Minggu, 24 November 2019

JABATAN PENDETA SEBAGAI PANGGILAN

Jabatan” (Tohonan) pendeta sebagai panggilan
Oleh: Pdt MSM Panjaitan, MTh ( Pendeta HKBP Emeritus)

1.      Pendahuluan
            Banyak orang yang mengertikan bahwa jabatan pendeta itu sebagai profesi, sama seperti pekerjaan-pekerjaan yang lain. Pada hal secara teologis dan secara gerejawi  jabatan pendeta  bukanlah sebuah profesi melainkan sebagai panggilan.  Mungkin sulit  untuk membedakan antara  profesi dan panggilan.  Profesi adalah sebuah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus, misalnya profesi guru, profesi dokter, profesi yang bergerak di bidang hukum, tehnik, desainar, tehnik, dll.  Profesi adalah pekerjaan, tetapi tidak semua pekerjaan  adalah profesi. Profesi mempunyai karakteristik  sendiri yang membedakannya dari pekerjaan lainnya. Profesi bisa diperoleh atas upaya manusia itu sendiri. Sedangkan jabatan pendeta pekerjaan khusus yang diberikan Allah melalui panggilan.
            Panggilan adalah suatu tugas yang diberikan oleh Allah kepada manusia yang mengacu kepada pelayanan.  Seseorang dipanggil oleh Tuhan  untuk mengabdikan dirinya dalam  pekerjaan khusus Allah di dunia ini, yang berhubungan dengan karya penyelamatan yang direncanakan terhadap umat-Nya.  Misalnya  dalam Kitab Perjanjian Lama Musa dipanggil oleh Allah untuk mnyelamatkan bangsa-Nya dari perbudakan Mesir  dan memimpinnya memasuki tanah perjanjian Kanaan. Para nabi  dipanggil oleh  Allah untuk menyampaikan Firman-Nya  kepada umat-Nya  agar hidup sesuai dengan  hukum Tuhan demi keselamatan mereka. Dengan panggilan itu para nabi bisa menyampaikan tegoran  atau kecaman kepada umat Allah, apabila telah melakukan hal-hal yang menyimpang atau melawan hukum Tuhan, agar mereka bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Jadi di dalam pangilan itu terkandung  suatu pemberian tugas   untuk melayani Allah  dalam menjalankan suatu  pekerjaan khusus atau mencapai suatu tujuan khusus. Dalam Perjanjian Baru pengertian panggilan itu juga sama.  Panggilan itu pada mulanya  diarahkan kepada pemanggilan kedua belas murid Yesus untuk dipersiapkan menjadi para rasul-Nya yang kelak akan diutus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah ke segenap bangsa di dunia ini, serta mengajarkan apa yang sudah  diperintahkan Yesus kepada mereka. Dalam perkembangan selanjutnya panggilan itu semakin meluas  sejalan dengan berdirinya gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya kepada Yesus sebagai buah dari penginjilan itu sendiri di berbagai  daerah di dunia ini. Muncullah berbagai jabatan pelayanan di dalam gereja, yang berdasar kepada panggilan  Tuhan kepada masing-masing mereka.
2.      Pengertian jabatan pendeta

Pada umumnya gereja-gereja protestan di Indonesia mempergunakan sebutan pendeta kepada  orang yang mempunyai tugas panggilan  sebagai  pelayan Firman Tuhan dan tugas penggembalaan  atau kepemimpinan dalam gereja. Pada umumnya gereja-gereja Prostentan di Eropa memakai kata pastor, dan Gereja Katolik Roma di Indonesia juga memakai kata pastor atau imam. Kata pendeta dipakai sebagai terjemahan dari kata”pastor” (gembala) yang dipakai di gereja-gereja Eropa.  Kata itu berasal dari bahasa Sansekerta yakni “pandita”.  Gereja  HKBP  yang merupakan hasil penginjilan “Rheinische Missionsgesselschaf” (RMG) dari Jerman langsung memakai kata “pandita” untuk menerjemahkan  sebutan “pastor” yang dipergunakan  di gereja-gereja Jerman  atau “Reverend” (orang yang terhormat) di gereja-gereja Inggris.  Sejak awal para missionar yang diutus oleh RMG mengenakan sebuatn itu untuk para pelayan pribumi (orang Batak) yang telah memperoleh pendidikan khusus di bidang teologi dan pelayanan kegerejaan  setelah memperoleh pengalaman melayani sebagai “guru” paling sedikit sepuluh tahun. Sedangkan para missionar itu  tidak dipanggil dengan sebutan pendeta, tetapi  dengan sebutan “tuan”.  Gereja-gereja di Indonesia yang mempunyai latar-belakang penginjilan dari Belanda  sempat memakai  sebutan “Dominus” (disingkat Ds), dan diucapkan Domine, yang artinya juga  Tuan.  Sempat juga  sebutan itu dipakai  di sebagian pendeta HKBP, yakni para pendeta yang tamat dari “Hoogere Theologische School” (HTS),  yakni Sekolah Theologia Tinggi  yang berdiri di Jakarta mulai tahun  1934.  Sekolah ini kemudian ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Theologia (STT) Jakarta.  Sebutan itu dipakai untuk membedakan  para pendeta yang tamat dari HTS Jakarta dan yang tamat dari Seminari Passurnapitu dan Seminari Sipoholon. Ada juga gereja-gereja di Indonesia, terutama yang  memakai  sebutan itu  untuk pendetanya. Tetapi  sekarang pada umumnya gereja-gereja Protestan  baik yang merupakan hasil penginjilan dari Lembaga-lembaga Zending dari Eropa, maupun gereja-gereja  Pentakosta atau juga Kharismatis  yang pada umumnya berasal dari Amerika, sudah memakai sebutan pendeta untuk pelayan yang berfungsi sebagai gembala di gerejanya.
Dalam tradisi Hindu atau Budha, “pandita” berarti guru agama, kaum brahmana,  orang terpelajar yang memiliki banyak pengetahuan. Ucapan seorang pandita  diyakini sebagai kebenaran atau dharma. Karena itu dalam tradisi Hindu, ada empat sifat  yang harus ditunjukkan oleh seorang pandita, yakni: pertama, Sang Satya Wadi artinya selalu membicarakan kebenaran; kedua, Sang Apta artinya selalu dapat dipercayai; ketiga, Sang Patirthan artinya tempat memohon kesucian; keempat, Sang Penadahan Upadesa artinya  memiliki kewajiban memberi pendikan  moral kepada masyarakat. Oleh karena itu, pandita disebut Adi Guru Loka yaitu guru utama dalam lingkungan masyarakat.
Karena mempunyai persamaan  dengan seorang pelayan Tuhan yang diharapkan sebagai pembawa Firman Tuhan kepada Jemaat Tuhan dan juga memberi pengajaran dan tuntunan  yang baik  kepada umat Tuhan melalui penggembalaan, dan juga  memberi pengajaran  tentang nilai-nilai kekristenan  kepada semua orang, maka istilah pandita itulah yang dipakai oleh Gereja Batak (HKBP) melalui para missionar kepada setiap orang yang terpangil untuk  mengemban tugas tersebut.  Tugas pelayanan tersebut dinamai “tohonan”  yakni istilah Batak yang sangat sulit diterjemahkan dalam bahasa lain. Ada yang mengatakan bahwa kata itu berasal dari kata “toho” (tepat) dan “an” (itu) yang artinya si Anulah yang tepat untuk melakukannya atau membicarakannya. Jadi “tohonan” adalah suatu pekerjaan khusus yang sangat penting yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang ditentukan untuk itu, yang tidak dapat dilaksanakan oleh orang lain. Sebelum masuknya kekristenan di Tanah Batak, istilah itu sudah dipakai  di tengah-tengah masyarakat Batak yang juga dikenakan kepada orang-orang yang mempunyai pekerjaan khusus, seperti  kepada “datu” (tohonan datu),  “raja’ (tohonan raja),  pembicara dalam adat (tohonan raja parhata),   status sebagai  abang (tohonan sihahaan), dan lain-lain.  Dalam masyarakat Batak “tohonan” itu juga mempunyai makna kehormatan atau status  dalam masyarakat.  Latar belakang pemahaman Batak  akan “tohonan” itu kelihatannya  juga berpengaruh kepada pemahaman  akan “tohonan” dalam gereja, karena ada yang menganggap “tohonan” dalam gereja itu  juga sebagai kehormatan.  Apalagi karena sulitnya memeperoleh terjemahan yang tepat terhadap istilah itu.  Sampai sekarang  terjemahan yang  banyak dipakai untuk menyebut “tohonan” adalah  jabatan, yang pada dirinya  dalam pengertian jabatan terkandung  arti status yang mempunyai makna kehormatan di tengah-tengah masyarakat.
Di tengah-tengah Gereja Batak (HKBP), dalam sejarahnya “tohonan pandita” merupakan “tohonan” yang ketiga. Tetapi walaupun muncul sebagai tohonan yang ketiga, di kemudian hari “tohonan pandita” dikenal sebagai “tohonan pokok”. “Tohonan” yang pertama diberikan kepada orang Kristen Batak ialah “tohonan sintua”, yang tugas utamanya sebagai teman sekerja dari para misionar itu untuk menggembalai  para anggota jemaat yang ada di lingkungannya, termasuk menggiatkan mereka untuk rajin mengikuti kebaktian minggu, menggiatkan anak-anak untuk rajin pergi ke sekolah, mendekati orang-orang yang belum Kristen untuk ikut menerima keselamatan dari Kristus.  Itu diberikan bagi empat orang putera Batak  yang sudah Kristen tahun 1867, di gereja Dame Saitnihuta, Tarutung. “Tohonan guru” mulai diberikan tahun  1873 yakni kepada lima orang petera Batak  yang telah menyelesaikan  pendidikan sebagai Guru Injil di Seminari Parausorat yang mulai dibuka tahun 1868.  Guru-guru ini diberi tugas untuk mengajar anak-anak di sekolah asuhan zending, dan sekaligus juga melayani  di Jemaat yang menyatu dengan sekolah tersebut. Mereka berfungsi sebagai pengajar dan juga sebagai pengkhotbah (teacher-preacher).  “Tohonan pandita” mulai diberikan  kepada putera Batak tahun 1885,  yakni kepada tiga orang yang tamat dari Sekolah Pendeta yang mulai dibuka di Seminari Passurnapitu tahun 1885.  Tugas dari para pendeta tersebut  yang diberikan pada waktu  itu adalah untuk memelihara anggota jemaat, melalui pemberitaan Firman, pelayanan sakramen, penggembalaan,  perkunjungan kepada orang sakit,  “paminsangon” (penegoran), pemeliharaan dan pemberian ajaran yang murni sesuai dengan yang disaksikan dalam Alkitab,  menuntun anak-anak,  menjadi teladan dalam setiap perilaku hidup, menjalankan apa yang diputuskan oleh  sinode, dan lain-lain.  Inilah “tohonan hapanditaon”  yang diterima oleh seorang pendeta HKBP, yang diterima pada waktu penahbisan  dirinya sebagai pendeta, seperti dituliskan dalam Agenda (Tata Ibadah) Penahbisan Pendeta. “Tohonan” itu  diberikan oleh Tuhan Yesus Kristus Raja Gereja, melalui  gereja-Nya di dunia ini. Dalam menerima itu seorang pendeta harus berjanji untuk melakukannya  dengan segenap hidupnya.  Inilah juga penampakan pelayanan Kristus  dengan tiga jabatan-Nya itu, yakni sebagai nabi, imam dan raja.  Dan untuk meneruskan pelayanan Kristus  itu di dunia ini, di gereja mula-mula diangkatlah rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, pengajar, diaken/ diakones, penetua, uskup (pengawas).  Dengan mengikuti tradisi  Gereja Reformasi, HKBP  mengaku bahwa  semua pelayanan dan jabatan-jabatan  tersebut telah dicakup dalam jabatan (tohonan) kependetaan.  Ini dinyatakan oleh HKBP dalam Pengakuan Iman (Konfessi)  HKBP tahun 1996 pasal 9.

3.       Jabatan kependetaan dalam gereja-gereja Mula-mula.

Sumber-sumber yang memberi informasi bagi kita mengenai jabatan kependetaan dalam gereja mula-mula adalah Kitab Perjanjian Baru, khususnya Kitab Kisah Rasul-rasul, dan juga Surat-surat para rasul. Jabatan-jabatan itu adalah rasul, nabi, pemberita Injil, pengajar (guru), gembala,  diakon/diakones,  penetua (persbyteros), dan penilik atau pengawas (epsikopos)  Jemaat.  Seperti sudah dijelaskan di atas, HKBP mengakui bahwa semua jabatan-jabatan tersebut sudah tercakup dalam “tohonan” pendeta.  Itu berarti bahwa semua pelayanan yang dilakukan oleh pemegang jabatan tersebut adalah masuk dalam  tugas pelayanan seorang pendeta. Memang di HKBP, masih ada jabatan-jabatan pelayanan yang lain  selain pendeta, yakni guru,  bibelvrow (penginjil wanita), diakon/ diakones, evangelis (pemberita injil), dan “sintua” (penetua). Tetapi semua  jabatan itu tidak terlepas dari jabatan pendeta, dan semua pelayanan mereka adalah membantu  tugas pelayanan  pendeta.

3.1.  Para rasul

Pada zamannya, Yesus telah memanggil dua belas orang menjadi murid-murid-Nya. Ke dua belas orang itu  diajari dan dilatih selama lebih kurang tiga tahun untuk  menjadi  “apostolos” yang artinya rasul, utusan-Nya untuk memberitakan Injil keselamatan yang dibawa-Nya ke seluruh bangsa di dunia ini. Bilangan dua belas adalah bilangan simbolis, menunjuk kepada kedua belas suku Israel. Itu juga memberi petunjuk kepada arti gereja sebagai Israel yang baru. Mereka inilah para saksi dari kehidupan, kematian dan kematian Yesus (Ksi. 1: 4-11). Setelah  tiadanya Yudas Iskariot yang bunuh diri karena menghianati Yesus,  jumlah dua belas itu tetap dipertahankan dengan memilih  Matias sebagai gantinya. Namun dalam perkembangan kemudian, istilah  “rasul” lebih sering dipakai untuk menyebut  utusan langsung dari Yesus, dari pada sebuatn “kedua belas” orang itu.
Utusan “rasul” yang datang dari pemikiran Yahudi berarti seorang utusan (duta) yang dihunjuk dengan mempunyai tanggung-jawab yang penuh untuk mewakili  seseorang yang mengutus dia. Dalam Kitab Perjanjian Baru( PB) para rasul disebut meliputi yang dua belas orang itu, ditambah dengan beberapa orang lain yang telah melihat  Yesus yang bangkit itu dan yang ditetapkan melalui Roh Kudus. Rasul-rasul   yang disebut selain dari yang dua belas itu ialah Paulus, Barnabas, Silvanus dan Yakobus, saudara Yesus. Mereka adalah penginjil-penginjil utama. Paulus tidak pernah mempersamakan dirinya dengan yang dua belas itu, namun dia dengan keras mempertahankan bahwa dia tergolong rasul ( 1Kor. 15: 8-10). Para rasul bukan hanya bertugas untuk mengabarkan Injil, tetapi mereka juga berbuat dengan kuasa atas orang-orang sakit dan setan-setan (Matius 1: 1dst). Karena ke dua belas dan para rasul itu  langsung diperhubungkan dengan pelayanan Kristus yang memanggil mereka di dunia ini, maka bagi mereka tidak ada pergantian. Mereka mempunyai murid-murid sendiri, tetapi murid-murid mereka itu tidak diangkat menjadi rasul untuk menggantikan mereka.
Para rasul yang dua belas itu adalah pemimpin-pemimpin  pertama dari gereja mula-mula. Mereka mempertahankan kepemimpinan gereja di Yerusalem hingga hancurnya kota itu tahun 70 M oleh tentera Romawi. Paulus sebagai  seorang  yang mempunyai kuasa rasul dari Yesus Kristus, umumnya berhubungan dengan jemaat-jemaat yang didirikan. Dia berbicara mengenai tekanan-tekanan yang  mengenai seluruh jemaat. Dia dipanggil untuk menyelesaikan perselisihan, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul mengenai sikap dan perilaku Kristen, memperdamaikan kelompok-kelompok yang bertikai, menghadapi masalah hubungan antara tuan-tuan dan hamba-hamba, dan sejumlah issu yang lain.

3.2.  Tiga serangkai pemimpin gereja: rasul, nabi dan pengajar

Dalam suratnya ke jemaat Korintus Paulus menyebut adanya dua jabatan yang baru selain rasul, yakni nabi dan pengajar. Dia menulis “Allah telah menetapkan  beberapa orang dalam Jemaat; pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar” ( 1 Kor. 12: 28). Dengan menyebut ketiga jabatan itu dalam pola hierarkhis, Paulus memberi bukti akan adanya tiga serangkai kepemimpinan gereja mula-mula. Setelah para rasul muncul para nabi dan pengajar. Sebagaimana halnya jabatan rasul, jabatan yang dua lagi juga dipercayai sebagai karunia roh yang membangun persekutuan jemaat.  Nabi-nabi, dan kdang-kadang juga para pengajar, melayani jemaat keseluruhan secara berpindah-pindah. Ruang lingkup pelayanan mereka tidak terbatas pada satu tempat saja. Mereka dikenal dengan peranan pelayanan mereka melalui  karunia-karunia khusus dari Roh Kudus bagi diri mereka. Mmereka tidak dipilih kepada jabatan mereka itu dan juga tidak ditetapkan melalui suatu upacara gerejawi.
Kalau para rasul banyak dikenal sebagai misioner-misioner yang mendirikan persekutuan-persekutuan (jemaat) Kristen, para nabi adalah yang memelihara jemaat-jemaat baru itu. Karena sifat pelayanan mereka yang berkeliling, nabi-nabi tidak selalu hadir  dalam suatu jemaat setempat, melainkan mereka datang dan pergi  sesuai dengan keinginan mereka. Mengikuti contoh dalamn Kitab Perjanjian Lama (PL), nabi-nabi mula-mula bertumbuh dalam jemaat-jemaat Kristen Yahudi (Ksi. 11: 27; 15: 32). Tetapi mereka juga di jemaat-jemaat campuran (yahudi dan non-Yahudi) dan juga dalam jemaat-jemaat yang khusus berasal dari non- Yahudi  (Kis. 11: 27; Roma 12: 6-7). Beberapa nabi yang disebut ialah Agabus (Kis. 11: 28), Barnabas, Simeon Niger, Lukius orang Kirene ( Kis. 13: 1 dst) dan juga Yudas dan Silas. Selain itu ada sejumlah nabiah, seperti keempat putri Filipus ( Kis. 21: 9). Jabatan nabiah muncul dalam gereja mula-mula sampai  akhir abad pertama.
Selain mempunyai karunia untuk mengabarkan Firman Allah, nabi juga menjalankan peranan khusus dalam menjalankan disiplin gereja dan dalam menerima kembali orang-orang yang telah menyesali dosanya. Suara Allah  untuk memberi pengampunan  disampaikan melalui para nabi. Dengan otoritas demikian, tidak mengherankan apabila nampak para nabi memikul suatu peranan yang besar dalam gereja mula-mula. Dalam beberapa kasus kadang-kadang merekalah juga yang menyatakan siapa yang layak memegang jabatan kepemimpinan bagi jemaat-jemaat dan mereka juga yang mengambil keputusan tentang penyelesaian pertikaian yang terjadi di antara orang-orang percaya. Karena itu tidaklah juga mengherankan kalau otoritas yang demikian kadang-kadang disalahgunakan dan juga dipraktikkan oleh semacam dukun yang memperdagangkan kepercayaan orang-orang Kristen. Dalam PB ada juga kita jumpai sejumlah peringatan untuk melawan “nabi-nabi palsu” (Mat. 7: 15; 24: 11)  dan juga perlunya untuk menguji nabi-nabi  ( 1 Yoh. 4: 1). Ujian yang diberikan kepada mereka haruslah dengan melihat konsistensi dan pemberitaan mereka dengan apa yang telah mereka terima dan juga dengan kehidupan mereka sehari-hari ( 1 Yoh. 4: 1).
Para pengajar merupakan golongan ketiga dari pelayan-pelayan kharismatik, setelah para rasul dan nabi-nabi. Dalam banyak hal mereka menunjukkan fungsi yang sama dengan nabi-nabi, sehingga garis perbedaan di antara mereka sulit digambarkan. Seorang nabi kadang-kadang juga berfungsi sebagai pengajar. Di jemaat Antiokhia, para nabi dan pengajarlah yang menetapkan Paulus dan Barnabas untuk menjalankan missinya ke Siprus dan juga yang “meletakkan tangan ke atas mereka serta mengutus mereka” (Kis. 13: 1-3). Suatu fungsi khusus dari pengajar  ialah untuk mempersiapkan para katekumen  untuk baptisan dan juga menyelenggarakan pengajaran lanjutan bagi mereka. Dalam perjalanan sejarah gereja selanjutnya kelihatan fungsi pengajar ini lebih lama bertahan dari fungsi nabi. Sampai abad ke empat kita masih menemukan lagi sejumlah pengajar dalam gereja. Yustinus Martir dan Tatianus misalnya adalah pengajar-pengajar yang kita temukan pada abad ke dua, Klemen dan Origenes pengajar dari Alexandria pada abad ke tiga. Dalam buku Sejarah Gerejanya, Eusebius masih menyebut adanya jabatan pengajar pada abad ke empat, di samping jabatan penetua.

3.3. Para uskup (penilik), penatua dan diakon

Di samping para rasul, nabi dan pengajar, masih ada kelompok pelayan yang lain yang dijumpai  dalam PB, yakni para penilik, penatua dan diakon.  Pada mulanya jabatan “penilik” (bahasa Yunani episkopos) dan “penatua” (bahasa Yunani presbyteros) mempunyai pengertian yang hampir sama. Jabatan penilik mungkin nula-mula berkembang di  jemaat-jemaat Yunani, karena di dunia Hellenis (dunia Yunani) jabatan penilik sudah dikenal sebelumnya sebagai pemimpin di lembaga-lembaga kemasyarakatan. Jabatan “episkopos”, misalnya lazim  dikenakan bagi pemimpin perserikatan sosial, kelompok atletik, termasuk pemimpin  pemerintahan kotapraja. Ketika Paulus mengucapkan salam bagi para penilik  dan diakon jemaat Filipi, dia memakai istilah yang sudah umum dikenal masyarakat di sana. Adalah menarik bahwa Paulus memakai istilah itu dalam bentuk plural  yakni “episkopoi”. Itu menunjukkan bahwa di jemaat itu telah ada lebih dari satu penilik, kecuali jika dengan istilah itu para penatua juga turut dimaksudkan. Tetapi walaupun istilah penilik  dipinjam dari lingkungan budaya  Hellenis, namun gereja telah mengertikan jabatan itu dengan arti dan kuasa rohani. Pada pembicaraannya di Miletus, Paulus telah menyebutkan bahwa para penilik adalah orang-orang yang ditetapkan Roh Kudus untuk menggembalakan  jemaat Allah (Kis. 20: 28).
Sebutan “para penatua” (presbyteroi) untuk pertama kali mauncul pada waktu pengumpulan bantuan bagi orang-orang Kristen Yahudi di Yerusalem yang mengalami kelaparan (Kis. 11: 30). Tanpa diragukan istilah itu adalah dipinjam dari lingkungan Yahudi pada waktu itu.  Di lingkungan Yahudi, setiap synagoge (rumah ibadat)  mempunyai badan penatua (sanhedrin) yang berfungsi sebagai badan pengadilan dan pemerintahan. Mereka terdiri dari “pemimpin, ahli taurat dan imam-imam besar” (Kis. 4: 5.8.23). Di Jemaat Yerusalem para penatua itulah yangmenerima bantuan yang dikirim dari Jemaat Antiokhia untuk disalurkan kepada setiap orang yang membutuhkan, bukan yang dua belas orang itu, yang pada waktu itu mungkin telah tersebar karena penghambatan yang terjadi. Beberapa tahun kemudian kita menemukan lagi para penatua pada sidang di Yerusalem bersama-sama dengan yang dua belas rasul itu. Setelah itu mereka disebut-sebut lagi dalam Surat-surat Penggembalaan ( 1 Tim. 3: 2; Titus 1: 7). Itu memberi petunjuk bahwa jabatan penatua juga telah merupakan bagian dari jemaat Kristen Yunani, sebagaimana halnya juga jemaat Kristen Yahudi. Nampaknya seluruh penilik pada mulanya adalah juga penatua-penatua yang dipilih  untuk mengetuai badan penatua  dalam memimpin satu-satu jemaat.

3.4. Ketujuh orang yang melayani orang miskin

Hadirnya ketujuh orang pelayan seperti yang diberikatakan dalam Kis. 6: 1-7, menunjukkan suatu perkembangan dalam konsep jabatan dalam gereja mula-mula, karena satu jabatan telah diteapkan oleh Jemaat itu sendiri, tidak langsung oleh Roh Kudus. Pada waktu itu “persekutuan murid-murid”( anggota-anggota jemaat) itu dimintakan oleh kedua belas rasul tersebut untuk memilih dari antara mereka sebanyak tujuh orang yang  dikenal baik, yang penuh Roh dan hikmat (Kis. 6: 3) untuk diangkat dalam tugas “pelayanan meja”. Karena anggota-anggota jemaat itu memilihnya dari antara mereka, tentu pemilihan itu dilakukan dengan proses demoktratis, barulah setelah itu para rasul meletakkan tangan di atas mereka dan berdoa. Walaupun istilah “diakonia” merupakan istilah yang umum bagi seluruh jenis pelayanan gereja,  namun “diakon”   pejabat khusus yang ditetapkan pada waktu itu  khusus untuk “pelayanan meja”.  Tugas itu juga meliputi pendistribusian bantuan yang datang  dan pemeliharaan harta fisik gereja. Selain itu mereka biasanya juga  berfungsi untuk membawa  (atau menyanyikan) epistel  dan Injil pada waktu Persembahan Kudus, menerima persembahan dan membantu pelayanan Perjamuan Kudus itu. Diakon juga kemudian berfungsi sebagai pelayan administratif dari seorang  uskup (penilik).

4.       Pemberian “tohonan” pendeta

Semua jabatan-jabatan yang dikenal dalam gereja mula-mula adalah merupakan  jabatan panggilan, yakni panggilan dari Allah.  Sebagian pemegang jabatan itu langsung dipanggil oleh Allah melalui Yesus Kristus atau melalui kuasa Roh Kudus, seperti para rasul dan para nabi. Tetapi  jabatan-jabatan yang lain  dipanggil  dengan perantaraan para rasul atau dengan perantaraan gereja. Gereja yang dalam bahasa Yunani disebut ekklesia berarti orang-orang percaya kepada Yesus Kristus yang dipanggil keluar dari dunia ini  yang dihimpun dalam satu persekutuan  oleh Roh Kudus. Karena itu gereja juga berarti persekutuan orang-orang percaya. Para rasul yang menerima panggilan itu langsung dari Yesus Kristus, diteguhkan melalui kuasa Roh Kudus yang dicurahkan kepada mereka pada hari Pentakosta ( Kis. 2). Merekalah   yang kemudian menyampaikan jabatan-jabatan yang lain melalui penahbisan penumpangan tangan. Para penilik (uskup) atau episkopos  misalnya yang  ditahbiskan oleh para rasul,  melakukan hal yang sama kepada penggantinya sehingga terjadilah penurunan jabatan itu secara berkesinambungan.  Dalam  dogma Gereja Roma Katolik hal itu disebut “successio apostolica”,  yang artinya pewarisan jabatan rasuli, yakni mulai dari Yesus kepadapara rasul, dari para rasul kepada para uskup, dan seterusnya secara berkesinambungan sehingga terjadi mata-rantai dari jabatan itu yang  berkesinam bungan terus. Dalam Gereja-gereja Protestan pada umumnya ajaran  pewarisan jabatan tersebut ditolak. Bagi Gereja-gereja Protestan,  Kristus yang menjadi kepala gereja, dan gereja sebagai tubuh Kristus, memberikan kuasa kepada gereja untuk mengadakan pelayan-pelayan yang melakukan segala tugas pelayanan yang diamanatkan kepada gereja itu sendiri. Jabatan itu adalah jabatan pelayan yang bukan menjadi milik dari pelayan itu sendiri.  Kalau pelayan itu tidak lagi menjalankan fungsinya atau mengingkari apa yang sudah dia janjikan untuk dilaksanakan, maka gereja bisa mencabut kembali jabatan tersebut, sehingga dia kembali sebagai anggota jemaat biasa.
Pemberian  (tohonan) jabatan pelayanan pendeta kepada seseorang melalui suatu proses yang panjang.   Itu dilakukan oleh gereja mulai dari mempersiapkannya melalui pendidikan yang dibutuhkan untuk setiap pengemban jabatan-jabatan tersebut.  Misalnya untuk gereja HKBP dalam memberikan jabatan pelayanan pendeta itu melalui proses yang panjang. Bagi orang-orang yang terpanggil untuk jabatan pelayanan itu dipersiapkan  dengan pendidikan khusus (Sekolah pendeta dan Pendikan Theologi) dan latihan-latihan yang diberikan  orang-orang yang ditugaskan khusus untuk itu oleh gereja dalam kurun waktu tertentu..  Setelah menyelesaikan seluruh pendidikan, pelatihan dan persiapan-persiapan yang dibutuhkan, maka pendeta ressort dan praeses di  ressort atau distrik di mana mereka menjalani masa pelatihan itu,  memberikan rekomendasi kepada pimpinan HKBP, kalau mereka sudah layak untuk ditahbiskan. Di gereja HKBP tahbisan itu diberikan oleh Ephorus sebagai Pimpinan HKBP, yang didampingi oleh sejumlah pendeta HKBP.
Penahbisan itu  dilakukan dengan menumpangkan tangan kepada orang-orang yang ditahbiskan.  Ini mengikuti tradisi yang sudah dilakukan sejak gereja mula-mula, di mana para rasul menetapkan beberapa jabatan yang dikenal dalam Perjanjian Baru seperti diakon (Kis. 6: 6),  dan penatua dengan menumpangkan tangan (1 Tim. 5: 22) . Sedangkan para rasul melakukan itu mengikuti tradisi Yahudi.  Musa menumpangkan tangan atas Yosua ketika mengangkat dirinya sebagai gantinya ( Bilangan 27: 15-23; Ul. 34: 9). Hasilnya Yosua dipenuhi dengan roh kebijaksanaan yang diperlukan untuk menjalankan jabatan itu. Mengikuti cara ini , para rabbi Yahudi  telah mengembangkan tahbisan mereka sendiri. Apabila seseorang telah menyelesaikan pelajaran yang diharapkan dari padanya, maka dia ditahbiskan oleh gurunya. Ini dilakukan di hadapan para saksi dengan maksud untuk menyatakan bahwa rantai tradisi yang menjangkau hingga Musa akan diperpanjang  lagi dengan penambahan rantai yang lain, pemberian hikmat kebijaksanaan kepada ahli yang berhak untuk itu oleh gurunya.
Praktek yang lain sehubungan dengan penumpangan tangan ini dapat kita lihat lagi dalam rangka penyembuhan orang sakit yang dilakukan oleh Yesus. Cerita seperti ini banyak kita jumpai dalam kitab Injil, tetapi dapat kita ringkaskan dengan pernyataan yang dibuat oleh Lukas: “… semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam pemyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya  atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka” (Luk. 4: 10).  Tangan juga diletakkan pada pemberkatan  (misalnya, pemberkatan Yesus atas anak-anak,  Markus 10: 16) dan juga di dalam rangka baptisan ( Kis. 8: 17; 19: 6).  Makna dari peletakan atau penumpangan tangan itu hanya sebagai simbol  pemberian  berkat atau kuasa dari Tuhan bagi orang yang kepadanya dilakukan penumpangan tangan itu.  Tidak ada sesuatu  pemahaman yang bersifat magis di dalamnya. Artinya tidak otomatis bagi orang yang telah dilakukan peletakan tangan akan memperoleh berkat atau kuasa yang diperlukan.  Itu tergantung kepada kesediaan orang tersebut untuk menerimanya dari Tuhan  melalui persiapan-persiapan dan penyerahan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan untuk melakukan tugas-tugas panggilan yang diberikan oleh Tuhannya. Karena itu sebelum penumpangan tangan itu dilakukan, maka orang yang ditahbiskan itu mengucapkan janji  yang disaksikan oleh  anggota-anggota jemaat yang ikut berkumpul dalam acara penahbisan itu. Ada yang berpendapat bahwa jabatan pendeta yang diberikan oleh Tuhan Allah melalui gereja tidak dapat lagi dicabut-cabut dari orang yang telah menerimanya, karena jabatan katanya jabatan itu  diterimanya bukan dari pimpinan gereja, tetapi langsung dari Tuhan Allah.  Tetapi pemahaman HKBP tidak seperti itu. Bagi HKBP jabatan itu bisa dicabut apabila orang yang bersangkutan tidak lagi menjalankan tugas pelayanan yang disampaikan kepadanya, atau dia sudah melanggar peraturan gereja atau melakukan pekerjaan yang mencemari “tohonan” nya.

5.      Kesimpulan
Dari uraian di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yakni:
i)        Jabatan (tohonan) pendeta adalah suatu  panggilan, yakni panggilan dari Allah untuk melakukan pekerjaan khusus dari Allah, yakni memberitakan kabar keselamatan  kepada semua bangsa dan ciptaan Allah, memelihara orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus melalui  pemberitaan Firman dan penggembalaan, melayani sakramen, dan pelayanan-pelayanan lain yang mendukung tugas panggilan tersebut.
ii)      Jabatan itu pada hakekatnya dimengerti  sebagai pelayanan, bukan sebagai kedudukan atau posisi tinggi yang memberikan kehormatan dan keuntungan-keuntungan duniawi bagi orang yang bersangkutan. Karena itu pendeta  yang memegang jabatan itu adalah sebagai hamba, bukan tuan. Yang memegang jabatan itu bukan seorang yang luar biasa, tetapi dia menyampaikan sesuatu  yang laur biasa.
iii)    Sebutan pendeta, yang berasal dari bahasa Sansekerta “pandita”,  yang dipakai   oleh pada umumnya gereja-gereja Protestan di Indonesia, khususnya gereja HKBP, karena sifat dan peleyanan yang diharapkan dari seorang “pandita” Hindu, sama dengan sifat dan pelayanan yang  diharapkan dari seorang pendeta gereja yakni:  selalu memberitakan kebenaran, selalu dapat dipercayai  sebagai tempat memohon kesucian, dan memiliki kewajiban  untuk memberi pendidikan tentang nilai-nilai yang baik  kepada masyarakat. Pendeta juga sebagai pelayan Tuhan, diharapkan selalu  membawa kebenaran Firman  Tuhan kepada jemaat, dan juga memberi pengajaran dan tuntunan yang baik  kepada Umat Tuhan dan masyarakat  berdasarkan nilai kekristenan yang benar.
iv)    Sesuai dengan  dengan pemahaman dan kepercayaan gereja-gereja Reformasi, semua jabatan yang dikenal  dalam Perjanjian Baru, telah dicakup dalam jabatan pendeta. Tetapi untuk membantu pendeta dalam menjalankan tugas panggilannya itu tetap diperlukan jabatan-jabatan yang lain seperti guru, diakon, penginjil wanita (bibelvrow), evangelis, dan penatua.
v)      Jabatan pendeta  diberikan oleh  Allah Tritunggal melalui gereja di mana pendeta akan menjalankan tugas panggilan itu, yang penahbisannya dilakukan oleh Pimpinan gereja dan  didampingi oleh pendeta-pendeta lainnya melalui suatu ibadah gereja yang dikhususkan untuk itu.  Penahbisan itu yang dilakukan dengan penumpangan tangan, merupakan pemberian kuasa dari Allah, setelah lebih dulu orang yang menerima tahbisan itu berjanji untuk melakukan semua tugas panggilan yang disampaikan dengan segenap hidupnya.
vi)    Jabatan itu bukanlah secara otomatis milik sepenuhnya dari pendeta tersebut  yang tidak bisa dicabut-cabut lagi. Jabatan itu bisa dicabut, kalau orang yang memegang jabatn itu tidak lagi melakukan tugas panggilannya sesuai dengan “tohonan” yang diterima, atau kalau melanggar peraturan gereja.

Sumber kepustakaan:
1.    M.S.M. Panjaitan, Jabatan Pastoral dalam Perjanjian Baru, dalam “VOCATIO DEI”, Journal STT-HKBP Pematangsiantar, Edisi Pebruari 1992
2.    Carl A.Volz, Pastoral life and practice in the early church, Augsburg, Minneapolis, 1990.
3.    J.R.Hutauruk, Ordinasi: Arti, masalah dan Relevansinya, dalam ‘VOCATIO DEI’, Journal STT-HKBP Pematangsiantar, Edisi Pebruari 1992
4.    P.W.T. Simanjuntak, Tunaikanlah tugas pelayananmu (Sahat ula tohonanmi), dalam “VOCATIO DEI”, Journal STT-HKBP,      Edisi Pebruari 1992
5.    B.H. Situmorang, Jabatan-jabatan di HKBP, dalam “VOCATIO DEI”, Journal STT-HKBP, Edisi Pebruari 1992
6.    AGENDE,Buku Tata Ibadah Huria Kristen Batak,  Percetakan Mission, Narumonda Toba, 1904

7.  Panindangion Haporseaon (Pengakuan Iman HKBP 1996.

Rabu, 23 Oktober 2019

PENTINGNYA BELAJAR DARI SEJARAH. MISALNYA SEJARAH GEREJA

Pembimbing untuk belajar sejarah khususnya Sejarah Gereja

Oleh:Pdt MSM Panjaitan, MTh

01.  Pemahaman akan Sejarah

Sebelum  mengemukakan pemahaman mengenai sejarah agama Kristiani atau sejarah gereja, maka ada baiknya lebih dulu memahami pengertian dari sejarah secara umum.

2.1.Pengertian  Sejarah

Dalam Kamus bahasa Indonesia, ada beberapa pengertian dari sejarah, yakni sebagai asal-usul atau silisilah, tambo, babad; juga sebagai riwayat, hikayat, cerita atau kissah dan sejarah sebagai ilmu. Sejarah diartikan sebagai asal-usul, karena sejarah mengungkapkan asa-usul atau mula-jadi dari suatu tempat, benda, manusia atau suatu badan yang dibentuk oleh manusia. Pengetahuan tentang asal-usul ini biasanya meliputi pengetahuan tentang dari mansa asalnya, bagaimana terjadinya dan kapan terjadi . Pengertian yang hampir sama dengan asal-usul ialah silsilah atau tambo dalam bahasa Minangkabau, babad dalam bahasa Jawa atau tarombo dalam bahasa Batak. Namun pengertian ini lebih  sering dipergunakan untuk menuturkan asa-usul manusia, lengkap dengan garis keturunannya mulai dari nenek-m oyangnya.
Sejarah sebagai riwayat berarti sejarah sebagai laporan tentang suatu kejadian. Bagaimana duduk persoalan dari sesuatu kejadian akan dapat diketahui dengan jelas bila laporan mengenai kejadian itu dapat diperbuat dengan jelas. Dan khusus mengenai riwayat kehidupan manusia sejarah juga sering disebut sebagai hikayat atau dalam bahasa yang lebih modern disebut  biografi. Dan hikayat ini biasanya meliputi: kelahirannya, asal-usulnya, pengalaman hidupnya, prestasi yang dicapai, suka-duka dan kelemahannya, sehingga dengan hikayat itu seseorang dapat dikenal dengan baik. Dan karena sejarah itu biasanya disampaikan dalam bentuk cerita atau kissah maka sejarah sering juga disebut sebagai cerita atau kissah. Sejarah bisa lebih menarik, kalau diusahakan dalam bentuk cerita yangmenarik perhatian orang.
Seluruh pengertian sejarah yang disebut diatas masih merupakan pengertian yang sederhana, belum mencakup pengertian sejarah yang kita maksudkan.   Pengertian sejarah yang kita maksudkan  adalah sejarah sebagai ilmu.  Pengertian sejarah sebagai ilmu memang dipengaruhi oleh pemikiran Eropa, dan pengertian itulah yang dikembangkan dalam dunia akademis.
Di dalam bahasa Belanda istilah yang dipakai untuk sejarah ialah “Geschiedenis”, dan di dalam bahasa Jerman “Geschichte”, yang keduanya berarti sesuatu yang sudah terjadi. Dan di dalam bahasa Inggris disebut :”history”,  yang berasal dari  bahasa Yunani  “historia”, yang berarti pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian terhadap peristiwa-peristiwa masa lalu atau kejadian-kejadian alam, khususnya yang bersangkut paut dengan kehidupan manusia. Karena itu pengertian  “historia” tidak jauh berbeda dari pengertian “scientia” dalambahasa Latin. Bedanya hanyalah dalam susunan khrononogis, di mana “historia” biasanya disusun secara khronologis, sedangkan “scientia” tidak terikat kepada susunan khronologis.
Dalamdunia akademis, sesuatu hal bisa dikategorikan sebagai ilmu, jika mengikuti persyaratan sbb:
-            Merupakan suatu kumpulan dari hal-hal yang diketahui yang diperoleh dengan memakai suatu metode atau sistem tertentu.
-            Mempunyai general  propostion (diterima umum).
-            Mempunyai kegunaan atau nilai yang praktis.
-            Obyektif.
Dengan mengikuti persyaratan itu, maka suatu sejarah dapat disebut sebagai ilmu jika sejarah itu diperoleh dengan mempergunakan metode-metode tertentu (metode ilmiah), dapat diterima umum, mewariskan nilai-nilai umum bagi yang mempelajarinya, dan isinya  harus obyektif sehingga selalu mencerminkan kebenaran.

2.2.Faktor-faktor sejarah

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam menggali atau meneliti persitiwa masa lalu  agar-agar benar-benar merupakan suatu ilmu  yang historis, yakni:

1)      Wujud dari peristiwa yang diteliti: Apa yang terjadi 
2)      Manusia sebagai pelaku peristiwa: Siapa pelaku sejarah itu.
3)      Tempat di mana peristiwa itu terjadi: Di mana
4)      Waktunya peristiwa itu terjadi:  Kapan
5)      Sebab-musabab terjadinya peristiwa itu: Mengapa

Kalau ke lima faktor  sejarah ini (apa, siapa, dimana- kapan dan mengapa atau bagiamana) dapat dijawab dengan jelas, maka duduk perkara dari suatu peristiwa sejarah akan dapat diketahui dengan jelas.

2.2.1.      Wujud dari peristiwa sejarah

Sudah banyak peristiwa yang terjadi  pada masa lalu, apakah semua itu bisa dianggap sebagai peristiwa sejarah. Tentu tidak. Untuk itu perlu dilakukan seleksi. Dalam seleksi maka peristiwa yang perlu dihidupkan ialah peristiwa-peristiwa yang ada hubungannya dengan tata-kehidupan manusia. Dan kriteria yang dipakai untuk itu ialah:
-            Perristiwa itu harus penting dan relevan. Untuk menentukan apakah peristiwa itu penting memang sulit. Subjektifitas dari orang yang menggali suatu sejarah sering  berpengaruh. Tetapi patokan umum adalah dilihat dari sudut besarnya faedah dan ruang lingkup peristiwa itu untuk kehidupan manusia. Dan relevan maksudnya mempunyai kaitan dengan kehidupan sekarang.
-            Peristiwa itu juga harus  merupakan  kegiatan manusia yang bergerak ke arah perkembangan atau peningkatan taraf kehidupannya. Manusia sebagai pelaku sejarah memang diciptakan Tuhan dengan kesanggupan berfikir, yang dengan demikian manusia mampu melahirkan kebudayaan yang selalu berkembang sepanjang zaman. Adanya perkembangan kebudayaan itulah yang menimbulkan gerak sejarah.

 
2.2.2.      Faktor manusia sebagai pelaku sejarah

Dalam penyusunan sejarah tokoh manusia sebagai pelaku sejarah harus jelas diungkapkan, karena suatu peristiwa sejarah tidak mungkin terjadi tanpa manusia terlibat di dalamnya.  Mengungkap tokoh pelaku sejarah sangat penting, karena salah satu tujuan mempelajari sejarah ialah supaya dapat mengenal lebih banyak manusia dengan segala sifatnya.  Semakin banyak kita mengenal sifat  manusia, semakin banyak pula kita mengenal diri kita sendiri. Secara  garis besarnya, ada dua sifat manusia yang sangat menonjol, yakni  pertama ialah keinginan untuk berkembang dengan kemampuan berfikir yang ada padanya, dan kedua  adanya kecenderungan untuk menipu keadaan dirinya yang sebenarnya, yang mendorong dirinya untuk memperbesar atau meningikan diri sendiri. Atau dengan kata lain sifat yang positif dan sifat yang negatif.  Kedua sifat itulah yang menimbulkan gelombang sejarah. Kalau sifat yang  pertama yang lebih menonjol akan menimbulkan kemajuan dan perkembangan, sedangkan kalau sifat yang kedua yang lebih menonjol maka akan terjadi kemunduran atau kemerosotan.

2.2.3.      Faktor tempat

Faktor tempat juga sangat besar artinya dalam menentukan perjalanan sejarah.  Faktor ini menyangkut keadaan geografis, keadaan alam atau iklim. Jika mengetahui tempat kejadian, maka lebih banyak juga mengetahui sebagian latar-belakang peristiwa itu. Keadaan tempat yang subur atau tandus, strategis atau terpencil, banyak penghasilan atau tidak, merupakan faktor yang turut menentukan perkembangan sejarah manusia. Daerah-daerah yang menjadi pusat peradaban manusia pada zaman dulu, seperti Mesir, Mesopotamia, India dan Tiongkok dikenal sebagai daerah yang subur. Daerah seperti Palestina yang diapit oleh dua peradaban yakni Mesir dan Mesopotamia, dan Asia Tenggara yang diapit oleh India dan Tiongkok juga dikenal sebagai pusat perkembangan peradaban manusia karena letak daerah itu yang strategis. Jadi perkembangan pemikiran , kebudayaan dan keagamaan  manusia itu sangat banyak ditentukan oleh keadaan tempat atau daerah dimana manusia itu berdiam.

2.2.4.      Faktor waktu

Sejarah berjalan di dalam waktu. Karena itu faktor waktu sangat memegang peranan penting di dalam perjalanan sejarah. Dan waktu itu merupakan suatu garis lurus yang berjalan terus tanpa putus-putusnya. Dan dengan demikian ada kesadaran akan waktu yang lampau, sekarang dan yang akan datang.
Berbagai pandangan bangsa-bangsa dan agama mengeai waktu. Orang Hindu misalnya memangdang waktu sebagau kuasa dewa, yang membuat manusia dan dunia binasa dan hancur apabila waktunya telah tiba. Orang-orang Cina Purba memandang waktu yang bergerak terus bagaikan lingkaran , sehingga apa yang terjadi pada masa yang lalu akan terulang kembali pada  suatu waktu tertentu. Karena itu bagi mereka apa yang terjadi pada masa lalu harus menjadi pelajaran yang menentukan dalam menetukan sikap masa sekarang.  Orang Yunani juga melihat perjalanan waktu bagaikan perputaran suatu lingkaran, yang didasarkan atas pengamatan terhadap peristiwa-peristiwa alam yang sering  berulang-ulang terjadi. Apa yang sudah muncul sebelumnya pasti akan muncul lagi pada  kesempatan berikutnya. Menyadari kenyataan itu maka mereka merasakan hidup  ini dilebelunggu oleh lingkaran perputaran  waktu tersebut. Karena itu waktu juga dipandang sebagai kuasa yang telah memperhamba hidup ini. Sepanjang perputaran waktu itu seseorang tidak mungkin mengharapkan adanya kehidupan yang baru, kecuali dia telah dibebaskan dari waktu itu, ke alam yang tanpa waktu.
Dalam pandangan Kristen, yang juga telah menjadi pandangan umum bangsa-bangsa di dunia ini, waktu berjalan bagaikan suatu garis lurus, bersama dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Karena itu sama seperti waktu yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, demikian juga peristiwa-peristiwa yang terjadi didalamnya  berkaitan satu sama lain. Apa yang terjadi masa sekarang, tidak bisa dilepaskan dari apa yang terjadi pada masa yang lalu, dan seterusnya juga akan mempengaruhi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Karena itu dengan mengetahui waktu peristiwa itu,  maka akan bisa dipahami sebagian dari latar-belakang dan duduk persoalan dari suatu peristiwa.

2.2.5.      Faktor sebab-musabab

Sejarah juga merupakan penjelasan tentang sebab-musabab suatu peristiwa. Apa yang menyebabkan suatu peristiwa terjadi perlu diungkap dalam sejarah. Dan umunya faktor sebab musabab ini pada dasarnya terpendam di dalam diri manusia itu sendiri, walaupun juga diakui bahwa gerak sejarah manusia tidak terlepas dari campur tangan Allah. Faktor penyebab yang terpendam itu  antara lain: kepentingan ekonomi, sosial budaya, sosial politik, ideologi, seksual, alam tidak sadar dan lain-lain. Misalnya mengapa  suatu peperangan terjadi. Bisa saja karena raja ingin mempertahankan kekuasaannya, sehingga melibatkan rakyatnya untuk berperang. Tetapi bisa juga karena rakyat yang memberontak terhadap raja atau pemerintahnya yang bertindak sewenang-wenang. 


02.  Pengertian sejarah gereja atau sejarah agama Kristiani.

3.1.Sejarah Gereja sebagai satu disiplin teologi

Disiplin teologi yang  umumnya dikenal dalam dunia  perguuan teologi meliputi:  Biblika, Sejarah Gereja, Sistematika, Praktika dan Ilmu Agama-agama. Biblika( Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) merupakan sumber dan dasar dari semua pengetahuan teologi,karena di dalamnyalah Firman dan Perbuatan Allah terhadap manusia dinyatakan . Metode pendekatannya melalui tafsir dan pengetahuan tentang sejarah Israel dan sejarah bangsa-bangsa sekitarnya.  Sejarah Gereja merupakan pengetahuan tentang sejarah pertumbuhan, perkembangan dan pergumulan gereja di dunia ini sejak lahirnya hingga zaman akhir nanti. Teologi Sistematika merupakan  hasil pandangan orang-orang Kristen dan gereja yang didasarkan atas Firman Allah dalam pergumulannya terhadap masalah-masalah yang dihadapi di tengah-tengah dunia yang disusun secara sistematis.  Teologi Praktika ialah teologi yang menyangkut segala usaha praktis gereja dan setiap orang Kristen dalam menghayati Firman Allah dan dalam menjalin hubungan yang erat dengan  Tuhan. Ilmu Agama-gama merupakan pengetahuan mengenai agama-agama lain di luar agama Kristen, yang sangat perlu diketahui dalam menjalin hubungan yang tepat dengan penganut agama lain.
Seluruh disiplin teologi itu saling berhubungan satu-sama lain, yang dengan demikian sejarah  gereja atau agama Kristiani berhubungan erat dengan  semua disiplin teoogi tersebut.  Hubungannya dengan Biblika jelas, karena sejarah gereja dapat diketahui bagaimana gereja dan orang-orang Kristen menghayati dan menafsirkan Alkitab itu pada zamannya, yang bisa merupakan dasar perbandingan untuk penafsiran yang diberikan untuk kehidupan sekarang. Demikian juga dengan teologi sistematika, karena teologi sistematika (dogmatika, Etika)  yang dipergunakan sekarang  berkembang dari warisan pengajaran teologis dari gereja dan orangorang Kristen pada masa yang lalu. Juga menyangkut teologi praktika, karena usaha-usaha praktika yang dijalankan sekarang adalah berkembang dari apa yang sudah dijalankan oleh gereja pada masa yang lampau. Hubungannya dengan ilmu agama-agama juga ada, karena gereja dalam menjalankan missinya sepanjang sejarah juga  bertemu dengan agama-agama yang lain. Karena itu sejarah gereja akan lebih mudah juga didalami, kalau disiplin teologi yang lain telah dikuasai.

3.2.Sejarah gereja sebagai sejarah kehidupan gereja

Sejarah gereja merupakan kissah tentang semua peristiwa  yang berhubungan dengan kehidupan gereja yakni  meliputi: kelahiran, pertumbuhan, perkembangan dan pergumulannya terhadap dunia. Dan yang dimaksud dengan gereja ialah  persekutuan orang-orang yang percaya kepada Kristus, yang dipanggil keluar dari dunia ini melalui kuasa Roh Kudus. Kata gereja yang berasal dari bahasa Portugis “igreja”  diterjemahkan dari kata Yunani “ekklesia”.
Dalam PL pengertian gereja juga sudah ada, yakni  yang disebut dengan istilah “qahal”. Pengertian “ekklesia” dan “qahal” pada dasarnya sama. Keduanya menghunjuk kepada umat Allah yang dipanggil keluar dari dunia ini dan dipersiapkan menjadi satu persekutuan yang kudus. Di dalam PL “qahal”  dikenakan secara khusus kepada umat Israel, sedang di dalam PB, ekklesia meliputi seluruh bangsa di dunia yang telah bersedia menjawab panggilan Allah melalui kepercayaan kepada Yesus Kristus. Karena itu wujud gereja adalah panggilan Allah terhadap seluruh bangsa untuk diutus bersaksi di tengah-tengah dunia dan sekaligus juga jawaban manusia terhadap panggilan itu. Dari sudut ini maka sejarah gereja adalah sejarah panggilan Allah dan sejarah jawaban manusia terhadap panggilan itu.

3.3.Yesus Kristus sebagai pusat dari sejarah gereja

Yesus Kristus adalah kepala dari gereja, yang oleh karena itu Dia juga menjadi pusat dari sejarah gereja. Sebagai pusat dari sejarah gereja, maka di dalam diri Yesus, sejarah gereja di dalam PL telah berakhir dan sejarah gereja yang baru dimulai sebagaimana dinyatakan di dalam PB. Titik tolak dari sejarah gereja dalam PB adalah peristiwa Pentakosta (Kis. 2), di mana pada hari itu Roh Kudus yang dijanjikan oleh Yesus sebelum kenaikannya ke sorga telah dicurahkan kepada murid-muridnya. Dan oleh kuasa Roh Kudus itu mereka disanggupkan untuk menjalankan amanat agung dari Yesus Kristus, yakni menjadikan seluruh bangsa menjadi muridnya (Mat. 28: 19-20). Namun sebelum itu, Yesus Kristus telah meletakklan dasar yang kokoh dari gereja itu, yakni dengan karya penyelamatannya yang berpusat pada kematian dan kebangkitannya, yang sering disebut dengan Injil Yesus Kristus.  Bagaimana Injil disebar luaskan ke seluruh penjuru dunia, dan sampai di mana kesetiaan dari gereja untuk menyebarkan Injil itu sehingga Nama Yesus benar-benar dikenal oleh seluruh bangsa sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, itulah antara lain yang harus dijawab dalam sejarah gereja.

3.4.Sejarah gereja sebagai  interpretasi atau penafsiran atas kehidupan gereja

Sejarah gereja adalah juga sebagai  suatu hasil penafsiran, yakni penafsiran terhadap peristiwa-peristiwa yang dialami oleh gereja pada masa yang lampau. Dan sebagai suatu hasil penafsiran, maka suatu tulisan sejarah gereja bukanlah merupakan hasil yang mutlak berlaku tanpa ada perubahan lagi, melainkan hanyalah salah satu penafsiran terhadap fakta-fakta sejarah yang ada. Namun kalaupun dikatakan suatu penafsiran,  bukanlah penafsiran yang berdasarkan kemauan sendiri dari penulis sejarah itu sendiri. Harus selalu diingat bahwa sejarah gereja adalah salah satu disiplin ilmu teologi, yang mencerminkan Firman Allah.


03.  Cara melakukan pendekatan terhadap sejarah gereja

Sejarah gereja telah menjalani perjalan yang waktu yang sangat panjang,  dan mengandung peristiwa-peristiwa historis yang tidak terhingga banyaknya. Karena itu bagaimana cara pndekatan atasnya.  Ada dua cara pendekatan yang sangat lajim, yakni dengan melakukan pembidangan atas sejarah gereja itu, atau dengan melakukan periodisasi.

4.1.Pendekatan dengan cara pembidangan

Yang dimaksud dengan pembidangan ialah membagi-bagi  sejarah gereja itu atas pokok-pokok atau bidang-bidang  yang dianggap sangat penting misalnya bidang sejarah Mission (Pekabaran Injil),  bidang sejarah ajaran-ajaran Kristen, bidang sejarah organisasi dan disiplin gereja, bidang sejarah penghambatan dan perlawanan yang dihadapi gereja. 
Bidang sejarah Mission mencakup usaha pekabaran Injil ke luar yang dilakukan oleh gereja kepada orang-orang yang belum Kristen, dan pekabaran Injil ke dalam, yakni di lingkungan  warga gereja itu sendiri, termasuk perbuatan-perbuatan sosial dan rumah-sakit. 
Bidang sejarah ajaran dan pandangan Kristen, meliputi sejarah teologi Kristen, sejarah doktrin, sejarah dogma, dan sejarah ajaran-ajaran sesat.
Bidang sejarah organisasi dan disiplin gereja mencakup sejarah bentuk struktur dan pemerintahan gereja mulai: dari apostolik, episkopal, papal, persbyterial, congregational, dll,  sejarah  disiplin gereja,  tata-gereja, dan juga tata ibadah  umat Kristen.
Bidang sejarah penghambatan meliputi penghambatan yang datang dari luar spt. dari agama Yahudi, dari orang-orang kafir, dari penguasa duniawi dan dari penganut agama lain; juga  penghambatan dari dalam seperti munculnya  bidat-bidat, aliran-aliran Kristen yang lain, dan perpecahan dalam gereja.

4.2.Pendekatan  dengan  periodisasi   

            Periodisasi adalah usaha untuk membagi-bagi perjalanan waktu sejarah yang panjang itu atas periode-periode (batas-batas waktu tertentu). Cara pembagian  periode itu bermacam-macam; ada yang membaginya dari segi perkembangan atau perluasan gereja itu; ada yang membaginya dari pertumbuhan atau perkembangan organisasi atau kepemimpinan gereja itu. Di bawah ini dikemukakan dua contoh pembagian periode sejarah gereja atau sejarah kekristenan yang bisa dijadikan sebagai pedoman penyususnan periodisasi sejarah gereja, yakni: yakni periodisasi sistem klasik, dan periodisasi dari sudut pengluasan kekristenan itusendiri.
            Periodisasi sistem klasik masih merupakan  periodisasi yang umum dipakai dalam menyelusuri sejarah gereja umum, walaupun sistem ini dibuat dari sudut pandang Eropa. Dengan sistem ini,  sejarah gereja itu dibagi atas tiga zaman, yakni: Zaman Gereja Lama (Kuno), Zaman Pertengahan dan Zaman Modern atau kadang-kadang ebut juga zaman Reformasi.   
            Zaman Gereja Lama dimulai dari  kelahiran Kristus atau lebih khusus dengan kelahiran gereja, dan diakhiri tahun 590 M, yakni pada saat Uskup Gregorius Agung di Roma ditetapkan sebagai Paus. Penetapan uskup Roma itu sebagai Paus dilihat sebagai  titik peralihan dari tata-gereja yang lama dengan tata-gereja yang baru. Dia berdiri pada batas peralihan, karena dia dikenal sebagai uskup yang terakhir di gereja Roma, dan merupakan Paus yang pertama yang memimpin gereja Katolik di bawah kekuasaannya yang berpusat di Roma. Zaman Gereja Lama itu meliputi masa kehidupan Kristus, kehidupan para apostel, penghambatan-penghambatan, pengakuan atas kekristenan sebagai agama resmi dan seterusnya agama negara, perpindahan bangsa-bangsa Eropa  yang dianggap masih ”barbar” ke wilayah kekaisaran Romawi sehingga mengakhiri kekaisaran Romawi Barat, dan berakhir dengan Gregorius Agung menjadi paus . Wilayah kekristenan pada waktu itu meliputi daerah-daerah sekitar Laut Tengah, Asia Kecil, Asia Barat, Afrika Utara dan Eropa Selatan dan sebagian Eropa Barat.
            Zaman Pertengahan dimulai dari Gregorius Agung menjadi Paus sampai terjadinya Reformasi tahun 1517. Zaman ini merupakan transisi dari gereja yang lama ke gereja yang baru, yang pada waktu itu semua bangsa di Eropa telah menjadi Kristen. Permulaan zaman ini dimulai dengan kemunduran nilai-nilai kekristenan yang lama, munculnya kejahilan, keruetan hukum dan penganyayaan, karena masuknya pengaruh “barbarisme” di tengah-tengah kekristenan. Tetapi berkat usaha-usaha penginjilan yang dirintis oleh Paus Gregorius Agung, maka pada akhirnya kekristenan diterima oleh seluruh bangsa yang ada di Eropa. Timbullah peradaban Kristen yang baru, sebagai perpaduan dari nilai-nilai kekristenan, kebudayaan Junani-Romawi dan kebudayaan bangsa-bangsa Eropa tersebut. Namun pada zaman ini gereja mengalami  perlawanan yang keras dari pihak Islam, sehingga di beberapa daerah gereja terpaksa mengalami kemunduran. Dan pada zaman itu terjadilah perselisihan faham antara gereja-gereja Timur dan Barat mengenai bentuk  kepemimpinan dan ajaran gereja, sehingga terjadi skhisma (perpecahan) antara ke dua belah pihak tahun 1054.  Perkembangan hierarkhi gereja juga menonjol pada zaman ini, di mana pada zaman ini terjadi kekuasaan paus yang mutlak, apapun yang menjadi keputusan paus tidak boleh diganggu gugat. Keadaan ini termasuk  yang ditentang oleh para reformator pada masa Reformasi.
            Zaman Modern dimulai sejak reformasi Martin Luther 1517 hingga sekarang. Pada zaman ini dunia kekristenan semakin luas sejalan dengan ditemukannya dunia baru oleh Colombus tahun 1492 di benua Amerika. Sejak penemuan ini banyak orang-orang Eropa yang beremigrasi ke ke sana, yang sekaligus membawa kekristenan itu sampai ke sana. Tetapi akibat dari reformasi itu kekristenan di bagian Barat menjadi terbagi dua, satu mengikuti jalan yang lama (Roma Katolik), dan satu lagi mengikuti jalan Reformasi  yakni golongan Protestan.  

Contoh yang kedua ialah periodisasi dari sudut pengluasan kekristenan sedunia.  Periodisasi sistem klasik di atas hanya menjangkau perkembangan  Gereja Barat, atau yang berlatar-belakang penginjilan Barat. Dan pengluasan kekristenanke seluruh dunia, ternyata bukan hanya dari jurusan Barat, tetapi ada juga jurusan Timur dan Selatan (band. Kis. 2: 8-11). Oleh karena itu, Kenneth Scott Laturette, tidak mau mengikuti periodisasi  sistem klasik itu, tetapi dia membuat periodisasi berdasarkan pengluasan kekristenan itu dari sudut pandangan yang menyeluruh atau sedunia. Dari sudut pandangan itu dia membagi sejarah kekristenan tersebut atas lima periode, sesuai dengan gelombang pasang-surutnya perluasan dan ekspansi kekristenan di belahan bumi ini. Kelima periode itu ialah:
-            Periode pertama: Lima abad pemulaan: (1-500M), di mana pengluasan kekristenan terutama terjadi di sekitar Laut Tengah bagi warga kekaisaran Romawi. Pada zaman ini gereja lahir sebagai lembaga institusional, penetapan Kanon PB, landasan teologi Kristen, rumusan Pengakuan Iman, serta perkembangan kerahiban. Dari sudut pengluasan, apa yang dicapai itu masih merupakan bagian yang kecil dari belahan dunia.
-            Periode kedua: Seribu tahun yang tidak menentu  (500-1500 M); pada periode ini kekristenan terancam dari pihak Islam sampai tahun 950,  sehingga sebagian besar wilayah kekristenan yang sudah dicapai sebelumnya  berkurang. Tetapi pospos penginjilan telah tersebar dari Irlandia di Eropa Barat, sampai ke Cina di Asia Tumur jauh. Demikian juga dari Scandinavia di Eropa Utara sampai Nubia di Afrika. Tetapi dari tahun 950 – 1350 kemajuan dicapai lagi, bukan saja dari sudut pengluasan wilayah, tetapi juga dari segi pertumbuhan iman dan organisasi, serta peranan kekristenan itu dalam pembentukan kebudayaan baru khususnya di Eropa Barat. Tetapi dari tahun 1350 –1500, terjadi lagi kemunduran. Selain karena hilangnya  sebagian wilayah kekristenan, juga karena terjadinya penyelwengan ajaran dan kuasa gerejawi.
-            Periode ketiga: Tiga abad kemajuan (1500-1800). Pada periode ini muncullah banyak missioner yang berani mejelajah ke seluruh penjuru dunia, sehinga sebagian besar belahan dunia telah dimasuki oleh kekristenan itu.
-            Periode ke empat: Abad yang besar (1800 – 1914): Periode ini merupakan zaman Pekabaran Injil yang besar yang dilakukan oleh Lembaga-lembaga Pekabaran Injil dari Barat, sehingga seluruh benua yang didiami oleh manusia telah dimasuki oleh kekristenan itu.
-            Periode ke lima: Kemajuan melalui badai (1914 – sekarang). Penyebaran kekristenan masih terus dilanjutkan, namun menghadapi banyak hambatan dan tantangan oleh gelombang pergerakan dunia; dan pada periode ini muncul aliran-aliran atau faham yang bertentangan dengan kekristenan seperti: Komunisme.

04.  Faedah dari mempelajari sejarah gereja

Mempelajari sejarah gereja akan memberi banyak faedah bagi kita, baik sebagai pelayan gereja maupun sebagai warga jemaat biasa, antara lain:

1)      Dengan mempelajari sejarah gereja,  maka pengetahuan dan pengenalan kita mengenai apa itu gereja   semakin banyak. Wujud dari gereja itu secara benar tidak mungkin bisa diketahui tanpa mengetahui sejarah dari gereja itu sendiri. Karena itru salah satu cara untuk membina warga gereja agar menjadi warga gereja yang baik dan benar-benar mengasihi gereja itu ialah dengan mengajarkan sejarah gereja kepada mereka.
2)      Memperdalam pengenalan kita akan Allah yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus, dan yang selalu bekerja menuntun dan memelihara gerejanya sepanjang zaman melalui kuasa Roh Kudus.  Allah itu adalah Allah sejarah yang menyatakan diri dalam sejarah manusia, khususnya di dalam sejarah gereja.
3)        Memberi pandangan dan pengalaman yang luas bagi kita dalam mengatasi berbagai persoalan yang kita hadapi, khususnya persoalan kegerejaan. Seorang pendeta yang didalam pelayanannya di tengah-tengah jemaat misalnya menghadapi banyak tantangan dan kesulitan, maka dengan belajar dari pengalaman pelayan-pelayan gereja pada masa yang silam,  dia akan terdorong untuk selalu tabah melayani jemaat itu. Selain itu, masalah-masalah lain seperti: masalah : teologis,  ajaran,  kepemimpinan, oikumenis, dll, juga akan dapat diatasi dengan pandangan yang luas, dengan banyak belajar dari sejarah gereja.
4)      Mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap bahaya-bahaya yang mungkin datang dari dalam dan luar gereja itu sendiri. Dan bagaimana  mengatasi  bahaya-bahaya yang datang,   banyak yang bisa dipelajari dari sejarah gereja . Dari sejarah gereja juga  akan diketahui sampai di mana gereja masih menyadari tanggung-jawabnya dan sejauh mana sudah menyeleweng dari wujudnya sebagai gereja Tuhan. Martin Luther misalnya terdorong untuk mengadakan reformasinya setelah banyak mempelajari sejarah gereja  atau hal-hal yang terjadi di tengah-tengah gereja pada masa yang lampau.
5)      Menyadarkan kita akan identitas kita, yakni mengenai siapa kita dan dari mana kita. Misalnya dengan mempelajari sejarah gereja kita sendiri, akan kita ketahui teologi mana yang melatar-belakangi kekristenan kita.
6)      Memberi kebutuhan batiniah bagi kita. Sejarah akan menolong kita untuk mengungkapkan jiwa kita sendiri. Dengan merenungkan apa-apa yang sudah terjadi pada masa yang lalu, dan berusaha memberi interpretasi terhadap peristiwa-peristiwa itu, akan memberi arti tersendiri dan kepuasan batin bagi diri kita.
7)      Khusus bagi pemimpin-pemimpin gereja, sejarah gereja dapat memberi informasi yang banyak tentang masalah kepemimpinan, seperti halnya mengapa ada pemimpin yang berhasil dan ada yang gagal. Kemungkinan untuk bisa berhasil bagi seorang pemimpin gereja akan lebih banyak, jika dia banyak mengetahui masa lalu dari gereja itu.
8)      Sejarah gereja juga mewariskan nilai-nilai intelektual, serta dorongan untuk maju.Usaha untuk banyak mempelajari dan memberikan penelitian terhadap penyebab dan latar-belakang sesuatu kejadian, akan bisa menumbuhkan dan memperkembang cara berfikir kita. Selain itu dari sejarah gereja akan  dikenal adanya berbagai kebudayaan dan peradaban bangsa di mana gereja itu bertumbuh. Demikian juga halnya, bahwa dari pengalaman-pengalaman orang-orang Kristen pada masa yang lalu yang banyak berjuang untuk memenangkan iman dan kekristenan itu, akan memberikan dorongan dan semangat bagi kita untuk  berani maju ke depan.  


05.  Sejarah Agama Kristen secara garis besar


            Agama Kristen termasuk salah satu agama besar di dunia, dan telah tersebar di seluruh bangsa di dunia ini. Agama itu bermula dalam diri Yesus Kristus, karena sebutan Kristen berarti “pengikut Kristus”. Pemakaian sebutan Kristen yang pertama untuk pengikut Kristus terjadi di jemaat Antiokhia (Kis. 11,26). Kemudian dari Antiokhialah kekristenan itu tersebar ke berbagai penjuru dunia setelah dari Yerusalem.
            Pelayanan Yesus Kristus dimulai di Palestina. Di sanalah Dia mengkhotbahkan bahwa Kerajaan Allah telah dekat dan orang dapat memasukinya melalui pertobatan dan percaya akan Injil yang dibawaNya. Dan untuk melanjutkan pekerjaannya di dunia ini Dia telah mempersiapkan murid-muridNya, yang kemudian dijadikan sebagai rasul-rasul yang diutus untuk memberitakan Injil itu ke seluruh bangsa.
            Peneguhan mereka menjadi rasul-rasul terjadi pada hari Pentakosta (Turunnya Roh Kudus), yakni setelah kenaikan Yesus ke sorga, di mana pada hari itu murid-murid tersebut dipenuhi Roh Kudus. Roh Kudus itulah yang menguatkan, mengajar, melindungi dan membela mereka dalam menjalankan tugas penginjilan itu. Buah pekerjaan mereka juga mulai terlihat pada hari Pentakosta itu, di mana melalui pemberitaan mereka pada hari itu mengenai Injil keselamatan yang dibawa oleh Yesus,  bertambah lebih kurang tiga ribu orang yang bertobat dan memberi dirinya dibaptis  (Kis.2,41). Dengan demikian berdirilah jemaat Kristen yang pertama, atau yang sering juga disebut Israel yang baru.
            Setelah para murid itu menerima kuasa Roh Kudus, sesuai dengan amanat Tuhan Yesus sebelum kenaikanNya ke sorga, mereka akan menjadi saksi Yesus Kristus, yang memberitakan Injil keselamatan itu mulai di Yerusalem, di seluruh Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kis.1,8). Di sini masih diandaikan pusat penyebaran agama Kristen yang pertama adalah Yerusalem. Hal itu memang terlaksana, di mana dari Yerusalem Injil dan kekristenan itu tersebar ke berbagai penjuru dunia atau ke berbagai bangsa di dunia.
            Kitab Perjanjian Lama memang telah berkali-kali membicarakan sifat keuniversalan dari Umat Allah yang akan datang. Dasar yang paling kuat bagi pengharapan ini adalah kenyataan bahwa Allah yang menebus itu adalah juga Allah yang telah menciptakan segala sesuatu. Walaupun manusia telah berdosa, Allah tidak menghentikan pekerjaanNya, tetapi Dia memperbaikinya melalui penebusan yang dilakukan. Pemilihan bangsa Israel juga mempunyai tujuan penyelamatan seluruh bangsa. Di seluruh Kitab Perjanjian Lama dinyatakan bahwa hubungan Israel dengan bangsa-bangsa dipelihara. Palestina sendiri adalah jalan persimpangan kerajaan-kerajaan besar pada waktu itu.
Dalam pelayanannya, Yesus telah menjalankan penyebaran Injil itu. Tetapi sebelum kematiannya dia belum menetapkan program penginjilan ke luar Palestina. Ini baru diberikan setelah kebangkitannya.  “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. (Mat.28,18-20) Tetapi perintah ini tidak dapat dipisahkan dari kedatangan Roh Kudus pada hari Pentakosta. Pada waktu itu Kristus kembali kepada murid-muridNya melalui Roh Kudus untuk memberi kekuatan dan menyertai mereka sampai akhir zaman.
Pada hari Pentakosta itu terjadilah perubahan mendasar  dalam sifat dan struktur Umat Allah. Umat Allah tidak lagi menjadi satu Umat yang bersifat nasional seperti dimiliki oleh bangsa Israel, tetapi telah menjadi satu Umat yang bersifat internasional dan menjadi satu persekutuan yang bersifat universal. Orang-orang yang dibaptis pada hari Pentakosta itu adalah berasal dari berbagai bangsa di Asia, Afrika dan Eropa.
Terpencarnya banyak orang-orang percaya dari Yerusalem karena penganyayaan dari pihak Yahudi mendorong tersebarnya Injil itu ke daerah-daerah lain di Palestina. Filipus, salah seorang dari tujuh orang yang terpilih menjadi pelayan di jemaat Yerusalem (Kis.6, 3 dst), pergi ke Samaria dan memberitakan Injil di sana. Dan ini mendorong jemaat di Yerusalem mengutus  rasul Petrus dan Yohannes untuk melihat pekerjaan Filipus di sana. Dan dalam perjalanan pulang ke Yerusalem, mereka memberitakan Injil itu di banyak kampung di Samaria . Kemudian Filipus dipanggil pergi ke Gaza di Selatan Palestina dan dari sana dia berjumpa dengan seorang pejabat dari istana Etiopia, seorang Yahudi proselit, yang bertobat dan dibaptis melalui pelayanannya. (Kis.8)
Petrus kemudian pergi ke tepi pantai dan memberitakan Injil di Yope dan Kaisarea. Di sana dia membaptis seorang non-Yahudi bernama Kornelius, seorang perwira tentera Romawi. (Kis. 10,23-48)
Ketika jemaat di Yerusalem mendengar bahwa Injil telah mulai berakar di Antiokhia, maka diutuslah Barnabas ke sana. Barnabas  juga mengajak Paulus yang sudah bertobat untuk ikut bersama dia melayani jemaat Antiokhia dan memberitakan Injil ke sana. (Kis. 11,19 dst.) Kemudian jemaat di Antiokhia mengutus Paulus dan Barnabas melakukan penginjilan ke pada orang-orang kafir. Dan Paulus menjadi penginjil yang terbesar dari antara rasul-rasul dan penginjil-penginjil yang dikenal dalam zaman Perjanjian Baru. Melalui Injil yang diberitakan berdirilah jemaat-jemaat Kristen di Asia Kecil, Makedonia dan Yunani di Eropa. Pada akhir hidupnya dia juga sempat mengunjungi jemaat Kristen yang di Roma, dan mati martir di sana sekitar tahun 67 M, yakni di sekitar masa penghambatan yang dilakukan kaisar Nero bagi orang-orang Kristen di Roma.
Di wilayah kekaisaran Romawi, Injil itu dapat tersebar dengan cepat. Setelah para rasul, Injil kemudian banyak disebarkan oleh para evangelis dan uskup yang menggantikan fungsi dari rasul-rasul yang pertama itu. Dan selain itu, kaum awam juga banyak yang ikut berperanan dalam neyebarkan Injil tersebut. Faktor pendukung untuk penyebaran Injil  itu, selain adanya “bahasa kesatuan” di kekaiasaran itu yakni bahasa Yunani, juga karena keadaan “damai” dan sarana transportasi yang cukup lancar pada waktu itu. Dan selain itu, juga karena di wilayah itu belum ada agama yang kuat yang dijadikan sebagai “agama negara”. Filsafat dan pemikiran Yunani juga telah mempersiapkan banyak orang di kekaisaran itu untuk menerima agama Kristen tersebut.
Memang banyak juga tantangan dan hambatan yang dihadapi. Tetapi tantangan yang muncul dari tengah-tengah orang-orang Kristen itu sendiri dengan munculnya berbagai aliran yang dianggap menyimpang, seperti Marcionisme, Gnosticisme dan Montanisme telah mendorong gereja makin memperteguh dirinya dengan menetapkan “senjata-senjata” gereja dalam bentuk: Kanon,  Pengakuan Iman (Konfessi) dan Pewarisan jabatan rasul (Successio apostolica). Juga penghambatan-penghambatan yang terjadi bagi gereja dari penguasa Romawi, telah memperkuat agama Kristen, karena pada akhirnya agama Kristen mendapat pengakuan dari penguasa Romawi (313) dan bahkan kemudian ditetapkan menjadi agama negara (381). Situasi ini sempat membuat posisi gereja dan kekristenan di bawah perlindungan negara. Tetapi tidak lama setelah itu kekaisaran Romawi yang besar dan kuat itu pada akhirnya runtuh juga. Tahun 410 kota Roma telah berhasil dikuasai oleh “orang-orang barbar” yakni suku-suku Jerman dari Eropa Utara. Sejak itu kekaisaran Romawi, khususnya bagian Barat makin lemah, sehingga sekitar tahun 481, semua wilayah kekaisaran Romawi Barat, seperti Italia, Inggris, Perancis telah dikuasai oleh suku-suku Jerman itu. Dan dengan demikian berakhirlah kekaisaran Romawi Barat. Tetapi posisi kekaisaran Romawi Barat ini telah digantikan oleh gereja dan muncullah kepausan yang berpusat di Roma, yang selain bertindak sebagai pimpinan gereja juga bertindak sebagai penguasa di bidang politis. Namun kesempatan itu telah menjadi peluang untuk tersebarnya Injil itu di seluruh Eropa, dan bahkan sekitar tahun 1000, seluruh bangsa dan suku-suku di Eropa telah menganut agama Kristen.
Tetapi selain ke arah Eropa, kekristenan juga disebarkan ke  Afrika dan Asia. Untuk wilayah Afrika yang sudah sempat dikeristenkan pada zaman yang lama ialah Mesir, Afrika Utara dan Etiopia. Namun setelah datangnya serangan orang-orang Islam mulai sekitar abad 7, banyak jemaat Kristen yang di Mesir dan Afrika Utara meninggalkan agama Kristen dan beralih menjadi Islam.Untuk wilayah Asia, selain daerah Asia Kecil di mana pada zaman Perjanjian Baru jemaat Kristen sudah banyak  berdiri, Injil itu juga segera diberitakan ke daerah-daerah di Mesopotamia Utara, kerajaan Partia / Persia, Arabia, India, Cina, Asia Tengah, Asia Timur Jauh dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Setelah tahun 1500, sejarah kekristenan mengalami babak baru. Setelah reformasi gereja di Eropa oleh tokoh-tokoh reformasi seperti Martin Luther, ajaran-jaran Kristen itu makin banyak digumuli oleh orang-orang Kristen Eropa. Sebelumnya gereja  telah jatuh ke dalam pengaruh ke duniawian, dan ajaran-ajaran dan praktek-praktek gereja itu banyak yang menyimpang dari dasarnya yang sesungguhnya yakni Alkitab. Reformasi itu pada satu pihak telah menimbulkan banyak pertikaian dan peperangan agama di Eropa. Tetapi di pihak lain reformasi tersebut telah menumbuhkan semangat penginjilan ke luar Eropa, baik dari pihak gereja Roma Katolik maupun dari pihak Protestan. Kekristenan kemudian tersebar ke seluruh dunia, tetapi bukan lagi dari pusatnya semula di Asia Barat dan Mesopotamia, tetapi dari Eropa. Penyebaran itu berbarengan dengan penemuan-penemuan dunia baru oleh orang-orang Eropa, seperti Amerika, Afrika dan Asia, mulai akhir abad 15.  Dan mulai abad 19 dengan munculnya banyak lembaga penginjilan di Eropa dan Amerika, maka  usaha pekabaran Injil ke seluruh penjuru dunia,  terutama di daerah-daerah yang ditemukan dan diduduki oleh bangsa-bangsa Eropa , banyak dilakukan. (msm)