MANDOK MAULIATE SIALA ASI NI ROHA NI DEBATA ( MENGUCAP SYUKUR ATAS KASIH KARUNIA ALLAH)
Minggu, 23 Februari 2025
RENUNGAN 1 TIMOTIUS 1: 12-17, MANDOK MAULIATE SIALA ASI NI ROHA NI DEBATA ( MENGUCAP SYUKUR ATAS KASIH KARUNIA ALLAH)
KEDAHSYATAN MAUT
KEDAHSYATAN MAUT
Pengantar
Artikel ini ditulis tahun 1974, ketika penulis masih
mahasiswa yang sudah menyelesaikan tingkat Sarjana Muda Theologia, dan melanjut
ke tingkat Sarjana Lengkap, yang diterbitkan dalam Surat Parsaoran (Majalah)
HKBP, (Edisi no. 11dan no.12, Juni, Juli 1974}.
Karena penulis menganggap topik ini masih perlu dibaca oleh banyak orang
Kristen sekarang, maka penulis memuatnya dalam blog ini.
Pendahuluan
Soal maut selalu menarik perhatian orang-orang
beragama. Timbulnya pendapat-pendapat yang berbeda-beda di kalangan manusia mengenai maut, adalah karena maut itu penuh
rahasia. Seorang pun yang dari antara orang yang hidup sekarang belum ada
yang dapat memberi laporan yang pasti
mengenai kematian itu. Walaupun demikian tidak salah membicarakan soal maut itu
berdasarkan kepercayaan masing-masing. Dari segi iman Kristen hanya Yesus Kristus yang sudah pernah mati
dan hidup kembali. Kristus yang hidup itulah
yang tahu dengan sebenarnya bagaimana keadaan maut.
Persoalan yang
paling hangat dalam membicarakan maut
adalah: apakah roh-roh orang mati itu hidup atau mati?
Kalau hidup di manakah dia berada dan kalau mati bagaimana kita
membayangkannya. Sebelum menjawab
pertanyaaan ini berdasarkan apa yang dinyatakan kepada kita dalam Kitab Suci
(Alkitab), penulis lebih dahulu akan mencoba
memperkenalkan beberapa pandangan yang lebih populer di dunia filsafat
dan agama-agama mistik yang juga sangat banyak mempengaruhi ahli-ahli teologi
Kristen.
1. Menurut pandangan umum yang terdapat di
kalangan orang-orang Yunani kuno, maut dianggap sebagai proses alamiah
saja, sebagaimana halnya terjadi pada pohon-pohon dan binatang-binatang atau
mahluk lainnya yang sudah sampai waktunya akan mati semua. Pandangan ini
sejalan dengan pandangan mereka yang
dualistik itu, yang mengatakan adanya dua
unsur yang saling bertentangan di
dunia ini, yaitu unsur rohani dan unsur jasmani atau materi. Unsur rohani kekal sifatnya dan materi adalah fana.
Manusia dikatakan terdiridari badan (materi) dan jiwa (rohani). Badan dianggap sebagai penjara dan menghambat
perjalanan jiwa menuju kekekalan. Jadi kekekalan terjadi apabila jiwa (roh) itu terlepas dari tubuh (badan)
materi ini. Maut atau kematianlah yang
menjadi saat terjadinya perpisahan ini,
karena badan telah mengalami kehancurannya. Pandangan inilah yang menjadi dasar
filsafat dari Plato yang bercorak idealisme itu.
2. Di kalangan agama yang bersifat
mistik seperti agama Hindu dan Kebatinan, kematian dianggap sebagai keselamatan
yang besar. Sebabnya mereka mengatakan hal yang demikian, karena menganggap
batin manusia adalah roh suci, yang sifatnya ilahi dan kekal. Selama manusia
masih hidup , batin itu diliputi oleh tubuh jasmani yang hina dan fana
sifatnya. Kerena itu selama hidup, mereka berusaha memperjuangkan agar tubuh
ini jangan sampai menyiksa batin dengan berpuasa, bertapa, beraskese dengan
tujuan untuk mengalahkan tubuh dan keinginannya. Pada waktu kematianlah batin
itu terlepas, dan memasuki “álam bebas”, di mana tidak ada lagi
keterikatan-keterikatan.
3. Pandangan yang dua di atas selaku pandangan
yang sudah tua, banyak mempengaruhi pikiran orang Kristen. Karena di kalangan
orang Kristen timbul pandangan yang memisahkan tubuh dari jiwa (roh). Sehingga
dikatakan pada waktu kematian jiwa (roh) tidak turut mati, hanya tubuh (badan)
yang mati. Dikatakan pula bahwa roh orang yang mati itu ditempatkan di tempat yang sudah ditentukan untuk itu,
yaitu Gehenna, Sheol (hades) dan Paradeiso. Seluruh istilah-istilah ini diambil
dari Kitab Suci. Secara salah dikatakan bahwa Gehenna adalah tempat orang-orang
mati yang semasa hidpnya tidak mendengar dan menerima Yesus, walaupun kepada
mereka sudah diperdengarkan berita Injil itu. Maka Gehenna adalah pendahuluan
neraka bagi mereka. Sheol (hades) adalah tempat roh-roh orang mati yang belum
pernah mendengar berita keselamatan,
oleh sebab mana mereka tidak sempat
mengenal Yesus Kristus, maka roh yang demikian masih ada lagi kemungkinan untuk
bertobat, apabila berita Injil itu diberitakan kepada mereka. Ketempat inilah
katanya Yesus datang untuk berkhotbah sewaktu Dia masih dalam kuburan. Pandangan ini berdasarkan tafsiran yang salah
pada Surat 1 Petrus 3: 19 dan 4: 6. Selanjutnya dikatakan Paradeiso adalah
tempat bagi roh-roh dari orang-orang
yang dulunya telah mengaku dan percaya akan Yesus Kristus Juruselamatnya dan
dikatakan pula bahwa roh-roh inilah yang disuruh untuk mengunjungi Sheol untuk
berkhotbah yang memungkinkan pertobatan roh-roh yang berada di sana.
Pandangan kuno ini sangat menarik sekali
dan memang sangat mudah dimengerti oleh pemikiran-pemikiran kita. Tetapi gereja Prostestan sudah hampir seluruhnya
menolak pandangan ini walaupun ada satu-satu
orang di antaranya yng menerimanya secara pribadi.
4. Bagi orang-orang Batak pandangan ini
sangat mudah berterima. Karena dikatakan
oleh orang Batak sebelum kekristenan - dan mungkin juga sesudah kekristenan -
ada anggapan bahwa apaila seseorang meninggal dunia, maka badannya menjadi
tanah, nafasnya menjadi angin dan rohnya menjadi “begu” atau hantu. Dari antara
pengkhotbah-pengkhotab yang berlatar belakang pandangan Batak, sampai sekarang
masih ada yang berpandangan demikian. (Lihat misalnya J.Sihombing dalam
tulisannya di majalah Immanuel HKBP no. 9 tahun 1974, yang berjudul “ Tutu do molo mate sada halak, laos mate dohot tondina?”,
menegaskan bahwa waktu kematian hanya badan manusia yang mati sedangkan jiwa
(roh) nya hidup terus. Sebenarnya beliau banyak mengambil ayat-ayat dari Kitab
Suci sebagai landasan dari pendapat itu. Di antaranya Pengkhotbah 12: 7,
perkataan Jesus yang terakhir dari kayu salib: Ya Bapak, ke dalam tangan Mu Kuserahkan nyawaku ( terjemahan Batak Toba:
“Ale Amanang, tu bagasan tanganmu hupasahat tondingKu” ( Luk. 23: 46}, ucapan
Stepanus yang terakhir: Ya Tuhan Yesus, terimalah rohkku (Kissah 7: 59), cerita
mengenai Lazarus yang dibawa malaekat ke
pangkuan Abraham (Lukas 16: 22), perkataan Yesus kepada orang yang di sebelah
kanan-Nya di kayu salib: “..., sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada
brsama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk. 23: 43), dan Wahyu 6: 9). Soalnya
sekarang, apakah dengan ayat-ayat ini kita dapat membenarkan bahwa jiwa (roh )
manusia itu kekal adanya, tidak pernah mengalami kematian? Maka untuk itu
marilah kita mencoba mengertikan beberapa ayat-ayat di atas.:
a) Dalam Pengkhotbah 12: 7, disebut ....
roh (terjemahan lama nyawa) kembali kepada Allah yang mengaruniakannya. Roh yang dimaksud dalam ayat ini adalah “yang
membuat manusia hidup. Dengan perkataan
lain “roh” dalam ayat ini berarti hidup atau nyawa. Artinya “hidup” yang diberikan oleh Allah kepada manusia diambil
kembali oleh yang mengaruniakannya. Makanya manusia (bukan hanya badannya)
mati. Ayat ini tidak mengandaikan bahwa “roh”
atau nyawa itu termasuk milik manusia, dan sama sekali tidak memaksudkn
bahwa “roh” manusia itu kekal adanya. Di sini tidak ada pengertian roh yang terpisah dari badan.
Persilaksn melihat tafsiran-tafsiran modern akan Pengkhotbah 12: 7.
b) Mengenai ucapan Tuhan Yesus di kayu
salib, dapat juga dihubungkan dengan ucapan Stepanusdalam Kissah 7: 59. Roh dalam
ke dua peristiwa itu disebut dengan
perkataan “pneuma” dalam bahasa Yunani, dan itu bukanlah menunjukkan
bahwa roh terpisah dari badan. Tetapi dengan perkataan itu mereka mau
menyerahkan seluruh hidup atau totalitas
kemanusiaannya kepada yang berkuasa atas itu, yaitu Allah, sebelum mereka meninggal
dunia. Pengertian “pneuma” menunjuk kepada kepribadian atau kemanusiaan. Yesus
dan Stepanus menyerahkan seantero dirinya kepada Allah; walaupun mereka telah
mati, mereka mati di dalam Allah, artinya mati di bawah kekuasaan Tuhan.
c) Mengenai pengertian 1 Petrus 3: 18,
penulis menganjurkan supaya kita membaca buku U.Beyer, Tafsiran 1 dan 2 Petrus dan Suart Yudas,
terbitan BPK Jakarta 1972, hal. 101, sebagaimana juga disebut oleh
J.Sihombing. Tetapi kalau kita benar-benar
membaca buku itu, Beyer tidak menyetujui
bahwa dalam kematian Kristus hanya badan-Nya yang mati. Soal kematian Kristus
“dalam daging” (sarx) hanya menunjukkan benar-benar mati dalam lingkungan yang dikuasai
hal-hal yang bersifat kefanaan yaitu sifatsifat dunia yang membunuh Dia. Adalah
sangat salah sekali dan berbau kekafir apabila kita mengatakan bahwa Yesus
tidak benar-benar mati (bahwa hanya badannya yang mati). Malah harus dikatakan
bahwa Yesus menaklukkan maut, justeru oleh karena seluruh kepribadiannya
sungguh-sungguh mati selama tiga hari.
d) Cerita mengenai Lazarus dalam kitab Lukas 16: 22-23. Sebenarnya dalam ayat
ini tidak ada disebutkan bahwa “tondi”
(roh) dari orang msikin itu dibawa ke
pangkuan Abraham. Tetapi yang disebutkan adalah bahwa orang miskin itu di bawa
ke pangkuan Abraham. Dengan demikian tidak ada dibicarakan tentang pemisahan
akan badan dan roh (jiwa) di sana.
J. Sihombing juga
membedakan tempat dari roh itu di dalam kubur. Dikatakan, roh orang percaya
pergi ke Paradeiso seperti Lazarus dan orang penjahat disebelah kanan Yesus
yang telah mengenal dosanya dan menyerahkan diri kepda Yesus, dan orang yang
tidak percaya ke Sheol (hades). Di dalam Kitab Suci , Gehenna dan Sheol adalah
satu keadaan di mana tidak ada lagi dijumpai hubungan dengan Allah. Istilah-istilah
itu dipakai untuk mengiaskan tempat-tempat orang mati setelah dikubur. Dan
menurut Kitab Suci, Paradeiso adalah keadaan di mana hubungan Allah dengan
manusia baik, dan perkataan itu dipakai
untuk menunjukkan keselamatan yang dialami bersama Kristus seperti halnya
penjahat di sebelah kanan Yesus di kayu salib itu.
Suasana Paradeiso dapat
dikecap oleh orang-orang menerima Kristus bahkan semasa hidupnya di atas dunia.
Perkataan “hari ini” yang diucapkan oleh Yesus, meliputi saat-saat hidup
dari penjahat itu, sewaktu mana dia mengakui ke-Allahan Yesus. Arinya
baik sewaktu hidup, maupun dalam keadaan mati, orang-orang percaya berada dalam
Paradeiso, yakni dalam ikatan kasih Tuhan Allah.
5. Pandangan Kitab Suci.
Persoalan
maut dalam Kitab Suci tidak bisa dipisahkan dari arti yang sebenarnya dan harus
dihubungkan dengan dosa manusia. Memang
unsur rohani dan jasmani terdapat dalam diri manusia. Manusia dibuat dari debu
tanah. Manusia adalah ciptaan Allah yang bertubuh, sebagai daging. Ini berarti
manusia tidak mempunyai daging, tetapi ia
sendiri adalah daging. Tetapi Allah
menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya
(Kejadian 2:7), maka manusia itu menjadi “jiwa yang hidup” (Ibrani:
nefesh haya- terjemahan baru Alkitab: makhluk yang hidup). Ini juga berarti
bahwa manusia itu tidak mempunyai jiwa,
tetapi ia sendiri adalah jiwa, yakni jiwa
yang hidup . Sehingga dapatlah dikatakan bahwa manusia adalah “tubuh yang
berjiwa” atau “jiwa yang bertubuh” (Chr. Barth, Theologia Peerjanjian Lama I,
terbitan BPK Jakarta 1970, hal. 42). Kalau kita mengandaikan adanya jiwa yang
hidup dengan nafas kehidupan yang dari Allah, maka kita dapat juga
mengandaikan adanya “jiwa yang mati”
(band. Bil.6: 6; 19: 11.13; 23: 10; Yus. 2: 14 dan Hak. 10: 30). Maka “jiwa
yang mati” itu menyatakan kepada kita bahwa jiwa bukan satu bagian dari
manusia, melainkan menunjukkan manusia
itu di dalam keseluruhannya. Demikian eratnya kesatuan itu hingga dalam
Bilangan 35: 11 disebut, membunuh jiwa adalah sama dengan membunuh orang.
Maut sebagai upah dari
dosa, bukan hanya mengena kepada badan manusia. Kitab Suci mengatakan adanya
maut yang total sebagai upah dari dosa (Roma 6: 23), karena manusia seantero
telah memberontak kepada Allah. Adalah sangat salah sekali mengatakan hanya
badan yang mati, karena itu menutupi kedahsyatan
dan kepahitan dari maut itu. Van
Niftrik dan Boland dalam bukunya “Dogmatika Masa kini”, terbitan BPK Jakarta
1967, hal. 402, mengatakan, kitalah yang mati, kita sendiri. Malahan dalam
bahasa Kitab Suci, Bileam berkta dalam Bilangan 23: 10, “Jiwaku (nefeshi)
matilah kiranya”. Keakuan itulah yang mati, karena dalam Hakim 16: 10,” nefesh”
diterjemahkan dengan aku. Jelaslah bahwa Kitab Suci tidak menutupi bagaimana dahsyatnya maut itu, tidak
mengajarkan bahwa jiwa (roh) manusia kekal adanya. Jika maut tidak meliputi
keseanteroan diri manusia, dalam arti hanya badan yang mati, sedangkan jiwa
(roh) hidp terus, maka itu belum berarti mati yang sebenarnya. Keadaan yang
demian menurut F.H.Sianipar masih dinamai “setengah mati”, dan Kitab Suci tidak
pernah mengajarkan keadaan setengah m ati.
(bukunya yang berjudul: Satu Jawab, terbitan BPK Jakarta, 1973, hal.13).
Kalau dikatakan dalam
Kejadian 3, manusia melanggar perintah Allah dengan memakan buah terlarang itu,
tidak berarti hanya tangannya yang mengambil dan hanya mulutnya yang memakan,
tetapi dia sebagai manusia totalitas telah melanggar perintah Allah. Karena itu
bukan hanya tangan atau mulut atau badanya saja yang kena hukum, tetapi dia sendiri
sebagai manusia yang mendapat hukuman itu. Sedikitpun tidak ada dalam dirinya
yang dapat dipertahankan untuk menyambung hidupnya. Maka demikian dahsyatnya
dosa itu yang mengutuk seantero manusia, demikianlah dahsyatnya maut itu
menghancurkan seantero manusia.
6. KUASA Allah atas maut dan kebangkitan
orang mati. Tetapi walaupun manusia mati, kasih Allah tidak dibatasi oleh
kematian itu. Dia berkuasa untuk menghidupkan kembali, sehingga di dalam kasih
anugerah-Nya, Dia menghidupkan manusia. Kuasa untuk menghidupkan adalah dengan
memberikan kembali nafas kehidupan. Didalam kitab Perjanjian Lama, “nafas”
Allah untuk menghidupkan adalah melalui Firman-Nya. Rupanya tidak cukup melalui
Firman yang disampaikan melalui hamba-Nya, tetapi dalam Kitab Parjanjian Baru
kita melihat Firman itu sendiri menjadi manusia sebagaimana kita adanya. Dan
inilah yang kita lihat dalam Yesus Kristus. Allah sendiri memasuki sarang dari
dosa itu dan mengorbankan Yesus untuk mencapai sampai ke sarang dari maut itu.
Dengan demikian maut itu dihancurkan, sehingga tidak berkuasa lagi untuk
menahan manusia tetap berada di dalamnya.
Manusia Yesus mati tetapi Allah
adalah hidup. Allah menaklukkkan maut itu dengan bangkitnya Yesus dari mati.
Dan kebangkitan inilah menjadi jaminan bagi orang-orang percaya bahwa mereka
akan dibangkitkan juga pada pada hari-hari yang terakhir. Kebangkitan ini tidak
hanya mempertemukan badan dengan jiwa (roh), tetapi kebangkitan adalah menghidupkan kembali manusia itu secara
total.
Kita tidak perlu lagi takut untuk menghadapi
kematian itu, karena kita sudah berharap bahwa kita pun akan bangkit. Kematian
tidak mengurangi atau menghilangkan pengharapan itu. Tetapi justeru kita
semakin terhibur, bahwa walaupun kita akan mati, kita pasti akan bangkit
kembali. Kuasa maut sudah dikalahkan
oleh Yesus ( 1 Korint. 15: 55), maka maut tidak berkuasa lagi untuk memegang
kita menjadi miliknya. Sehingga tidak salah lagi kita sebagai orang-orang
percaya mengatakan bahwa maut itu sudah
merupakan pintu masuk ke dalam Rumah
Allah yang kekal adanya.
Fak. Theologia Nommensen,
Pematangsiantar, 1 Juni 1974
(Mangontang Panjaitan, SM.Th}
ARTI BERKAT DALAM KEJADIAN 1-2
ARTI BERKAT DALAM KEJADIAN 1-2
(Khususnya mengenai arti
beranaj cucu dan bertambah-tambah)
Suatu perbandingan dengan
pengertian orang Batak
Pengantar
Artikel ini ditulis tahun 1974, ketika penulis masih
mahasiswa yang sudah menyelesaikan tingkat Sarjana Muda Theologia, dan melanjut
ke tingkat Sarjana Lengkap, yang diterbitkan dalam Surat Parsaoran (Majalah
Immanuel) HKBP, (Edisi no. 14, Juli 1974}.
Karena penulis menganggap topik ini masih perlu dibaca oleh banyak orang
Kristen sekarang, maka penulis memuatnya dalam blog ini.
Pendahuluan
Pertambahan penduduk yang
semakin menanjak pada zaman sekarang merupakan permasalahan bsar di
tengah-tengah masyarakat dunia umumnya dan masyarakat Kristen khususnya. Dunia
telah penuh ditempati oleh manusia. Bahkan beberapa ahli sosiologi berpendapat
bahwa kira-kiran pada tahu 2000 an mendatang dunia akan penuh sesak dan akan
kekurangan bahan makanan dan kebutuhan-kebutuhan lain yang diperlukan, kalau
perkembangn penduduk berlangsung seperti sekarang.
Karena itulah timbul pemikiran bagi orang-orang yang sudah maju seperti
di negeri-negeri Barat untuk membatasi angka kelahiran. Maksud dari pembatasan
itu adalah untuk menyesuaikan pertambahan manusia dengan besarnya
kebutuhan-kebutuhan yang dialami dan diperlukan di dunia ini. Memang di
negeri-negeri Barat baik bagi orang-orang yang sudah beragama Kristen
pembatasan kelahiran tidak begitu dipersoalkan lagi. Arti hidup bersama suami
istri sudah semakin dirasakan. Di negeri Indonesia yang sedang mengalami proses
perkembangan ini, ide untuk membatasi kelahiran dalam arti Keluarga Berencana sudah dianjurkan oleh
pemerintah, agar terdapat masyarakat yang adil dan makmur. Hal ini disambut baik juga oleh ahli-ahli
theologia dan pndeta-pendeta prostestan, dengan menambahkan sebutan Keluarga
Berencana demi melangsungkan keluarga
yang bertanggung-jawab. Tetapi pemikiran itu masih menimbulkan permasyalahan di
tengah-tengah suku-suku yang tradisional di Indonesia. Banyak suku di Indonesia yang menghendaki
keturunan yang banyak, di antaranya ialah suku Batak. Sehingga pembatasan
kelahiran adalah bertentangan dengan
tradisi-tradisi mereka dan keyakinan mereka. Mereka mengatakan bahwa anak yang
banyak adalah berkat Allah. Pemikiran ini masih berlangsung walaupun
kebanyatakan suku Batak sudah kebanyakan memeluk agama kristen. Keluarga Berencana dalam arti pembatasan
kelahiran adalah hal yang masih sulit diterima oleh banyak orang Batak. Anehnya
pendapat ini mereka dukung dengan Firman
Allah dalam Alkitab yang diberitakan dalam berita penciptaaan Kejadian 1: 28.
Dalam ayat itu disebut: “Allah
memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan
bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
merayap di bumi." Ayat ini
dijadikan sebagai landasan untuk membenarkan prinsip untuk memperoleh keturunan
yang banyak dalam perkawinan sebagai berkat Allah. Orang yang mempertahankan
prinsip ini akan memberi jawaban, kalau prinsip mereka agak disalahkan: Sedangkan Alkitab sendiri menganjurkan untuk
beranak cucu, bertambah-
tambah dan memenuhi bumi dan itu
adalah berkat Allah. Bagaimanakah pendapat kita terhadap persoalan ini, apakah
memang demikian halnya? Untuk ini maka penulis mencoba untuk menyelidiki apa
sebenarnya arti berkat dalam Kejadian 1: 28 dan apa arti berkat dalam
pengertian Batak. Tetapi sebelum kita sampai
kepada pengertian Alkitab, baiklah kita
lihat dulu pengertian berkat itu dalam kehidupan suku Batak Toba.
I.
Pengertian
berkat dalam kehidupan suku Batak Toba
Penulis
pernah bertanya kepada seorang petugas
gereja yang berfungsi sebagai guru jemaat dan dia adalah dari suku Batak Toba,
demikian: Bagaimana tanggapan bapak dengan adanya sekarang anjuran pemerintah
untuk membatasi kelahiran? Maka dia menjawab: Saya tidak setuju kerena Allah
sendiri menganjurkan supaya manusia bertambah-tambah dan beranak-cucu, karena
hal itu adalah berkat. Kalau kita membatasi kelahiran, berarti kita membatasi
berkat Allah kepada kita. Maka saya
lanjutkan pertanyaan dengan mengatakan: bagaimana tanggung-jawab untuk memenuhi
kebutuhan anak yang banyak itu? Maka dia dengan spontan menjawab: Karena anak
adalah berkat Allah, maka tidak mungkin Allah membiarkan anak itu tidak makan.
Setiap anak membawa rezekinya masing-masing dari Allah. Saya menanggapi perkataaan itu bahwa dia masih beranggapan
bahwa berkat itu terjadi dengan spontan. Seolah-olah berkat dan pemberian dari
Allah itu jatuh demikian saja dan seolah-olah anak itu lahir dengan membawa
perbekalannya untuk hidup di dunia ini. Pada hal menurut keyakinan kita saluran
berkat Allah yang pertama sekali kepada anak adalah melalui orang tuanya. Sebenarnya bagi dia sifat kebatakanlah yang
masih banyak mempengaruhi dirinya dan mencoba mempertahankan prinsip itu dari
ayat-ayat Alkitab. Kalau begitu bagaimana pandangan orang Batak mengenai
berkat.
1.
Pasupasu
Dalam
bahasa Batak Toba pengistilah untuk berkat ialah pasupasu.
Pasupasu ini terutama diberikan dari
tingkat yang lebih tinggi kepada tingkat yang lebih rendah. Karena itu
pemberi berkat yang terutama adalah
“Mulajadi Na Bolon” yang sering juga disebut “Ompunta na martua Debata”.
Kemudian sumangot, sahala, sombaon, yaitu roh-roh nenek-moyang yang sudah
meninggal dunia, dan juga orang tua yang
masih hidup. Mulajadi Na Bolon sebagai Pencipta segala sesuatu adalah sumber berkat yang pertama. Berkat itu
diberikan kepada orang memenuhi peraturan adat dan hukum, kemudian orang tua mengambil
peranan yang besar dalam pemberian berkat ini. Menurut keyakinan orang Batak,
orang tua adalah manifestasi Allah, sehingga orang tua dianggap sebagai “Debata
yang dapat dilihat” (debata na niida). Penyaluran berkat itu kepada anak-anaknya nyata juga
dalam upacara-upacara adat Batak.
Misalnya apabila orang melakukan
upacara adat “manulangi” (menyuapkan makanan dengan upacara adat) orang
tuanya maka dia mengharapkan berkat dari orang tua itu. Pada waktu seseorang melangsungkan adat
perkawinan maka diundanganlah “dalihan na tolu” ( hulahula, dongan tubu dan
boru- sistem kekerabatan masyarakat Batak) ke pesta adat itu untuk memberikan
berkat. Pemberian berkat itu disampaikan
melalui upacara “marhata sigabegabe” (mengucapkan kata-kata berkat, melalui
umpasa-umpasa Batak). Pada waktu itu para orang orang tua dari unsur dalihan na
tolu memberikan berkat “Ompu Namartua Deabata), dari sahala dan sumangot ni
ompu (roh nenek moyang yang sudah meninggal) dan dari sahala para tuatua itu sendiri. Sedangkan berkat
dari “sombaon” (roh nenek moyang yang sudah mempunyai status yang disembah),
adalah yang berhubungan dengan pencegahan bencana atau malapetaka, misalnya:
banjir, tanah longsor, kerusakan tanam-tanaman, dll).
Isi
pokok dari berkat adalah “hagabeon” ( kesuburan, banyak keturunan), sehingga
upacara menyampaikan berkat dalam
upacara adat seperti disebut di atas disebut “marhata sigabegabe”. Di sana diucapkan “hata na uli, hata na
denggan” ( kata-kata yang baik dan indah:, kepada tuan rumah yang mengundang. Hata na uli hata denggan itulah yang merupakan kata-kata berkat yang
di dalamnnya terkandung ucapan-ucapan untuk berketurunan banyak, kesuburan
tanah dan kesuburan ternak-ternak. Artinya berkat itu meningkatkan kepada suatu
keadaan yang lebih tinggi (memperkembangkan).
Hagabeon sudah mencakup harta kekayaan (hamoraon) dan kemuliaan
(hasangapon bagi orang Batak. Anak yang banyak sekalihus membawa harta dan sekaligus memberikan kemuliaan atau
kehormatan bagi orang tua. Itulah makanya ada ungkapan orang Batak, anakhonhi
do hamoraon di ahu, anakhonki do hasangapon di ahu (anakku itula kekayaan dan
kemuliaan bagi saya) .
2.
Faedah
keturunan yang banyak bagi orang Batak, sehingga hal itu dianggap berkat.
Pertanyaaan
yang timbul ialah mengapa keturunan yang banyak merupakan pokok dan tujuan dari
berkat?Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu meninjau corak kehidupan
orang Batak dahulu kala. Kebiasaan masyarakat Batak dahulu kala adalah
hidup berkelompok di satu-satu daerah tertentu.
Dan biasanya satu kelompok adalah
terdiri dari satu keluarga atau marga. Hubungan antar kelompok kurang sekali, karena itu dunia pergaulan
sangat sempit sekali hanya di lingkungan
kelompok itu sendiri. Hal ini menimbulkan peninggian terhadap kelompok atau marganya itu sendiri. Hubungan
yang kurang antar kelompok menimbulkan tidak ada keterbukaan satu sama lain sehingga menimbulkan rasa
curiga mencurigai. Karena itulah sering
timbul perselisihan satu sama lain yang sampai juga menimbulkan peperangan.
Peperangan membutuhkan tenaga yang banyak, terutama anak laki-laki agar
masuhnya dapat dikalahkan.
Faktor
ke dua adalah dari segi politis. Untuk
mengangkat pemimpin atas satu-satu daerah adalah dengan dasar demokrasi atau
pemilihan suara terbanyak. Untuk itu maka
keluarga besar (natorop di partubu, halak na bolon) akan menang, sehingga
kedudukan merek seluruh dihormati dan
ditakuti orang.
Keuntungan
dari ekonomis ialah bahwa mata pencaharian orang Batak dahulu kala kebanyakan
adalah bertani, yang untuk itu perlu tenaga yang banyak untuk bekerja. Harta
adalah terdiri dari tanah, dan untuk memperoleh tanah yang luas perlu anak yang
banyak untuk mengerjakannya. Dari segi tempat, bahwa dahulu Tapanuli sebagai tempat tinggal orang-orang Batak
masih jarang penduduknya dan masih memerlukan jumlah orang yang banyak untuk
menempatinya.
Dengan
alasan-alasan di atas, maka anak yang banyak belum merupakan permasalahan,
malah merupakan kebutuhan yang hakiki.
3.
Pengaruh
keturunan yang banyak dalam hidup keluarga.
Dari
keterangan di atas nampak, bahwa kesanggupan beranak yang banyak merupakan
keunggulan besar bagi pandangan orang Batak. Seseorang yang beranak banyak
sering menjadi sombong terhadap orang yang beranak sedikit terutama kepada
orang yang tidak beranak. Orang yang tidak beranak dianggap orang yang
terkutuk. Tetapi disisi lain anak sebagai berkat sering juga kurang dipahami
atau dihayati, karena sering juga dijumpai adanya orang tua yang mengutuk
anak-anaknya, kalau dia tidak sanggup untuk mendidik anak-anaknya itu. Misalnya
kalau dia merasa jengkel melihat perlakuan anaknya itu, ada juga orang tua yang
dengan spontan mengatakan “ia on so disintakhon begu i” ( kalau ini mengapa
tidak diambil hantu itu, maksudnya mati).
Akibat
yang lain ialah, suami yang tidak mempunyai
anak dari istrinya, maka dia berusaha untuk kawin lagi dengan perempuan
lain, dengan harapan dia akan mempunyao keturunan dari istrinya yang baru itu.
Pandangan yang mengatakan keturunan
sebagai tujuan dari perkawinan dapat mengakibatkan bahwa istri yang tidak
melahirkan anak tidak perlu dipergunakan. Anaklah yang menjamin hubungan dari
suami istri dan bagi istri itu sendiri anaklah yang merupakan pengikatnya di rumah suaminya.
II.
Berkat
dalam Kejadian 1-2
1.
Arti
Berkat.
a.
Berkat sebagai
pemberian.
Dalam Kejadian 1: 28, disebut: Allah
memberkati mereka, dengan memakai kata Ibrani
”yeberekh”. Kata kerja dalam bentuk Piel ini berarti, Allah telah
memberkati dan terus akan memberkati. Akar katanya adalah “barakh”. Arti yang
pertama dari kata ini berlutut (to bend the knees). Tetapi lebih sering dipakai
dalam arti yang ke dua yaitu menyembah (Y. Cambee, “Blessedness, dalam The
Interpreter Dictionary of the Bible Vol.A-D. Edisi G.A Buttrick, New York 1962,
hal. 445). Biasanya orang yang berlutut ialah orang yang menyembah atau
mempersembahkan atau menyerahkan sesuatu sebagai pemberian yang tulus dari
hatinya atau jiwanya. Inilah yang
diandaikan oleh kata memberkati yaitu Allah mempersembahkan (bukan menyembah)
atau memberikan kepada manusia apa yang ada pada-Nya. Allah mau menyerahkan
kepada manusia miliknya yang telah diciptakan itu di dalam penuh kasih.
Pemberian ini adalah dari Allah, sehingga pemberian itu diserahkan dari
kehendak-Nya yang bebas. Di dalam kehendak Allah terkandung rencana Allah dan
tujuan-Nya untuk menciptakan manusia.
Dalam
ayat yang terdahulu telah disebutkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah
segambar dan serupa dengan Allah. Manusia
adalah “imago (image) Dei” atau kalau boleh dikatakan merupakan imitasi atau
“copy” dari Allah. Manusia membawa
mandat dari Allah di dunia ini. Tetapi kesegambaran atau keserupaan itu
bukanlah meruapakam nilai atau kwalitas yang menetap dalam diri manusia. Dengan kata lain kesegambaran atau keserupaan
dengan Allah bukanlah sifat atau tabiat yang permanent dalam diri manusia,
tetapi diperoleh dari Allah dalam hubungannya sebagai ciptaan kepada
Penciptanya. Kesegambaran adalah persekutuan atau perpautan dengan Allah yang
disebabkan oleh anugerah dan karunia Allah. (W.Lempp, Tafsiran Kejadian jilid
1, Jakarta 1964, hal. 53. Allah mau menjadikan manusia di dunia untuk
memerintahnya. Untuk tugas inilah Allah mau memberkati manusia. Berkat itu
disampaikan melalui firman-Nya. Ini
berarti berkat Allah adalah di dalam firman-Nya tidak terlepas dari firman-Nya
yang mengatakan: Beranak cuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi. Dalam Kitab PL dan agama-agama primitif di
sekitar dunia PL, pengertian berkat adalah merupakan kuat-kuasa untuk
berkembang dan bertambah banyak( Beyer, art. Eulegeo dalam, Theological
Dictionary of the New Testament, edisi G. Kittel, Vol. II, Michigan 1964, hal.
75). Berkat untuk beranak bukanlah milik manusia sendiri aatu bukan kesanggupan
manusia itu sendiri, tetapi adalah kuasa yang datang dari luar diri manusia yaitu kuasa Allah yang
di sampaikan kepada manusia.
b.
Berkat untuk
mencipta
Langit dan bumi
serta isinya telah diciptakan oleh
Allah. Sebelum manusia, Allah telah lebih dahulu memberkati makhluk-makhluk
hidup, juga untuk berkembang dan bertambah-tambah. Melalui brkat itu Allah mau
menciptakan tenaga di dalam diri makhluk-makhluk itu untuk berkembang, sebagai
lanjutan penciptaan Allah.
Sekarang sampai
kepada manusia. Seperti sudah dijelaskan di atas manusia adalah gambar dan rupa
Allah. Tetapi kesegambaran itu bukan terdapat hanya dalam satu aspek kehidupan
manusia saja tetapi dalam selurh aspek
kehidupannya. Artinya totalitas kehidupan manusia adalah gambar dan rupa
Allah.. Dengan demikian perkawinan manusia adalah terkandung dalam kesegambaran
dan keserupaan itu. Ini bukan berarti bahwa karena Allah kawin, maka manusia
pun kawin. Di dalam dunia sekitar PL
terutama di kalangan agama Kanaan, kemampuan berkelamin disembah sebagai
kedewaan. Ini dapat dimengerti bahwa
dalam agama Kanaan ada kepercayaan akan dewa kesuburan, yang memberi kesuburan
bagi seluruh makhluk, tumbuh-tumbuhan dan tanah. Sehingga untuk merealisasikan
kuasa dari dewa kesuburan itu, diadakan persembahan kepada dewa tersebut, di mana disuguhkan persundalan
kudus, yaitu persetubuhan di tempat-tempat kudus. (band. G.Von Rad, Genesis, London 1961, hal. 58).
Cara yang demikian dianggap membuka bagi manusia untuk mengambil bagian dalam
dunia Allah. Dari situ dapat dimengerti
bahwa kultus orang-orang Kanaan adalah sebagai persundalan (band. Hosea 1-3;
Yer. 3: 1 dst.)
Perkawinan
manusia yang juga terdapat dalam kesegambarannya dengan Allah, berarti bahwa
dengan perkawinan manusia, Allah menghendaki supaya Dia semakin nyata. Seluruh corak kehidupan
manusia harus sanggup untuk menunjukkan dan menyatakan Allah. Kalau manusia
bertambah-tambah harus menunjukkan
bahwa dengan pertambahan itu Allah semakin nyata, dan dengan demikian nama-Nya
semakin dibesarkan di muliakan manusia.
Dengan
kesanggupan manusia untuk berketurunan, Allah mau melanjutkan penciptaan
manusia. Untuk itulah Allah menciptakan
dua jenis kelamin yang berbeda, dan mempunyai daya seks yang berlainan tetapi berkeinginan untuk
bersatu.
Maka adalah
bukan secara kebetulan bahwa dalam Kejadian 1: 28, berkat itu disampaikan melalui firman-Nya, yang mana firman Allah
adalah kekuasaan Allah untuk menyatakan diri dan menciptakan yang baru serta
memelihara yang telah ada.
c.Berkat sebagai tanggung-jawab
Pemberian yang dari Allah
menuntut suatu tanggung-jawab. Allah
menyerahkan ciptaan itu untuk dimanfaatkan manusia dan untuk dikerjakannya.
Jahwist, sumber dari kejadian 2: 4b-25, memberitakan bahwa manusia ditempatkan diTaman Eden, supaya
taman itu dikerjakan dan diusahakan manusia. Mengerjakan adalah berhubungan
erat dengan bekerja sebgaia pelayan atau hamba (kata kerja yang dipakai adalah “abhadh”,
yang artinya bekerja, melayani). Jadi
Jahwist menekankan peranan kehambaan manusia di hadapan Allah, yang mana manusia
harus mempertanggung-jawabkan hasil pekerjaan itu kepada Allah.
Pemberitaan P (Priest, seorang imam atau pendeta) dalam
Kejadian 1: 1-2: 4a), manusia diberkati untuk beranak cucu atau bertambah
banyak, supaya manusia mengawasi dan merajai bumi dan makhluk-makhluk lainnya
di dalamnya. Tidak heran bahwa P seorang imam atau pendeta menekankan
penguasaan atas makhluk-makhluk atau bumi (alam). Karena di dunia sekitar PL,
banyak makhluk juga alam diilahikan
artinya dianggap mempunyai kekuasaan yag lebih tinggi dari manusia. Tetapi P menegaskan bahwa makhluk-makhluk dan
seluruh alam semesta adalah ciptaan Allah yang diserahkan kepada manusia untuk
diperintah dan dikuasai. Waltke mengutip
perkataan seorang yang bernama Babbage yang berkata demikian: “ Kemuliaan
manusia dalam hal menaklukkan dunia... Dia memiliki dalam tangannya kuasa untuk
membentuk dan memperbaharui dunia: ini adalah kewajiban dan tanggung-jwab.” (BK
Waltke, artikel: Old Testament texts Bearing on the problem of the control of
human reproduction, dalam buku:Birth control and the Christian, edisi W.O.
Spitzer, cs, 1960, hal. 22). Dia mmengaplikasikan perkataan itu dengan adanya
pertambahan penduduk yang semakin banyak dewasa ini, di mana keseimbangan
dengan natur tidak dapat dipelihara. Pada masa kini perkembangan tekhnolog
kawin sudah semakin berkembang. Waltke melanjutkan, walaupun tekhnologi itu
belum ada pada waktu permulaan
penciptaan manuusia, tetapi kepandaian manusia adalah termasuk di dalam
diri manusia itu sendiri, sehingga termasuk ciptaan Allah. Maka dalam
pertambahan penduduk yang menanjak, Allah boleh saja memerintahkan manusia
untuk mempergunakan tekhnologi itu untuk
memelihara keseimbangan untuk hidup yang baik.
Kita kembali kepada perintah, penuhi
dan taklukkanlah bumi itu. Tuhan tidak mengatakan penuh sesaklah bumi dan
meluapluap. Kalau hal itu terjadi, ucapan taklukkanlah bumi mengakibatkan
kejadian yang terbalik, bahwa manusia nanti yang akan ditaklukkan oleh bumi
sehingga tidak berdaya untuk meneruskan hidupnya.
2.
Hidup bersama
antar suami-istri
Hidup
bersama antar suami-istri dalam bahasa umum disebut kawin. Apa artinya kawin itu dalam kitab Kejadian?. Dalam Kejadian
1: 27, disebut: Allah menjadikan manusia itu laki-laki dan perempuan karena
perkelaminan manusia itu adalah baik (band. Kejadian 1: 31. Satu manusia yang
sempurna adalah terdiri dari seorang
laku-laki dan seorang perempuan (W. Lempp, d.b.s, hal. 54). Ini bukan berarti bahwa di dalam
seorang manusia diciptakan dua jenis kelamin yang berbeda, tetapi justeru dua
jenis kelamin yang berbeda dijadikan satu oleh Allah. Dengan demikian tidak ada pandangan saling menganggap lebih tinggi atau lebih rendah
terhadap satu-satu jenis kelamin, tetapi
suami istri adalah mempunyai derajat atau harkat yang sama. Dalam hal ini P agak berbeda dengan Yahwist
(J) dalam Kejadian 2: 7 dan 2: 18 dst.). Di sini nnampaknya hanya Adamlah yang
ditempatkan di Taman Eden dan perintah hanya ditujukan kepada dia (band, 2: 16-
kata “kau”). Tujuan Allah menempatkan
manusia dalam taman itu untuk mengerjakan dan menggunakan taman itu,
tetapi dia sendirian. Rupanya bagi Allah, tidak baik manusia itu sendirian, dia membutuhkan pertolongan dari
seorang penolong yang sepadan dengan dia. Maka Allah menjadikan perempuan dari
tubuh laki-laki itu untuk menjadi teman yang sepadan bagi laki-laki itu. Lalu
Allah mempertemukan laki-laki dan perempuan itu melalui perkawinan. Perkawinan
itulah yang dinamakan hidup bersama suami- istri atau pembentukan keluarga.
F.H.Sianipar mengatakan bahwa maksud dari
pembentukan keluarga ini adalah menjadikan hidup
yang berteman hidup. (F.H.Sianipar, Satu Jawab, Jakarta, 1973, hal. 15).
Teman hiduplah yang menjadi teman bekerja,, teman bersenda gurau, teman
berjalan-jalan menikmati keindahan, teman makan, teman berencana, teman
menderita.
Mereka diissi oleh kasih Allah yang
menciptakan keluarga itu dengan berkat Allah kepada mereka. Jadi didalam berkat itu terkandung unsur
kasih supaya keduanya saling mengasihi dan kasih itu disalurkan melalui keturunannya.
Kasihlah yang mempertemukan mereka bukan dorongan seksual. Memang seks adalah salah satu ciptaan Allah untuk mempertemukan ke duanya atau salah satu
alat untuk menyalurkan kasih. Seks itu harus dilakukan dalam hubungan saling mengasihi, bukan karena paksaan
atau perkosaan. Harus terjadi persertujuan
di antara ke dua belah pihak di hadapan Allah, karena itu pemakaian seks itu
tidak boleh dilakukan di luar ikatan suami istri. Seks bukan dengan tujuan
untuk berkembang biak, tetapi adalah alat Allah supaya terjadi kesatuan di
antara suami istri untuk bekerja supaya pekerjaan Allah dapat terwujud.
Tadi sudah disebut di atas bahwa istri
adalah teman hidup yang menolong suami.
Istri bukan tempat produksi anak karena ada kalanya istri tidak beranak.
Ucapan bertambah banyak tidak boleh dilepaskan dari pemberian Allah Allah dan
tanggung-jawab manusia. Mendidik anak
termasuk di dalam perintah untuk menaklukkan dan menguasai bumi. Anak tidak
bisa berkembang dengan sendirinya , tetapi memerlukan bimbingan, dan bimbingan
yang pertama adalah dari orang tua. Tuntutan ilmu pengetahuan yang dimiliki
anak adalah tanggung-jawab orang tua, selama anak belum bisa berdiri sendiri.
Kemudian P.D.Latuihamallo dalam
artikelnya yang berjudul; “Pandangan
agama Kristen Protestan tentang keluarga berrencana”, dalam majalah Bina Sejatera, no.3 dan 4,
hal. 22, adanya tiga segi pokok yang bersangkut paut denagn keluarga
(nikah). Yang pertama ialah: marital companionship” (persatuan suami istri). Ke
dua adalah keluarga parenthood dan ketiga adalah panggilan untuk melayani
masyarakat.
Dia menjelaskan bahwa segi yang pertama
adalah mengungkapkan kekariban suami
istri sehingga mereka menjadi sedaging (Kejadian 2: 24). Hubungan sedaging ini
adalah menunjukkan bahwa hubunan
suami-istri adalah personal, di mana ke duanya saling menghormati kepribadian
masing-masing. Ini juga berarti bahwa
apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Markus 10: 9).
Dalam segi yang kedua (parenthood),
diterangkan fungsi biologis dan fungsi keturunan dari nikah. Ini dihubungkan
dengan Kejadian 1: 28, di mana Allah bermaksud untuk melanjutkan ciptaan manusia melalui perlengkapan
seksualitas manusia sendiri.
Dalam segi yang ketiga diterangkan soal pelayanan keluarga itu
sendiri terhadap masyarakat. Suami istri dengan daya seksual dan memperanakkan
yang dianugerahkan oleh Allah, harus dipergunakan secara bertanggung-jawab.
Tanggung-jawab yang pertama adalah kepada Tuhan dan yang ke dua adalah kepada
masyarakat di lingkungan mana dia hidup. Pertanggung-jawaban kepada Allah
adalah apabila suami-istri sanggup untuk mengerjakan apa yag ditugaskan Allah kepada mereka.
Jelaslah bahwa Allah untuk
mempertemukan laki-laki dan perempuan
bukan hanya deagan tujuan untuk memperoleh keturunan, tetapi yang pertama
sekali ialah supaya melalui perkawinan itu rencana dan kemuliaan Allah semakin
nampak yakni supaya dengan kesatuan mereka mengerjakan pekerjaan yang
diserahkan oleh Allah; melalui keturunan yang diperoleh dari anugerah Allah,
bertanggung jawab kepada dunia sekitar dan masyarakat.
III.
Kesimpulan
Persamaan
antara ke dua pandangan tersebut di atas memang diakui ada, yang mana Kejadian
1 dan 2 juga mengakui bahwa keturunan adalah juga berkat Allah sebagaimana
halnya juga dalam kehidupan orang Batak.
Tetapi perbedaan yang paling nyata dapat dilihat yaitu bahwa bagi orang Batak sendiri isi pokok dari
berkat itu adalah keturunan yang banyak. Dan orang Batak tidak melihat hubungan
dari berkat itu (keturunan yang banyak)
dengan pemberi berkat itu sendiri yaitu Allah dan tidak melihat
hubungannya dengan dunia sekitar. Artinya berkat itu dianggap sebagai kuasa
yang berjalan spontan, tanpa mempertanggung-jawabkannya.
Sedangkan
Alkitab tidak pernah melepaskan berkat
itu dari Allah dan Firman Allah. Bahkan
berkat itu selalu disalurkan melalui dan di dalam Firman-Nya. Jadi berkat Allah yang hidup dan berbuah di
dalam kehidupan kita manusia, sehingga dengan berkat Allah bukn diri kita yang
semakin besar, tetapi Allah yang semakin nampak melalui kita.
Fak. Theologia
Nommensen Pematangsiantar, Juli 1974.
Mangontang
Panjaitan, Sm.Th,
RENUNGAN MATIUS 5: 38-48, MANGHAHOLONGI MUSU (MENGASIHI MUSUH)
MANGHAHOLONGI MUSU (MENGASIHI MUSUH)
Selasa, 28 Januari 2025
MENGHAYATI DOA BAPA KAMI
MENGHAYATI
DOA BAPA KAMI
Kita sering mengucapkan Doa Bapa Kami,
tetapi tidak menghayatinya. Lalu bagaimana kita menghayatinya?
Saya tidak dapat mengatakan kepada Allah: “Bapa”, jika saya
tidak berusaha keras setiap hari untuk hidup seperti anak-Nya.
Saya tidak dapat mengatakan: “kami”, jika saya hidup hanya untuk diri saya sendiri.
Saya tidab dapat mengatakan: “ yang ada di sorga”, jika saya
tidak percaya bahwa Bapa Surgawi itu adalah Tuhan atas segala sesuatu yang
mempunyai kuasa untuk mengabulkan doa dari anak-anak-Nya.
Saya tidak dapat mengatakan: “dikuduskanlah namaMu”, jika saya tidak berusaha supaya nama-Nya
senantiasa kudus dalam kehidupan saya.
Saya tidak dapat mengatakan: “datanglah
KerajaanMu”, jika saya tidak memperlakukan Allah sebagai
Raja dalam kehidupan saya.
Saya tidak dapat mengatakan “jadilah
kehendakMu”, jika saya tidak membiarkan
kehendak-Nya terlakasana dalam hidup saya
dengan senantiasa patuh kepada FirmanNya.
Saya tidak dapat mengatakan: “di bumi
seperti di sorga”, jika saya tidak mau melayani Dia di sini dan sekarang.
Saya tidak dapat mengatakan: “berilah
kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, jika saya tidak jujur dan sering berusaha mencari
barang-barang keperluan saya dengan akal-akalan.
Saya tidak dapat mengatakan: “ampunilah
kesalahan kami”, jika saya masih
mengandung rasa dendam terhadap seseorang dan tidak mau berbuat baik kepada orang
yang berbuat salah kepada saya.
Saya tidak dapat mengatakan: “jangan
membawa kami ke dalam pencobaan”, jika
saya dengan sengaja masih mengikuti
langkah dan kemauan sendiri yang menyesatkan.
Saya tidak dapat mengatakan: “lepaskanlah
kami dari pada yang jahat”, jika saya
tidak mengenakan seluruh pakaian perlindungan dari Allah, yang melindungi saya
dari setiap kejahatan.
Saya tidak dapat mengatakan: “ karena engkau
yang punya kerajaan”, jika saya tidak
memberikan loyalitas dan kepatuhan yang sesungguhnya kepada Raja dari segala
raja itu.
Saya tidak dapat mengenakan kepadaNya: “yang punya kuasa”, jika saya takut akan apa yang dapat manusia
perbuat.
Saya tidak dapat menganggapNya “ yang
mulia”, jika saya mencari kemuliaan untuk diri saya sendiri.
Saya tidak dapat mengatakan: “sampai selamalamanya”, jika cakrawala hidup saya diikat sepenuhnya
oleh waktu yang terbatas.
