Rabu, 09 Oktober 2019

BENARKAH " PARMALIM" ASLI AGAMA SUKU BATAK?







BENARKAH “PARMALIM” ASLI AGAMA SUKU BATAK?

Oleh: Pdt Mangontang SM Panjaitan, Master of Theology.*

 

PENDAHULUAN              

Belakangan  ini sering disebut-sebut oleh banyak kalangan orang Batak bahwa Parmalim adalah agama asli suku Batak. Apakah anggapan itu benar. Mari kita terlusuri dari sudut sejarahnya. Tetapi sebelum kita sampai ke pokok pembahasan, yakni mengenai golongan Parmalim, ada baiknya kita mengenal lebih dahulu adanya suatu golongan (aliran) yang sudah ada di tengah-tengah komunitas masyarakat Batak sebelum adanya  golongan Parmalim yakni

  Golongan Parbaringin.

Pada umumnya diakui bahwa Golongan Parbaringin telah ada sejak zaman Sisingamangaraja I. Sisingamangaraja mengorganiser golongan ini untuk menjadi perwakilannya memimpin soal-soal kemasyarakatan dan “keagamaan” Batak di wilayah-wilayah tertentu yang disebut bius. Satu bius dipimpin oleh seorang Parbaringin. Menurut Batara Sangti (Sejarah Batak: hal. 293-294), biasanya satu bius terdiri dari tujuh horja, sedangkan satu horja biasanya terdiri dari dua puluh huta atau kampung. Dalam urusan rumah-tangganya, setiap bius diberi hak otonom atau dalam bahasa Batak disebut manjujung baringinna.  Demikianlah nama pepimpinannya disebut Parbaringin adalah berdasarkan hak kedaulatan bius yang dipimpinnya dan juga karena ketika dia menjalankan fungsinya, dia mengikatkan ranting pohon beringin di kepalanya.

Pada mulanya baik yang menyangkut soal-soal adat, maupun soal-soal keagamaan, langsung menjadi urusan Parbaringin tersebut. Keduanya adalah menyatu dalam kehidupan masyarakat Batak. Istilah “agama” ataupun sebutannya di kemudian hari oleh orang Batak “ugamo”, belum dikenal oleh masyarakat Batak. Itu adalah istilah yang datang dari luar. Yang dikenal Batak adalah adat, yang merupakan tradisi yang mengatur keseluruhan aspek kehidupan, baik yang menyangkut hubungan kepada “Debata Mula Jadi Na Bolon” ( Dewata tertinggi ), roh-roh orang mati, roh-roh alam yang dipercayai, dan hubungan kepada sesama manusia. Ritus-ritus untuk itu semua sudah diatur, dan yang memimpinnya adalah Parbaringin.

Tetapi dalam perkembangan kemudian, yakni sejak terjadinya Perang Paderi di Tanah Batak, fungsi Parbaringin menjadi dibatasi hanya pada soal-soal yang bersifat “keagamaan” saja, sedangkan urusan sosial-adat diserahkan sepenuhnya kepada Raja Junjungan, yakni raja yang sebelumnya  hanya berfungsi sebagai pembantu dari Parbaringin.

Upacara “keagamaan” yang dipimpin oleh Parbaringin disebut Pesta Bius. Pesta ini biasanya dilakukan sekali setahun ( pesta tahunan) secara rutin, tetapi kadang-kadang juga dilakukan secara insidentil menurut tona ( instruksi ) dari Sisingamangaraja. Pesta bius adalah suatu upacara kurban berupa kerbau yang disembelih untuk dipersembahkan kepada sombaon, para debata, roh-roh alam dan semua roh-roh nenek moyang terdahulu, guna  meminta perlindungan dari mereka berupa pemberian hujan, panen yang baik dan penghentian sesuatu wabah penyakit seperti cacar dan kolera.

Di beberapa daerah di mana pengaruh kekristenan dapat bertumbuh dengan cepat, seperti di daerah Silindung, praktek pesta bius bisa dihentikan dengan segera. Tetapi di beberapa daerah lain di wilayah Toba,  seperti di daerah Uluan, Samosir dan Habinsaran, di mana pertumbuhan kekristenan agak lambat, dan pengaruh Sisingamangaraja di sana dirasa lebih kuat, kegiatan itu agak sulit dihentikan. Di tempat-tempat tersebut pesta bius masih sering diadakan, walaupun Sisingamangaraja XII sendiri telah mati. Namun karena menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh praktek keagamaan yang mengkultuskan Sisingamangaraja ini, akhirnya pemerintah kolonial Belanda bertindak untuk melarangnya. Untuk itu Korn yang bertindak untuk menjalankan larangan itu, pada tahun 1938 berkata: “By this prohibition the whole parbaringin-organisation, champion of the pagan world of thought and strong bulwark against the progressing Christianization was at once paralyzed”. Dengan larangan ini, seluruh organisasi parbaringin, yang merupakan kubu pemikiran dan kekuatan dunia penyembah berhala melawan upaya pengkristenan itu segera bisa dilumpuhkan). ( Philip L.Tobing, The structure of the Toba-Batak belief in the High God, 1963, hal. 27)

Tetapi walaupun kegiatan mereka telah terlarang, sebagian dari Golongan Parbaringin ini masih tetap menunjukkan dirinya sebagai Parbaringin, karena nampaknya mereka masih enggan untuk melepaskan jabatan yang dulu dipandang sangat terhormat itu.  Kebiasaan merek sehari-hari berpakaian ulos (pakaian) Batak dan berikat kepala hitam untuk menutupi rambut mereka yang dibiarkan panjang, masih tetap dipertahankan, biarpun mereka telah dibaptis menjadi Kristen dan telah menjadi warga jemaat HKBP setempat.

Setelah Belanda dikalahkan oleh tentera Jepang pada tahun 1942, golongan Parbaringin mencoba bangkit kembali bersama-sama  dengan Golongan Parmalim, yang diberi nama Golongan Sirajabatak. Jadi sekarang ini tidak ada lagi yang disebut golongan Parbaringin di tengah-tengah masyarakat Batak.

Golongan Parmalim

Ada yang mengatakan bahwa Parmalim adalah asli agama suku Batak. Ada juga  yang mengatakan bahwa Golongan Parmalim didirikan oleh Sisingamangaraja XII  pada tahun 1870 an guna melindungi kepercayaan tradisional Batak dari gangguan agama Kristen, Islam dan kolonialisme Belanda yang dianggap merusak. Tetapi kalau ditelusuri secara historis pendapat itu tidak tepat, karena sampai pada waktu itu, Golongan Parbaringin masih tetap dipercayai oleh Sisingamangaraja XII sebagai lembaga untuk mempertahankan praktek keagamaan Batak tersebut. Nama Parmalim belum dikenal di tengah-tengah masyarakat Batak pada waktu itu. Pada umumnya orang berpendapat bahwa pendiri olongan ini adalah Guru Somalaing Pardede pada tahun 1890 an. ( L. Castles, hal. 74 dan J.Sihombing, hal. 86).

Guru Somalaing Pardede adalah seorang bekas datu ( dukun ) dan penasehat terdekat dari Sisingamangaraja XII. Sebagai seorang datu yang mempunyai arti penting dalam kehidupan msyarakat Batak, khususnya dalam penyembuhan orang sakit dan pemberi nasehat dalam berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, Somalaing mulai merasa kehilangan arti itu, setelah dia melihat kekalahan Sisingamangaraja XII tahun 1883 di Balige dari mana dia berasal dan pengaruh kekristenan yang mulai bertumbuh dengan pesat pada waktu itu di sana. Karena itu menurut penilaian sementara orang, faktor inilah yang mendorong Guru Somalaing untuk mendirikan golongan itu, agar dengan demikian dia bisa tetap mempertahankan kehormatannya di tengah-tengah masyarakat Batak.

Nama Parmalim yang dipakai artinya golongan malim. Mengenai arti  kata malim dijumpai pendapat yang berbeda. Ada yang berpendapat bahwa kata malim adalah sebuah kata dalam bahasa Batak  yang berarti  menjadi merdeka (P.B. Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan, 1975, hal. 41), sehingga dengan demikian golongan Parmalim diartikan sebagai golongan orang merdeka. Tetapi banyak orang lebih cenderung mengertikan kata itu sebagai imam, yakni sebuah nama pemimpin agama Islam yang dikenal pada waktu itu  ( L. Castles, The political life of a Sumatra residency: Tapanuli 1915-1940,  hal. 74). Dalam Kamus  Batak Toba-Jerman yang ditulis oleh J.Warneck  yang diterbitkan tahun 1905 untuk keperluan usaha penginjilan di Tanah Batak dan diterjemahkan oleh P. Leo Joosten OFMCap, kata malim berati imam atau mualim.  Dalam buku kamus batak itu tidak ada dijumpai kata malim yang berarti merdeka, yang  ada hanya satu kata yang diartikan sebagai  imam atau mualim Dalam Bibel bahasa Batak Toba, kata malim juga telah dikenal , dan kata itulah yang dipakai oleh PH Johansen (1890 an)  untuk menerjemahkan kata Ibrani yakni “kohen” yang berati imam. Menurut para ahli dan juga kamus Warneck itu kata malim itu adalah sama dengan kata Arab ‘mualim”, yang dalam bahasa Arab kata mualim berati pemimpim agama atau guru agama Islam. Dengan demikian istilah malim bukanlah istilah asli Batak, tetapi datang dari pengaruh istilah islam pada waktu itu. Berdasarkan itu maka Parmalim diartikan sebagai golongan malim atau mualim atau golongan imam.

Ajaran-ajaran yang dikembangkan dalam golongan ini, nampaknya timbul dari hasil pengalaman Guru Somalaing, ketika dia diminta sebagai penunjuk jalan oleh Elio Modigliani, seorang ahli botani Italia, mengadakan penelitian di beberapa tempat di Sumatera Utara, termasuk daerah Asahan, tahun 1889-1891. Beberapa unsur Katolik yang dikenalnya dari Modigliani dan unsur Islam yang mungkin dikenal dalam perjalanan mereka di daerah Asahan, dimasukkan dalam ajaran-ajarannya itu. Pengaruh Katolik misalnya nampak dalam susunan Trinitatis yang dibuatnya ( Jehowa, Maria,Yesus), pengkultusan Raja Rum ( maksudnya mungkin Paus Roma), yang ditempatkan di samping beberapa tokoh yang dikultuskan Batak, seperti Sisingamangaraja, Raja Hatorusan,  Ompu Raja Uti, Naga Padoha, Sideak Parujar, dll. ( J.Castles, hal.74). Pengaruh Islam misalnya nampak dalam larangan makan daging babi dan pemakaian ucapan bismilahi rokhmanir rakhim dalam doa-doa mereka, yang dalam hal ini diucapkan dalam dialek Batak. (M.Dj. Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, hal. 348). Juga dapat diduga bahwa hal kaum laki-laki berikat kepala kain putih, juga pengaruh Islam, karena sebelumnya dalam acara-acara seremonial Batak, kaum laki-laki adalah memakai ikat kepala (talitali) dari ulos batak. Parbaringin juga pada aslinya adalah berikat kepala ulos batak yang bercorak hitam. Kebiasaan mereka berpantangkan daging babi dan darah, kemungkinan besar juga adalah pengaruh Islam dan juga Yahudi (dari Kitab Perjanjian Lama), karena sejatinya dalam adat dan budaya masyarakat batak, daging babi yang dimasak bersama dengan darahnya adalah makanan adat secara tradisional.

Terhadap Gereja Batak atau Zending dia sengaja membuat suatu jarak, misalnya dengan perlakuan yang membiarkan rambut mereka panjang, membakar kemenyaan, memukul godang, mengadakan kebaktian pada hari Sabtu (mengikuti kaum Yahudi) ),manguras ( ritual pembersihan dengan memakai jeruk purut), dan tidak menghormati hari minggu. Semua tindakan ini didasarkan atas beberapa  ayat dari Kitab Suci Krsiten Perjanjian Lama. ( L.Castles, hal. 75)

Guru Somaling bersama pengikutnya Ompu Bernit dari Habinsaran ( daerah sebelah Timur Toba) ditangkap dan dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Kalimantan tahun 1896, karena perlawanan mereka yang keras terhadap orang kulit putih. (WB Sijabat , hal. 328 ). Namun ajaran-ajarannya itu masih diteruskan oleh pengikut-pengikutnya yang lain, terutama di daerah Samosir, Uluan dan Habinsaran ( daerah-daerah yeng terbelakang dimasuki oleh Injil ). Berbagai reaksi mereka ditunjukkan terhadap kegiatan zending di sana. Di daerah Uluan misalnya, seorang yang bernama Ompu ni Ottong, mencoba menghasut masyarakat setempat untuk melawan pekerjaan zending ( J.Castles,hal. 76). Di daerah habinsaran sekolah-sekolah zending dirusak, dan di Parsambilan daerah Toba, missionar Jung diancam untuk dibunuh oleh sejumlah pengikut Parmalim. ( J.Sihombing, hal. 86). Sedangkan di Tomok Samosir, Ampot Sijabat menyebut dirinya sebagai “praeses” ( kata yang dipakai oleh zending RMG di Tanah Batak, untuk menyebut pemimpin satu wilayah (distrik) zending  Golongan Parmalim di Samosir, sejak missionar Bregenstroth memulai tugas penginjilannya di Ambarita Samosir tahun 1914. (WB Sijabat, hal. 329).

Namun karena banyaknya tindakan golongan ini yang mengganggu usaha-usaha zending dan pemerintah kolonial Belanda, maka mereka terus diawasi oleh pemerintah dengan ketat dan bahkan banyak dari antara mereka yang terpaksa dipenjarakan. Tahun 1904 misalnya, Residen Tapanuli, Welsink, langsung memimpin usaha penangkapan terhadap sejumlah pengikut Parmalim di Sibide dan Maranti, Ressort Sitorang. Pada waktu Ephorus IL. Nommensen turut serta bersama residen, yang diharapkan oleh residen, dia dapat membimbing mereka untuk bertobat menjadi Kristen.  Oleh bimbingan ephorus tersebut,memang banyak dari antara mereka yang bertobat menjadi Kristen, namun ada juga sebagian yang tetap mempertahankan Sisingamangaraja  sebagai junjungan dan juru selamat mereka.

Dalam melengkapi pemahaman kita mengenai Golongan Parmalim, yang juga timbul di kalangan masyarakat Batak  sebagai reaksi terhadap pengaruh yang datang dari luar, mulai dari Islam, Kristen dan kolonialis Belanda, selain dari Golongan Parmalim, masih ada beberapa golongan yang timbul di tengah-tengah masyarakat Batak itu sendiri, antara lain: Golongan Parsiakbagi, Golongan Parsitengka, Golongan Parhudamdam, dan Golongan Sirajabatak.

 

Golongan Parsiakbagi

Setelah Guru Somalaing pendiri Golongan Parmalim itu terbuang,  nampaknya diantara beberapa pengikutnya itu ada kecenderungan untuk menempuh jalannya sendiri. Salah seorang dari antara mereka adalah Djaga Siborutorop yang bergelar Si Siakbagi ( yang menderita kesengsaraan) dari Nagasaribu Siborongborong. Dia membentuk satu golongan yang terpisah yang disebut Parsiakbagi.  Yang kadang-kadang disebut juga Parugamo ( orang yang beragama). Golongan ini membedakan diri dari dolongan Parmalim, walaupun pada dasarnya ajaran dan perlakuan mereka adalah sama (L.Castles, hal. 77). Hanya di kemudian golongan ini lebih banyak berkenalan dengan unsur kekristenan, apalagi setelah Raja Mulia Naipospos dan Guru Gayus Hutahaean bergabung dengan mereka. Raja Mulia Naipospos dulu adalah seorang Parbaringin, tetapi sesudah itu telah masuk menjadi Kristen dan sempat menjadi sintua ( penatua ) gereja  beberapa tahun lamanya.Sedangkan Gayus Hutahaean adalah bekas guru bantu yang diberhentikan dari sekolah zending.

Dari tulisan Castles diketahui adanya reaksi golongan ini, baik terhadap masyarakat Batak yang pada waktu itu dilihat cenderung  berlomba-loma mengejar berbagai pangkat atau jabatan, maupun terhadap zending dan pemerintah Belanda.  Segala apa yang disebut pangkat atau jabatan ditolak oleh mereka,  karena katanya Yesuslah satu-satunya Guru. Usaha zending atau kongsi gereja yang meminjamkan uang dengan bunga disalahkan (Th. Mueller Kruger, Sejarah Gereja di Indonsia, hal. 218), yang karenanya mereka mendirikan semacam koperasi simpan-pinjam tanpa bunga, yang diberi nama kongsi parasian ( kongsi pengasihan). ( Pada waktu itu IL Nommensen memprakarsai berdirinya Kongsi Gereja yang meminjamkan uang dengan bunga kecil untk mencegah kebiasaan masyarakat Batak dulu yang meminjamkan uang atau padinya dengan bunga yang sangat tinggi, dan juga untuk membantu sumber keuangan gereja). Kehadiran orang kulit putih di Tanah Batak dikatakan sebagai hukuman Allah bagi msyarakat Batak karena dosa mereka, tetapi apabila mereka masih mau bertobat, katanya Allah masih sudi mengampuni mereka dan orang-orang kulit putih akan segera diusir.

Setelah golongan ini berumur lebih kurang satu dekade, pada bulan Nopember 1910, pemimpinnya yakni Si Siakbagi ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Dia ditangkap karena sikapnya yang keras melawan Belanda dan juga karena kedapatan memperdagangkan simbora (sejenis barang ajimat), suatu kegiatan yang sangat berbahaya pada waktu itu, apabila pembelinya percaya bahwa mereka bisa memperoleh kekebalan dengan memakai simbora itu (L.Castles, hal.78). Setelah pemimpinnya itu dipenjarakan, diduga para pengikutnya itu kemungkinan bergabung dengan Golongan Parmalim, karena di kemudian hari tidak ada diketahui kesinambungan dari golongan Parsiakbagi itu.

Golongan Parsitengka

Golongan ini diberi nama demikian berdasarkan nama pendirinya yakni Si Tengka Napitupulu. Sama seperti Golongan Parsiakbagi, golongan ini asal mulanya adalah dari golongan Parmalim yang telah mengambil jalannya sendiri. Paham mereka tentang Allah telah mendekati paham Kristen. Artinya ilah-ilah Batak dengan beberapa tokoh yang dipuja seperti Nagapadoha, Raja Uti, dan lain-lain, telah ditolak. Mereka tidak mau mengambil bagian dalam pesta-pesta ritual yang dilakukan oleh Golongan Parmalim,  seperti tortor dan gondang. Pemakaian jeruk purut, ajimat dan poligami, juga mereka tolak.

Si Tengka Napitupulu mati tahun 1903. Pengikutnya tidak sempat banyak dan tidak dapat bertahan. Ini disebabkan karena si Tengka sendiri pada waktu itu sudah kurang mampu untuk aktif mengadakan propaganda, ditambah lagi oleh kematian penggantinya dan sejumlah keluarganya yang mendadak setelah kematian si Tengka. Kerena itu tidak ada kesinambungan dari golongan ini.

Golongan Parhudamdam

Satu golongan yang secara nyata menunjukkan perlawanan terhadap orang kulit putih setelh kematian Sisingamangaraja ialah Golongan Parhudamdam. Golongan ini mula-mula muncul di Sugasuga, sebuah tempat d Utara daerah Barus, tahun 1915.  Tempat ini masih dekat dengan basis perjuangan Sisingamangaraja XII yang terakhir, yakni Sionomhudon, Dairi. Walaupun pada waktu itu orang tidak berani lagi menyebut-nyebut nama Sisingamangaraja, apalagi menyatakannya masih hidup,  namun pendiri golongan ini yang bernama Djaman, menolak bahwa Sisingamangaraja itu sudah mati. Dia mengatakan bahwa berdasarkan petunjuk Debata Mulajadi Na bolon  ( Allah tertinggi yang dikenal Batak), yang dia terima, Sisingamangaraja masih hidup, dan akan muncul kembali untuk memimpin kerajaan Batak yang bebas dari pajak dan rodi ( kerja paksa). Sistem pajak dan rodi yang diberlakukan Belanda pada waktu itu dirasa sebagai beban yang sangat memberatkan sekali.

Djaman mengatakan bahwa orang-orang kulit putih akan segera dimusnahkan oleh Allah dari bumi orang batak melalui suatu perang besar dan bencana yang sangat dahsyat. Yang selamat dari murka itu hanyalah mereka yang mengikuti petunjuknya.

Banyak orang yang tertarik akan perkataan Djaman itu. Mereka ini kemudian dihimpun untuk memulai suatu gerakan anti kulit putih, dengan mengadakan pertemuan-pertemuan yang bersifat rahasia, yang disertai dengan upacara-upacara keagamaan. Salah satu upacara yang mereka lakukan ialah semacam latihan untuk memperoleh kekebalan. Latihan itu mulai dengan semacam doa bersama, yang didalamnya nampak pengaruh Islam. Kata-kata Laillaha illalah diserukan berkali-kali, sambil mengoyang-goyang badan dan kepala, kemuka, kekiri dan ke kanan.  Cara ini yang dimaksudkan untuk berhubungan langsung dengan Tuhan dan meminta perlindungannya, dilakukanhingga mereka dalam keadaan ekstase. Dalam keadaan demikian, maka mereka bangkit, dan mengguling-gulingkan tubuhnya di atas batu, yang disusul dengan mengucapkan kata-kata yang tidak jelas atrtinya yakni digidigi damdam secara berulang-ulang dan cepat. Mungkin karena kata-kata inilah maka orang menamai mereka Parhudamdam atau Parsihudamdam.

Gerakan yang mula-mula dilakukan secara rahasia itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang terbuka. Demikianlah, maka pada bulan Desember 1916, sebanyak lebih kurang lima ratus orang, mereka berkumpul di sebuah tempat yang bernama Rura Parira, siap untuk melakukan perang melawan orang kulit putih hanya dengan bersenjatakan sehelai daun lalang. Seluruh pegawai pemerintah dan petugas zending diusir, sedangkan kepala negeri setempat  dipaksa untuk berpihak kepada mereka. Pejabat yang berwajib (gezagheber) dari distrik Toba, WCM  Muller, yang ditugaskan untuk mengakhiri aksi itu dibunuh dengan sangat sadis.  Peristiwa yang mereka rayakan ini sebagai kemenangan dengan memotong seekor kerbau putih, telah mendorong mereka makin berani untuk menyerang. Mereka yang yakin akan kekebalan yang diperoleh berkata, bahwa barangsiapa yang masih takut kepada peluru berarti dia masih penuh dosa. Sedangkan orang yang mati tertembak, katanya akan bangkit pada hari yang ketiga.

Namun setelah sejumlah tentera Belanda dikerahkan ke tempat mereka, gerakan ini dapat diakhiri segera, walaupun ke beberapa tempat lain di daerah Tapanuli dan luarnya, ajaran-ajaran mereka telah sempat disebarkan-luaskan, yang tentu hal ini dilakukan melalui suatu jaringan yang sangat bersifat rahasia.

Golongan Sirajabatak

Sejak masuknya Jepang di Indonesia tahun 1942 menggantikan kedudukan Belanda, beberapa aliran yang berlatar-belakang Batak yang pada masa pemerintahan kolonial Belanda mengalami tekanan yang cukup berat mencoba bangkit kembali.  Peluang itu dimungkinkan karena pemerintah Jepang dalam usahanya menghapuskan segala pengaruh yang berbau Barat dari bumi Indonesia, mencoba membangkitkan kembali beberapa unsur pribumi itu.  Di Tanah Batak misalnya pemerintah Jepang menghidupkan kembali pemujaan kepada Sisingamangaraja dan penyembahan kepada roh-roh nenek-moyang yang sudah mati.

Dalam kesempatan itulah, seperti sudah disinggung di atas golongan Parbaringin dan golongan Parmalim mencoba bangkit kembali. Golongan Parbaringin misalnya mencoba menghidupkan praktek meramalkan nasib, tenung dan memanggil roh-roh orang mati.  Di Bakara golongan ini telah mempelopori pembangun “sogit”, yakni rumah pemujaan bagi Sisingamangaraja. Kemudian di Maranti Habinsaran, sempat banyak masyarakat setempat yang diperdayakan oleh seorang guru Parmalim bernama Lean, dengan mengajarkan bahwa Sisingamangaraja akan kembali memerintah masyarakat Batak.

Selain dari pada itu satu aliran baru yang muncul pada zaman Jepang ialah “Golongan Sirajabatak”. Golongan ini diorganiser secara baru oleh Raja Patik Tampubolon, lengkap dengan Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART), yang ditetapkan di Pematangsiantar, 17 Juni 1942. Raja Patik Tampubolon yang pernah bertugas bebera tahun sebagai guru zending di daerah Simalungun dan Karo ( 1905-1910), mengatakan bahwa dia merasa terdorong untuk membina golongan ini demi untuk  melindungi tradisi nenek-moyang Batak yang lama, yang dinilai sangat baik serta mengandung nilai-nilai kebenaran dan keadilan.

AD dan ART itu diberi nama “ Ransangan ni undang-undang dohot aturan ripe di Golongan Sirajabatak Indonesia” ( Susunan undang-undang dan aturan keluarga dari Golongan Sirajabatak Indonesia), masing-masing terdiri 9 dan 32 fasal. Dalam fasal 1 AD itu diktakan bahwa tujuan dari golongan ini adalah untuk memeliharan Adat Batak yang diturunkan oleh Sirajabatak, agar keturunannya sehati sepikir untuk menyembah “Ompu Muljadi Na Bolon”, yakni allah yang dipercayai penuh berkat, kudus dan pemberi otoritas Sirajabatak”. 

Raja Patik Tampubolon lahir di Balige tahun 1882. Menurut cucunya nama aslinya adalah Renatus Patia Tampubolon, sedangkan menurut Lothar Schreiner penulis buku buku Adat dan Injil, nama aslinya adalah Nahum Tampubolon, yang sudah menunjukkan nama Kristen.  Dia memperoleh pendidikan sebagai guru Zending, dan pekerjaan itu sempat dilakukan beberapa tahun lamanya, mula-mula di kampung asalnya. Sejak tahun 1905 di ditugaskan oleh Zending ke daerah Simalungun dan Karo, yang dijalankannya hingga tahun 1910. Sesudah itu berbagai pekerjaan telah dilakukan, a.l.di dinas pemerintahan, pedagang atau pengusaha, hingga dia memutuskan hubungannya dengan segala lembaga yang bersifat Barat dan ingin memajukan bangsanya sendiri.

Di bawah pimpinan Raja Patik Tampubolon  hingga tahun 1950, golongan ini sempat bertumbuh mejadi satu kekuatan yang menyatakan dirinya sebagai penganut agama yang bersifat nasional, hingga gereja HKBP melihatnya sebagai  suatu tantangan. Pengikut-pengikutnya pada umumnya  terdiri dari orang-orang Batak yang masih menganut kepercayaan Batak dan sejumlah bekas warga jemaat HKBP yang dikucilkan dari gereja karena melawan siasat greja yang ditetapkan oleh pimpinan Gereja Batak { Zending).  Mereka ini tersebar di berbagai tempat, seperti di daerah Samosir, Toba, Humbang, Pahae, Pangaribuan dan Sumatera Timur.

Tradisi budaya Batak yang sangat menonjol dihidupkan kembali oleh golongan ini  ialah “gondang Batak”, yakni musik tradisional Batak, yang hingga saat itu masih terlarang pemakaiannya oleh HKBP.  Dalam tradisi Batak, ‘gondang” biasanya dibunyikan sebagai media untuk memuja “Ompu Mulajadi Na Bolon”, Allah Tertinggi Batak, dan untuk memanggil roh-roh nenek-moyang. Karena itu tradisi ini sempat dilarang dengan keras dari pihak gereja atau zending untk dilakukan oleh warga gereja atau orang-orang Kristen, demi menjaga warga gereja itu jangan sampai kembali lagi kepada kepercayaan yang lama. Siapa yang melanggar ketentuan itu maka dikucilkan dari gereja.

Kebiasan lain yang dihidupkan ialah upacara makan “horbo pangalotlot” (kerbau penghalau setan). , “babi pangambat” (babi penolak bala}, “dengke porngis” (ikan pembuat hasil tanaman yang bernas),  “lombu sitiotio” ( lembu pembuat kejernihan hidup).  Semuanya ini dilakukan berdasarkan kepercayan Batak yang lama, sebagai upacara yang bertujuan yang menghalau setan, menolak bala,  serta memohon pertolongan  Allah yang Maha Pencipta (Mula Jadi Nabolon), dan roh-roh nenek-moyang agar mereka diberi penghasilan  yang berlipat ganda dan  penghidupan yang jernih.

Di samping karena membangkitkan kembali “hasipelebeguon” ( penembahan roh-roh orang mati),  pengikut golongan ini sering menimbulkan konflik dengan pihak gereja HKBP, juga karena mereka kadang-kadang tidak enggan menyalah-gunakan  kebiasaan tertentu dari gereja dan juga unsur tertentu dari kepercayan Kristen itu. Mengenai hal ini seorang pendeta melaporkan pada Synode Godang HKBP 1946 mengenai hal yang pernah terjadi di tempat pelayanannya  oleh pengikut golongan Sirajabatak demikian:

Apabila mereka yang telah menjadi pengikut golongan Sirajabatak dikucilkan dari gereja, maka mereka meniru cara-cara yang dilakukan oleh gereja. Hal ini misalnya nampak dalam acara penguburan orang mati dan pemberkatan perkawinan. Untuk ini mereka tidak enggan mempergunakan “agenda” atau buku liturgi kebaktian HKBP.

Perlakuan  yang lain dari pengikut golongan ini, seperti pernah dilaporan oleh Ephorus  HKBP pada Synode Godang 1948, yakni di Pahae ada seorang  bernama Sirman Sitompul menyatakan diri sebagai “Kristus”, yang lahir dari seorang anak dara.  Orang ini akhirnya ditangkap oleh yang berwajib, karena segera setelah itu dia mengatakan bahwa dirinya adalah pengganti Presiden Sukarno, dan tidak mengakui pemerintah serta bendera Indonesia, kecuali bendera yang hitam. Tidak dijelaskan apa maksudnya bendera yang hitam itu. Tidak jelas lagi diketahui sampai di mana pengaruh dan kesinambungan golongan ini sampai sekarang. Ada yang mengatakan bahwa sebagian pengikutnya bergabung dengan golongan Parmalim,  tetapi ada juga yang kembali atau masuk menjadi Kristen dan warga gereja.  Pendirinya sendiri, Raja Patik Tampubolon,  yang meninggal tahun 1965 dalam usia 83 tahun, dimakamkan secara Kristen  dengan acara gerejawi.

Penutup

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa Golongan (aliran) Parmalim  berserta  beberapa aliran yang pernah muncul berdampingan, timbu sebagai reaksi akan  terjadinya berbagai perubahan dalam tatanan kehidupan masyarakat Batak mulai awal abad 19 yang lalu, baik di bidang agama, sosial-budaya, sosial-politik dan sosial-ekonomi, oleh pengaruh yang datang dari luar mulai dari serbuan Islam dari Minangkabau, masuknya misi atau  zending Kristen dari Eropa, maupun oleh pemerintahan kolonial Belanda yang menguasai Tanah Batak.  Pelbagai perubahan itu nampaknya telah menimbulkan goncangan yang cukup kuat bagi masyarakat yang tadinya sangat terisolir itu. Hal ini memang dapat dimengerti mengingat kehidupan masyarakat Batak mulai dari masa kepemimpinan Sisingamangaraja I pada permulaan abad 16 M yang lalu, hingga pada masa kepemimpinan Sisingamangaraja IX pada permulaan abad 19, hampir tidak pernah mendapat gangguan dari luar. Gangguan baru mulai datang sejak masa Sisingamangara X  pada permulaan abad 19 yakni mulai dengan datangnya serbuan dari serdadu Islam pada waktu itu dari daerah Minangkabau. Kemudian setelah itu, sejak masa Sisingamangara XI, agama Kristen mulai masuk melalui usaha zending dari Eropa, yang kemudian berhasil menggantikan kepercayaan Batak yang lama, di kalangan sebagian besar masyarakat Batak itu sendiri. Sejak tahun 1878 kekuasaan Belanda pun masuk di daerah Tapanuli Utara, dan sekaligus mengakhiri dinasti Sisingamangaraja yang sebelumnya sangat dihormati dan dijunjung di sana, dengan gugurnya Sisingamangaraja XII pada tahun 1907, dalam pertempuran melawan Belanda. Semua itu telah menjadi latar-belakang Golongan Parmalim dan sejumlah aliran-aliran yang tersebut di atas.

Dari antara aliran-aliran tersebut di atas, yang masih eksis sampai sekarang adalah Golongan Parmalim, sedangkan aliran-aliran lainnya tidak dijumpai lagi, termasuk Golongan Parbaringin sebagai pemelihara kepercayaan adat-istiadat Batak sejak awalnya. Hilangnya aliran-aliran tersebut tidak terlepas dari pengaruh agama Kristen yang semakin kuat dan mendalam dalam kehidupan masyarakat batak, dan juga karena tekanan dari pemerintah kolonial Belanda yang cukup keras terhadap mereka pada waktu itu. Mungkin sebahagian dari antara mereka ada yang beralih menjadi Kristen, melalui usaha zending dan gereja,  dan sebagian lagi bergabung dengan Golongan Parmalim yang masih bisa bertahan. Yang paling banyak bergabung dengan Golongan Parmalim ini adalah Golongan Parsiakbagi, yang dibawa oleh pemimpinnya sendiri Raja Mulia Naipospos. Golongan Parmalim sekarang ini masih bisa dijumpai di beberapa tempat di daerah Toba, Uluan dan Samosir, bahkan sudah ada di Medan, dan menjadikan pusat mereka di Huta Tinggi Laguboti, di mana didirikan Bale Pasogit Partonggoan, yang artinya rumah tempat berdoa, tempat mereka melakukan ritual keagamaan setiap hari Sabtu. Latar-belakang kepercayaan suku Batak dan ritual Batak, memang masih bisa terlihat dalam ritual keagaaan mereka, tetapi tentu tidak bisa lagi dikatakan bahwa Agama Parmalim ini sebagai agama asli suku Batak, karena sebagaimana telah diuraikan di atas , di dalamnya sudah banyak dijumpai pengaruh dari agama lain, seperti Islam dan Kristen (Katolik dan Protestan), bahkan pelopornya sebagian sudah ada yang lebih dulu menjadi Kristen dan berpendidikan Kristen.  Pengikutnya masih tergolong kecil. Dalam data Aliansi Sumut Bersatu (ASB), penganutnya sebanyak 5026 jiwa. Di tengah-tengah bangsa dan negara Indonesia,   Golongan Parmalim diakui sebagai salah satu aliran kepercayaan, yang mendapat perlindungan hukum dari negara, bukan sebagai satu agama.

Buku-buku Bacaan:

-          Castles, L, The political life of a Sumatra residency: Tapanuli 1915-1940. A Dissertation, Yale University, 1972.

-          Hutauruk, JR, Tuhan menyertai Umat-Nya: Sejarah 125 tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pearaja-Tarutung Kantor Pusat HKBP, 1986.

-          Lumbantobing, Ph.O, The Structure of the Toba-Batak belief in the High God, South and South  Celebes East Institute  for Culture, 1963.

-          Pedersen, P.B, Darah Batak dan Jiwa Protestan: Perkembangan Gereja-gereja Batak di Sumatera Utara, terjemahan Ny Maria Sijabat dan W.B. Sijabat, BPK Gunung Mulia, 1975.

-          Poesponegoro, M.Djuned dan Nootosusanto, Sejarah Nasiomal Indonesia IV, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984.

-          Poesponegoro, M.Djuned dan Nootosusanto, Sejarah Nasiomal Indonesia V, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984.

-          Sangti, Batara, Sejarah Batak, Balige: Karl Sianipar Co., 1977.

-          Schreiner, L., Telah Kudengar dari ayahku: Perjumpaan Adat dan Iman Kristen di Tanah Batak, Jakarta: BPK Bunung Mulia, 1978.

-          Sihombing, Sedjarah saratus taon Huria Kristen Batak Protestan: 1861-1961, Medan Philemon & Liberty, 1961.

-          Sijabat, WB, Ahu Sisingamangaraja, Jakarta: Sinar Harapan, 1983.

-          Tampubolon, Raja Patik, Pustaha Tumbaga Holing, Pematangsiantar, stensilan, ttp.

-          Warneck, J. The living Christ and dying heathenism, Michigan: Baker House, 1954.

-          -----, Kamus Batak Toba Indonesia,  terjemahan P.Leo Joosten OMFCap, Medan: Bina Media. 2001.

-          Notulen Sinode Godang HKBP di Balige 26-27 Januari  1944.

-          Notulen Sinode Godang HKBP di Sipoholon 28-29 Nopember 1946.

 

*Penulis  adalah Pensiunan Pendeta HKBP, yang dari tahun 1985-2008 bertugas sebagai dosen Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP, Pematangsiatar di bidang Sejarah Gereja. Dan setelah pensiun tahun 2016,  sekarang berdomisili di Jakarta.





HIDUP SEIA SEKATA SEPERASAANSALING MENGASIHI PENYAYANG DAN RENDAH HATI ( 1 PETRUS 3, 8)

HIDUP SEIA-SEKATA, SEPERASAAN, SALING MENGASIHI, PENYAYANG DAN RENDAH HATI (1 PETRUS 3  8)
Khotbah pada Kebaktian Bona Taon
“Parsadaan Panjaitan Pintubatu dohot Boruna” (P3B) se-Jabodetabek,
Minggu 8 April 2018 di Gedung Serbaguna, Sejahtera,                                                                         Jl. Raya Pondok Gede, Jakarta Timur.

Thema:  Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-  saudara, penyayang dan rendah hati. (Saroha ma hamu saluhutna, sapangkilaan, angka na marholong ni roha di dongan, na marasi ni roha, na serep!) ( 1 Petrus 3: 8 )
Sub Thema: Dengan Partangiangan Bona Taon  Parsadaan Panjaitan Pintubatu dohot Boruna marilah kita semakin erat bergandengan tangan untuk melakukan hidup yang lebih adil, bijakana, berkeyakinan yang teguh kepada Tuhan dalam menjalankan hidup kebersamaan dan persaudaraan.

Hamu angka dongan sapunguan jala dongan na hinaholongan di bagasan Goar ni Tuhanta Jesus Kristus. Horas ma di hita sude.

Pertama sekali tentu kita mengucapkan syukur dan terima-kasih kepada Tuhan, karena kita masih diperkenankan hidup sampai hari ini, dan bisa melaksanan Kebaktian Bona Taon pada hari ini. Makna kebaktian Bona Taon adalah mengucapkan syukur kepada Tuhan Allah dan sekaligus meminta berkat dan pemeliharaan Tuhan dalam menjalani hari-hari ke depan yang akan diberikan oleh Tuhan, sekaligus memupuk rasa kebersamaan dan persaudaraan. Jadi kalau kita mengadakan Pesta Bona Taon pada hari ini, itulah maknanya, mengucap syukur,  dan juga berdoa kepada Allah agar kita selalu diberi berkat dan perlingan. Jadi kita bukan hanya sekedar berkumpul, berjumpa dengan teman-teman, makan-makan atau mencari hiburan.

Pesta Bona Taon sebenarnya bukan hal yang baru bagi masyarakat Batak. Itu sudah merupakan  tradisi atau budaya  Batak yang sudah ada sebelum  datangnya kekristenan, yang dilakukan dalam satu-satu kampung atau satu persekutuan marga pada awal-awal  tahun. Karena tradisi itu dinilai baik, pada zaman kekristenan tradisi itu tetap dipertahankan oleh masyarakat Kristen Batak walaupun muatannya diperbaharui dengan muatan yang bersifat kekristenan. Kalau dulu Pesta Bona Taon itu dilakukan untuk memuja Ompu Mulajadi Nabolon, dan roh-roh nenek moyang, dengan memotong kerbau sebagai persembahan (pelean) kepada Ompu Mulajadi Nabolon dan roh-roh nenek moyang. Persembahan itu dimaksudkan selain sebagai ucapan syukur atas berkat (pasupasu) yang telah diperoleh dalam satu tahun itu, yakni berupa kesehatan, dan harena “gabe ni naniula, sinur ni pinahan” (hasil sawah dan ternak yang melimpah), juga sebagai cara untuk menyenangkan hati roh-roh nenek moyang itu  agar tetap memberkati mereka dan melindungi mereka satu persatu dari berbagai  mala petaka dan penyakit. Dalam Pesta Bona Taon itu, mereka juga makan bersama dengan rasa sukacita, untuk memupuk  kebersamaan dan persaudaraan mereka. Pesta Bona Taon itu juga disemarakkan dengan “gondang sabangunan”, yang fungsinya bukan hanya sebagai hiburan bagi mereka yang berpesta itu, tetapi terutama adalah sebagai bentuk pemujaan kepada Mulajadi Nabolon dan roh-roh nenek moyang.

            Saudara-saudara yang kekasih. Pesta Bona Taon yang kita adakan sekarang , juga mempunyai makna yang sama. Hanya kita tidak lagi menyembah roh-roh nenek-moyang atau sahala ni ompu, tetapi kita hanya mengucapkan syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa, yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, serta memeliharanya, yakni Allah Bapa yang telah menyatakan dirinya dalam Yesus Kristus sebagai Juru Selamat kita, sekaligus memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan kita . Melalui kebaktian ini kita mengucapkan syukur kepada  Allah Bapa yang Maha Pengasih atas seluruh berkat dan pemeliharaan yang diberikan kepada kita pada masa yang lalu, dan sekaligus memohon agar Allah Bapa senantiasa memberkati kehidupan kita ke depan, memberkati pekerjaan kita, memberkati anak-anak kita agar kita bisa hidup dengan damai sejahtera dan suka cita.

Melalui kebaktian kita ini kita disapa oleh Tuhan melalui Firman-Nya yang mengajak kita semua supaya senantiasa hidup “ seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penanyang dan rendah hati”, sehingga dengan Pesta  Bona Taon  yang kita lakukan, kita yang terhimpun dalam satu komunitas Parsadaan Panjaitan Pintubatu dohot Boruna semakin erat bergandengan tangan untuk melakukan hidup yang lebih adil, bijakana, berkeyakinan yang teguh kepada Tuhan dalam menjalankan hidup kebersamaan dan persaudaraan. Dengan hidup seperti itu kita dilayakkan  untuk menerima berkat Tuhan, dan juga sekaligus menjadi berkat bagi sesama.
            Saudara-saudara yang kekasih. Apabila Tuhan menasihati kita agar hidup seia sekata, seperasaan, saling-mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, itu berarti bahwa kita tidak diciptakan oleh Tuhan untuk hidup sendiri-sendiri. Kita diciptakan Tuhan sebagai mahluk yang harus hidup bersama-sama karena kita adalah  saling membutuhkan dan melengkapi. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa hidup sendiri, walaupun  dia mempuntai kuasa, kekuatan yang besar, mempunyai  kepintaran, atau harta kekayaan yang banyak. Dalam mewujudkan hidup bersama inilah perlu ada persekutuan. Orang-orang yang seiman dalam Yesus Kristus dipersekutukan oleh Rohkudus. Persekutuan itu sama artinyat dengan gereja. Di dalam persekutuan itu orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus bisa memupuk “parsaoran “ untuk saling mengasihi, saling membantu dalam suka dan duka.

Tetapi selain persekutuan melalui gereja, tentu kita bisa juga menjalin persekutuan yang bersifat kekeluargaan, yakni parhahamranggion ( persaudaraan) karena  masih satu ikatan darah atau satu marga. seperti kita dalam Parsadaan Panjaitan Pintubatu dohot Boruna ini.  Tentu persekutuan kita ini tidak menjauhkan diri kita dari persekutuan yang lebih luas sebagai orangorang yang seiman dalam Yesus Kristus. Persekutuan kita ini bisa memperkuat persaudaraan kita yang lebih luas.

            Tuhan dan kita semua mengharapkan persekutuan kita ini menjadi persekutuan yang utuh untuk hidup dalam kebersamaan dan persaudaraan. Tetapi kebersamaan dan persaudaraan itu  tidak hanya kita tunjukkan pada pertemuan atau kebaktian yang kita lakukan, tetapi juga dalam hidup sehari-hari untuk bisa saling membantu dalam mengatasi persoalan hidup yang kita hadapi. Bagaimana agar Parsadaan kita ini  menjadi persekutuan yang utuh dalam hidup kebersamaan dan persaudaraan, maka kita harus hidup sesuai dengan karakter atau sifat orang Kristen yang benar, seperti yang disoarakan dalam tema ibadah kita hari ini. Paling sedikit ada lima karakter yang harus kita tunjukkan dalam hidup persekutuan kita, yang semuanya itu merupakan perwujudan dari iman kita kepada Yesus Kristus. Inti dari semuanya itu  adalah kasih, seperti inti dari pengajaran Tuhan kepada umat-Nya yakni, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kelima sifat atau karakter itu ialah sesia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.
1)      Seia sekata, dalam bahasa Yunani,  homofrones,  artinya satu pikiran, satu hati, satu jiwa, satu tujuan sehingga tercipta kehidupan yang  harmonis. Seia sekata ini tercapai jika semua saling menyetujui dan saling mendukung sesuatu yang baik yang direncanakan, tetapi bukan yang sesuai dengan hasrat manusia, tetapi yang sesuai dengan kehendak Allah. Sama-sama sepakat untuk memberlakukan kehendak Tuhan  demi kemuliaan Allah (bnd. Roma 15:5 )

2)       Seperasaan, bahasa Yunai sumpathes, yang dari situ berasal kata  simpati,  yang berarti merasakan apa yang orang lain rasakan. Dengan sperasaan,  kita  dituntut untuk terlibat secara aktif dan mendalam dalam apapun yang orang  lain rasakan. Agar hidup  seperasaan tercipta,  maka sifat  keegoisan harus dijauhkan. . Selama sifat keakuan itu menonjol dalam satu persekutuan,  maka tidakmungkin ada hidup yang  seperasaan’. Sifat egois yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak mau menaruh hati kepada orang lain adalah sifat yang dapat merusak persekutuan. Ketika memasuki suatu persekutuan maka kita menjadi bahagian dari orang lain. sehingga yang lebih di tonjolkan bukan lagi “aku” melainkan “kita”.

Jadi s
eperasaan tergantung pada kerelaan untuk melupakan diri sendiri dan adanya rasa saling memiliki dan melengkapi. Hidup yang seperasaan tumbuh dalam diri kita, jika  Kristus memerintah dalam hati kita masing-masingSeperasaan juga berarti saling berbagi dengan orang lain dalam suka dan duka, dan kesediaan untuk  bersama-sama dengan mereka dalam segala situasi merekaOleh karena itu, hidup “seperasaan” dengan sesama, timbul apabila kita menyadari bahwa kita memang satu di dalam Kristus. Dengan demikian apa yang terjadi kepada orang lain, maka   kita ikut merasakannya, tanpa membedakan atau melihat siapa orang itu. Jadi, tidaklah benar diri kita sebagai  orang Kristen, jika kita hanya memperhatikan diri sendiri. Tidak patut juga apabila kita merasa senang dengan penderitaan sesama, atau merasa sedih atau susah melihat sukacita orang lain. Firman Tuhan mengajak kita melalui rasul Paulus yang menasihati orang-orang Kristen Roma, yang mengatakan: “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rom. 12:15).

3)      Mengasihi saudara-saudara, dalam bahasa Yunani disebut  filadelfoi, yang  berarti memiliki kasih persaudaraan, mengasihi orang lain seperti saudara. Kasih seperti ini berarti memperlakukan orang lain layaknya saudara sekandung. Di dalamnya terdapat unsur tanggung jawab, saling melindungi, saling melengkapi, saling menjaga dan saling membantu sama lain.

4)       Penyayang, dalam bahasa Yunani disebut,  eusplagchnoi,  yang berati  bersikap mesra,  ramah, lemah lembut, berbelas kasih, dan berjiwa penghibur. Sifat ini menekankan “parasianirohaon” , sebagaimana sifat Allah pada dasarnya. Karena Allah adalah penyanyang atau parasi niroha, maka Tuhan Yesus juga menasihakan murid-murid-Nya, supaya menjadi “parasiniroha”, seperti Bapa-Nya yang adalah “parasiniroha”. Ini diwujudkan dalam ketulusan hati membantu orang-orang yang lemah, orang yang susah, orang-orang yang miskin, orang hidup sengsara, agar mereka juga bisa menikmati pengasihan Allah melalui kita.

5)      Rendah hati , dalam bahasa Yunani disebut, tapeinofrones, yang berarti  hidup sederhana, berperilaku sopan santun, dan tidak menganggap diri lebih tinggi dari orang lain. Kerendahan hati adalah sikap yang sangat mulia di mata Tuhan, , karena kesombongan dan tinggi hati sering  menyebabkan kita merendahkan sesama kita. Karena itulah Firman Tuhan mengatakan melalui rasul Petrus (1Petrus5:5b) “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati”.  

Kesemuanya ini dituntut oleh Tuhan dimiliki oleh semua orang Kristen. Dalam menghadapi tantangan iman dari dunia ini, termasuk tantangan hidup yang keras di lingkungan kita di kota besar ini, kita  perlu hidup dalam persekutuan yang kuat  yang saling menopang satu sama lain. Kehidupan orang Kristen itu begitu indah kalau semua orang Kristen hidup seia sekata, seperasaan, saling-menghasihi saudara-saudara, penayang dan rendah hati. Sikap inilah juga yang dituntut oleh  Tuhan dari masing-masing kita anggota Parsadaan yang kita dirikan. Parsadaan kita  ini akan kuat dan menjadi berkat bagi kita dan lingkungan kita, kalau masing-masing kita  menunjukkan cara hidup utama orang-orang Kristen yang lima tadi.  
Prinsip seia-sekata sulit terwujud, kalau ada  yang memaksakan pendapatnya sendiri dan tidak menerima  pendapat orang lain.Seperasaan sulit di dapat karena kurangnya rasa saling memiliki dalam satu persekutuan, sehingga kurang adanya rasa kepedulian kepada penderitaan sesama.  Saling-mengasihi dan menyayangi saudara, ada kalanya sulit terwujud, jika terjadi sikap acuh tak acuh dan kurang peduli kepada sesama kita. Rendah hati seharusnya menjadi salah satu ciri khas kita sebagai orang Kristen, namun terbentur oleh status kita yang mungkin lebih tinggi sehingga sulit untuk memposisikan diri seperti Yesus yang tidak menjadikan statusnya menjadi alasan untuk kesombongan atau keangkuhan.
Tetapi bagaimanapun marilah kita membiarkan prinsip yang lima tadi  hidup dalam diri kita , dengan memohon kekuatan dan tuntunan Allah melalui Roh Kudus. Kiranya Tuhan memberkati kita semua. Amin.  (Pdt MSM Panjaitan, MTh )

"PALESTINA" (TANAH KANAN) SEBAGAI TEMPAT ISRAEL YANG LAMA DAN PUSAT PENYEBARAN INJIL SAMPAI KE UJUNG DUNIA

“Palestina” (Tanah Kanan) 
sebagai tempat Israel yang lama
dan 
pusat penyebaran Injil sampai ke ujung dunia

Oleh: 

Pdt. M.S.M. Panjaitan M.Th (Pendeta HKBP Emeritus)

Secara geografis, Palestina hanya merupakan sebuah daerah yang kecil. Pada masa Yesus, daerah itu hanya berukuran kira-kira 150 mil dari Utara ke Selatan, dan kira-kira 75 mil dari Timur ke Barat. Tetapi walaupun Palestina hanya merupakan sebuah daerah yang sangat kecil, dalam perhubungan internasional posisi daerah ini telah lama merupakan sebuah tempat yang sentral. Palestina adalah tempat yang menghubungkan  benua  Afrika dan Asia dan juga menghubungkan benua Asia dan Eropa. Karena posisinya yang senteral, maka ada yang menyebut daerah Palestina itu sebagai pusat dunia.
Kitab Perjanjian Lama juga memperlihatkan bahwa daerah Palestina dengan sebutan  pada waktu itunTanah Kanan, selain sebagai suatu tempat yang menghubungkan benua Asia dan Afrika, juga telah mempertemukan dua peradaban besar pada waktu itu yakni peradaban Asia yang berpusat di Mesopotamia (Babilonia) dan peraradaban Afrika yang berpusat di lembah Sungai Nil, yakni Mesir. Perjumpaan antara dua peradaban itu terutama terjadi melalui sejarah Israel. Abraham nenek moyang Israel, lahir di Ur Mesopotamia (Kej. 11,31) yang kemudian pindah ke Haran di sebelah Barat Laut dari negeri itu. . Dari sanalah dia mendapat panggilan dari Allah untuk pergi dari negeri itu (Kej.12), dan melalui bimbingan Allah akhirnya dia tinggal di Tanah Kanan ( daerah PalestIna sekarang). Pada suatu waktu karena bala kelaparan yang terjadi di Tanah Kanan, maka dia pernah mengungsi ke Mesir, yang dikenal sebagai  satu tempat yang subur. Dia tinggal di sana bersama istrinya Sarah beberapa waktu lamanya. Di kemudian hari setelah dia kembali ke Tanah Kanan, keturunannya yakni Yakob dan anak-anaknya juga pernah mengungsi ke Mesir  karena bala kelaparan yang terjadi di Tanah Kanan (Kej. 42). Dalam waktu yang cukup lama (lebih 400 tahun lamanya ) orang-orang Israel tinggal di Mesir sebagai orang asing dan akhirnya menjadi budak orang Mesir.
Suatu peristiwa yang sangat besar dalam sejarah Israel ialah Exodus, yakni keluarnya bangsa itu dari Mesir sekitar tahun 1200 s.M. Dengan melewati gurun pasir Sinai, bangsa itu kembali ke Tanah Kanan, yakni tanah yang dijanjikan Allah untuk kediaman umat Israel. Di Tanah Kanan mereka memulai perjuangan dan pergumulan mereka untuk menjadi satu bangsa yang merdeka. Dalam waktu yang relatif singkat, terutama sesudah pemerintahan Raja Daud (kira-kira tahun 1000 s.M.), mereka telah menjadi sebuah bangsa yang bebas, walaupun pada umumnya masih dicekam oleh rasa takut akan ancaman yang datang dari Mesir dan Babilonia. Negeri Israel adalah negeri yang kecil dan miskin. Hanya sebagian kecil dari negeri itu terdiri dari  dataran rendah yang agak subur yakni yang terletak di sebelah tepi pantai. Sedangkan selainnya adalah bukit-bukit batu dan padang pasir yang tandus. Satu hal yang membuat negeri ini penting pada waktu itu ialah posisi dan letaknya yang sangat strategis di mana dari daerah inilah terbentang satu-satunya jalan darat yang menghubungkan kawasan Asia dan Afrika. Tetapi posisinya yang strategis itu telah membuat dirinya sering menghadapi ancaman dari bangsa-bangsa sekitarnya. Misalnya jika Babilonia bergerak melawan Mesir atau sebaliknya, maka negeri itu yang berada di tengah-tengah akan terjepit dalam tekanan perang. Akhir bangsa itu sebagai bangsa yang berdaulat hanya berlangsung sampai tahun 587, di mana pada waktu itu kerajaan Babilonia yang telah menjadi suatu kekuatan besar di Asia menyerbu negeri itu,  membakar kota Yerusalem, menghancurkan Bait Suci Israel dan menawan beribu-ribu orang Israel ke Babilonia. Dalam Alkitab peristiwa ini sering disebut sebagai pembuangan Israel ke Babilonia. Dengan demikian sejarah Israel sampai pada waktu itu boleh diringkas : “dari perhambaan Mesir sampai ke pembuangan Babilonia”. Tetapi penulis-penulis kitab PL tidak melihat sejarah Israel dari sudut pandangan seperti itu. Mereka melihat bahwa penderitaan yang dialami oleh negerinya adalah jalan Allah untuk mempersiapkan suatu bangsa yang besar dari diri Allah.
Seperti sudah diuraikan di atas, orang-orang Israel yang pada waktu itu sudah lebih dikenal dengan orang-orang Yehuda, tidak selamanya dalam pembuangan Babel. Tahun 538 mereka telah dibebaskan oleh raja Cyrus dari Persia yang telah berhasil menguasai kerajaan Babilonia. Namun peristiwa pembebasan  itu tidak membuat kerajaan Yehuda menjadi kerajaan yang berdaulat, karena walaupun dibebaskan dari Babibolnia., di Tanah Yehuda mereka tetap berada di bawah kekuasaan kerajaan Persia. Kemudian mulai dari tahun 332 s.M.  penguasaan kerajaan Yehuda beralih dari  kekuasaan Persia (Asia) ke bawah kekuasaan Eropa. Ini dimulai oleh kekuasaan Yunani yang dipimpin oleh Alexander Agung. Pada waktu itu dalam usaha untuk memperluas wilayah kekuasaannya sampai ke perbatasan India, Alexander Agung juga menggerakkan tenteranya ke arah Selatan, merebut negeri Yehuda  dan terus sampai ke Mesir. Di sanalah dia mendirikan sebuah kota yang membawakan namanya sendiri yaitu kota Alexandria. Selama kekuasaan Yunani, kebudayaan Yunani juga disebarkan dan ditanamkan di seluruh wilayah yang dikuasai.
Di kemudian hari kekuasaan beralih lagi ke tangan orang-orang Romawi. Romawi berusaha untuk merebut seluruh wilayah kekuasaan Yunani itu sekaligus mengambil kebudayaan Yunani yang sudah berpengaruh, termasuk pemakaian  bahasa  Yunani sebagai bahasa yang resmi.
Seperti juga sudah diuraikan di atas, tahun 64 s.M. resmilah seluruh negeri Israel yang lama termasuk Yehuda jatuh ke tangan penguasa Romawi dan menjadikannya sebagai satu Provinsi yang diberi nama Palestina. Sejak itu sampai sekarang negeri itu sudah lebih dikenal dengan nama Palestina.  Daerah ini dapat dijadikan sebagai tempat yang menghubungkan propinsi-propinsi Utara dan Selatan dari wilayah  kekuasaan Romawi itu. Dengan demikian posisinya yang senteral itu, telah membuat Palestina  memainkan peranan yang penting bagi invasi penguasa-penguasa dari tiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa.
Kitab Kissah Para Rasul memulai sejarah baru, di mana posisi sentral dari Palestina itu telah dipergunakan Allah dengan jalan yang baru. Para rasul sendiri tidak menyadari hal itu pada mulanya, karena setelah kebangkitan Yesus, para murid itu masih mengharapkan bahwa Yesus akan memulihkan kembali kerajaan Israel yang lama  (Kis. 1,6). Tetapi Yesus tidak berbicara tentang kerajaan duniawi.  Dia mau meluaskan kerajaan Allah yang dibawanya ke seluruh dunia yang dalam hal ini dimulai dari negeri  sentral yang kecil itu. Untuk ini peranan dari para rasul yang telah dipilih dan dipersiapkan itu sangat diharapkan untuk dijadikan sebagai  saksi-saksi Kristus mulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung dunia (Kis.1: 8) .
Seperti disaksikan dalam Kitab Kisah Para Rasul, penyebaran Injil dan pengluasan kekristenan telah dimulai dari Yerusalem, menyebar ke Yudea, Samaria, sampai ke seluruh wilayah kekuasaan kekaisaran Romawi yang berpusat di Roma. Untuk itulah para murid Yesus yang dua belas itu, sebagai lambang dari ke dua belas suku Israel yang lama, dipersiapkan oleh Yesus selama hidupnya di dunia ini untuk menjadi rasul yang diutus ke ke berbagai penjuru dunia, bukan hanya ke arah Eropa, tetapi juga ke arah Afrika, dan Asia, yakni daerah Asia Kecil,  Mesopotamia, Timur Tengah, sampai Timur Jauh. Menurut tradisi, rasul Thomas, diyakini menjadi penginjil yang sampai ke India.
Dalam perkembangan di kemudian hari, pada zaman modern dari usaha penyebaran Injil, Injil yang semula menyebar dari Palestina ke Eropa, Afrika dan Asia, dan kekristenan itu lebih cepat  menjangkau seluruh bangsa di Eropa, maka pekabaran  Injil itu lebih cepat menyebar dari Eropa ke berbagai bangsa di dunia ini, yang berbarengan dengan ekspansi sejumlah negara  Eropa ke berbagai dunia ketiga di benua Asia, Afrika, dan Amerika.  (Pdt MSM Panjaitan  MTh)

Kamis, 19 September 2019

SEKILAS MENGENAI PESTA GOTILON

SEKILAS MENGENAI "PESTA GOTILON" ( HARI RAYA MENUAI )
                
                Peta “Gotilon” (Panen) telah menjadi salah satu tradisi di gereja HKBP atau barangkali di banyak gereja-gereja lain, yang dilakukan sekali setahun. Sejak awal  para missionar yang melakukan penginjilan di Tanah Batak dan menghasilkan  sebuah gereja yang kemudian diberi nama “ Huria Kristen Batak Protestan” (HKBP), telah menggiatkan pesta gotilon itu sebagai salah satu pesta gerejawi tahunan, yang dilakukan setelah selesai panen. Makna yang ditanamkan kepada orang-orang Kristen atau warga jemaat itu ialah untuk mensyukuri kepada Allah akan hasil panen yang diperoleh karena itu adalah bagian dari berkat Allah. Dalam pesta gotilon itu semua warga jemaat digiatkan untuk membahwa hasil dari tanamannya  terutama hasil dari sawah berupa beras atau padi,  dan juga ada yang membawa hasil dari bebun berupa buah-buahan sebagai persembahan kepada Tuhan. Biasanya itu dibawa oleh kaum ibu dalam “tandok” ( sumpit tradisonal Batak berbentuk lonjong yang dianyam dari pandan, yang khusus dipergunakan sebagai tempat beras atau padi bawaan dalam pesta adat atau budaya batak) Juga ada yang membawa berupa “lampet “ atau “sagusagu” ( berupa kueh tradisional batak yang terbuat dari tepung beras). Ini dimakan bersama oleh seluruh warga jemaat yang hadir setelah kebaktian minggu. Sedangkan beras atau padi itu disimpan dalam lumbung gereja atau diuangkan untuk keperluas kas gereja. Sedangkan kaum bapak dan “naposobulung” (muda-mudi) membawa persembahannya berupa uang yang dimasukkan dalam amplop.  Semua persembahan yang diberikan oleh warga jemaat itu  diperuntukkan untuk membantu dana keperluan gereja.  Tradisi ini terus dipertahankan oleh HKBP walaupun sudah berada di daerah perserakan, termaksuk di daerah perkotaan di mana warga jemaatnya tidak lagi hidup dari hasil pertanian. Walaupun tidak lagi hidup dari hasil pertanian, warga jemaat tetap dianggap mengalami “panen” yakni melalui berbagai lapangan pekerjaan yang ditekuni di berbagai tempat kedianan mereka. Dari hasil pekerjaan mereka itulah yang dibawa sebagai persembahan “gotilon” mereka melalui gereja.
  Dasar dari pelaksanaan “Pesta Goliton” itu adalah dari tradisi keagaamaan umat Israel yang diberitakan dalam Kitab Perjanjian Lama, yang kemudian dipadu dengan budaya Batak, yang juga mengenal ritual yang hampir sama, berupa pesta tahunan masyrakat Batak sehabis panen. Dalam umat Israel Pesta “Gotilon”  (Hari Raya menuai hasil) adalah suatu bentuk perayaan mengucapkan syukur dan terimakasih kepada Tuhan yang memberi berkat, anugerah berupa  hasil pertanian mereka. . Dalam Kitab Perjanjian Lama  kita melihat bahwa pada awalnya tradisi ini diaturkan kepada umat Israel yang mempunyai latar-belakang hidup sebagai petani, di mana pada  hari raya yang ditentukan mereka datang menghadap Tuhan untuk mempersembahkan hasil yang mereka kumpulkan dari hasil pertanian mereka. ( Kel. 23: 14-17). Ini adalah suatu kewajiban yang harus mereka lakukan, yang hasilnya dipergunakan untuk biaya keperluan pelayanan imam-imam dan kaum Lewi di Baith Allah. Tradisi ini kemudian juga diambil alih oleh orang-orang Kristen, termasuk gereja kita HKBP, walupun tidak semua lagi anggota jemaat itu hidup sebagai petani. Banyak anggota jemaat sudah hidup di perkotaan dengan berbagai bentuk pekerjaan dan penghasilan yang diberikan oleh Tuhan, seperti pegawai, pedagang, karyawan, pengusaha, dan lain-lain. Tetapi prinsipnya adalah bahwa makna pesta gotilon itu adalah suatu perayaan pengucapan syukur akan hasil pekerjaan yang telah dikumpulkan, melalui berbagai lapangan pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan itu. Sehingga bagi umat kristiani sekarang ini makna pesta gotilon itu, adalah:
·         Memberi kesadaran bahwa begitu besar kasih karunia Tuhan yang memberi berkat kepada masing-masing orang, yang wajib disyukuri.
·         Memupuk  kesadaran saling membantu, saling tolong menolong, yang menerima banyak berkat menebar lebih banyak. (Gal. 6:2).
·         Memberi kesadaran  bahwa kelangsungan hidup gereja adalah tanggung-jawab bersama, sehingga dituntut peran masing-masing anggota jemaat sesuai dengan talenta atau berkat yang dirterima dari Tuhban, agar seluruh pelayanan dan program gereja itu bisa berjalan dengan baik.
Sebagaimana di aturkan bagi orang  Israel sebagai umat Tuhan, mereka menyampaikan persembahan syukur itu kepada Tuhan dengan bersukaria sambil membunyikan  Nafiri atau alat musik yang bisa membangkitkan sukacita, demikianlah pesta gotilon ini dilakukan oleh gereja dengan sukacita . Karena itu persembahan yang disampaikan juga harus disampaikan dengan sukacita dan sungguh-sungguh, tanpa menimbulkan rasa beban dan sungut-sungut, sebab seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan, Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. ( 2 Kor. 9: 7). Tidak diperkenankan membawa persembahan yang tidak sungguh-sungguh, karena persembahan yang tidak sungguh-sungguh baunya menjijikkan bagi Allah (Yes. 1: 13).  Karena itu untuk mengikuti perayaan-perayaan yang diaturkan oleh Tuhan, setiap orang harus mempersiapkan diri  (Ul. 14: 27-29).
                Perlu diingat bahwa mengikuti perayaan pengucapan syukur adalah merupakan keharusan bagi semua orang Kristen dengan perasaan senang. Setiap orang yang melakukan persiapan dengan sungguh-sungguh, akan diberkati oleh Tuhan di dalam segala pekerjaan dan usahanya. Karena itu perayaan ucapan syukur kepada Tuhan ini, kiranya dilakukan sebagai suatu kebiasaan hidup, sehingga membawa manfaat bagi yang melakukannya dan menumbuhkan kesadaran dalam dirinya  bahwa hidup ini semuanya adalah anugerah Tuhan. Umat Kristen baiklah juga mencamkan apa  yang dikatakan oleh Paulus ke jemaat Korintus: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Dan  orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. 2 Kor. 9: 6). (msm)
 ajiban yang harus mereka lakukan, yang hasilnya dipergunakan untuk biaya keperluan pelayanan imam-imam dan kaum Lewi di Baith Allah. Tradisi ini kemudian juga diambil alih oleh orang-orang Kristen, termasuk gereja kita HKBP, walupun tidak semua lagi anggota jemaat itu hidup sebagai petani. Banyak anggota jemaat sudah hidup di perkotaan dengan berbagai bentuk pekerjaan dan penghasilan yang diberikan oleh Tuhan, seperti pegawai, pedagang, karyawan, pengusaha, dan lain-lain. Tetapi prinsipnya adalah bahwa makna pesta gotilon itu adalah suatu perayaan pengucapan syukur akan hasil pekerjaan yang telah dikumpulkan, melalui berbagai lapangan pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan itu. Sehingga bagi umat kristiani sekarang ini makna pesta gotilon itu, adalah:
·         Memberi kesadaran bahwa begitu besar kasih karunia Tuhan yang memberi berkat kepada masing-masing orang, yang wajib disyukuri.
·         Memupuk  kesadaran saling membantu, saling tolong menolong, yang menerima banyak berkat menebar lebih banyak. (Gal. 6:2).
·         Memberi kesadaran  bahwa kelangsungan hidup gereja adalah tanggung-jawab bersama, sehingga dituntut peran masing-masing anggota jemaat sesuai dengan talenta atau berkat yang dirterima dari Tuhan, agar seluruh pelayanan dan program gereja itu bisa berjalan dengan baik.
Sebagaimana di aturkan bagi orang  Israel sebagai umat Tuhan, mereka menyampaikan persembahan syukur itu kepada Tuhan dengan bersukaria sambil membunyikan  Nafiri atau alat musik yang bisa membangkitkan sukacita, demikianlah pesta gotilon ini dilakukan oleh gereja dengan sukacita . Karena itu persembahan yang disampaikan juga harus disampaikan dengan sukacita dan sungguh-sungguh, tanpa menimbulkan rasa beban dan sungut-sungut, sebab seperti yang dikatakan oleh Firman Tuhan, Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. ( 2 Kor. 9: 7). Tidak diperkenankan membawa persembahan yang tidak sungguh-sungguh, karena persembahan yang tidak sungguh-sungguh baunya menjijikkan bagi Allah (Yes. 1: 13).  Karena itu untuk mengikuti perayaan-perayaan yang diaturkan oleh Tuhan, setiap orang harus mempersiapkan diri  (Ul. 14: 27-29).
                Perlu diingat bahwa mengikuti perayaan pengucapan syukur adalah merupakan keharusan bagi semua orang Kristen dengan perasaan senang. Setiap orang yang melakukan persiapan dengan sungguh-sungguh, akan diberkati oleh Tuhan di dalam segala pekerjaan dan usahanya. Karena itu perayaan ucapan syukur kepada Tuhan ini, kiranya dilakukan sebagai suatu kebiasaan hidup, sehingga membawa manfaat bagi yang melakukannya dan menumbuhkan kesadaran dalam dirinya  bahwa hidup ini semuanya adalah anugerah Tuhan. Umat Kristen baiklah juga mencamkan apa  yang dikatakan oleh Paulus ke jemaat Korintus: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Dan  orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga. 2 Kor. 9: 6). (msm)


Senin, 02 September 2019

DOA PERSEMBAHAN DI AGENDA KEBAKTIAN HKBP

Doa persembahan di Agenda Kebaktian HKBP Bahasa Indonesia

Kalau kita benar-benar memperhatikan Doa Persembahan (Tangiang Pelean) dalam Agenda HKBP bahasa Batak, ada yang tidak tepat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, sehingga maknanya menjadi berbeda sekali secara teologis. Hal ini sudah lama saya pergumulkan, dan sudah pernah mendapat pembahasan dalam Rapat Pendeta, sebagai rapat yang khusus dalam HKBP membicarakan masalah teologi, liturgi, tata disiplin dan tata gereja. Sudah ada juga usul pada waktu itu kepada Komisi Liturgi HKBP supaya terjemahan yang tidak tepat itu diperbaiki. Tetapi karena sampai sekarang belum ada diterbitkan revisi dan perbaikan Agenda yang memuat Tata Ibadah ( Liturgi) HKBP, sehingga usul seperti itu nampaknya belum tertampung. Satu kalimat dari Doa Persembahan itu yang bahasa Batak  berbeda makna dengan   Bahasa Indoensia, adalah  alinea kedua. Dalam bahasa Batak disebut “Hupasahat hami ma sian na nilehonMi tu hami, peleannami tu HO”. Ini berbeda maknanya dengan terjemahan bahasa Indonesianya yang mengatakan: “Sebahagian dari pada karunia itu, kami serahkan kembali sebagai persembahan kepada Tuhan”. Yang membuat berbeda adalah kata “sebahagian”. Secara teologis kita pahami bahwa , kita tidak mempersembahkan “sebahagian” dari karunia yang kita peroleh itu kepada Tuhan, tetapi keseluruhan. Jadi kalau dikatakan “sebahagian”, seolah-yang kita persembahkan hanya yang kita masukkan dalam kantong persembahan itu. Pada hal masih banyak persembahan yang lain yang kita sampaikan kepada Tuhan melalui “Huria” dalam satu minggu itu, seperti persembahan ucapan syukur, persembahan bulanan atau tahunan, persembahan ibadah-ibadah lain, dukungan untuk dana pembangunan atau-atau kegiatan-kegiatan khusus, dll. yang tentu ikut kita doakan dalam doa persembahan minggu tersebut. Pernah ada pimpinan gereja mengatakan bahwa doa persembahan kebaktian minggu tersebut, itulah juga saatnya mendoakan semua persembahan yang kita sampaikan kepada Tuhan, bukan hanya yang dipersembahkan melalui kantong persembahan tersebut. Lagi pula seperti nyanyian yang tertulis dalam Buku Ende HKBP no. 204: 2, yang dinyanyikan oleh jemaat sebagai respons terhadap doa persembahan itu, kata “sebahagian” dalam terjemahan bahasa Indonesia itu tidak sesuai. Nyanyian no. 204: 2  itu, dalam bahasa Batak  berbunyi: “Nasa na nilehonMi Tondi ro di pamatangku; hosa dohot gogongki,  ro di saluhut artangku. Hupasahat i tu Ho Na so unsatonku do”.. Ini mempunyai makna bahwa seluruh hidup dan harta kita, yang adalah karunia Tuhan, kita persembahakan kepada Tuhan. Dalam  terjemahan bahasa Indonseiapun, syair nyanyian itu juga mempunyai makna seperti itu: “Tuhan, karuniaMu, roh dan jiwaku semua. Nyawa juga hidupku, harta milikku semua. Kuserahkan padaMu, untuk selama-lamanya”.

Mungkin tidak banyak yang memperhatikan hal tersebut, dan mungkin itu hanya dianggap sepele saja,  yang tidak perlu dipersoalkan. Tetapi bagi saya hal tersebut sudah lama sangat mengganggu sekali. Bagi kita doa bukan hanya sekedar rumusan kata-kata saja. Kata-kata doa juga bisa membantu kita untuk memahami dan menghayati dengan benar  perlakuan kita kepada Allah. Karena itu supaya orang-orang percaya atau anggota jemaat tidak salah memahami makna dari persembahan, maka terjemahan dari Doa persembahan yang tersebut di atas perlu mendapat perhatian dari para pelayan yang memimpin tata ibadah HKBP pada  umumnya dan Komisi Liturgi HKBP pada khususnya. Tuhan memberkati kita semua. (Pdt  MSM Panjaitan, MTh – pendeta emeritus ).