maupun di dalam pre-exixtensinya sebagai Anak Allah yang bukanlah Allah Bapa. Inilah sebabnya pula bagi kita  pengertian Trinititas yang membeda-bedakan ( sekali pun tidak memisahkan) fungsi dari tiga oknum di dalam kesatuan Trintas.
c.       Arianisme. Aliran ini adalah pengikut ajaran Arius, yang pendapatnya mengenai hubungan Yesus dengan  Allah Bapa dikutuk dalam konsili Nicea tahun 325. Menurut aliran ini, Yesus memang mempunyai sifat ilahi, tetapi dia bukanlah Allah. Yesus diciptakan oleh Allah, walaupun tarafnya lebih tinggi dari taraf malaekat. Jadi status Yesus sub-ordinate (di bawah taraf) Allah.


Terhadap Adoptianisme, Sabbellianisme, Arianisme, para bapak gereja melemparkan kritik-kritik yang didasarkan atas pengertian Kitab Suci. Pendirian para bapak gereja berbunyi sebagai berikut:  Hanya Allah yang dapat menyatakan Allah. Dan Yesus itu dilahirkan dari kekal, bukan diciptakan.; dan dia bukan juga makhluk atau malaekat, tetapi Allah dari kekal sampai kekal. Begitulah kesimpulan dari pengertian teologis  dari para bapak gereja tentang Tuhan Yesus. Sampai sekarng gereja-gereja Kristen (yang bukan merupakan sekte atau bidat) mempunyai pendirian yang sama.  Berdasarkan pendirian Kitab Suci tersebut, orang-orang Kristen (gereja) mau mengatakan bahwa Yesus Kristus itu adalah Allah sendiri yang ada dari kekal sampai kekal. Dan inilah sebabnya Yesus Kristus  adalah pernyataan yang mutlak dari Tuhan Allah dan menjadi   Tuhan di atas segala-galanya.


2.2.3.      Inkarnasi Anak Allah

Yesus mengatakan tentang dirinya sendiri dalam Mat.9:13, bahwa dia datang (maksud inkarnasinya) untuk memanggil orang-orang berdosa ke dalam pertobatan. Dalam konteks lain dikatakan bahwa Dia datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani. (Mat. 20: 28; bd. Mat. 5:17; 10: 34; 18:11).
Inkarnasi Yesus menjadi manusia, berarti satu saja yaitu:  bahwa Allah datang kepada manusia. Inilah kenyataan yang paling fundamentil yang disajikan oleh pernyataan kitab Suci. Kedatangan Allah kepada manusia selaras dengan pengertian kedatangan kerajaan Allah dalam bentuk baru. Segala nubuatan dipenuhi oleh kedatangan Messias yang di dalamnya Allah hadir. Kedatangan Messias inilah yang memungkinkan kita mengerti arti dari “Immanuel”, dan arti dari  ungkapan yang mengatakan; “Aku adalah Allahmu dan kamu adalah bangsaKu”Aku bersamamu” ( I am with you). Kita harus mengakui bahwa di dalam Kitab Suci tidak ada satu ayat pun yang memberitakan bagaimana cara terjadinya inkarnasi . Kitab Suci hanya menceritakan kenyataan dari inkarnasi itu. ( Roma 8: 3; II Kor.8: 9; Fil. 2: 6 dan Yohannes 1:14). Bagaimana Yesus meninggalkan ke allahannya dan menjadi manusia tidak disebutkan cara-carnya.
Memang biasanya orang-orang kristen suka menerangkan cara inkarnasi itu dari sudut “virgin birth” (kelahiran dari anak dara), yang diceritakan oleh Mateus. Tetapi seperti sudah diterangkankan sebelumnya, mujizat yang besar tentang inkarnasi Yesus bukanlah di dalam pengertian “virgin birth”, melainkan hanya di dalam hal: “bahwa  Yesus yang adalah  Anak Allah dari kekal datang dari diri Allah menjadi manusia. Itulah mujizat yang sebesar-besarnya.

2.2.4.      Pengertian tentang dua tabiat Yesus

Adalah sangat logis untuk menanyakan, bagaimanakah tabiat dari Yesus, satukah atau dua kah. Gereja Kristen sejak dahulu kala sampai sekarang mempunyai pendapat yang berbeda-beda tentang soal ini.   Umpamanya Nestorius berpendapat bahwa Yesus mempunyai dua tabiat yang sama besar, yaitu  tabiat ke allahan dan tabiat kemanusiaan. Tabiat ke allahan dan tabiat kemanusiaan itu terpisah satu sama lain, bagaikan minyak dan air dalam suatu wadah. Pengajaran yang  disebut “diophysitisme” ini tidak bisa kita tolak begitu saja, karena kita sendiri selalu memberitakan bahwa Yesus adalah Allah dan manusia.
Tetapi Cyrillus mengajarkan yang sebaliknya, yaitu bahwa Yesus mempunyai  satu tabiat saja, di mana tabiat kemanusiaan dan  tabiat ke allahan itu telah bercampur, di mana dalam  percampuran itu tabiat ke allahanlah yang menguasai tabiat kemanusiaan. Percampuran itu sering digambarkan bagaikan percampuran susu dengan air. Pengajaran Cyrillus yang disebut “monophysistisme” ini juga tidak bisa ditolak begitu saja, karena Yesus memang adalah satu pribadi; dan satu pribadi tidak mungkin mempunyai dua tabiat.  Ada yang mengatakan bahwa pengajaran M.Luther lebih condong ke monophysitisme (pro Cyrillus), sedangkan pengajaran Calvin lebih condong diophysitisme (pro Nestorius).
Sebenarnya secara biologis boleh dikatakan bahwa monophysistisme benar, tetapi diophysistisme juga tidak salah. Apabila kita memikirkan soal tabiat Yesus, pada waktu yang sama kita juga mengikuti monophysitisme dan diophysitisme. Pengertia “vere deus, vere homo”  (benar-benar Allah, benar-benar manusia, disajikan  Kitab Suci kepada kita sebagai suatu rahasia ilahi. Kitab Suci tidak memberikan uraian yang logis dan uraian filosofis tentang itu. Segala konklusi yang rasionil tentang soal tabiat Yesus adalah duga-dugaan saja. Penyelidikan Alkitab tidak membantah aliran monophysitisme dan juga tidak menolak aliran diophysitisme.
Monphysitisme benar dengan alasan bahwa: kalau dikatakan Yesus adalah pernyataan Allah, pengertian itu mengandaikan dan meliputi pengertian  bahwa Yesus secara keseluruhan dan secara kesatuan merupakan pernyataan Allah. Badannya dan bahkan kelemahan-kelemahannya sebagai manusia termasuk unsur-unsur ilahi yang sangat azasi di dalam kenyataan sebagai pernyataan Allah. Dengan kata lain: bukanlah hanya pengajarnnya dan khotbah-khotbahnya yang merupakan pernyataan Allah, tetapi segenap existensinya sebagai satu kesatuan; badannya juga  ikut sebagai pernyataan Allah. Justeru tentang Yesus yang tersalib itulah Yohannes mengatakan: “kamu telah memandang kemuliaan-Nya”. (Yoh. 3: 14).
Diophysitisme juga dibenarkan dengan alasan sbb: logos tidak pernah  berobah  (trasformed , Batak” “mangilulu”)  menjadi daging. Biarpun bukan begitu maksud dari monphysitisme,  orang sering dengan mudah salah mengerti akan pengertian yang diajarkan oleh monophysitisme tentang kesatuan tabiat  Yesus. Jadi dalam hal menolak kemungkinan salah pengertian itu,  diophysitisme memang benar dalam hal menekankan bahwa tubuh Kristus  adalah benar-benar tubuh manusia dan ke allahannya benar-benar ilahi.
Sebenarnya soal monophysitisme dan diophysitisme adalah spekulasi yang terlalu abstrak, yang sebenarnya kurang berguna untuk mengertikan kepribadian Yesus. Pemikiran itu timbul hanya sebagai jawab terhadap soal yang salah, yaitu soal “virgin birth” dan soal  “QeotokoV”  (Theotokos).


2.2.5.      Tuhan yang bangkit dan yang dimuliakan

Titik terakhir yang berupa klimaks dari  “kenosis” (pengosongan diri  bd. Fil. 2:6 dst.)  Anak manusia itu ialah kematiannya di kayu salib.  Bentuk hamba yang dikenakan kepada dirinya yang merupakan kepatuhan yang sempurna berakhir di atas salib. Dengan kata lain, kematian di atas salib merupakan penyempurnaan dari inkarnasinya. Dia lahir seperti kita, mati seperti kita, tetapi dalam matinya di masuk ke dalam suatu kedalaman yang tidak pernah dialami manusia, menggantikan manusia itu sendiri. Tidak ada manusia yang menyadari secara penuh saat-saat kedatangan kematiannya, dan tidak ada  manusia yang dengan penuh kesadaran menuju neraka. Secara teologis harus dikatakan bahwa di dalam kesengsaraan Yesus yang secara penuh disadari itu sampai masuknya ke neraka, Tuhan Allah secara mutlak menghayati hidup kita untuk keselamatan kita sendiri.  Tetapi sebenarnya justeru dalam hal  inilah kemenangan (victory) dari Tuhan Allah dinyatakan. Karena iblis tidak dapat bertahan di hadapan kasih Allah yang disalurkan dalam bentuk kesengsaraan dan kehinaan. Kesanggupan Anak Allah itu sendiri memasuki maut dan neraka,  itulah yang mengatasi dan memenangkan segala daya upaya dan cara-cara iblis.
Apakah pengertian dari  “Descensus ad inferos”  (turun ke dalam neraka). Sejak lama pengertian ini menimbulkan faham yang berbeda-beda di dalam gereja Kristen. Sumber perbedaan disebabkan oleh istilah-istilah yang berlainan yang dipakai oleh I Petrus 3 dan 4.. Bahwa asli dari Pengakuan Iman Rasuli memakai istilah neraka (hell); sedangkan bahasa yang dipakai dalam I Petrus 3: 19 dan I Petrus 4: 6) ial;ah  ‘adhV (hades; dunia orang mati) Martin Luther berdasarkan ayat-ayat dalam I Petrus ini menganggap bahwa kematian Yesus di atas  kayu salib dan turunnya ke  “hades” sebagai dua peristiwa yang berlainan. Menurut M.Luther, puncak dari kehinaan dan kesengsaraan  Yesus terjadi di atas salib saja. Oleh karena itu turunnya Yesus ke “hades” sudah merupakan titik permulaan dari kemuliaannya. Di dalam status kemuliaannya inilah Yesus berkhotbah kepada roh-roh orang mati yang selama hidupnya belum mendengarkan berita Injil keselamatan.
Yohanes Calvin sama sekali tidak menerima pandangan tadi. Menurut dia, peristiwa salib dan turunya ke neraka adalah satu peristiwa saja. Apabila Pengakuan Iman Rasuli memakai istilah “ turun ke neraka”, itu hanya mau menggambarkan bagaimana dahsyatnya pengalaman Yesus di atas kayu salib. Neraka bagi Calvin terjadi di atas salib; yaitu pada waktu Kristus menyerukan: “Eli, Eli, lama Sabachtani” (Ya Tuhanku, Ya  Tuhanku mengapa  engkau meninggalkan aku ?  Seruan ini menyebutkan perceraian yang total dariAllah dan inilah neraka. Neraka bagi Calvin bukan  tempat melainkan adalah keadaan keterpisahan manusia dari Tuhan Allah


M.Luther                     J.Calvin                                  

                                                                                                                                                Status  kehinaan= salib dan kematiannya
                                                                            Status kemuliaan mulai dari kebangkitan     
         Status                      
    Kehinaan           kemuliaan                                                  Status kemuliaan

                     Status kehinaan/
                        Neraka


                neraka         

            Bagi M. Luther, status kehinaan Yesus mulai dari di kandungnya Yesus oleh Maria sampai kematianya. Status kemuliaannya  mulai dari  dikuburnya dia selama tiga hari, karena pada saat itu Luther yakin bahwa Yesus berkhotbah kepada roh-roh orang mati.

            Sejak dahulu kala sampai sekarang ada banyak fikiran yang bertentangan tentang  1 Petrus 3: 19 dan 1 Petrus 4: 6, yaitu tentang kunjungan Yesus kepada roh-roh orang mati untuk menyampakan Injil kesukaan kepada mereka.  Menurut pendirian kita soal maut adalah rahasia Tuhan, tetapi tidak salah untuk mengatakan bahwa Tuhan itu adalah juga  Tuhan dari orang yang hidup dan orang yang mati. Ini berarti bahwa walaupun manusia mati secara total, Tuhan Allah berkuasa penuh atas orang-orang mati itu. Tetapi  pengertian ini  tidak harus berarti bahwa  Yesus di  dalam kematiannya yang tiga hari itu, di mana dikatakan dia mengunjungi roh-roh orang mati, menjadi titik permulaan penguasaan Allah atas orang mati. Pengertian yang salah akan 1 Petrus 3: 19 dan 1 Petrus 4: 6, telah menimbulkan paling sedikit  teologi tentang rahasia maut, yang membedakan tempat orang-orang mati atas tiga macam, yakni:  Gehenna, Sheol dan Paradise.
            Dikatakan bahwa Gehenna ialah tempat  bagi orang-orang mati yang selama hidupnya telah menolak Kristus walaupun dia telah mendengar pemberitaan Injil. Bagi  roh-roh ini tidak ada lagi kemungkinan  bertobat. Jadi Gehenna merupakan tempat sementara  bagi mereka, sebelum roh-roh itu  dimasukkan ke dalam neraka.
            Sheol  (hades), katanya adalah tempat bagi roh-roh dari orang-orang mati yang selama hidupnya tidak pernah mendengarkan Injil  tentang Kristus (seperti nenek moyang kita dahulu kala). Dikatakan bawa Kristus selama kematiannya yang tiga hari itu pergi keberkhotbah ke Sheol atau hades ini, untuk memperkenalkan dirinya sebagai Juruselamat bagi roh-roh yang masih belum percaya sebelumnya.
            Paradise, katanya adalah tempat bagi roh-roh orang mati yang selama hidupnya telah mendengar Injil Kristus dan telah menerima Jesus Kristus sebagai Juru selamatnya. Ditambahkan bahwa roh-roh ini juga disuruh mengunjungi hades untuk berkhorbah,  memungkinkan pertobatan di antara roh-roh yang ada di dalamnya. Sudah terang bahwa   Paradise adalah  tempat  pendahuluan dari sorga yang sesungguhnya.
            Teori ini sampai sekarang populer sekali karena  mudah dimengerti dan sangat menarik. Malah gereja RK menambahkan lagi satu pengertian, yang mengatakan bahwa segala roh dari orang-orang mati yang dinilai belum cukup suci untuk dimasukkan langsung ke sorga dan  belum cukup jahat untuk dimasukkan langsung ke neraka, harus lebih dahulu dimasukan ke dalam tempat “api penyucian”  ( bahasa Batak: api parpitapitaan; purgatory). Dari tempat inilah roh-roh dipilih, mana yang akan dimasukkan ke dalam Paradise, dan mana yang akan dimasukkan ke Hades dan ke Gehenna. Ada tiga hal yang menentukan tempat mana yang akan dituju oleh sesuatu roh, yakni:
1)      Perbuatan orang itu selama hidupnya
2)      Doa dari gereja untuk dia secara khusus
3)      Amal dan perbuatan-perbuatan dari sanak saudaranya yang masih hidup.
Apabila seorang atau beberapa sanak- saudara dari seseorang yang telah mati memberikan amal atau pemberian-pemberian kepada gereja untuk keselamatan  roh orang mati tersebut, maka tentu gereja (para Imam) akan mendoakan roh orang mati itu secara lebih sungguh-sungguh. Dan apabila  faktor-faktor ini disertai pula oleh kenyataan bahwa  orang yang mati itu pernah sesekali melakukan perbuatan yang baik selama hidupnya maka proses perpindahan dari tempat api penyucian itu ke Paradise makin dipercepat
Teori-teori yang tersebut di atas tidak dapat kita terima. Lepas dari persoalan yang disebut 1 Petrus  3 dan 4 itu, Kitab Suci selalu membicarakan tentang Kristus sebagai Tuhan yang telah bangkit, dan segala-galanya ditinjau dari sudut kenyataan ini . Lihat 1 Kor. 15: 17, tanpa kebangkitan Kristus, Injil tidak akan ada, dan gereja Kristenpun tidak mungkin ada di atas dunia.
Memang secara khronologis pemberitaan dari ke empat Injil dan pemberitaan dari rasul Paulus tentang kebangkitan Kristus tidak sama, dan tidak dapat dipaksakan dalam satu teori yang harmonis. Umpamnya menurut Paulus dalam I Korintus 15, Kristus bangkit pada hari yang ketiga dan segera menampakkan diri kepada Kefas, lalu kepada murid-murid yang dua belas orang dan kepada saudara-saudaranya lima ratus orang sekaligus. Urutan ini dan juga tempat yang disebut berbeda dari pemberitaan empat penginjil lainnya. Tetapi dalam perbedaan-perbedaan itu ada juga kesamaan yaitu bahwa kebangkitan itu terjadi pada hari ke tiga dan kuburan itu benar-benar kosong. Hal ini cukup menjadi bukti tentang kebangkitan Yesus, ditambah pula dengan  kenyataan bahwa para murid itu memang bertemu lagi dengan Tuhan yang telah bangkit itu. Jadi walaupun urutan khronologis dari peristiwa kebangkitan itu berbeda-beda, yang penting ialah bahwa kebangkitan itu bukan khayal dari murid-muridnya. Mereka benar-benar mengalami perjumpaan dengan Yesus.

Kenaikan ke sorga
Menurut Injil Lukas kenaikan ke sorga terjadi empat puluih hari sesudah kebangkitan dari maut. Kitab Suci kurang memberi tekanan tentang arti berita Lukas ini. Entah di tempat mana Yesus berpisah dari murid-muridnya dan entah kapan itu terjadi kurang ditekankan oleh Kitab Suci sebagai keseluruhan. Ini dapat kita mengerti karena pengertian kenaikan ke sorga hanya merupakan “overgang” di antara kebangkitan dan duduknya Yesus di sebelah kanan Allah Bapa yang di sorga. Namun demikian peristiwa ini merupakan  suatu titik dalam status kemulian Yesus. Sebagaimana Yesus naik ke sorga, tempat asalnya, demikianlah juga orang-orang beriman akan dipindahkan ke sorga. Inilah pengertian teologis yang terletak sebagai latar-belakang di dalam peristiwa yang diceritakan oleh Lukas.
Lebih penting dari itu ialah bahwa dia didudukkan di sebelah kanan Allah Bapa di sorga. Inilah titik puncak di dalam status kemuliaan Yesus. Sebenarnya pengertian “sebelah kanan” adalah suatu simbol saja, karena Tuhan Allah tidak dibatasi oleh ruangan yang mempunyai dimensi kiri dan kanan. Tuhan Allah mengatasi pengertian ruangan. Jadi pengertian duduk di sebelah kanan, menunjukkan kesempurnaan kemuliaan Yesus. Di dalam kemuliaan inilah dia menjadi “hakim atas orang yang hidup dan yang mati”. Pengertian yang terakhir ini berarti bahwa Dia selalu campur tangan atas  affair-affair orang yang masih hidup. Hal inilah yang menjadi kegembiraan bagi orang-orang beriman. Dia lah juga yang menjadi pemegang kuasa maut, makanya orang mati juga berada di dalam kuasanya.
Tentu semuanya ini adalah soal iman saja, karena kita belum mepersaksikannya dalam bentuk yang dimengerti oleh dunia. Tetapi akan tiba waktunya “ kita akan melihat Dia sebagaimana Dia ada”, yaitu apabila kita kelak “menjadi serupa dengan Dia”. ( I Yoh. 3:2) (msm)






EKKLESIOLOGI

EKKLESIOLOGI

(Pdt MSM Panjaitan, MTh)


Pendahuluan
            Semua agama membutuhkan  suatu persekutuan  yang juga menjadi sumber  segala inspirasi keagamaan bagi umatnya. Seandainya ada agama yang tidak mempunyai persekutuan, itu sama saja dengan aliran-aliran filsafat. Sedangkan aliran-aliran yang anti agama sekalipun juga membutuhkan suatu persekutuan pada satu-satu waktu tertentu. Seperti misalnya Komunis  juga mempunyai kumpulan-kumpulan, partai-partai, yang selalu berkumpul secara rahasia. Karena adalah hakekat manusia untuk mendapat inspirasi baru di dalam kumpulan-kumpulan yang bersifat persekutuan.
       Tetapi di antara semua agama di dunia ini , terdapat pendapat yang bebeda  mengenai  arti dari persekutuan itu. Di satu pihak ada yang  menganggap persekutuan itu hanya  sebagai perkumpulan orang-orang elit ( enlightene ones atau orang-orang yang mempunyai ilham). Dan di pihak  lain ada yang berpendapat sebaliknya, yang mengatakan bahwa agama itu adalah perkumpulan dari keseluruhan umatnya secara horizontal, yang bersifat pergaulan sesama.  Hanya orang Kristenlah yang berhasil menghubungkan ke dua pendapat ini, dalam pengertiannya  mengenai gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya.

1.      Pengertian tentang  Gereja

            Pengertian gereja dari berbagai  aliran, golongan, sekte tentang ekklesiogi adalah berbeda-beda. Ini disebabkan karena pengajaran tentang gereja tidak pernah sejelas pengertian mengenai  pokok teologi yang lain misalnya tentang keselamatan (soteriologi) dan tentang Kristus (Kristologi). Baik di gereja RK maupun di gereja-gereja Protestan pengertian mengenai ekklesiologi ini tidak pernah jelas. Dan itulah sebabnya sekarang ini sudah ada usaha untuk mencari konsensus (pengertian umum),  terlebih-lebih di gereja-gereja Proetestan dan gereja RK. Konsensus itu dapat dirumuskan sbb:

1.1.  Gereja sebagai bangsa Allah

Asal dari gereja ialah panggilan Tuhan Allah akan suatu  bangsa yang terplih. Dalam Perjanjain Lama  persekutuan umat Allah  yang terpilih itu disebut  “qahal”.  Pengertian ‘qahal” mengekspresikan kesatuan agamani dari orang-orang Yahudi sebagai satu bangsa Allah atas panggilan Tuhan Allah itu sendiri.  Qahal juga meliputi pengertian bahwa  paling tidak sebahagian dari bangsa yang terpilih itu akan dilepaskan.
Ekklesia sebagai Israel yang baru  tidak terikat kepada satu bangsa saja dan tidak terikat akan satu kode hukum. Ekklesia itu dilahirkan oleh  suatu perjanjian yang baru. Tetapi perjanjian yang baru yang menimbulkan  Israel yang baru ini tentu tidak meniadakan segala macam hubungan-hubungan yang ada di dalam PL.  Jadi Perjanjian Baru selalu menyadari dirinya sebagai kontinuitas dari  Perjanjian Lama dan berhubungan dengan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Tetapi ekklesia ini selalu pula menyadari dirinya sebagai sisa dari bangsa pilihan dulu, yang karena itu sebagai bangsa yang benar dan benih yang benar. Malah dipercayai bahwa  rasul yang dua belas itu telah dihunjuk oleh Tuhan Allah menjadi hakim atas dua belas suku Israel.
Tuhan Allah selalu dianggap sebagai pendiri dari gereja, dan oleh karena itu gereja sebagaimana dahulu kala, demikian juga sekarang selalu menunjuk kepada perjanjian (covenant) dari Tuhan Allah, dalam perjanjian mana kasih Allah selalu mengatasi penyelewenang-penyelewengan dari anggota yang sering merusak isi perjanjian itu. Tetapi klimaks dari pengertian gereja yang demikian adalah bahwa gereja itu dikumpulkan dan dipersatukan oleh tindakan-tindakan penyataan dan tindakan pelepasan dari Tuhan Allah dalam Kristus, sehingga semua orang yang dikumpulkan itu menjadi satu bangsa walaupun mempunyai bahasa yang berbeda dan adat yang saling bertentangan. Menjadi anggota gereja berarti mengikuti rentetan-rentetan peristiwa-peristiwa dalam sejarah karena berdirinya gereja adalah sebagai hasil dari pekerjaan Tuhan Allah di dalam rentetan-rentetan peristiwa-peristiwa itu. Oleh karena itu pekerjaan Tuhan Allah di dalam Kristus secara historis bukanlah merupakan tindakan pertama di dalam memilih suatu bangsa di dalam sejarah. Sebelum Kristus sudah ada beberapa rentetan peristiwa tindakan Allah di dalam sejarah  yang mengumpulkan bangsanya.  Umpamanya panggilan  Abraham,  hukum-hukum Musa, nubuatan nabi khususnya nabi Yeremia tentang perjanjian baru yang akan tertulis dalam hati manusia. Ini merupakan  peristiwa tindakan pendahuluan dari  pekerjaan Yesus Kristus. Karena itu gereja tidak boleh melupakan arti dari peristiwa-peristiwa yang mendahului itu.

1.2.  Gereja  sebagai tubuh Kristus

Tetapi semua orang Kristen mempercayai bahwa tindakan yang paling menentukan dari pihak Tuhan Allah untuk membentuk suatu bangsa baru atau ekklesia atau Israel yang baru atau gereja, hanya dipenuhi di dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Karena itu gereja dalam arti tertentu merupakan  “prolongation” (perpanjangan) dari tindakan Tuhan Allah. Dengan demikian terang bahwa adanya gereja bukanlah menjadi peniadaan akan peristiwa-peristiwa  Tuhan Allah sebelum Kristus,  melainkan berarti bahwa di dalam Kristus segala perjanjian itu diperbaharui, oleh sebab mana timbul satu bangsa baru atas pilihan yang baru.
      Hubungan Kristus dengan gereja dinyatakan oleh hukum perjanjian baru dengan beberapa gambaran.  Umpamanya seperti hubungan pohon anggur dengan ranting-rantingnya ( Yohannes 15), hubungan alas dengan bangunannya  ( I Korint 3); hubungan pengantin laki-laki dengan pengantin perempuan  ( Wahyu 19: 7-11);  hubungan kepala dengan anggota badan atau tubuh  ( I Korint 12). Semua hubungan yang ada dalam gereja yaitu hubungan yang aktuil  (nyata) atau hubungan yang potensiel, berakar dalam keyakinan yang hidup yang mengatakan bahwa Yesus Kristus itulah kepala gereja dan anggota gereja itu adalah sebagai anggota tubuh dari kepala itu. 


1.3. Gereja sebagai persekutuan dari Roh Kudus

Gereja bukan hanya merupakan bangsa Allah dan tubuh Kristus. Tetapi juga merupakan persekutuan dari Roh Kudus.  Sebagai pemberian dari Roh Kudus, juga boleh dikatakan bahwa eksistensi dari gereja adalah kelanjutan umat Allah. Dan  ini tidak menghapuskan pengertian  bahwa memang pokok sentral  tindakan Allah ada di dalam Yesus Kristus. Menurut Perjanjian Baru, eksistensi dari gereja sangat banyak sangkut pautnya dengan pekerjaan Roh Kudus yang memanggil dan menyucikan. Itu sebabnya hari Pentakosta ( hari   Turunnya Roh Kudus) itu sering disebutkan sebagai hari lahir dari gereja.(Catatan: Bagi gereja Pentakosta, sejarah pertumbuhan gereja, di mana Allah mempergunakan peristiwa-peristiwa  dalam sejarah sebagai alatnya, tidak penting. Tetapi pengertian mereka akan tindakan Roh Kudus selalu bersifat momental. Bagi mereka apa yang terjadi di suatu gereja dalam perjalan sejarah tidak perlu. Tetapi yang perlu ialah apa yang terjadi sekali oleh tindakan Roh Kudus).
Sebenarnya bukanlah suatu kebetulan dalam “Credo” (Pengakuan iman Rasuli ), iman kepada  Roh Kudus dan kepercayaan kepada gereja yang am disatupadukan. Karena memang eksistensi gereja itu adalah  berhubungan dengan pekerjaan Roh Kudus. Dalam PB kita melihat ada petunjuk tentang empat pekerjaan yang besar dari Roh Kudus dalam gereja:
1)      Roh Kudus membuat kehadiran Kristus yang bermulia itu menjadi suatu kenyataan bagi semua manusia dalam semua generasi.
2)      Roh Kudus memanggil dan memungkinkan manusia untuk beriman, dan memimpin orang-orang beriman ke dalam kehidupan anak-anak Allah.
3)      Roh Kudus memberikan buah-buah dari perangai-perangai kesukaan Kristus.
4)      Roh Kudus mengingatkan orang-orang beriman di dalam partisipasinya di dalam koinonia.

1.4. Gereja yang didirikan oleh Allah pada waktu yang sama adalah gereja yang terdiri dari manusia-manusia

Faktor kemanusiaan adalah sangat jelas ada dalam gereja. Dan sebenarnya walaupun Tuhan Allah terus menerus mengampuni dosa dari anggota gereja dan terus menerus mentransform anugerah Allah dalam gereja, anggota gereja itu juga masih terus berdosa dan malah sering berlaku sebagai orang yang meniadakan Tuhannya. Gereja hidup sedemikian rupa sehingga faktor-faktor kemanusiaan masih sering menonjol. Itulah sebabnya rasul Paulus sendiri melihat gereja bukan hanya sebagai tubuh Kristus yang didiami oleh Roh Kudus, tetapi dia juga melihat gereja sebagai kumpulan dari orang-orang yang masih hidup dalam “sarx” (daging) yang selalu membutuhkan tegoran-tegoran dari rasul itu sendiri.
Tetapi adalah suatu mujizat besar sekali bahwa walaupun faktor-faktor kemanusiaan yang sering menonjol dalam gereja, sinar kuasa Kristus sama sekali tidak tidak dihempang atau ditutupi oleh dosa itu. Walaupun faktor-faktor negatif timbul dalam gereja, tanda-tanda yang benar yang menunjukkan bahwa gereja itu suci dan mulia masih nampak. Memang benar banyak faktor kemanusiaan yang menyebabkan Kristus itu kelihatan samar-samar sekali. Golongan Protestan melihat dan mengetahui faktor-faktor kemanusiaan ini sedemikian jelas, sehingga mereka suka menghibur dirinya di dalam pemikirannya yang merumuskan gereja yang benar sebagai gereja yang tidak nampak  (the invisible church). Jadi gereja-gereja Protestan membedakan  gereja yang kelihatan (visible Church) dan gereja yang tidak kelihatan kelihatan (invisible church).  Gereja yang kelihatan itulah yang nampak dalam organisasi atau lembaga kegerejaan, yang  pada satu pihak bisa disebut sebagai “divine institution”  (lembaga ilahi), tetapi dalam waktu yang sama juga merupakan “human institution”  (lembaga manusia). Gereja yang tidak nampak, anggotanya juga terdiri dari anggota gereja yang nampak, tetapi mereka telah benar-benar percaya dan hidup di dalam Kristus.
Ggereja Roma Katolik tidak memerlukan pengertian “invisible church”, karena walaupun mereka mengakui bahwa anggota-anggota gereja itu adalah manusia yang berdosa, gereja itu menurutnya tida berdosa atau bebas dari dosa. Begitulah mereka mengertikan  gereja sebagai tubuh Kristus dan Kristus adalah suci. Sebagai Tubuh Kristus, gereja adalah benar-benar kudus dalam pengertian  ‘sinless” (tanpa dosa). Kalau ada anggotanya yang berdosa, maka orang itu bukan berdosa di dalam gereja, tetapi berdosa di luar gereja.

1.5. Gereja dan Kerajaan Allah

Gereja secara positif berhubungan dengan Kerejaan Allah, tetapi gereja itu sendiri bukan positif Kerajaan Allah  tanpa kualifikasi. Beberapa aliran gereja ada yang terlalu memberikan tekanan akan realisasi yang sekarang dari Kerejaan Allah di dalam gereja, sehingga dengan demikian  mereka mengajarkan gereja itu  identik dengan Kerajaan Allah. Tetapi dalam teologia kita, gereja bukanlah Kerajaan Allah yang komplit.  Memang benar bahwa segala pemberian Roh Kudus kepada  orang-orang yang di dalam gereja adalah melulu pemberian Allah, tetapi ini hanyalah semata-mata sebagai  “arrhabon”  atau panjar atau jaminan saja. Artinya pemberian Roh Kudus di dalam gereja hanyalah merupakan realisasi sebagian dari Kerajaan Allah. Dan hanya dalam arti itu saja kita dapat mengartikan “realized eschatology” (zaman akhir yang direalisasikan sekarang). Dan dalam arti juga kita memakai istilah yang dipakai oleh seorang teolog kenamaan abad yang lalu,  Rudolf Boultman yaitu :  “eschatological community” (persekutuan eskhatologis) yang dikenakan kepada gereja, memberitakan kerejaan Allah yang masih disempurnakan. Pengertian “eschatological community” ini nampak dalam arti dan pekerjan gereja itu sendiri dan sebagian dari harapan-harapannya di dalam iman dan doa. Gereja selalu harus sadar bahwa keberadaannya sekarang tidak dapat diidentikkan dengan Kerejaan Allah  yang komplit. Semua aspek dari gereja hanya menuju kepada sesuatu yang masih akan terjadi yaitu kesempurnaan Kerajaan Allah.


2.       Tugas  Gereja

Gereja diberi tugas oleh Tuhannya, di mana dalam tugas itu semua anggota gereja berpartisipasi dan terikat kepada sesuatu bentuk pelayanan yang saling berbeda.  Sebagai tubuh  Kristus, gereja merupakan satu alat Kristus yang terutama untuk meneruskan pekerjaan penyelamatannya. Memberitakan Injil kepada segenap bangsa dan menghayati janji Kristus yang mengatakan bahwa Dia akan menyertai gereja yang menjadi sumber dari segala sukacita yang benar (Mark. 15: 15); Mat. 28: 20), mempunyai fungsi rangkap, yaitu:
a.       Di dalam persekutuan itu sendiri. Tugas gereja di dalam persekutuan yang ada di dalamnya sebenarnya adalah  memperkokoh hubungan gereja dengan anggota-anggotanya, yakni dengan cara: Pemberitaan firman (khotbah), pengajaran firman,  melayani sakramen, ibadah, pendidikan dan segala bentuk pimpinan  dan pelayanan kerohanian.
b.      Ke luar persekutuan.  Tugas gereja ke luar persekutuan adalah dengan cara: menyebar-luaskan pengenalan akan Injil kepada segala bangsa dan mengenakan prinsip-prinsip Kerajaan Allah kepada segenap aspek hidup dan dengan demikian memungkinkan  pertumbuhan Kerajaan Allah di atas dunia.

Umumnya adanya perbedaan dari gereja-gereja adalah disebabkan oleh tekanan  akan tugas gereja itu sendiri. Misalnya soal memberitakan Firman dan melayani Sakramen. Perbedaan di antara  gereja Protestan dan gereja RK sebagian besar ditinjau dari tekanan-tekanan akan ke dua tugas utama itu.  Tetapi di kalangan Protestan ada beberapa golongan yang hampir sama sekali kurang mengindahkan pelayanan Firman  dan pelayanan Sakramen secara formil. Misalnya Sekte: Religious Society of Friends (Quakers) dan Salvation Army (Bala Keselamatan) . Di dalam ke dua sekte ini tidak ada sakrament yang formil. Pelayanan sakramen  mereka bukan seperti pelayanan sakramen yang biasa kita alami di gereja Protestan. Pelayanan sakramen mereka biasanya tanpa  dogma.  Pemberitaan Injil yang formil juga tidak ada. Siapa yang merasa dirinya perlu bicara dengan Firman Allah, maka dia berdiri. Kebaktian mereka disebut “free Worship”  (ibadah bebas), di mana liturgi setiap Minggu bisa saja berobah.
      Tetapi pada umumnya gereja-gereja Protestan yang tradisionil selalu menekankan bahwa tanda gereja yang benar ialah apabila pemberitaan Firman dan pelayanan Sakramen dilakukan secara benar.  Pada dirinya pengertian ini tidak bisa menimbulkan perpisahan, karena semua  gereja-gereja Protestan memegang prinsip itu. Yang berbeda-beda adalah tafsiran masing-masing akan prinsip itu.

3.       Siapakah Gereja itu ?

Sampai sekarang Gereja RK dan Gereja Orthodox masing-masing selalu menuntut bahwa merekalah gereja yang benar. Di luar mereka memang diakui mungkin ada beberapa orang Kristen yang  menjadi anggota gereja hanya oleh pembaptisan yang benar dan oleh anugerah / rakhmat dari Tuhan Allah.  Tetapi secara gereja menurut pendirian gereja RK dan Orthodox Timur, tidak ada gereja yang benar di luar mereka. Tetapi demikian jugalah pendirtian dari beberapa gereja Protestan dan  juga gereja Anglikan.

Tetapi golongan yang bernama “Free Church”  menyatakan bahwqa sama sekali  gereja tidak ada  di atas bumi. Yang ada hanyalah kumpulan-kumpulan atau kelompok-kelompok dari sejumlah orang-orang percaya. Jadi menurut Free Church, segala gereja yang menuntut  bahwa dirinyalah gereja yang benar adalah kesombongan  yang tidak  dapat dimaafkan. Roh  Allah adalah bebas, tidak terikat kepada organisasi-organisasi atau synode-synode gereja tertentu.
Sebaliknya gereja-gereja yang terlibat dalam gereja oikumenisme mengatakan bahwa memang ada gereja yang am dan ini terdapat  di mana saja anugerah Allah dalam Yesus Kristus bekerja. Gereja yang am itu terus ada dan tidak dapat digoncang oleh perpecahan yang ada. Dan juga tidak dapat dirobek-robek oleh pengajaran-pengajaran yang saling berbeda. Pendirian gerakan-gerakan oikumenis dapat dihasiatkan dalam satu slogan yakni: “Ubi Christus, ibi ekklesia”. Yang artinya dimana ada Kristus di situ ada gereja.


4.       Bentuk Gereja

Beberapa gereja mengikat dirinya kepada satu bentuk yang dianggap  sebagai satu keharusan. Biasanya bentuk sistem orga nisasi  gereja  yang terutama ialah bentuk:  Episkopal, Papal, Presbyterial dan Kongregational. Gereja yang mengikuti  salah satu bentuk ini selalu mencari dan mendapat dasarnya di dalam kitab PB. Beberapa gereja yang tidak termasuk kepada salah satu golongan tersebut di atas menuntut bahwa struktur dan hukum-hukum gereja ditentukan oleh perkembangan sejarah dan oleh karena itu harus sanggup berobah sesuai  dengan situasi masing-masing. Jadi  ke empat bentuk gereja tersebut di atas dilihat tidak bisa menyatakan dirinya menjadi ukuran gereja yang benar.
            Sistem pemerintahan gereja yang bersifat Episkopal adalah sistem pemerintahan atau kepemimpinan yang dipegang oleh para uskup ( Yunani: episkopoV - episkopos), salah satu jabatan yang dikenal  jemaat pada zaman rasuli, yang dalam PB diterjemahkan dengan “penilik”. Kemudian jabatan ini  dikenal dengan jabatan uskup atau bishop. Pada mulanya jabatan ini sejajar dengan jabatan  “presbuteroV”  (presbyteros) yang diterjemahkan dengan penatua. Perbedaannya hanya di latar-belakang, di mana istilah ‘presbyteros’ dipinjam dari synagoge Yahudi, sedangkan ‘episkopos’  dipinjam dari masyarakat Yunani.  Sampai akhir abad pertama ke dua jabatan ini mempunyai tugas dan posisi yang sama dalam jemaat setempat, yakni untuk mengajar dan memimpin  warga jemaat itu melaksanakan tuntutan kekristenan. Tetapi mulai pada awal abad ke dua, jabatan uskup  dikenakan kepada pemimpin dari suatu jemaat yang disertai oleh suatu dewan penatua, yang dipilih dari antara dewan penatua itu. Dan semua uskup itu mempunyai kedudukan yang sama sebagai ‘pengganti rasul” untuk memimpin jemaat-jemaat dalam satu wilayah tertentu. Segala persoalan  yang timbul dalam suatu jemaat diselesaikan oleh uskup tersebut. Tetapi kalau persoalan itu menyangkut seluruh jemaat Kristen, maka persoalan itu dislesaikan dalam rapat para uskup. Rapat para uskup ini kemudian dikenal dengan istilah “synode” atau konsili. Sampai sekarang sistem pemerintahan gereja yang bersifat Episkopal masih dipertahankan oleh beberapa gereja, antara lain: Gereja Orthodoz Timur , Gereja Anglkkan dan sebagian  gereja Protestan.
           
            Sistem pemerintahan gereja yang bersifat “Papal”, ialah sistem pemerintahan gereja yang dipimpin oleh paus. Kapa “papal” berasal dari kata  “papa” (pope) yang artinya bapa. Paus dianggap sebagai bapa yang mempunyai kekuasaan tertinggi dalam gereja. Sistem ini mulai di gereja Roma Katolik pada abad ke lima, di mana uskup (episkopos) yang berkedudukan di Roma dianggap sebagai paus, yang mengepalai seluruh uskup dan seluruh gereja. Paus di Roma ini menganggap diri mereka dipanggil oleh Tuhan menjadi kepala gereja sebgai pengganti Rasul Petrus (bd. Mat.16: 18), dan bahkan kemudian dianggap sebagai wakil Kristus di dunia ini. Dengan kedudukan seperti itu kuasa paus dianggap sangat besar. Segala sesuatu yang akan dijalankan dalam gereja ditetapkan oleh paus, termasuk segala peraturan atau hukum dalam gereja. Apa yang ditetapkan oleh paus mutalk berlaku. Dan dari situ mucul suatua ajaran dalam gereja RK yang mengatakan bahwa paus tidak pernah salah atau keliru. Tidak seorang pun yang bisa menentang paus. Tetapi sistem pemerintahan paus yang mutlak itu  kemudian mendapat reaksi  dari berbagai tokoh gereja yang kemudian menjadi suatu gerakan yang disebut reformasi. Setelah reformasi  muncul lagi beberapa sistem pemerintahan gereja yang lain yang dianggap berdasarkan Alkitab. Sistem papal dilihat tidak berdasarkan Alkitab.

            Sistem pemerintahan gereja yang bersifat “presbyteial”  ialah  gereja yang dipimpin oleh para ‘persbyteros” dalam bentuk “majelis  gereja”.  Sistem ini pertama ditetapkan oleh Yohannes Calvin, dalam upaya untuk memperbaharui sistem gereja Roma Katolik yang kepemimpinannya  mutlak berada di tangan satu orang.  Untuk memimpin gereja itu Calvin membentuk satu ‘majelis gereja” yang terdiri dari  pejabat-pejabat  yang ditetapkan dalam gereja oleh Kristus sebagai Kepala Gereja satu-satunya yakni: gembala (pastor atau pendeta), pengajar ( guru), penatua  (orang yang lanjut usia) dan diaken atau syamas. Majelis gereja itulah yang memimpin gereja  berdasarkan Firman Tuhan dan menjalankan disiplin gereja. Segala persoalan gereja dan ketentuan-ketentuan yang akan dijalankan di dalam gereja ditangani oleh majelis gereja itu.

            Gereja yang mengikuti sistem pemerintahan yang bersifat “Congregational” ialah gereja yang memberikan otonomi sepenuhnya kepada jemaat-jemaat setempat (kongregasi). Sistem “congregational” bertolak dari kongregasi-kongregasi (yang mereka sebut sebagai persekutuan orang-orang percaya setempat),  yang sama sekali bebas dan mandiri, baik terhadap kongregasi-kongregasi yang lain, maupun terhadap wibawa negara. Kepemimpin berada di tangan Kristus, yang dijalankan melalui rapat jemaat-jemaat setempat atau sidang orang-orang percaya. Dalam pandangan gereja yang menganut sistem ini  hanya ada satu ototritas di atas jemaat itu sendiri yakni otoritas Kristus. Fungsi pejabat gereja misalnya pendeta, bukanlah sebagai pemimpin dalam jemaat itu, tetapi hanya sebagai pelayan  yakni pelayan Firman Tuhan. Dan pendeta yang melayani di tiap-tiap jemaat  bukan ditempatkan dari Kantor Pusat atau Kantor Sinode dari gereja itu, tetapi dipanggil langsung oleh Kristus dengan perantaraan jemaat setempat. Dengan demikian jemaat setempatlah yang mempunyai wewenang untuk mencari pendetanya atau juga untuk memberhentikannya apabila pendeta itu melanggar tugas pangilannya atau apabila dirasa tidak dibutuhkan lagi. Fungsi  pimpinan pusat dari gereja itu hanya sebagai ketua sinode, sedangkan masing-masing jemaat tidak terikat kepada  keputusan sinode itu.

            Dalam perkembangan selanjutnya dari sistem pemerintahan gereja, belakangan ini muncul suatu sistem pemerintahan yang bersifat “Synodal”. Gereja yang mengikuti sistem synodal ialah gereja yang sepenuhnya dipimpin berdasarkan keputusan-keputusan sinode dari gereja itu. Segala aturan, kebijaksanaan dan kegiatan-kegiatan yang dijalankan ditetapkan berdasarkan keputusan sinode. Untuk menjalankan kepemimpinan sehari-hari, dipercayakan kepada seorang pelayan yang dipilih oleh sinode itu sendiri.
            Tetapi tidak semua gereja yang memiliki sinode bisa disebut synodal. Pemahaman mengenai unsur yang diutus untuk mengikuti sinode itu berbeda-beda. Misalnya dalam gereja mula-mula (setelah zaman rasuli)  yang dipimpin oleh para uskup,  sinode juga sudah dikenal, tetapi unsur yang mengikuti sinode ini hanya para uskup dalam suatu wilayah tertentu, dan dilakukan tidak secara periodik, melainkan apabila dirasa perlu untuk menyelesaikan suatu persoalan yang telah meluas.   Seperti sudah disinggung di atas, di gereja yang bersifat Congregational juga ada dikenal semacam sinode, yang pesertanya terdiri dari utusan-utusan jemaat setempat, tetapi fungsi dari sinode itu hanya sebagai wadah musyawarah untuk membicarakan hubungan timbal balik dan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan secara bersama-sama. Keputusan yang diambil tidak mengikat kepada masing-masing jemaat setempat.Sedangkan gereja yang mengikuti sistem synodal, keputusan yang diambil dalam sinode harus dijalankan. 

            Dalam gereja yang bersifat Presbyterial, sinode juga dikenal, tetapi sifatnya adalah merupakan sidang yang lebih luas dari sidang majelis jemaat, yang mencakup pembicaraan mengenai kebutuhan-kebutuhan dari seluruh jemaat yang tergabung dalam gereja itu. Keputusan yang diambil di sini biasanya adalah yang menyangkut masalah umum. Sedangkan yang menyangkut masalah khusus untuk satu-satu jemaat dibicarakan dalam sidang majelis jemaat tersebut.

5.       Kontinuitas dari Gereja / pemerintahan gereja

Di dalam gereja Roma Katolik, Gereja Orthodox dan Gereja Anglikan ada pengertian dan pengajaran yang menekankan “successio apostolica”  (pewarisan jabatan rasul).  “Successio apostolica” adalah suatu  warisan dari gereja mula-mula, di mana ditetapkan bahwa jabatan uskup sebagai pengganti jabatan rasul.  Dalam gereja yang mengikuti tradisi ini,  diajarkan bahwa: anugerah yang istimewa dan otoritas untuk memimpin dan mengajari  diserahkan oleh Yesus Kristus kepada rasul-rasulnya, dan dari rasul-rasul yang pertama itu diturunkan kepada uskup-uskup yang pertama, dan demikian  seterusnya  kepada uskup-uskup  berikuitnya. Inilah yang menjamin kontinuitas dari jabatan, pelayanan Firman, Sakramen dan tugas Pekabaran Injil yang dilakukan oleh gereja. Kontinuitas itu tidak boleh terputus-putus. Kebanyakan gereja Protestan  kurang mementingkan garis  succession yang demikian. Mereka menekankan pentingnya garis yang berhubungan dengan Tuhan Allah sendiri secara langsung. Dikatakan bahwa “pemberitaan yang benar akan Injil atau Firman Allah” dan “pelayanan yang benar akan Sakramen’ itulah yang menghubungkan gereja itu langsung kepada kepala gereja yaitu Kristus. Roh Allah selalu bekerja di luar pengertian succession yang ditonjolkan oleh pengajaran “succesio apostolica” itu.
Ada tiga  pemikiran yang berbeda mengenai hubungan antara gereja dengan kepala gereja itu.  Pada satu pihak  tergolong dalam gereja-gereja yang  menekankan “successio apostolica”  seperti  Roma Katolik, Orthodox , Anglikan,  pada pihak lain yang tidak mengakui sama sekali adanya unsur yang diwariskan memalui para rasul tetapi berhubungan langsung dengan Kristus seperti dianut  oleh Free Church,  dan juga golongan yang mengakui   ke dua-duanya, baik wrisan rasuli maupun hubungan langsung dengan kristus seperti dianut oleh gereja-gerela Lutheran dan Calvinis.  Adanya perbedaan-perbedaan pikiran tersebut adalah disebabkan oleh adanya pemahaman yang berbeda-beda mengenai gereja itu sendiri.

5.1. Pendapat dari Roma Katolik

Menurut pemahaman Roma Katolik, kepada gereja itu diberikan atau dianugerahkan oleh Kristus tiga kuasa yang besar, yaitu:
§  Kuasa kenabian untuk mengajar secara tidak salah
§  Kuasa keimaman untuk menyampaikan anugerah Allah melalui sakramen
§  Kuasa Raja, untuk  merajai atau memimpin   warga gereja dalam hal-hal yang menyangkut hidup beriman dan moral, dan akhirnya juga menguasai dunia.

Ketiga kuasa ini pada akhirnya bersatu menjadi satu hakekat, karena sumbernya adalah satu yakni Kristus sebagai  Tuhan dan Kepala Gereja. Gereja itu sebagai pelaksana kuasa-kuasa keilahian itu tidak mungkin diperbaharui, karena gereja itu  selalu baik, kudus dan tidak berdosa dalam hakekat keilahiannya. Oleh sebab itu terhadap gereja semua warganya  harus patuh secara absolut tanpa pertanyaan.  Itulah sebabnya gereja itu sering disebut “holy mother” (ibu suci)  bagi anggota-anggotanya. Gereja itu menurut RK, walaupun dalam bentuk organisasi yang kelihatan dan dalam sifatnya yang institusionil, mempunyai sifat-sifat Allah. Dengan demikian kehadiran Allah yang melepaskan dan tindakan Allah kepada dan diantara manusia disalurkan melalui gereja Katolik.
Imam-imam sebagai pribadi masih mungkin jatuh ke dalam dosa. Tetapi ke-imaman (priesthood) itu adalah bersih, kudus dan tidak mendapat cela apa-apapun. Ini seiringan dengan ide bahwa gereja itu pada hakekatnya yang asli bukan lagi di bawah “judgement” (penghakiman) dari Allah.  Seseorang bisa saja mengkritik pribadi-pribadi dari Imam, tetapi gereja sebagai gereja tidak boleh disentuh apalagi dikritik, karena gereja itu adalah tubuh yang kudus, ibu dari orang-orang percaya. Karena itu gereja tidak membutuhkan fikiran dari para anggotanya. Yang penting ialah bahwa gereja bertindak untuk anggota. Bagaimana anggota berfikir dan merasakan sesuatu kurang perlu. Yang perlu ialah hukum-hukum yang diberikan gereja kepada anggota untuk dilaksanakan. Inilah dasar-dasar apostolis dari hierarkhi  gereja RK.

5.2. Pendirian Protestan Klasik (reformasi)

Yang kita maksud dengan Protstan Klasik ialah gereja-gereja Lutheran dan Reformed (Calvin) yang berasal dari reformasi Jerman dan Swiss. Sejak mulanya ke dua golongan gereja ini mengalami hubungan yang erat dan bersatu dalam banyak hal. Perbedaan yang terus ada sampai sekarang adalah mengenai soal Perjamuan Kudus. Telah banyak usaha-usaha yang dilakukan pada abad 20 yang mencoba memperdamaikan ke dua  aliran gereja itu tentang Perjamuan Kudus. Ada indikasi bahwa saling pengertian antara satu sama  lain  makin  timbul.
§  Pengertian fundamental yang umum terdapat di dalam ke dua gereja itu mengenai Gereja  adalah demikian: Gereja itu bukan bukan di atas “judgement” (penghakiman) Allah dan bukan tidak berdosa. Oleh karena ia adalah hamba dari Tuhan Allah, maka gereja harus selalu dinilai dari hukum sesuai dengan kesetiaannya kepada Firman  Tuhan.
§  Diakui selalu bahwa Firman Allah lebih dahulu ada dari pada gereja. Oleh karena itu ke dua-duanya tidak pernah setaraf. Jadi kalau bagi gereja RK, gereja itu tidak boleh diperbaiki ( irreformable), kebalikannyalah yang terdapat dalam pendirian Protestan Klasik, yaitu bahwa gereja harus terus menerus diperbaiki (diperbaharui), sesuai dengan keharusan gereja untuk setia kepada Firman Tuhan. Suatu kebiasaan atau aturan gereja yang nyata tidak sesuai dengan Firman Tuhan harus dirombak. Dengan demikian timbul prinsip:  “ecclesia reformata semper reformanda” artinya gerja yang sudah diperbaiki harus selalu memperbaiki dirinya. Atau gereja yang memperbaiki, harus selalu diperbaiki.

Dengan demikian jelas bahwa Firman Allahlah yang menjadi ukuran dalam segenap hidup gereja. Timbul pertanyaan bagaimana Alkitab yang tertulis berhubungan dengan Firman Allah dan bagaimana Alkitab itu bisa menjadi ukuran untuk mereformasi gereja. Mengenai soal ini Luther berbeda pendapat dengan para reformator Swiss. Luther dalam penilaiannya agak lebih konservatif karena dia merobah aspek-aspek dalam hidup gereja hanya yang terang-terangan bertentangan dengan Alkitab. Sedangkan para reformator Swiss merombak apa saja yang tidak disebut oleh Alkitab.
Pada abad-abad selanjutnya beberapa golongan Protestan yang fundamentalis mengidentifikasikan Firman Allah  dengan kata-kata yang tertulis dalam Kitab Suci dengan dasar kepercayaan bahwa Firman Allah adalah hasil dari ‘verbal inspiration” (pengilhman secara lisan). Aliran fundamentalisme demikian memang sampai sekarang masih populer dikalangan Protestan, apalagi di kalangan Protestan yang berada dalam negara-negara yang sudah berkembang. Makin kurang sanggup orang berfikir secara teologis, makin mudah dia jatuh kepada cara berfikir  fundamentalisme.
Golongan lain di kalangan Protestan yang bukan fundamentalis mengatakan bahwa Kitab Suci adalah Firman Allah dalam pengertian bahwa Kitab Suci mengandung Firman Allah. Dengan demikian tidak semuanya  unsur dalam Kitab Suci itu identik dengan Firman Allah.
Konsensus yang terakhir di dalam teologi Protestan masa kini nyata sekali dipengaruhi oleh pandangan Karl Barth dalam idenya tentang: teologi dan Firman. Menurutnya arti pertama dari Firman Allah ialah Kristus sendiri selaku logos Allah.  Arti kedua dari Firman Allah itu ialah Kitab Suci yang menghunjuk kepada Kristus itu. Dan arti ketiga ialah segala khotbah dan pengajaran yang mengenakan kesaksian Alkitab itu kepada situasi dari tiap generasi dalam bimbingan Roh Kudus. Biasanya dalam kalangan Protestan Klasik pemberitaan Firmanlah yang dianggap sebagai alat anugerah yang terutama, walaupun sebenarnya Luther dan Calvin mengajarkan dua norma dari gereja yang benar itu yakni: di mana Firman Allah diberitakan secara benar dan sakramen dilayankan secara benar.  Oleh karena dalam norma itu disebut pemberitan Injil atau Firman yang pertama sekali, maka dalam prakteknya gereja Protestan mengutamakan Injil atau Firman itu. Ini disaksikan pula akan pengertian Augustinus yang mengatakan bahwa Sakramen itu adalah “Firman yang dapat dilihat atau Firman yang dibuat nyata.  Jadi dalam pemberitaan Injil, Firman lah yang menjadi intinya; dan di dalam sakramen sebagai “verbum visible”,  Firmanlah juga yang menjadi intinya. Itulah sebabnya di kalangan Protestan Klasik pemberitaan Firman diutamakan, dan  Alkitab sebagai pusat dan dasar dari segala aktifitas  gereja.

Satu lagi perbedaan Protestan Klasik dan RK ialah soal tempatnya iman. Sebenarnya RK memang tidak menghapuskan begitu saja aspek  subjektif dari iman, tetapi mereka lebih mementingkan aspek  objektif dari iman itu, yaitu dengan mempercayai bahwa yang terpenting ialah apa yang diberikan kepada orang-orang percaya melalui gereja. Pengutamaan ini sedemikian rupa, sehingga kurang jelas nampak gunanya response dari kepercayaan  sebagai aspek yang subjektif dari iman. Sedangkan bagi Protestan, dengan rumusan “justification by faith” (pembenaran oleh iman), baik aspek objektif mapun aspek subjektif sama-sama mendapat tekanan, walaupun sering kelihatan aspek subjektif yang lebih menonjol. Orang percaya telah dibenarkan oleh Kistus adalah aspek objektif dari iman. Tetapi orang beriman itu harus mengadakan respons kepada pembenaran itu. Respons itulah aspek subjektif dari iman. Dia harus bertobat dan harus berbuat baik, walaupun usaha berbuat baik itu bukan sebagai satu bagian dari proses penyelamatan. Maka boleh dikatakan bahwa selain dari pada pemberitaan Injil secara objektiof, dan sakramen, maka iman, doa, perbuatan baik, juga dipandang oleh golongan Protestan sebagai alat-alat anugerah. Subjketifitas dari iman berada dalam ruang lingkup objektifitas dari anugerah. Kemungkinan untuk berbuat baik adalah juga anugerah.

5.3. Ide dari Free Church

Free Church bukan saja berarti bahwa gereja yang bersangkutan membiayai diri sendiri sebagai lawan dari gereja yang terikat dan dibiayai oleh negara. Dan bukan hanya berarti bahwa gereja yang bersangkutan mempunyai teologi liberal, walaupun tentunya orang-orang dari kalangan Free Church ini menolak segala  rumusan-rumusan pengakuan iman sebagai ukuran dari kebenaran. Juga bukan hanya berarti bahwa mereka tidak mempunyai suatu kontrol dari pimpinan pusat saja. Semuanya yang disebut di atas memang adalah hasiat dari Free Church, tetapi hasiat yang utama ialah bahwa Free Church ini adalah pemprotestanan dari agama Protestan (Protestantation of Protestant religion). Dengan kata lain, hidup dari gerja Protestan klasik dibongkar dan dipebaharui, baik dalam hal yang menyangkut organisasi maupun pengajaran.
Sebenarnya adalah sukar untuk membuat suatu rumusan yang meliputi bada-badan yang tergolong Free Church yaitu: Quakers, Bretheren, Mennonites, Bapptist, Congregationalist, Disciple, dan berbagai  badan lain yang tersebar di dunia barat terutama di Inggris dan Amerika. Tetapi mungkin jugalah merumuskan pandangan-pandangan mereka yang agak bersamaan  mengenai arti gereja dan alat-alat anugerah, yang menjadi dasar dari ikatan-ikatan mereka satu sama lain. Menurut mereka bahwa di dalam PB sudah jelas bahwa gereja itu adalah suatu persekutuan, bukan suatu institut organisatoris. Dan persekutuan itu bukanlah buatan manusia, tetapi persekutuan dalam bimbingan atau pimpinan Roh Kudus. Tidak ada manusia yang menjadi anggota persekutuan itu melalui pembaptisan. Hanyalah orang-orang yang telah bertobat yang menjadi anggotanya.
Dan menurut mereka kehadiran Kristus janganlah dicari di dalam pelayanan sakramen dan bukan di dalam pemberitaan Firman tetapi hanyalah di dalam persekutuan yang berkumpul. Firman itu memang masih penting, tetapi bukan Firman seperti yang dikhotbahkan, yang diajarkan dan yang terdapat dalam  Katekismus  serta dalam pengakuan iman. Firman itu ada, kedengaran dan berkuasa hanya melalui inspirasi dari Roh Kudus sewaktu orang-orang percaya membaca, mendengar dan bermeditasi.
Di dalam Free Church, baptisan tidak pernah diartikan sebagaimana diartikan oleh Protestan Klasik. Baptisan itu menurut mereka terutama adalah kepatuhan iman seorang percaya di dalam mana ia bersaksi secara publik tentang hidup  baru orang beriman (subjektif bukan objektif), bukan sebagai pekerjan Allah, Roh Kudus dan Yesus Kristus.  Demikian juga halnya dengan Perjamuan Kudus. Ini juga terutama dianggap sebagai tindakan persekutuan di dalam mana jemaat itu secara bersama bersaksi tentang persekutuan  di dalam Roh yang telah dialami. Pengertian ini lebih jelas kelihatan dalam golongan “Society of friends” ,  yang sama sekali tidak mempunyai sakramen secara formil dan tidak mempunyai pendeta yang ditahbiskan. Yang mereka hayati ialah pengertian jemaat sebagai persekutuan di dalam Roh.
Free Church ini  sekarang ini makin berkembang. Tetapi anehnya di dalam perkembangannya struktur kegerejaanya tidak jelas. Kuasa dan hak gereja setempat sekarang ini makin tipis, diperbandingkan dengan keadaan mereka bermula. Makin lama mereka juga makin cenderung  masuk ke pada struktur-struktur institut. Dan makin lama mereka juga makin menyamai Protestan Klasik dalam struktur organisasi. Dengan kata lain mereka makin menghendaki adanya kontrol dari pusatnya.
Contoh: gereja  Baptis dan Congregational. Dulu pada mulanya Kantor Pusat mereka tidak berhak mengatakan sesuatu  kepada setiap jemaat setempat. Kantor pusat kebanyakan hanya berfunsi sebagai pelaksana saja dari keputusan-keputusan gereja setempat. Tetapi belakangan ini kantor Pusat mereka makin mempunyai banyak kuasa dan kontrol terhadap jemaat setempat. Tetapi contoh yang lebih jelas adalah dalam gereja Methodis. Pada permulaannya gereja methodis sungguh-sungguh hidup sebagai Free Church, di mana jemaat setempat sajalah yang berkuasa atas dirinya. Tetapi sekarang struktur gereja Methodis sudah sama dengan struktur gereja Protestan Klasik. Mereka malah sudah mempunyai bishop.

Sebenarnya tiga pendirian yang disebut di atas bukan tidak dapat disatukan dalam satu badan. Umpamanya di Inggris gereja Anglikan yang sebenarnya bersifat Episkopal dan gereja Methodis yang sebenarnya bersifat Free Church bergabung dalam suatu badan gereja. Demikian juga gereja-gereja di India Selatan mempersatukan  ketiga pendirian itu dalam satu badan gereja, sehingga  terbentuk satu gereja yang bernama ‘ The Church of South India” (Gereja India Selatan). Ini adalah ssebagai hasil dari gerakan oikumenis di sana.
Gerakan-gerakan oikumenis  yang berkembang sekarang ini  nampaknya menganjurkan adanya sruktur  gereja yang demikian yakni: adanya struktur pusat yang bertalian dengan struktur-struktur lain di sekitarnya dan tiap-tiap struktur juga mempunyai  hubungan komunikasi di antara sesamanya. Tetapi belum jelas  dalam arti apa struktut pusat itu berada di pusat. (msm)