Kamis, 04 November 2021

MEMAHAMI ARTI DAN MAKNA SAKRAMEN BAPTISAN

 

MEMAHAMI ARTI DAN MAKNA SAKRAMEN  BAPTISAN

 

      Biasanya dalam  ajaran gereja Protestan, Firman dan Sakramen adalah merupakan “means of grace” (alat-alat anugerah). Tetapi secara praktis, gereja Protestan memberi tekanan yang sangat berat akan arti Firman, karena Sakramen selalu ditafsirkan sebagai “Firman yang kelihatan”, Firman yang konkrit, yang dapat dijamah atau dimakan.

 Istilah sakramen, yang berasal dari kata Latin “sacramentum”, dipakai untuk menerjemahkan kata Yunani  " musthrion” ( mysterion), yang  artinya misteri atau rahasia.  Kata yang dipakai oleh gereja pada mulanya untuk menyebut perbuatan-perbuatan kudus gereja  yang dianggap sebagai sesuatu yang  bersifat rahasia. Augustinus, seorang bapak gereja mula-mula, mengatakan bahwa Sakramen adalah Firman yang kelihatan  dalam unsur duniawi  bagi kita yang masih di dunia ini.  Pemikiran inilah juga yang mendasari konsep Martin Luther, yang mengatakan bahwa Sakramen adalah tindakan suci Tuhan Allah di mana unsur-unsur yang kelihatan (visible), dipergunakan sebagai saluran anugerahnya yang tidak kelihatan  (invisible). Malah ada kecenderungan dalam aliran Protestan yang mengatakan bahwa  Sakramen adalah sebahagian dari  Firman Allah.

Bagi gereja-gereja Protestan, hanya ada dua sakramen yaitu: Baptisan dan Perjamuan Kudus. Sedangkan gereja Roma Katolik  mengajarkan adanya tujuh sakramen yaitu:  1.  Baptisan;  2. Confirmation (Konfirmasi – peneguhan iman); 3.  Pengakuan dosa (Penance);  4. Missa (Ekaristi – Perjamuan Kudus);  5. Peminyakan terakhir (Final Unction) bagi orang sakit yang mau meninggal);  6.  Penahbisan Imam;  7. Nikah/  Pemberkatan Perkawinan

Bagi  bapak-bapak reformasi,  lima dari antara yang tujuh itu kurang berlandaskan Kitab Suci, sehingga tidak bisa dikategorikan sebagai sakramen.  Tetapi walaupun gereja-gereja pengikut reformasi sama-sama mengakui hanya ada dua sakramen, tetapi gereja-gereja tersebut juga mempunyai tafsiran yang berbeda-beda mengenai  makna dari sakramen itu. Misalnya bagi Zwingli, Baptisan dan Perjamuan Kudus hanya  simbol saja.

 

 

Pembaptisan sebagai Sakramen kelahiran baru

 

Sebenarnya hampir di semua agama ada upacara yang menyerupai baptisan, walaupun tidak semuanya dilakukan dalam bentuk air.Tujuannya ialah untuk memasukkan orang yang dibaptis itu menjadi anggota dari persekutuan agama itu, dan orang  itu telah dianggap memasuki kehidupan yang baru yaitu  hidup dari golongan orang yang membaptis itu.

Apabila Yohannes Pembaptis memberikan baptisan pengampunan dosa,  janganlah itu disamakan dengan pembaptisan Yesus Kristus. Inilah dasar kalangan Protestan  untuk tidak menerima  ajaran dari sekte lain, seperti: Pentakosta,  yang mendasarkan pemahamannya akan  baptisan itu seperti pembaptisan yang dilakukan oleh Yohannes Pembaptis. Pembaptisan Yohannes tidak sama dengan pembaptisan  Yesus Kristus, karena pembaptisan yang dilakukan oleh Yohannes bukanlah merupakan alat anugerah. Baptisan yang diperintahkan oleh Yesus untuk dilakukan murid-muridnya dalam Mat. 28: 18-20 adalah alat anugerah, sedangkan baptisan Yohannes hanya  merupakan tanda pertobatan.

Dalam Mat. 28: 18-20,  Kristus memberikan mandat kepada murid-muridnya,  yang disebut dengan  “the Great Commission” (Amanat Agung).  Tetapi walaupun mandat itu diberikan kepada murid-muridnya, itu bukan berarti bahwa baptisan  yang dijalankan  itu  merupakan pekerjaan murid-murid  yang disuruh tersebut. Pada hakekatnya baptisan itu adalah pekerjaan Roh Kudus, bukan pekerjaan manusia. Pekerjaan membaptiskan juga dalam rangka menjadikan  yang dibaptis itu menjadi murid Yesus, yang setelah itu mengajar mereka  untuk melakukan apa yang telah diperintahkan (diajarkan) oleh Yesus kepada murid-muridnya itu. Jadi memang dalam amanat itu  disebut pertama adalah baptiskan, baru ajarkan.  Berdasarkan inilah boleh dibenarkan perbuatan-perbuatan  gereja-gereja yang lebih dahulu membaptiskan anak sebelum diajarkan kepada mereka. Tetapi ini memang bukan merupakan ketentuan yang absolut bahwa lebih dahulu membaptiskan baru mengajarkan. Di daerah-daerah Zending di mana lebih dahulu dilakukan pendekatan  orang-orang yang sudah dewasa, tentu saja  pengajaran kekristenanlah yang lebih dahulu diberikan kepada mereka supaya dengan demikian mereka dapat  memahaminya dan menumbuhkan iman kepercayaan bagi mereka.

Tetapi hal yang lebih penting yang dapat dilihat dari Amanat Agung Tuhan Yesus di Mat. 28: 18-20 itu ialah  bahwa baptisan itu diadakan dalam perspektif  “kehadiran Yesus Kristus”, karena disana Yesus Kristus mengatakan: “ketahuilah, Aku menyertai kamu  sampai  kepada akhir zaman”. Kalau begitu, para rasul atau para pendeta di kemudian, hanyalah merupakan alat, yang memberikan “kehadiran Yesus Kristus itu”.

 

Pembaptisan itu disebut “menyelamatkan”

 

                Dalam I Petrus 3: 20-21 disebutkan bahwa orang yang percaya diselamatkan dengan air, yang menghunjuk kepada keselamatan Nuh dan keluarganya. Sebagaimana Nuh diselamatkan dengan air, demikian juga orang-orang Kristen diselamatkan melalui baptisan. Baptisan itu dimaksudkan bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani,  melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah oleh kebangkitan Yesus Kristus. Jadi di sini air baptisan itu diartikan sebagai kebangkitan  Yesus Kristus.

            Paulus  dalam Titus 3: 5-7, mengatakan bahwa Kristus menyelamatkan kita dengan pemandian kelahiran kembali dan  pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Tidak lain tidak bukan maksudnya adalah pembaptisan. Pada hari Pentakosta, para rasul  yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus itu menganjurkan : “ Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi  dirimu   dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”  ( Kis. 2: 38). Terang sekali nampak di sini bahwa pengampunan dosa itulah hakekat dari pembaptisan. Sama seperti yang disebut dalam Titus  3: 5-7 itu, pembenaran dari dosalah yang menjadi inti dari baptisan. Roh Allah selalu berdiam di dalam hati orang-orang yang telah diampuni dosanya untuk selalu menciptakan hidup yang baru.

 

Siapakah yang akan dibaptis?

 

Tentu semua orang yang mau dan bersedia untuk dibaptis. Dalam Kis. 2: 39, dikatakan:  “Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak orang yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.” Kamu di sini  meliputi tua dan muda,  Yahudi dan non- Yahudi, karena seperti dikatakan dalam  I Tim. 2: 4, Tuhan Allah menghendaki agar semua manusia selamat.  Tetapi seseorang yang diselamatkan itu harus lebih dahulu lahir dari air dan roh  ( Yoh. 3: 5). Lahir dari air dan roh berarti baptisan. Hal itu merupakan keharusan  karena kita semuanya adalah anak kutuk atau orang-orang yang harus dimurkai. ( band.  Epes. 2: 3-5)  

 

Siapakah yang sewajarnya menerima baptisan?

 

Tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi lebih dahulu sebelum baptisan diterima. Karena sekiranya syarat-syarat untuk itu tidak ada, pada hal disebut bahwa baptisan itu mempunyai  effek, maka baptisan itu  akan bisa dianggap sebagai kekuatan yang bersifat magis belaka, dan seolah-olah air dan perbuatan pendeta yang membaptisan itu saja yang menimbulkan effek itu.  Air dan baptisan itu bukan sesuatu kekuatan magis.  Dalam kitab Suci dikatakan bahwa iman kepada Yesus Kristuslah  yang menjadi syarat utama  dalam proses keselamatan.  Baptisan yang tidak disertai oleh iman kepada Yesus Kristus, tidak berarti apa-apa. Demikian juga penerimaan Injil tanpa baptisan juga tidak membuahkan apa-apa. Baptisan yang mempunyai arti ialah baptisan yang disertai oleh Firman Tuhan dan yang diterima dengan iman. Demikian pentingnya iman, sehingga bisa   dilihat bahwa  iman  dari kepala penjara di Filipi dapat merangkul (Batak: manghangkung) keluarganya, oleh sebab mana semua anggota keluarganya dapat dibaptiskan. (Kis. 16: 31- 34). Di sini  kita melihat ruang lingkup dari iman yang mencakup  bahkan manusia yang secara azasi  kita tanggung-jawabi.

 

Tentang orang-orang percaya yang tidak dibaptiskan

 

Tentu timbul pertanyaan, bagaimana orang-orang percaya terhadap Kristus tetapi meninggal sebelum  dibaptiskan ? Bagaimana tentang anak-anak Kristen yang meninggal sebelum dibaptiskan? Pertanyaan ini timbul  berhubung dengan Yoh. 3: 5 yang mengatakan:  Seseorang tidak mungkin masuk ke dalam Kerajaan  Allah jika tidak dilahirkan dalam air dan roh. Terhadap persoalan ini ada tiga jawaban, yaitu:

 

(1)    Oleh karena tidak ada manusia yang dapat menentukan saat meninggalnya, maka haruslah dilihat  I Tim.2: 4, yang mengatakan bahwa Allah menghendaki agar semua manusia diselamatkan. Tetapi ayat ini jangan ditafsirkan sebagai pembenaran akan orang-orang yang sengaja menolak Kristus. Orang yang menganut faham universalisme keselamatan tidak boleh mengambil ayat ini sebagai alat teologisnya.  Tetapi ayat tadi sangatlah  baik untuk dikenakan kepada orang-orang yang percaya tetapi meninggal sebelum dibaptiskan. Karena bagaimana pun juga dalam hidupnya orang itu  telah diisi oleh iman,  ketika mana maut yang tidak bisa dikontrol oleh manusia itu  mengakhiri hidupnya.

(2)   Khusus mengenai anak-anak.  Ingatlah Mat. 18: 14 yang mengatakan bahwa  Allah Bapa  menghendaki agar salah seorang anak yang kecil ini tidak ada yang binasa. Baik dalam konteksnya  maupun di luar konteksnya, ayat ini dapat dipegang sebagai  hiburan dalam memikirkan kunjungan maut terhadap salah seorang anak Kristen yang belum  dibaptiskan. Adalah kekejaman teologis untuk mengatakan bahwa anak yang demikian yang mati sebelum dibaptsikan tidak masuk kerajaan Allah.

(3)   Tuhan Allah dalam kemahakuasaannya tentu dapat melahirkan kembali seseorang dalam cara yang tidak dapat dimengerti. Bahwa seseorang harus  dilahirkan kembali agar dia memasuki Kerajaan Allah memang merupakan ketentuan. Dan sepanjang yang dinyatakan kepada kita memang baptisanlah  cara melahirkan kembali itu. Tetapi Allah lebih besar dari pada pernyataannya yang diberikan kepada kita. Tentu ada proses lain dalam melahirkan kembali seseorang yang meningal sebelum dibaptisklan, di luar pernyataan itu sendiri. Pernyataan Allah yang diberikan  untuk kita mengerti dan untuk kita patuhi tidak pernah menjadi sumber  frustrasi dalam hal menghadapi persitiwa-persitiwa sulit.  Kita harus sanggup membuka diri kepada adanya cara-cara Allah bekerja di luar apa yang dinyatakan kepada kita.

 

Mengenai baptisan anak-anak (Infant baptism)

 

Di dalam masyarakat Israel, sunatlah yang merupakan upacara keagamaan memasukkan  seorang anak yang baru lahir ke dalam keluarga keagamaan mereka. Penyunatan itu dilakukan pada hari ke 8 sesudah lahir, yang tentu maksudnya selekas mungkin.  Sebagaimana dalam PL penyunatan adalah upacara penerimaan  seorang anak masuk menjadi anggota keluarga  agama Yahudi, demikianlah  baptisan dianggap sah sebagai upacara penerimaan masuknya anak ke dalam kekeluargaan Perjanjian Baru. Inilah yang diandaikan oleh Kolose 2: 11-12. Dan biasanya keluarga Kristen yang mempunyai latar-belakang Kristen tidak pernah keberatan  membaptiskan anak-anaknya. Dan demikian juga  orang-orang Kristen yang mempunyai latar-belakang agama lain tidak keberatan membaptiskan anak-anaknya. Artinya seluruh agama yang ada di dunia ini  mempunyai persetujuan akan upacara keagamaan  (religious rite) tentang penerimaan anak dalam persekutuan agama itu. Tetapi agama Kristen tidak mempunyai konsiderasi-konsiderasi umum. Memang ada dasar khusus agama Kristen untuk ini misalnya: Yesus sendiri mengambil anak-anak dan memberkatinya. Lalu kita lihat dalam Mat. 28: 18, di mana disebutkan “bangsa”. Tidak ada bangsa yang tidak ada anak-anak.  Artinya  bangsa yang dimaksud juga meliputi anak-anak.  Dalam Kis. 2: 39, dikatakan: Kepadamu dan kepada anak-anakmu janji itu akan diberikan. Artinya dalam keluarga Allah, anak-anak tidak pernah  di exclude (ditiadakan). Dalam dua abad permulaan Kristen, tidak ada yang keberatan tentang baptisan ana-anak. Baru bapak gereja Tertulianus (160 –220) yang pertama sekali mengajukan pertanyaan tentang baptisan anak-anak, walaupun maksudnya bukan menghapuskan. Dan seterusnya sampai reformasi Luther dan Calvin tidak ada yang keberatan mengenai baptisan anak-anak. Tetapi pada masa reformasi itu  muncul kritik dari suatu golongan Kristen yang disebut Anabaptis yang mengkritik baptisan anak-anak, lalu menerapkan baptisan terhadap orang dewasa.    

Yang paling menentang baptisan anak-anak sesudah reformasi  ialah golongan yang mengikuti faham “Synergisme”,  yaitu suatu faham yang mengatakan manusia bekersama dengan Allah dalam keselamatannya. Keselamatan manusia bukan hanya anugerah Allah melulu, tetapi dalam iman itu manusia bekersama dengan Allah. Jadi menurut golongan ini anak-anak tidak disetujui untuk dibaptiskan, karena anak-anak dianggap tidak mungkin beriman, tidak mungkin berbuat baik, tidak mungkin dapat bekerja sama dengan Allah. Tetapi kalau kita menerima keselamatan adalah melulu pekerjaan Allah, maka kita dapat menerima baptisan anak-anak.  Kita dapat mengatakan dalam soal iman anak-anak bisa melebihi orang-orang dewasa. Dalam Luk.18: 17, Tuhan Yesus mengatakan : “Sesungguhnya  barangsiapa tidak menyambut Kerejaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”. Istilah yang dipakai untuk anak kecil dalam Luk. 18: 15-17, bukan hanya “paidion” (paidion), tetapi juga “brejh” (brephe).  Dalam bahasa Yunani “brejh” bahkan meliputi anak yang masih dalam kandungan. Dalam teks ini  Kerajaan Allah meliputi “brejh  juga. Anak-anak tidak usah harus menjadi dewasa dulu baru memasuki Kerajaan Allah, karena orang-orang dewasa pun harus menerima Kerejaan Allah seperti anak-anak. Dan dalam Mat. 18: 3 , lebih positif lagi dikatakan, di mana Yesus mengatakan:  “ Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

Memang semuanya problem ini adalah berkisar  di sekitar arti dari iman. Pihak yang tidak menerima baptisan anak-anak, alasannya selalu bahwa anak-anak belum mempunyai iman. Tetapi kita meragukan pikiran yang mengatakan bahwa seorang anak kecil belum mempunyai iman, karena dalam Mat. 18: 6, Yesus mengatakan bahwa anak kecil juga sudah percaya kepada Yesus. Yang menjadi persoalan adalah apakah  hakekat dari iman. Adalah kurang hati-hati apabila ada ahli-ahli teologi mengertikan  iman sebagai pengetahuan, atau keyakinan  (batak: pos ni roha)  di dalam arti disadari.  Pemahaman yang demikian telah membatasi  pengetahuan dan keyakinan dalam batas kesadaran. Tetapi kita kurang menyetujui pendapat yang demikian, karena kalau demikian halnya, bagaimana  nasib orang-orang Kristen yang menjadi  gila atau hilang kesadarannya, apakah mereka sudah di luar Kerajaan Allah. Memang kita akui bahwa keyakinan dan pengetahuan yang disadari adalah penting, tetapi itu bukan merupakan hakekat dari iman. Secara negatif bahwa hakekat dari “ketidak percayaan kepada Allah adalah menolak Allah”. (Kis. 7: 5 :  menghalangi Roh Kudus; Ibrani 3: 8 – mengeraskan hati.  Dalam diri orang-orang percaya, Roh Kudus merombak penolakan kemanusiaan dari orang-orang percaya itu, tanpa merusak kepribadian orang yang bersangkutan. Dan inilah yang dilakukan oleh Roh Kudus dalam pemberitaan Firman dan dalam baptisan. Sifat menolak Allah dari manusia itu dirombak oleh Roh Kudus, agar orang itu dimungkinkan menerima anugerah Allah. Jadi secara positif hakekat iman itu ialah : “Created receptiveness of the grace of God”  (sifat menerima yang diciptakan Roh Kudus akan anuegrah Allah; bd.  Epes. 2: 8 – iman bukan hasil usaha manusia  tetapi adalah pemberian Allah).  Dengan demikian dapat dikatakan bahwa iman itulah sifat dari hidup baru yang diterima di dalam kelahiran baru itu. Dalam Titus 3: 5, dikatakan bahwa  penyucian kelahiran baru itu dan juga pembaharuan dari hidup itu adalah melulu pekerjaan  Roh Kudus. Jadi kalau demikian halnya maka anak-anak juga mesti dibaptiskan, agar dia juga dimungkinkan  menjadi orang yang sanggup menerima Roh Allah.

Sejajar dengan kenyataan ini ialah bahwa pemberontakan  terhadap Allah adalah karakteristik dari orang-orang dewasa yang di luar Kerajaan Allah. Tetapi  sifat seperti itu tidak mungkin menjadi karakteristik dari anak-anak. Memang sewaktu  anugerah Tuhan menyentuh anak-anak, di dalam anak-anak itu  juga anugerah menjumpai resistensi  (perlawanan) yang tidak disadari, oleh karena anak-anak juga lahir dalam  sarx” (daging) .( Di dalam Yoh. 3: 6, dikatakan:  “Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh”).   Tetapi resistensi dari anak-anak bukanlah resistensi yang disadari dan bukan resistesnsi yang dikehendakinya. Dalam hal ini anugerah Tuhan yang dimeteraikan oleh Roh Kudus dalam iman dengan sendirinya mendobrak resistensi yang tidak disadari oleh anak itu.

Pada hakekatnya iman kepada Tuhan adalah keterbukaan yang mengakibatkan kesanggupan untuk menerima angerah Allah. Ini penting dikatakan dengan berhati-hati, sedangkan bagi orang-orang dewasa iman itu pada hakekatnya bukanlah tindakan yang disadari. Kesadaran bukan dalam semua waktu dan dalam segala keadaan. Seandainya  kesadaran itulah yang menjadi ukuran dari iman, maka boleh sewaktu dalam tidur atau pingsan, kita tidak beriman. Iman itu ada di dalam hidup baru yang bukan merupakan buah dari usaha manusia. Dan dalam hidup baru itu kita bisa bertindak secara sadar,  tidur, pingsan, tanpa mengurangi  pengetahuan yang diberikan oleh Tuhan Allah.  Memang aspek hidup yang tergolong  di dalam iman yang dewasa, umpamanya pengetahuan teologi, pengertian Kristen, keyakinan Kristen, sukacita, kesabaran, memang sangat penting sekali artinya dalam pertumbuhan kerohanian seseorang. Tetapi itu bukanlah hakekat dari iman, melainkan buah dari iman. (Lihat. Gal. 5: 22).  Dengan demikian baptisan anak  mendapat tempat yang terpenting dalam hidup gereja (Pdt MSM Panjaitan).

 

Selasa, 02 November 2021

BAIT ALLAH BAGI UMAT KRISTEN

 

BAIT ALLAH BAGI UMAT KRISTEN

 

Bagi Umat Kristen Bait Allah berarti Rumah Allah. Kadang-kadang Bait Allah juga disebut Bait Suci karena Allah yang berdiam di dalamnya adalah suci atau kudus. Belakangan ini Bait Allah sudah lebih sering disebut “gereja”, walaupun sebutan itu sudah bergeser dari pengertian yang sebenarnya. Pengertian dari kata “gereja”  pada dasarnya bukan menunjuk kepada bangunannya. Kata itu yang berasal dari bahasa Portugis  “igreja” dan terjemahan dari bahasa Yunani “ekklesia” adalah berarti persekutuan orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang dipanggil keluar dari dunia ini untuk dipersekutukan dalam satu persekutuan oleh Roh Kudus . Dalam kitab Perjanjian Baru, kata “ekklesia” kadang-kadang juga diterjemahkan dengan “jemaat” dalam bahasa Indonesia  yang artinya juga merupakan persekutuan orang orang percaya dalam satu lokasi atau tempat tertentu. Dalam bahasa Batak disebut “huria”.  Tetapi arti kata”jemaat” pun belakangan ini sudah sering  bergeser,  bukan lagi menunjuk kepada persekutuan atau umat tetapi sudah sering disebut menunjuk kepada perorangan anggota jemaat itu sendiri. Tetapi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata jemaat sebenarnya adalah  “sehimpunan umat”, jadi bukan menunjuk kepada perorangan. Kalau menghunjuk kepada perorangan, harus menyebutnya dengan “anggota jemaat”. Jadi jemaat adalah persekutuan warga gereja dalam suatu lingkungan atau wilayah, atau kampung tertentu. Misalnya dalam naungan HKBP,  Jemaat (Huria )  Pearaja, Jemaat  Tarutung, Jemaat Simorangkir dll.  Jadi Jemaat itu sama artinya dengan “huria marsadasada” atau jemaat setempat yang dalam bahasa asing disebut “congregatio” atau “congregation”. Jadi pengertian kata “jemaat” yang sudah bergeser itu,  perlu diluruskan.            

Pada mulanya umat Kristen tidak mempunyai Bait Suci sebagai tempat peribadahan dan persekutuan mereka. Mereka hanya bersekutu di rumah-rumah sesama orang Kristen itu untuk melakukan persekutuan ibadah dan doa kepada Allah. Setiap hari Minggu mereka bersekutu untuk merayakan  kebangkitan Yesus dan Turunnya Roh Kudus. Seterusmya hari Minggu itulah yang mereka ikuti sebagai waktu persekutuan mereka untuk beribadah dan berdoa kepada Allah. Mereka tidak lagi mengikuti waktu peribadahan Yahudi pada hari Sabat. Selain di rumah-rumah, mereka juga sering melakukan persekutuan di “katakombe-katakombe”, yakni lorong-lorong bawah tanah kuburan-kuburan, terutama di kota Roma. Dengan cara itu mereka juga mau menyembunikan diri dari penghambatan atau persekusi yang dilakukan oleh pemerintah Romawi terhadap orang-orang Kristen tersebut.

Tetapi walaupun tidak mempunyai bait khusus untuk tempat beribadah, mereka tidak berkecil hati dan tidak mengurangi semangat beribadah mereka kepada Allah. Mereka telah menghayati apa yang diajarkan oleh rasul Paulus, bahwa diri setiap orang yang percaya kepada Yesus adalah Bait Allah, seperti tertulis dalam 1 Korint 3: 16-17: “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu”.

Jadi yang sangat perlu dihayati oleh orang-orang Kristen adalah  bahwa di manapun mereka menyembah Allah, mereka patut menyembah-Nya di dalam roh dan kebenaran, karena Allah itu adalah Roh. Itulah yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya. ( Yoh. 4: 24)

            Tetapi setelah adanya kebebasan bagi umat Kristen untuk menjalankanm agamanya, terlebih setelah adanya raja dari suatu negara atau kerajaan  yang menjadi Kristen, maka dibangunlah Bait Suci sebagai tempat orang-orang Kristen itu untuk bersekutu dan beribadah kepada Allah. Bait Suci orang Kristen yang pertama dijumpai di kerajaan Edessa, Mesopotamia Utara, yang dibangun oleh rajanya, yakni Abgar VIII, segera setelah raja itu  dibabtis menjadi Kristen, tahun 180 M. Dialah yang tercatat sebagai raja pertama di dunia ini yang menjadi Kristen, sekaligus menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi di dalam kerajaannya.

            Di kekaisaran Romawi,  kaisar yang pertama mengakui agama Kristen sebagai agama resmi di kekaisaran itu ialah Kaisar Konstantinus Agung, yakni tahun 313 M. Sejak itu penghambatan terhadap agama Kristen dihentikan dan agama Kristen mendapat perlindungan dari negara. Lalu setelah  itu berdirilah banyak bait suci Kristen di lingkungan kekaisaran itu. Bahkan ibu dari kaisar itu  sendiri yang bernama Helena, membangun Gereja Makam Suci Yesus Kristus di Yerusalem ketika dia berziarah ke kota itu. Dia juga membangun Gereja Nativity, tahun 329, di kandang domba tempat kelahiran Yesus.

                Setelah agama Kristen tersebar ke seluruh belahan Eropa, di mana pada abad Pertengahan, seluruh bangsa di Eropa telah menjadi Kristen, maka berdirilah di Eropa banyak “gereja” besar, yang disebut katedral. Katedral-katedral itulah yang yang menjadi simbol-simbol keagungan kekristenan, yang sangat dibanggakan oleh umat Kristen di Eropa pada waktu itu. Memang diakui bahwa kekristenan telah membawa kemajuan besar bagi bangsa-bangsa Eropa.  Di berbagai katedral itu berdirilah juga pusat-pusat biara sekaligus sebagai pusat-pusat pendidikan,  yang kemudian menjadi awal berdirinya universitas-universitas yang membawa kemajuan di Eropa di berbagai ilmu pengetahuan. Sekitar tahun 1100 M, telah berdiri banyak universitas di Eropa yang menjadi pusat pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan di Eropa.

            Tetapi di kemudian hari,  gereja-gereja besar yang ada di Eropa tidak begitu banyak lagi dipergunakan oleh orang-orang Kristen Eropa untuk menjadi tempat beribadah. Orang-orang Kristen Eropa tidak lagi mengutamakan persekutuan dan peribadahan di gereja. Mereka sudah lebih membangkitkan dan mengembangkan pelayanan-pelayanan yang bersifat sosial dan kemanusiaan.

            Sekitar abad ke 17- 18 M, terjadi kebangunan rohani di tengah-tengah umat Kristen di Eropa yang mendorong berdirinya banyak lembaga-lembaga zending yang mempersiapkan dan memberangkatkan pekabar-pekabar Injil ke berbagai bangsa di Asia,  Afrika dan Amerika Selatan, yakni daerah-daerah yang diketahui belum terjangkau oleh berita Injil itu. Sebelum itu, negara-negara di Eropa  mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, Jerman, Belanda, dll, telah mempunyai daerah-daerah jajahan di wilayah-wilayah dunia tersebut. Lembaga-lembaga Zending Eropa yang sudah berdiri itu memanfaatkan  situasi tersebut, yakni dengan ikut bergandengan tangan dengan negara-negara yang sudah mempunyai daerah-daerah jajahan itu,  untuk memberitakan Injil di daerah-daerah jajahan mereka. Sehingga ketika Indonesia dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda dan Inggris maka masuklah beberapa lembaga zending dari Eropa ke Indonesia seperti “Baptist Missionary Society “ dari Inggris, “Nederlandsch Zendeling genootschap” (NZG) dari  Belanda, dan  “Rheinische Missionsgesellscgaft” ( RMG)  dari Jerman, yang banyak melahirkan gereja-gereja besar di Indonesia. Di beberapa daerah yang didiami oleh suku-suku yang masih menganut kepercayaan suku atau animisme, kekristenan itu cepat berkembang, yang dengan demikian berdirilah gereja-gereja yang berlatar-belakang kesukuan.  Gedung-gedung gereja mereka juga dibangun dengan cepat sebagai tempat persekutuan dan peribadahan mereka, seperti yang terjadi di Tanah Batak, di mana sebuah gereja besar yang bernama “ Huria Kristen Batak Protestan” ( HKBP), hasil penginjilan lembaga zending RMG dari Jerman   berdiri. Gedung-gedung gereja besar yang mengikuti arsitektur gereja-gereja di Eropa pun  segera dibangun sebagai tempat persekutuan dan peribadahan mereka.  Sejalan dengan kemajuan yang diakibatkan oleh kekristenan itu sendiri, maka orang-orang Kristen Batak  anggota jemaat HKBP, banyak yang berserak ke luar daerah Tanah Batak, terutama ke kota-kota besar yang ada di Indonesia, untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Di tempat-tempat mereka yang baru, terutama di kota-kota, mereka terus mendirikan gedung-gedung gereja yang besar dan megah . Gedung-gedung gereja itulah yang dijadikan sebagai pusat-pusat pelayanan kepada anggota jemaat. Selain dari kebaktian-kebaktian minggu, maka terbentuk juga pelayanan-pelayanan anggota jemaat yang bersifat kategorial, mulai dari anak Sekolah Minggu, Remaja, Naposoblung ( kaum pemuda), kaum Bapak, kaum Ibu, dan kaum Lanjut Usia. Mereka semua dilayani sesuai dengan kebutuhan spritual mereka. Karena itu setiap Jemaat setempat ( Huria marsadasada) kelihatannya berlomba untuk membangun gedung-gedung gereja yaang besar dan megah, sesuai dengan berbagai  kebutuhan pelayanan tersebut. Pelayanan kepada anggota jemaat menjadi terpusat di dalam gedung gereja itu sendiri. Potensi setiap jemaat setempat seolah-olah dicurahkan kepada bangunan fisik gereja itu sendiri, melebihi kepada pelayanan yang lain yang membina kehidupan spritual anggota jemaat itu sendiri.  Sering terjadi dana yang disediakan jemaat setempat kurang kepada pelayanan spritual anggota jemaat itu sendiri, terlebih kepada pembinaan anak-anak sekolahminggu, remaja dan “naposobulung” (kaum pemuda) sebagai generasi yang melanjutkan jemaat itu sendiri, demi tersedianya dana untuk pembanguan secara fisik. Banyak jemaat setempat bersama dengan majelisnya ( parhalado ni huria) merasa puas dan bangga kalau sudah  berhasil membangun gedung gereja yang besar dan megah, seolah-olah itu menjadi prestasi kerja mereka. Mungkin di suatu waktu Allah seolah-olah terkurung dalam gedung gereja itu, dimana  Dia dianggap tidak perlu tahu apa yang terjadi di luar gedung gereja itu dalam kehidupan anggota jemaat. Di dalam perasaan anggota jemaat itu pun seolah-olah Allah tidak perlu tahu dan mencampuri apa yang mereka lakukan di luar gedung gereja itu sendiri, seperti yang pernah terjadi dalam kehidupan umat Israel. Umat Israel pernah lebih mengkultuskan Baith Allah di Yerusalem dari pada melaksanakan hukum-hukum Alla itu dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat. Mereka tetap datang menyembah Allah di Baith Allah, tetapi di tengah-tengah masyarakat banyak terjadi kejahatan, ketidak adilan sosial, dan penindasan kepada dolongan masyarakat yang lemh. Inilah bahaya besar apabila hal sperti itu terjadi  bagi hidup kekristenan anggota jemaat itu. Orang-orang Kristen itu bisa saja tidak merasa takut lagi melakukan berbagai perbuatan atau tindak kejahatan yang melanggar hukum kekristenan, karena menganggap Allah tidak perlu mencampuri semua itu, karena mereka menganggap yang perlu dilakukan cukuplah rajin datang beribadah ke gereja, mengikuti ritus-ritus ibadah  gereja secara seremonial dan ritual, memberikan persembahan ke gereja seperti diaturkan oleh gereja. Dengan melakukan itu semua, mereka menganggap sudah cukup untuk menyenangkan hati Allah.

Tetapi kita harapkan pemahaman hidup kekristenan anggota jemaat  janganlah sampai kepada tingkat pemahaman  seperti itu, karena Allah adalah Roh, yang ada di mana-mana, yang mengetahui seluk-beluk kehidupan dan perlakuan semua manusia yang diciptakan-Nya. Kepatuhan kepada Allah tidak cukup dilakukan hanya dengan cara mematuhi ritus-ritus dan aturan-aturan yang diperbuat oleh gereja.  Dalam semua gerak kehidupannya, di rumah, di tempat kerja, dalam kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, orang Kristen harus menunjukkan kepatuhan kepada Allah. Kita perlu mengingat dan merenungkan apa yang pernah terjadi dalam kehidupan umat Israel, dan Yahudi yang  lebih mengkultuskan dan memusatkan kehidupan penyembahan mereka kepada Allah hanya di Bait Allah itu, dan di luar Bait Allah mereka mengabaikan Allah, maka sampai beberapa kali Bait Allah di Jerusalaem itu dibiarkan oleh Allah diruntuhkan oleh bangsa lain, karena umat itu mengkultuskan dan menyalah gunakan Bait Allah itu sendiri. Terakhir sekali dimusnahkan oleh tentera Romawi tahun 70 M, yang membuat umat Yahudi terpencar ke seluruh penjuru dunia, sehingga sejak itu sampai sekarang tidak ada lagi Bait Allah umat Yahudi. Bisa saja juga gereja umat Kristen suatu waktu  dibiarkan oleh Allah dihancurkan oleh masyarakat lain atau tidak diizinkan oleh Allah berdiri kalau ternyata gedung gereja sebagai Bait Allah disalah gunakan oleh umat Kristen itu, atau jemaat itu tidak mempunyai kepedulian  kepada hehidupan masyarakat lingkungan.

(Pdt.Mangontang SM. Panjaitan,MTh,   pendeta pensiun)

 

MENGAPA SAMPAI SEKARANG UMAT YAHUDI TIDAK MEMPUNYAI BAIT ALLAH?

MENGAPA  SAMPAI SEKARANG UMAT YAHUDI TIDAK MEMPUNYAI BAIT  ALLAH?

 

Sering orang bertanya termasuk umat Kristen, mengapa sampai sekarang Umat Yahudi tidak mempunyai Baith Allah lagi di Yerusalem? Hal itu bisa kita pahami jika kita menelusuri perjalanan sejarah Baith Suci itu sendiri  dari awalnya sampai zaman Yesus.

Setelah umat Israel menjadi satu kerajaan di Tanah Kanaan yang dipimpin oleh seorang raja, mereka juga telah mempunyai Bait Allah yakni tempat mereka untuk menyembah Allah Jahwe melalui kurban-kurban persembahan mereka. Bait Allah sebagai bangunan permanen pertama sekali  dibangunan oleh Raja Salomo , yakni raja Israel yang ketiga, di kota Yerusalem, yang telah dijadikan David sebagai pusat kerajaan Israel. Sebelumnya ayahnyalah, yakni Raja David, yang berencana untuk membangun Bait Allah bagi umat Israel ( 2 Sam. 7: 1-3), tetapi Allah tidak mengizinkannya, walaupun bahan keperluan untuk itu sudah disediakan. Allah mengatakan bahw Daud tidak layak untuk membangun rumah untuk Dia karena tangannya telah banyak berlumuran dengan darah ( 1 Tawarikh 22: 6-8).  Anaknya sendirilah, yakni Salomo yang diizinkan Allah untuk membangunan Bait Allah itu (1 Raja 6{ 1-28; 1 Raja 8: 18-20) . Ini menunjukkan tidak semua orang bisa membangun Bait Allah, walaupun kemauan dan kemampuan untuk itu ada padanya.

Umat Israel sangat berbesar hati dengan adanya Bait Allah yang dibangun Raja Salomo itu, karena Rumah Allah yang Suci itu, dipercayai oleh mereka sebagai tempat kediaman Allah di tengah-tengah mereka. Selama Bait Allah itu ada, mereka percaya Tuhan Allah tidak akan meninggalkan mereka. Bagi mereka Bait Allah itu sebagai jaminan kehadiran Allah untuk melindungi mereka terhadap musuh-musuh mereka. Tetapi di hari kemudian mereka salah memahami dan mempergunakan Bait Allah itu, karena mereka telah mengkultuskan Bait Allah itu sedemikian rupa , sehingga mereka lebih mempercayai kekuatan Bait Allah itu sendiri dari pada kekuasaan Allah. Artinya mereka lebih percaya berlindung ke Bait Allah itu dari pada berlindung  kepada Allah. Mereka patuh untuk menjalankan ritus-ritus keagamaan mereka di Bait Allah, tetapi mengabaikan hukum-hukum atau perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hubungan kepada sesama manusia. Ini terlihat dari seringnya umat itu ditegur oleh para nabi, karena umat itu lebih mementingkan pemberian kurban kepada Allah di Bait Allah,  tetapi mengabaikan kasih setia kepada sesama manusia. Terhadap sesama manusia mereka sering berbuat tindak kekerasan, penindasan  dan ketidak adilan. ( Hosea 6: 6; Amsal 21: 3).

Tetapi walaupun para nabi sering menegur mereka dengan perbuatan-perbutan mereka yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka tidak mau bertobat, sehingga mereka dihukum oleh Allah dengan membiarkan bangsa-bangsa lain untuk menguasai dan menghancurkan mereka. Tahun 722, kerajaan Isreal bagian Utara yang terdiri dari sepuluh marga, dihancurkan oleh kerajaan Syria, sehingga umat itu menjadi terbuang,  berserak ke mana-mana dan hilang. Lalu kerajaan Israel yang dua marga lagi  ( Juda dan Benjamin), yang kemudian bernama kerajaan Yehuda,  terbuang ke Babilonia mulai tahun 587 seb. M. Pada waktu itu Bait Allah dan kota Yerusalem yang mereka banggakan itu dihancurkan, sehingga mereka tidak mempunyai Bait Allah lagi sebagai tempat penyembahan mereka kepada Allah. 

Setelah kerajaan Babilonia dikalahkan oleh kerajaan Persia tahun 539 seb.M, maka Kores, raja dari kerajaan Persia itu membebaskan mereka dari pembuangan Babel, dan menyuruh mereka pulang untuk membangun kembali Bait Allah mereka di Yerusalem yang telah hancur itu. Mereka yang pulang itu membangun kembali Bait Allah di Yerusalem yang  selesai tahun 515 seb.M. Itulah pembangunan Bait Allah yang ke dua bagi mereka setelah pembangunan yang pertama yang dilakukan ole Salomo. Tetapi walaupun mereka kembali ke negeri asal mereka di Tanah Yehuda, keberadaan mereka sendiri tetap di dalam kekuasaan kerajaan Persia. Karena mereka tidak lagi menjadi satu kerajaan yang berdaulat, maka setelah pembuangan itu mereka menjadikan umat Yehuda bukan lagi menjadi satu kerajaan yang berdiri sendiri, tetapi menjadi sebuah organisasi keagamaan yakni Agama Yahudi. Bait Allah di Yerusalem di jadikan sebagai pusat keagamaan mereka. Agama Yahudi itulah yang mereka harapkan bisa mempersatukan seluruh umat Yahudi yang sudah berserak di berbagai  tempat di dunia ini. Dalam Agama itu Hukum Taurat yang diterima oleh nenek moyang mereka melalui Musa dihidupkan dan dijalankan dengan ketat. Sejalan dengan Hukum itu, maka setiap Hari Raya Besar mereka, yakni pada hari Raya Roti Tak Beragi  (Paskah),   Hari Raya Tujuh Minggu ( Pentakosta), dan Hari Raya Pondok Daun, seluruh kaum laki-laki yang sudah dewasa dari umat itu diwajibkan datang ke Bait Allah untuk menghadap Tuhan tidak dengan tangan hampa, tetapi harus membawa persembahan sesuai dengan berkat yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan Allah  (Ulangan 16: 16). Dengan persembahan itulah mereka membiayai keperluan mereka dalam menjalankan persekutuan keagamaan mereka, termasuk memelihara Bait Allah itu sendiri.

Sejak pembuangan Babel, kerajaan dunia  telah berganti-ganti menguasai tanah Yehuda atau Yerusalem mulai dari kerajaan Babilonia, Kerajaan Persia, kemudian Yunani, dan terakhir adalah kekaisaran Romawi yang mulai mengusai negeri itu tahun 63 seb. M. Kekaisaran Romawi mengangkat raja-raja yang memerintah di negeri Judea itu. Ketika Raja Herodes yang diangkat oleh kekaisaran Romawi memerintah negeri Yudea, dia merenovasi Bait Allah di Yerusalem, karena kekaisaran Romawi memberi kebebasan kepada umat Yahudi untuk menjalankan agama mereka. Bait Allah itu setelah direnovasi menjadi lebih indah dan megah dari yang sebelumnya. Tetapi ketika Yesus pernah memasuki Bait Allah itu dalam kunjungan pelayanan-Nya ke Yerusalem, Dia sangat marah sekali, karena Bait Allah itu telah dicemarkan oleh orang-orang Yahudi itu sendiri dan dijadikan oleh  para imam di Bait Allah itu sebagai sarang penyamun.  Mengenai hal ini Kitab Injil berkata: “Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual-beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." ( Mat. 21: 12-13). Itulah salah satu penyebab mengapa orang-orang Yahudi pada waktu itu semakin  membenci Yesus dan berusaha membunuh Yesus.

Karena orang-orang Yahudi tidak menerima Yesus sebagai Mesias, yang pada akhirnya membunuh Yesus di kayu salib, maka Allah menghukum mereka dengan membiarkan tentera Romawi di bawah pimpinan Jenderal Titus  menghancurkan Yerusalem dan Bait Allah itu tahun 70 M (kira-kira 40 tahun setelah kematian Yesus), ketika pada waktu itu umat Yahudi mencoba melancarkan pemberontakan kepada pemerintah Romawi. Bait Allah itu menjadi hancur-lebur. Tetapi kejadian itu telah dinubuatkan oleh Yesus sebelum kematian-Nya, ketika menangisi kota Yerusalem dan Bait Allah itu seperti diberitakan dalam Kitab Injil  Lukas 21: 5-6 dan ay. 20-22 : “Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: "Apa yang kamu lihat di situ,  akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan." ... "Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada tertulis."

            Sejak peristiwa itulah orang-orang Yahudi berserak dari tanah Yudea dan dari  seluruh wilayah Palestina ke berbagai penjuru dunia. Ada yang berserak ke Afrika, ke Mesir,  ke Mesopotamia dan ke Eropa. Dari Eropa kemudian berserak ke Amerika.  Sejak kejadian tahun 70 M itu, tidak ada lagi Baith Allah di Yerusalem untuk umat Yahudi sampai sekarang. Di tempat Baith  Allah umat Yahudi yang sudah hancur itu telah dibangun mesjid yang diberi nama Mesjid Al-Aqsha, oleh orang-orang Islam setelah negeri itu telah dikuasai oleh Islam mulai pada abad 8 M yang lalu.

 Kita tidak tahu bagaimana selanjutnya, tetapi kita tahu kedudukan Umat Israel lama yang  pada awalnya diharapkan oleh Allah sebagai kerajaan imam dan bangsa yang kudus ( Kel. 19: 6) untuk menjalankan rencana keselamatan Allah atas bangsa-bangsa di dunia, sudah berakhir dan telah digantikan oleh Umat Kristen sebagai umat Allah  yang percaya kepada Yesus Kristus, karena Umat Yahudi tidak menjalankan rencana Allah itu, bahkan mereka sendirilah yang membunuh Yesus, Juru Selamat manusia, yang diutus oleh Allah di dunia ini, sesuai dengan   janji Allah melalui umat Israel untuk keselamatan seluruh umat manusia. Orang-orang  yang  percaya kepada Yesus Kristus telah dipersekutukan oleh Roh Kudus menjadi satu  persekutuan yang disebut gereja. Gerejalah yang kemudian ditugaskan oleh Allah untuk menjalankan missi penyelamatannya atas bangasa-bangsa di dunia ini, seperti dikatakan oleh rasul Petrus: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan “(1 Petrus 2: 9-10). 

Dengan demikian kita harus meyakini, bahwa diri orang-orang percaya, serta persekutuannya sebagai orang-orang percaya dalam gereja, itulah Bait Allah, yang diharapkan oleh Allah, sebagai tempat Diri-Nya hadir di tegah-tengah dunia ini, sebagai lanjutan dari Baith Allah umat Israel  dulu, karena umat Kristenlah sebagai Israel yang baru.. (Pdt Mangontang SM Panjaitan, MTh, pensiunan pendeta HKBP). 

Jumat, 08 Oktober 2021

DIRGAHAYU 160 TAHUN HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP)

 

DIRGAHAYU  160 TAHUN  HURIA KRISTEN BATAK PROTESTAN (HKBP)

 

Walaupun ada yang mempersoalkan di kemudian hari, HKBP semasa dalam kepemimpinan Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) atau Zending Barmen telah menetapkan hari lahirnya pada 7 Oktober 1861 yang hari ini genap 160 tahun. Ketika itu empat orang missionar dalam naungan badan zending RMG  memulai usaha penginjilannya di Tanah Batak dengan mengadakan Rapat Kerja di Sipirok untuk membicarakan strategi penginjilan yang akan mereka lakukan di Tanah Batak. Keempat orang itu adalah Heine yang langsung diutus RMG dari Jerman, Klammer , adalah seorang penginjil RMG yang meninggalkan Kalimantan karena serangan Perang Hidayat tahun 1859,  Betz dan Klammer, dua orang Belanda yang telah bekerja sebelumnya di Tanah Batak sebagai penginjil dari Zending Jemaat Ermelo Belanda. Ke dua orang itu dengan rela bergabung dengan RMG demi memajukan penginjilan di Tanah Batak. Banyak orang Batak melihat bahwa huruf pertama dari nama keempat pendeta ini( Heine, Klammer, Betz, V(P)an Aseelt), nama gerejanya kelak  yakni HKBP dinubuatkan, walaupun itu sebenarnya hanya kebetulan saja.

Di kemudian hari ada yang mempersoalkan penetapan hari lahir HKBP pada 7 Oktober 1861 karena dianggap kurang tepat secara teologis, di mana sebelumnya  yakni 31 Maret 1861 telah ada dua orang Batak yang dibabptis oleh Van Asselt  menjadi Kristen yaitu  Yakobus Tampubolon dan Simon Siregar. Memang  ada berbagai cara gereja-gereja di Indonesia menetapkan hari lahirnya, ada  berdasarkan hari kedatangan misionar pertama di negeri itu, ada berdasarkan penetapan  gereja itu sebagai gereja yang berdiri sendiri, dan ada yang berdasarkan  hari pembatisan pertama atas penduduk daerah yang diinjili itu. Banyak orang berpendapat cara inilah yang paling tepat, karena dengan pembabtisan yang pertama itulah telah lahir sebuah gereja hasil dari penginjilan itu. Tetapi ini sebenarnya tidak perlu lagi dipersoalkan, karena HKBP dengan merayakan hari lahirnya pada 7 Oktober itu, tidak pernah juga melupakan untuk menyukuri pembaptisan yang pertama itu. Kebetulan missionar yang membaptiskan orang Batak pertama itu, yakni Van Asselt ikut juga bergabung dengan RMG, dan ikut dalam rapat 7 Oktber 1861 di Sipirok itu.

            Penginjilan yang dilakukan oleh RMG di Tanah Batak, termasuk penginjilan yang paling berhasil di Indonesia, karena hampir semua suku  Batak yang berdiam di bagian Utara Tanah Batak, termasuk daerah Simalungun, dan Dairi telah menganut Agama Kristen. Orang Batak yang berada di bagian Selatan, yakni Mandailing dan Angkola, jauh sebelum datangnya penginilan di Tanah Batak, sebagian besar telah menganut Agama Islam melalui usaha missi Islam dari daerah Minangkabau, mulai pada masa Perang Paderi awal abad 19.

            Walaupun sebenarnya banyak missionar yang diutus oleh RMG bekerja di Tanah Batak dan menghasilkan HKBP, tetapi sering orang mengertikan bahwa penginjilan IL. Nommensenlah yang menghasilkan HKBP itu. Nama Nommensenlah yang lebih diingat, bahkan sering disebut sebagai pendiri HKBP sedangkan missionar yang lain, walaupun sangat berperanan, hampir dilupakan. Pemahaman seperti itu kurang tepat, karena Nommensen  sendiri baru mulai bekerja di Tanah Batak, khususnya di daerah Silindung Tapanuli Utara, tahun 1864. Sebelum itu sudah berdiri beberapa Jemaat Kristen Batak  di daerah Angkola, dan di daerah Pahae. Nama Nommensen mungkin lebih dikenal, karena dia lah yang paling lama mengabdikan diri di tengah-tengah orang Batak, hingga dia meningal di Tanah Batak tahun 1918, sesuai dengan janjinya  kepada Allah dalam doanya di gunung Siatas Barita tahun 1863, ketika dia datang dari Sipirok pada waktu itu untuk meninjau daerah Silindung yang direncanakan akan diinjili. Tempat berdoanya itu di gunung Siatas Barita Silindung telah diabadikan oleh warga HKBP dengan membangun sebuah monumen yang kemudian dinamai Salib Kasih.  Memang karena melihat pengabdiannya yang sungguh-sungguh itulah maka Direktur Zending Barmen terus mempercayakan dia sebagai koordinator dan pengawas dari pekerjaan zending yang digiatkan oleh RMG di Tanah Batak, dan sejak tahun 1881 ditetapkan sebagai ephorus pertama untuk pekerjaan zending itu sekaligus untuk seluruh jemaat-jemaat Kristen Batak hasil penginjilan RMG itu.

Perkembangan HKBP dari segi jumlah anggota jemaatnya, termasuk cepat. Dalam masa sepuluh tahun (1871)jumlah orang Batak yang menjadi Kristen sebanyak, 1.250 orang, dalam masa 20 tahun (1881), 5.188 orang , dalam masa tiga puluh tahun (1891), 21.779 orang , dalam masa empat puluh tahun (1901), 47.784 orang , dan dalam masa 50 tahun ( 1911), 103.528 orang , yang sudah mulai tersebar di luar Tanah Batak, yakni di daerah Sumatera Utara, sampai ke Jawa.  Sekarang ini  dalam usia 160 tahun anggota jemaat HKBP diperkirakan sudah mencapai lebih dari empat juta orang (sampai sekarang belum ada perhitungan yang pasti), yang tersebar di dalam dan di luar negeri. Dari padanya sudah ada beberapa kali perpecahan (dengan tidak baik-baik), yakni  mulai dari HKI di Pematangsiantar tahun 1927, Gereja Mission Batak di Medan tahun 1927, Gereja Punguan Kristen Batak di Jakarta tahun 1927, Gereja Kristen Prostestan Indonesia tahun 1964 di Pematangsiantar, Gereja Kristen Lutheran Indonesia tahun 1964 di Tarutung, Gereja Kristen Persekutuan 1974 di Medan,  dan pemisahan secara baik-baik (manjae), yakni Gereja Kisten Prostestan Simalungun 1963, Gereja Kristen Prostestan Angkola (1974),  Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi  (1976).  Sekarang ini HKBP terdiri dari 3336 Jemaat (Huria), 107 parmingguan, 188 pos pelayanan, 8 persiapan Jemaat (Huria), 777 ressort, 15 persiapan ressort, 32 distrik, 1 persiapan distrik, di tambah dengan Jemaat-jemat yang ada di Amerika Serikat dan Daerah-daerah Zending. Semuanya dilayani oleh pelayan tahbisan (partohonan) pendeta, Guru Huria, Bibebvrow, Diakones, dan Evangelis, yang semuanya sudah hampir 3000 orang. Dan masih banyak lagi calon-calon pelayan tahbisan yang sekarang masih sedang menjalani masa pelatihan.

 

Kita doakan HKBP semakin maju dalam berbagai pelayanan yang digiatkan melalui Tri Tugas Panggilan Gereja ( Koinonia, Marturia dan Diakonia), di dalam kepemimpinan Ephorus yang sekarang Pdt Dr, Robinson Butarbutar, bekerja-sama dengan empat unsur pimpnan yang lain yakni Sekretaris Jenderal ( Pdt Dr. Victor Tinambunan), Kepala Departemen Koinonia  (Pdt Dr. Deonal Sinaga),  Kepala Departemen Marturia: mungkin akan segera diisi setelah Pdt Kardi Simanjuntak, STh, MMin, meninggal beberapa waktu yang lalu, dan Kadep Diakonia Pdt Debora Sinaga, MTh.  Kita doakan juga agar Ketua Rapat Pendeta yang baru pengganti Pdt Dr. Robinson Butarbutar, akan diperoleh dalam rapat pendeta yang direncanakan diadakan bulan Oktober ini, yang bisa  memberi motivasi bagi semua pendeta untuk sungguh-sungguh mengabdikan diri sepenuhnya dalam pelayanan di HKBP dan memperteguh persaudaraan para pendeta dalam tugas pelayanan itu.  Selamat Ulang Tahun ke  160 HKBP (Pdt MSM.Panjaitan).

Kamis, 07 Oktober 2021

GEREJA "SAMPAH" DI KAIRO MESIR

Gereja   “Sampah” di Kairo Mesir.

Salah satu gereja Orthodoks  Koptik di Kairo Mesir, yang banyak  dikunjungi  para wisatawan Kristen, dalam rangka kunjungan obyek wisata Kristen di daerah Mesir,  gunung Sinai sampai ke Yerusalem  ialah  Gereja  “Sampah”. Nama ini  sebenarnya tidak layak dikenakan kepada sebuah gereja. Tetapi orang-orang yang datang ke sana sering menyebut demikian, karena gereja itu terletak di sebuah bukit batu, di mana jalan menuju ke tempat itu,  terdapat  tempat penimbunan sampah dari seluruh kota Kairo. Hampir semua penduduk di sekitar lokasi itu yang berjumlah sekitar 50 ribu jiwa bekerja sebagai pemulung sampah. Mereka dilokaliser oleh pemerintah di tempat itu di mana  perumahan mereka juga disediakan oleh pemerintah kota Kairo. Gereja itu merupakan sebuah gua yang sangat besar di kaki sebuah bukit batu, sehingga gereja itu beratapkan batu gua itu juga. Tempat duduknya  juga dibentuk dari batu yang ada di gua itu, yang disusun seperti tribun, dan bisa menampung  10.000 orang pengunjung. Altar dan podiumnya juga terbuat dari batu, yang semuanya menyatu dengan gua tersebut.  Dinding gua itu penuh dengan gambar-gambar ukiran atau pahatan, yang merupakan   symbol-simbol kekristenan dan juga ayat-ayat Alkitab yang ditulis dalam bahasa dan tulisan Arab. Anggota gereja itu pada umumnya adalah para pemulung sampah yang berdiam di sekitar tempat itu, yang pada umumnya mereka tertarik menjadi Kristen melalui hasil pelayanan   dari gereja tersebut. Setiap hari Minggu gereja itu dipenuhi oleh pengunjung dan anggota Jemaat setempat untuk mengikuti kebaktian  minggu.

Gereja ini mempunyai sejarah yang sangat unik sekali, yang diyakini oleh warga gereja itu sampai sekarang.  Nama sebenarnya dari gereja itu adalah Gereja Samaan El-Kharas. Nama yang  sangat dikaitkan dengan sejarah berdirinya gereja ini ialah Simon The Tanner (Simon penyamak kulit). Ia adalah seorang rabi (guru) di gereja Orthodoks Koptik Kairo pada masa pemerintahan Muslim di Kairo yakni Khalifah Al-Muizz Li-Deenllah yang berkuasa dari tahun 953-975 M. Pada waktu itu Patriakh (Pemimpin) gereja Orthodoks Koptik adalah Abraham Suriah. Abraham ditantang oleh penguasa Muslim itu untuk membuktikan kebenaran dari perkataan Yesus yang tertulis dalam Injil Mat. 17:20, yang mengatakan: “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebiji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: pindahlah dari tempat ini ke sana – maka gunung itu akan pindah dan takkan ada yang mustahil bagimu”. Dalam masa tenggang waktu yang  diberi selama tiga hari untuk pembuktian ayat tersebut, maka Abraham  mengumpulkan sekelompok biarawan, imam dan tua-tua untuk bersamanya selama tiga hari tinggal di gereja mengadakan doa penebusan dosa. Pada pagi hari ketiga, saat Abraham berdoa di gereja Perawan Suci Al-Muallaqa (Gereja Gantung)  yang ada di kota Kairo, ia melihat  Sang Perawan Suci dan  menyuruhnya pergi ke pasar besar dan berkata: “Engkau akan menemukan seorang pria bermata satu dan ia membawa sebuah botol besar penuh dengan air. Engkau harus memintanya untuk menyelesaikan apa yang dituntut dari padamu, karena di tangannya keajaiban akan terwujud”. Segera setelah mendengar perkataan Perawan Suci itu maka Abrahampun pergi  dan bertemu dengan pria itu. Pria yang dimaksud ialah Sint Simon The Tanner (Simon penyamak kulit), yang satu matanya telah tercungkil sesuai dengan perkataan Yesus dalam Mat. 5: 29 (Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka). Pada waktu itu kebanyakan orang-orang Kristen Koptik di Mesir adalah pengrajin, termasuk Simon yang bekerja di salah satu usaha kerajinan penyamakan kulit (pembuatan sepatu) yang ada di Babel (Kairo Lama). Kerajinan tersebut masih di kenal di sana sampai sekarang.

Setelah menceriterakan maksud dan tujuannya, maka Simon mengatakan kepada Abraham untuk pergi dengan para imam dan semua umatnya ke gunung Muquattam, juga bersama dengan dia yang meminta Abraham untuk membuktikan ayat Alkitab (Mat. 17: 20) itu. Simeon juga meminta Abraham untuk menangis dan berdoa mengucapkan kalimat: “Ya, Tuhan, kasihanilah kami”, sebanyak tiga kali, serta membuat tanda salib di atas gunung  tersebut. Abraham mengikuti semua apa yang dimintakan oleh Simon dan “Bukit Muquattam pun terangkat dan bergeser sejauh tiga km, karena terjadinya gempa bumi yang sangat dahsyat”. Setelah mujizat dilakukan segeralah Abraham teringat akan Simon dan ketika Abraham mencarinya, Simon The Tanner telah menghilang dan tak seorang pun bisa menemukannya. Kemudian selama tahun 1989 – 1991, para pendeta gereja  Koptik dan para archeolog mencari peninggalan dari Simon Penyamak Kulit itu dan kerangkanya ditemukan di Gereja Sint Maria (Gereja Gantung) yang ada di kota Kairo, pada tanggal 4 Agustus 1991, tepat satu meter di bawah tanah permukaan gereja. Dalam gereja di mana kerangka Sint Simon ditemukan juga ditemukan sebuah lukisan yang menggambarkan Patriakh Koptik Abraham dan seorang lainnya yang berkepala botak membawa dua botol air untuk menyamak kulit. Sosok tersebut kemungkinan besar adalah Sint Simon The Tanner karena dia dikenal sebagai pembawah wadah air untuk masyarakat miskin. Wadah air juga ditemukan di bawah tanah gereja itu di mana tertera tanggalnya yang sudah lebih dari seribu tahun dan diyakini sebagai wadah air tanah liat yang digunakan oleh Simon The Tanner untuk membawa air bagi masyarakat miskin. Wadah itu sekarang ini disimpan di Gereja Sint Simon di bukit Muquattam yang sekarang ini  sering disebut sebagai “Gereja Sampah”.   (Pdt. M.S.M.Panjaitan, MTh, Pendeta HKBP Emeritus)

DSC06873

 

 

 

 

DSC06874

Tempat duduk pengunjung gereja  yang terbuat dari batu.

 

 

 

Gereja Sampah di mesir

Gereja tampak dari depan