Reformasi Martin Luther dan kawan-kawannya
13.1.
Situasi
umum di Eropa menjelang terjadinya reformasi
M.Luther
Menjelang terjadinya reformasi M.Luther,
telah banyak terjadi perubahan dan kemajuan di dalam hekdupan masyarakat Eropa,
antara lain:
§ Hubungan dengan dunia luar semakin terbuka.
Sejak ditemukannya benua Amerika oleh
Colombus tahun 1492, semakin banyak
orang-orang Eropa yang hijrah dari Eropa ke
benua yang baru ditemukan itu.
§ Bidang ilmu pengetauan dan tenologi semakin
maju. Orang-orang Eropa semakin banyak yang
berpendidikan tinggi, karena universitas-unverisitas dan badan-badan
pendiidikan tinggi lainnya semakin banyak berdiri di Eropa. Dalam kemajuan teknologi, alat-alat
percetakan buku-buku telah ditemukan sejak abad 15. Adanya percetakan-percetakan buku itu
sangat menunjang dalam mepercepat
penyebaran karya-karya atau tulisan-tulisan
reformasi M.Luther untuk masyarakat Kristen Eropa.
§ Dalam bidang kerohanian dan keagamaan, juga
telah terjadi banyak perubahan. Pada akhir abad 15 sampai dengan awal abad 16, usaha-usaha
pembaharuan gereja semakin banyak dilakukan, walaupun cara-cara pembaharuan itu
masih dilakukan dengan jalan yang berbeda-beda. Misalnya ada yang mengusahakan
pembaharuan itu dengan membina kesucian
pribadi, seperti dilakukan oleh golongan mistik Kristen. Ada yang mengkritik teologia dan ajaran gereja yang resmi bertolak dari ajaran
Alkitab seperti dilakukan oleh perintis-perintis reformasi. Ada juga yang
mengkritik kuasa-kuasa paus yang terlalu
besar dan mengembangkan peranan dari konsili-konsili gereja, seperti
dikembangkan oleh aliran konsiliarisme.
§ Dalam bidang sosial politis terlihat bahwa kedudukan bangsa-bangsa di
Eropa semakin kuat, sejajar dengan pertumbuhan nasionalisme di benua itu.
Raja-raja dari masing-masing bangsa
berusaha mengatur urusan negara dan bangsa masing-masing tanpa harus
dicampuri oleh paus lagi. Peranan dari bahasa-bahasa nasional dari masing-masing bangsa semakin menonjol,
dan peranan bahasa Latin sebagai bahasa umum di gereja dan masyarakat Kristen
Eropa semakin mundur dan ketinggalan. Sejalan dengan itu tulisan-tulisan ilmiah
juga telah diterbitkan dalam bahasa nasional, bukan lagi dalam bahasa Latin.
13.2. Perkembangan kehidupan Martin Luther
(mengenai riwayat hidup yang lebih lengkap
dari Martin Luther baca: W.J. Kooiman, Martin Luther, BPK Jakarta).
Martin
Luther lahir 10 Nopember 1483 di kota Eisleben Jerman dalam sebuah keluarga
yang miskin, tetapi setia kepada gereja Roma Katolik. Ayahnya yang bernama Hans Luther
bekerja sebagai seorang pekerja tambang di kota itu . M.Luhter meninggal tahun 1546. Perkembangan kehidupan M.Luther sampai
permulaan usaha reformasinya tahun 1517, ditentukan oleh tiga lingkungan
pengalaman, yakni:
1)
Pendidkan
yang diterima pada masa mudanya
2)
Pengalamannya
dalam kehidupan di biara
3)
Pengalamannya
sebagai mahaguru teologi di Universitas Wittenberg.
11.2.1.
Pendidkan
yang diterima pada masa mudanya.
Pendidikan
yang diterima Martin Luther semasa anak-anak sangat keras. Seperti anak-anak
yang lain pada zamannya dia dibimbing oleh orang tuanya mengikuti cra-cara
kesalehan Katolik Roma, yakni kepatuhan
kepada aturan-aturan gereja. Dan seperti
anak-anak lainnya juga pada umur tujuh
tahun, dalam persiapan menerima Konfirmasi sebagai salah satu Sakramen yang
diajarkan gereja RK, dia telah dapat
menghafal Dasa Titah, Pengakuan Iman
Rasuli, Doa Bapa Kami dan sejumlah ayat-ayat tertentu yang diucapkan pada
hari-hari suci. Pada masa anak-anak dia juga sudah dipersiapkan mengenal bahasa
gereja yakni bahasa Latin.
Di
kemudian hari orang tua Martin Luther mendapat kemajuan di bidang sosial
ekonomi. Karena itu dia berusaha agar M.Luther bisa sekolah di sekolah yang
baik. Tetapi adalah suatu kebiasaan pada waktu itu anak-anak sekolah pergi
bernyanyi ke lorong-loring kota untuk
mencari biaya sekolahnya. Untuk itu tidak ada perbedaan, baik anak-anak dari
keluarga yang kaya maupun dari keluarga
yang miskin. Setiap anak sekolah harus melaksanakannya.
Pada
umur tujuh belas tahun dia sudah lulus
Sekolah Menengah dan kemudian dia memasuki sebuah Universitas di Erfurt. Orangtuanya menginginkan agar dia kelak
menjadi seorang sarjana hukum, dengan harapan dia akan dapat memperoleh suatu
jabatan yang penting dalam pemerintahan
di negerinya. Untuk itu dia
memasuki Fakultas Hukum, yakni suatu fakultas yang banyak diminati orang pada
waktu itu. Dalam empat tahun dia sudah
menyelesaikan tingkat Artes (semacam sarjana muda). Setiap orang
yang akan melangkah ke tingkat Sarjana Penuh dalam berbagai bidang, harus lebih
dulu lolos dalam tingkat ini.
Tetapi
sebelum melangkah ke tingkat Sarjana Penuh di bidang Hukum, pada umur 21 tahun, yakni tahun 1505,
M.Luther tiba-tiba mengalami suatu perubahan
dalam hidupnya. Di tengah jalan ketika dia pulang dari mengunjungi orang tuanya untuk kembali
ke tempat sekolahnya di Erfurt, dia merasa sangat ketakutan sekali karena
datangnya guruh dan halilintar yang sangat keras yang dirasakan hampir
menyambar dirinya. Karena takut akan dosa-dosanya dan akan penghukuman yang
terakhir, maka dia berseru: “Santa Anna yang baik, tolonglah aku. Aku mau
menjadi seorang rahib kalau aku selamat !”. Setelah dia tiba di kota Erfurt
dengan selamat, janjinya itu segera ditepati. Dia memutuskan untuk berhenti
dari studinya dan memasuki sebuah biara yang sangat keras aturanya di kota itu,
yang bernama biara Ordo Augustinus.
Mendengar hal ini maka bapanya sangat marah, karena khawatir bahwa dia
akan kehilangan anaknya yang sangat berbakat itu.
11.2.2.
Pengalamannya
di biara
Biara
Ordo Augustinus yang dimasuki M.luther itu adalah sebuah biara yang baru
dibuka pada waktu itu, tetapi terus
menjadi sebuah biara yang terkenal, karena peraturan dan disiplinnya yang sangat
keras. Ada dua hal yang mendorong M.Luther
mengapa dia memilih biara itu, yakni:
1)
Harapan
untuk memperoleh ketenangan jiwa dengan jalan mematuhi peraturan-peraturan yang
keras itu.
2)
Keinginan
untuk dapat menuntut ilmu teologi.
Dalam
biara itu M.Luther memang segera dikenal oleh pemimpin biara, karena
kesungguhannya memenuhi semua tuntutan biara itu. Dan pemimpin biara juga
mendorong dia untuk menuntut ilmu teologi. Tetapi langkah untuk itu dia harus
lebih dulu memperoleh jabatan imam. Dan untuk bisa menjadi imam, dia harus
belajar dua tahun. Hal itu dia jalani
dengan sungguh-sungguh, sehingga tahun 1507, dia telah ditahbiskan menjadi
seorang imam. Seorang imam telah diperbolehkan
untuk melayani missa atau Ekaristi dan mendalami Alkitab.
Tetapi
dalam biara itu ada suatu pertanyaan yang selalu mengganggu hati dan fikiran
Martin Luther, yakni: “bagaimana saya dapat memperoleh rahmat Allah”.
Pertanyaan itulah yang mendorong M.Luther mengerjakan segala tuntutan atau
peraturan dari biara itu. Namun ia belum pernah menemukan jawaban dari
pertanyaan itu, namun hatinya semakin gelisah.
Tahun
1510 dia mendapat kepercayaan dari pimpinan biara untuk pergi ke kota Roma
mengurus sesuatu hal yang menyangkut ordo mereka. Kesempatan ini sangat
menggembirakan dirinya, karena di Roma dia mengharapkan akan memperoleh rahmat Allah yang melimpah. Tetapi sepulang
dari Roma dia tidak memperoleh apa yang diharapkan. Malah pergumulan batinnya
semakin hebat. Pembimbingnya di biara itu, Johan von Staupitz yang mengetahui
hal itu menasehatkan agar M.Luther menerima rahmat Allah itu dalam sakramen
tanpa ragu-ragu. Itu semua dituruti oleh Luther, tetapi tidak menolong sama
sekali bagi dirinya.
Namun
demikian, dia tetap mendalami Alkitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan karena
ketekunannya itu, maka tahun 1512, dia telah berhasil mendapat gelar “doktor dalam bidang Alkitab atau Kitab
Suci”. Segera setelah itu, maka dia diangkat menjadi seorang guru-besar dalam bidang ilmu teologi
di Universitas Wittenberg. Pekerjaan itu dipegangnya sampai saat
meninggalnya tahun 1546.
11.2.3.
Pengalamannya sebagai mahaguru di Universitas Wittenberg
Sebagai seorang doktor dalam bidang Alkitab
dan mahaguru dalam bidang ilmu teologi, dia banyak mendalamai isi Alkitab itu
dan menafsirkannya. Terutama dia banyak menfsirkan Kitab Mazmur. Metodenya dalam menafsirkan Alkitab itu ialah dengan
lebih dahulu menerapkan perkataan-perkataan Mazmur itu kepada Kristus, baru
kemudian kepada orang-orang percaya.
Dengan penafsiran seperti itu maka dia menimpulkan
bahwa apa yang terjadi atas diri Kristus, juga akan terjadi bagi orang-orang
percaya, karena Kristus adalah kepala dari tubuh itu, yakni orang-orang
percaya. Penderitaan yang dialami oleh Kristus juga akan dialami orang-orang
percaya. Dan bagi M.Luther orang-orang yang percaya kepada Kristus pada waktu
yang sama adalah orang-orang berdosa tetapi juga adalah orang benar. atau
dengan istilah Latinnya disebut: “simul iustus et peccator”, yang
artinya pada waktu yang sama benar dan
berdosa. Teologi M.Luther ini kemudian juga disebut ‘teologi crusis” atau teologi penderitaan. Teologi itu
diformulasikan sbb: “siapa yang tidak mati bersama-sama Kristus dan turun ke
neraka, ia tidak bangkit dan tidak naik ke sorga bersama-sama dengan Dia”.
Inilah jalan penderitaan yang dilalui Yesus menurut M.Luther, yang juga harus
dilalui oleh orang-orang percaya.
Mazmur yang banyak digumuli oleh M.Luther
mengenai kebenaran Allah ialah Mazmur 71 ( atau dalam terjemahan Yunani dan
Vulgata yang banyak dipakai oleh M.Luther, Mazmur 70). Dalam Mazmur ini terdapat kata “benar” dan “kebenaran” (iustus
dan isutitia), yang dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, diterjemahkan
dengan “keadilan”. Dalam salah satu ayatnya
dikatakan: “Di dalam kebenaranmu tertolonglah aku”. (Terjemahan LAI: “… luputkanlah aku oleh karena keadilanmu”)
(Maz.71: 2). Berdasarkan itu maka M.Luther memahami bahwa kebenaran Allah
adalah suatu sifat Allah yang menyelamatkan, bukan yang membalaskan. Kebenaran
itu adalah suatu rahmat Allkah, yang tidak bisa dicari melalui kepatuhan kepada
hukum-hukum gereja, tetapi hanya sebagai pemberian Allah dalam Kristus.
Pemahaman yang baru inilah yang kemudian
mempertemukan dia kepada Surat Roma 1: 16-17 dan 3: 21. Ayat-ayat inilah yang dirasakan M.Luther
sebagai jawaban atas pertanyaan yang sudah lama dipergumulkan yakni:
“bagaiamana saya dapat memperoleh rahmat Allah”. Berdasarkan Roma 1: 16-17 itu
jelas bagi dia bahwa kebenaran Allah tidak sama dengan kebenaran seorang hakim
duniawi. Kebenaran Allah itu tidak lain dari pada anugerah Allah yang bersedia
untuk membenarkan orang-orang berdosa. Dan kebenaran seperti itu hanya dapat
diterima melalui iman. Dengan pemahaman
baru yang ditemukan tahun 1514 itu, M.Luther merasa seakan-akan telah lahir kembali dan masuk ke
dalam Firdaus. Dan dengan pemahaman ini maka dia merasa telah bebas dari
ketakutan akan murka Allah dan penghakiman
yang terakhir, karena rahmat Allah baginya adalah pengampunan yang membebaskan.
11.3.
Jalan
Reformasi M.Luther
Pandangan baru yang ditemukan M.luther itu
segera tersiar di Wittenberg. Oleh pengaruh pandangan itu, maka Alkitab dan
teologi Augustinus makin banyak dipelajari orang. Dan sebaliknya teologi
skolastik yang cukup berpengaruh sampai
akhir Zaman Pertengahan makin
ditolak. Pandangan baru yang berdasarkan
Alkitab itulah yang menjadi titik tolak Reformasi M.Luther.
Ada suatu peristiwa besar yang mendorong
dirinya melakukan reformasi itu dengan cepat, yakni praktek penjualan Surat
Penghapusan Siksa dalam Gereja Katolik Roma. Dengan Surat Penghapusan Siksa itu
dinyatakan bahwa setiap orang yang membelinya, dosanya telah diampuni dan bebas
dari siksaan di api penyucian setelah orang meninggal. Di Jerman penjualan
Surat Pengahpusan Siksa itu dipelopori
oleh Johan Tetsel. Menurut ajaran resmi gereja pada waktu itu, penghapusan
siksa hanya berlaku bagi seseorang yang
telah menyesali dosanya secara sungguh-sungguh di hadapan imam dan telah
menerima pengampunan dosa melalui Sakramen Pengampunan Dosa . Tetapi demi
meningkatkan penjualan surat-surat itu,
syarat itu tidak diikuti lagi, sehinga timbul kesan bahwa pengampunan dosa dan
pendamaian dengan Allah bisa dibeli
dengan uang. Kesan seperti itu memang nampak dari propaganda penjualan yang
dilakukan, di mana Tetsel mengatakan
bahwa pada saat mata uang berbunyi di peti, jiwa (roh) yang membelinya
melompat masuk ke dalam sorga.
Praktek penjualan Surat Penghapusan Siksa
itu ditentang oleh Martin Luther melalui khotbah-khotbahnya. Dan untuk itu dia
menulis 95 dalil di sehelai kertas yang
ditulis dalam bahasa Latin (bahasa kaum cendekiawan pada waktu itu) dan
ditempelkkan di pintu gereja Wittenberg, 31 Oktober 1517. Tanggal inilah kemudian ditetapkan
sebagai hari Reformasi. Diharapkanke 95
dalil itu akan dapat dibaca oleh orang banyak yang akan memasuki gereja itu
tgl. 1 Nopmeber, yakni hari perayaan segala orang kudus bagi gereja RK. Dalil
–dalil M.Luther ini yang terpusat pada penjelasan akan arti pertobatan dan
pengampunan dosa, segera tersebar luas. Dan dengan adanya dalil-dalil itu, maka
penjualan Surat Penghapusan Siksa
menjadi berkurang. Akibatnya, Luther dituduh sebagai penyesat dan Paus
Leo XX di Roma menuntut supaya M.Luther
menarik kembali ajaran-ajarannya itu, namun M.Luther tidak mau melakukannya.
Situasi politis di Jerman pada waktu itu memberi dukungan kepada reformasi
M.Luther, karena Jerman sudah lama ingin membebaskan diri dari kekuasan Paus di Italia. Raja dari Kerajaan
Saksen ( suatu negara bagian Jerman) yang bernama: Friderick yang
Bijaksana, berjanji akan tetap
melindunginya.
Pandangan reformasi M.Luther ini kemudian dieperkembang melalui tiga
tulisannya yang terbit tahun 1520, yakni:
1)
Kepada
kaum bangsawan Kristen Jerman mengenai perbaikan masyarakat Kristen
2)
Pembuangan
Babel terhadap gereja
3)
Kebebasan
seorang Kristen.
Dalam
buku yang pertama, M.Luther mengajak
seluruh penguasa di Jerman ,yakni
kaisar dan raja-raja, supaya mereka selaku
anggota gereja dan orang-orang Kristen, turut serta berusaha memperbaiki
keadaan gereja yang sangat memburuk pada waktu itu, karena kaum klerus (pejabat
gereja) tidak mau melakukan pembaharuan
itu. Dalam tulisan itu dia juga menyangkal kuasa paus yang mengatasi kedudukan
konsili dan Alkitab. Dengan mengajarkan imamat
am seluruh orang percaya, dia mengatakan bahwa seluruh orang Kristen adalah
juga imam dan ikut bertanggung-jawab dalam gereja.
Dalam
buku yang ke dua , dia mengajak seluruh teolog gereja supaya
berusaha menyelamatkan seluruh orang Kristen dari cengkeraman ajaran-ajaran
sesat dalam gereja, khususnya ajaran tentang Sakramen. Di sini M.Luther
mengatakan bahwa, hanya Baptisan dan Perjamuan Kuduslah yang bisa didasarkan
atas Alkitab sebagai Sakramen. Tentang Sakramen Pengakuan Dosa, M.Luther masih
ragu-ragu. Tetapi seluruh sakramen
lainnya ditolak. Cara Sakramen itu dipergunakan dan anggapan bahwa
Sakramen ibisa bekerja secara otomatis
dan magis menyalurkan anugerah ke dalam diri manusia, juga ditolak. Ke
tujuh Sakramen gereja RK itu menurut M.Luther sudah bagaikan tujuh mata rantai
yang mengikat dan membelenggu kehidupan orang-orang Kristen dari sejak lahir
sampai ke liang kubur. Sakramen yang sesunguhnya menurut M.Luther adalah penyaluran atau tanda dari apa yang
dinyatakan Firman Itu. Sebutan lain
yang dipakai M.Luther untuk Sakramen itu adalah Firman dalam rupa tanda ( bd.
Augustinus yang mengtakan Sakramen itu
adalah Firman yang kelihatan). Dan jawaban kita atas penerimaan Sakramen itu
adalah iman.
Dalam
buku yang ke tiga, M.Luther menulis untuk seluruh orang Kristen, khususnya
mereka yang masih buta akan isi Alkitab itu, agar mereka dapat mengerti apa
artinya mereka sebagai orang Kristen, dan bagaimana seorang Kristen
diselamatkan oleh Kristus dan bagaimana dia menyatakan dirinya sebagai orang
Kristen di tengah-tengah dunia dan sesamanya. Dalam buku
yang berjudul “kebebasan seorang Kristen” itu, dia
menyimpulkan arti kebebasan seorang Kristen dalam dua dalil, yakni nampaknya
bertentangan ,tetapi aling berkaitan satu sama lain, yakni:
§ Seorang Kristen adalah tuan yang sama
sekali bebas atas segala hal dan tiada mengabdi kepada siapa pun.
§ Seorang Kristen adalah hamba yang sama
sekali patuh atas segalanya dan mengabdi kepada semua.
Rumusan
dalil ini didasarkan atas perkataan
Paulus dalam I Korint 9: 19; Roma 13: 8; Gal. 4: 4; Fil. 2: 6-7. Dalam I Korint
9: 19, dikatakan: “Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang”. Bertitik tolak dari ke dua dalil tersebut,
M.Luther menerangkan arti kebebasan seorang Kristen dengan dua perkataan
teologis yakni: iman dan kasih; tetapi tekanannya adalah atas
iman itu sendiri, karena menurut dia, dari imanlah mengalir cinta kasih. Dari
sinilah timbul ajarannya yang mengatakan : "hanya oleh iman saja” (Sola
fide). Dalam iman seorang Kristen
menjadi tuan yang merdeka, tetapi oleh iman pula seorang Kristen masih
mengikatkan diri kepada sesamanya dalam ikatan cinta kasih.
Secara
ringkas pokok-pokok ajaran M.Luther selama reformasinya itu adalah sbb:
1)
Ajarannya
tentang tiga kebenaran azasi, yakni:
§ Hanya oleh iman (Sola fide); dikatakan bahwa setiap orang percaya
dibenarkan di hadapan Allah hanya oleh iman.
§ Hanya oleh anugerah (Sola gratia); Allah mengampuni dan
membenarkan manusia, hanya oleh anugerahnya saja, bukan karena perbuatan baik
manusia itu.
§ Hanya Alkitab (Sola Scriptura): Alkitab sebagai
satu-satunya dasar kebenaran, di mana Allah menyatakan Firmannya.
2)
Ajaran-ajaranya
yang lain ialah:
§ Keterikatan kehendak manusia: Manusia
secara total tidak mampu mematuhi Allah.
§ Sakramen dan imamat seluruh orang percaya:
seluruh orang percaya adalah imam, sehingga tidak perlu lagi ada imam yang
menjadi perantara manusia dengan Allah. Dan setiap orang boleh melayani jemaat
atau gereja, asalkan jemaat atau gereja itu sendiri memberi izin kepadanya.
§ Persekutuan orang-orang kudus: tidak seorangpun mempunyai hak melayani
sakramen, tanpa persetujuan jemaat itu sendiri.
§ Mengenai ibadah atau missa: Ibadah boleh
dilayani dalam bahasa setempat, karena bahasa Latin sulit dimengerti. Dalam
ibadah, khotbah atau pemberitaan Firmanlah yang menjadi sentral dan dalam ibadah itu warga jemaat turut
berpartisipasi secara aktif melalui nyanyian. Untuk itulah M.Luther menyusun
nyanyian-nyanyian dalam gereja.
11.4.
Hukuman
yang dikenakan kepada M.Luther
§ Karena M.Luther bertahan dengan
ajaran-ajarannya maka tanggal 15 Yuni1520, Paus mengeluarkan bulla kepada
M.Luther. ( bullah adalah surat resmi dari paus tentang sesuatu pokok
persoalan). Dalam bulla itu 41 ucapan M.luther ditolak, dan jika dia tidak
bersedia menarik kembali perkataan-perkataannya
dalam waktu 60 hari, maka dia
akandipandang sebagai penyesat yang harus dikenakan hukuman gereja. Tetapi
bulla itu dijawab oleh M.Luther dengan sebuah surat yang berjudul: “Melawan
bulla yang terkutuk dari si Anti
Kristus”. Lalu bulla itu dibakarnya tanggal 10 Desember 1520 di depan pintu
gerbang kota Wittenberg, di hadapan
koleganya para guru-besar dan para mahasiswa. Dan bersama dengan bulla
itu dia juga membakar kitab Undang-undang Gereja RK, karena menurutnya kitab
itulah yang mendasari banyak kekeliruan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan
oleh paus.
§ Tanggal 3 Januari 1521, paus mengeluarkan lagi bulla yang kedua,
yakni sebuah bullah kutuk kepada M.Luther, tetapi bulla itu tidak banyak lagi
mendapat perhatian orang banyak.
§ Tanggal 18 April 1521, Kaisar Karel V
memanggil M.Luther agar datang ke sidang kekaisaran yang diadakan di kota
Worms untuk memberi pertanggung-jawaban
atas perbuatan-perbuatan dan tulisan-tulisannya. Walaupun pada waktu itu Kaisar
memberi jaminan atas keselamatan M.Luther dalam perjalanan pulang-pergi ke
sana, namun sahabat-sahabatnya takut bahwa dia akan ditangkap dalam perjalanan,
yang oleh sebab itu M.Luther diminta untuk tidak pergi ke sana. Tetapi
M.Luther berkata kepada
sahabat-sahabatnya itu: “Biarpun di Worms ada setan sebanyak genteng di atas
rumah, aku akan pergi juga.” Pembelaan
M.Luther di hadapan kaisar dan raja-raja pada sidang kekaisaran itu menjadi
terkenal. Wakil paus menuntut supaya M.Luther memungkiri serta menarik segala
pandangannya yang dianggap sesat itu. Tetapi M.Luther menjawab: “Sebagai
manusia saya yakin bahwa saya bisa
sesat. Tetapi hendaklah saya diperbolehkan menuntut supaya dari Firman Allah
dibuktikan bahwa saya sesat”. Tetapi bukti yang dituntut oleh M.Luther tidak
pernah ada diberikan oleh pihak paus. Karena itu M.Luther tidak mau menarik
ajaran-ajarannya dan di hadapan kaisar, paus dikecam oleh M.luther telah berkali-kali
sesat.
§ Walaupun masyarakat Jerman menghormati
M.Luther selaku pahlawan mereka, namun Kaisar Karel V yang memimpin kekaisaran
Jerman pada waktu itu mengeluarkan Edik Worms.
Dalam Edik yang dikeluarkan tanggal 26 Mei 1521 itu Luther dan
pengikut-pengikutnya dikucilkan dari masyarakat dengan “kutuk kekaisaran”.
Segala karangan M.Luther diperintahkan
harus dibakar, dan M.Luther dinyatakan bisa ditangkap atau dibunuh oleh
siapapun yang menemukannya. Dari sidang di Worms itu M.Luther disuruh pulang
lebih dahulu, sebelum edik itu dikeluarkan. Tetapi ketika kereta kudanya
melintasi hutan, keretanya disergap sepasukan orang berkuda yang bersenjata.
Orang menyangka bahwa musuhnyalah yang menangkap M.Luther, tetapi sebenarnya
raja Fiederick yang Bijaksanalah yang menyuruh pasukan itu untuk menyelamatkan
M.Luther. Dia kemudian disembunyikan di
rumah seorang bangsawan di Wartburg.
Selama sepuluh bulan dia tinggal di sana dengan berpakaian kesatria dan memakai
nama samaran yaitu: “Pangeran George”.
Tetapi selama itu, dia mulai menerjemahkan Alkitab itu ke dalam bahasa Jerman,
yang selama beberapa bulan saja, dia sudah selesai menerjemahkan Kitab
Perjanjian Baru. Dan selain itu dia juga
menulis buku-buku yang lain, antara
lain: Kitab rencana khotbah, yang dimaksudkan untuk para pendeta yang membutuhkan tuntunan dalam hal
berkhotbah.
11.5.
Kembali
ke Wittenberg
Setelah hampir satu tahun di Wartburg, dia
kembali lagi ke Wittenberg, meneruskan pekerjaannya sebagai mahaguru di sana, dan juga meneruskan pekerjaan reformasi itu.
Setelah mereformasi banyak ajaran gereja RK, sekarang dia mulai memperbaharui
tata ibadah. Sesuai dengan prinsip
reformasinya bahwa yang perlu diubah
hanyalah apa yang nyata bertentangan dengan Alkitab, maka dalam tata
ibadah itu, M.luther masih banyak mempertahankan bentuk tata-ibadah yang lama.
Sesudah salam-berkat, jemaat mengaku dosanya dan pengampunan diberitakan, lalu
Alkitab dibacakan, khotbah disampaikan,
kemudian ada perayaan sakramen. Beberapa
perubahan yang terjadi dalam tata-ibadah itu
yakni:
Pertama, perubahan bahasa. Karena ibadah
menurut dia juga dimaksudkan untuk
menyampaikan Firman kepada warga jemaat, maka bahasa ibadah yang lama yaitu
bahasa Latin diganti menjadi bahasa Jerman, agar bisa dimengerti oleh warga
jemaat itu.
Kedua,
pengertian mengenai makna ibadah
berubah secara asasi. Sepertti sudah disinggung di atas, dalam ibadah
yang lama (RK), yang menjadi pusat adalah perayaan Sakramen, dimana diyakini
terjadi lagi pengulangan korban Kristus secara tidak berdarah. Dan melalui
penerimaan Sakramen itu, berlangsung penyaluran anugerah yang menjadikan orang
yang menerimanya sanggup berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi menurut M.luther, makna ibadah bukan
pengorbanan Kristus dalam Missa, dan bukan juga penyaluran anugerah, tetapi
pemberitaan rahmat Tuhan bagi setiap orang yang mau mendengar. Pemberitaan
rahmat Tuhan itu terjadi dalam
Pemberitaan Firman, dan dalam pelayanan Sakramen yang menandai dan
memperlihatkan apa yang dinyatakan dalam Pembeitaan Firman itu. Karena itu
dalam setiap ibadah pemberitaan Firman atau khotbah harus ada.
Ketiga, adanya kegiatan atau partisipai
aktif dari warga jemaat di dalam ibadah itu. Pada zaman gereja mula-mula,
ibadah diselingi dengan nyanyian jemaat.
Pada zaman Pertengahan warga jemaat
semakin tidak aktif. Tetapi M.luther memulihkan kembali keaktifan dari warga
jemaat, terutama melalui nyanyian.
13.6. Sedikit mengenai bapak-bapak Reformator lain:
Reformasi yang dicetuskan Martin Luther
ternyata tidak hanya berpengaruh di
Jerman, tetapi juga di daerah-daerah lain, khususnya di Swiss. Oleh
pengaruh M.luther, di sana muncul dua orang reformator, yakni UlrichZwingli dan
Yohannes Calvin.
Reformasi
di Swiss dimulai oleh Ulrich Zwingli
(1484- 1531), seorang imam di kota Zurich. Dia dididik sebagai seorang
humanis, dan termasuk salah seorang teman dari humanis yang terbesar pada waktu
itu, yakni Desiderius Erasmus. Walaupun dia juga terpemgaruh oleh pengajaran
Luther, tetapi Zwingli mungkin dapat juga disebut sebagai seorang “humanis yang radikal”. Zwingli memang mempunyai banyak pandangan
yang sama dengan Luther, tetapi
kadang-kadang dengan alasan-alasan yang berbeda. Misalnya, walaupun Luther dan
Zwingli percaya mengenai "“predestinasi", dalam arti bahwa Allah sendirilah yang
menyelamatkan kita, karena apa yang kita perbuat. Tetapi Luther mempercayai hal
ini karena dia yakin, bahwa kasih Allah lebih besar dari dosa kita. Sedang di
pihak lain, Zwingli mempercayai ini karena dia berfikir bahwa Allah adalah
sumber dari segala sesuatu yang terjadi, termasuk keselamatan kita. Pandangan
Zwingli ini masih banyak dipengaruhi
oleh pandangan Thomas Aquinas.
Zwingli
adalah orang yang banyak berkecimping dalam pertempuran, dan yang banyak melayani sebagai seorang imam
khusus bagi tentera-tentera di Zurikh. Pada waktu itu Swiss dikenal sebagai
gudang tentera-tentera bayaran bagi Paus, dan dia sendiri mati dalam peperangan
antara kota-kota Katolik dan kota-kota reformatoris tahun 1531. Dia sangat
populer di tengah-tengah masyarakat Zurich karena dia bertahan di kota itu
ketika berjangkitnya wabah penyakit pes di sana dan merawat orang yang sakit.
Zwingli
memulai karya sebagai seorang Reformator
dengan mengkhotbahkan serangkaian
khotbah yang didasarkan langsung kepada
teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Dua pokok pengajaran Zwingli yang paling penting ialah:
1.
Alkitab
itu adalah penuntun yang lengkap bagi kehidupan Kristen
2.
Pengajaran
pokok dari Alkitab itu ialah
pemerintahan langsung dari Allah atas dunia dan kehidupan manusia.
Dalam
pengajarannya bahwa Alkitab itu
benar-benar sebagai penuntun yang lengkap kepada kehidupan, maka menurut Zwingli orang-orang Kristen terikat kepada apa yang Alkitab ajarkan dan
yang lain sama sekali tidak ada. Sehubungan dengan kepercayaan ini, suatu
ibadah yang sama sekali baru dan sederhana, didasarkan sama sekali atas
Alkitab, Walaupun Zwingli tergolong
kepada seorang ahli teologi yang radikal, tetapi dia juga seorang konservatif dan praktis dalam cara-cara yang
lain. Dia merasa bahwa Dewan Kota mempunyai hak untuk memutuskan bagaimana
ibadah yang seharusnya. Dalam dalil-dalilnya yang terdiri dari 67 artikel, dia menekankan bahwa
hanya Kristus Juruselamat dan pengantara. Dia menolak primasi kepausan, menolak
missa, menolak pemujaan orang-orang kudus, puasa, selibat, api penyucian, dll.
Dalil-dalilnya itu dipertahankan dalam perdebatan yang diundang oleh Dewan kota di Zurich tahun
1523. Dewan kota mendukung kepada
ajaran-ajarannya, yang sejak itu terjadilah
pembaharuan yang besar di
kalangan jemaat dan orang-orang Kristen di Zurikh.
Suatu
pandangannya yang sangat berbeda dan
yang tidak bisa diperdamaikan dengan Martin Luther ialah mengenai Perjamuan
Kudus. Bagi M.luther Perjamuan Kudus adalah perbuatan yang paling penting dalam gereja,
yang di dalamnya Kristus hadir secara nyata
dalam tubuhnya. Tetapi dia percaya bahwa itu terjadi hanya karena kasih setia Allah kepada
umatnya, bukan karena kata-kata yang diucapkan oleh imam yang melayani. Dan
menurut Luther, Allahlah yang
mempersembahkan tubuh dan darah Kristus, bukan Gereja. Dan Perjamuan Kudus
bukan suatu korban Kristus yang baru
bagi dosa-dosa manusia, sebagaimana diajarkan oleh gereja RK. Perjamuan Kudus
itu adalah persekutuan dengan Kristus. Dan dalam Perjamuan Kudus zat dari roti dan anggur tidak berobah,
tetapi Kristus hadir bagi setiap yang
makan dan minum , di bawah, bersama dan di dalam roti dan anggur itu.
Tetapi
Zwingli memahami Perjamuan Kudus dalam cara yang berbeda. Dia mengajarkan
bahwa Perjamuan Kudus itu adalah suatu peringatan akan kematian Kristus, suatu janji kesetiaan kepada Juruselamat itu,
dan suatu proklamasi umum mengenai
keselamatan yang dibawanya. Untuk itu roti dan anggur hanyalah sebagai simbol atau tanda dari tubuh dan darah Kristus. Simbol atau tanda
tidak dapat menjadi satu dan sama dengan
hal yang disimbolkan atau ditandakan.
Perbedaan
pandangan dari M.Luther dan Zwingli pernah dipercakapkan dalam Percakapan di Marburg tahun 1529, yang
diprakarsai tokoh-tokoh reformator lainnya yang lebih moderat, seperti Martin
Bucer. Dari lima belas fasal perdamaian
yang dikemukakan pada waktu itu, empat
belas dapat mereka sepakati, tetapi satu
pokok yang tidak dapat memperoleh kesepakatan ialah mengenai Perjamuan Kudus,
yang juga banyak menjadi pokok persengketaan di kalangan golongan Protestan,
termasuk juga antara Luther dengan Calvin di kemudian hari.
Yohannes
Calvin (1509 – 1564).
Di adalah salah seorang Sarjana Hukum Perancis, tetapi mulai tahun 1533 dia berminat pada ilmu teologi karena pada waktu itu dia merasa terpanggil untuk
menjadi pelayan Allah. Sejak tahun 1524, ketika dia belajar ilmu hukum di Orleans Perancis, dia telah berjumpa
dengan seorang pengikut Luther, dan tertarik kepada reformasi M.Luther. Dia
kemudian menjadi salah seorang pengikut reformasi Luther. Tetapi akibat dari
ketetapan hatinya itu, dia harus
meninggalkan Perancis, karena pada waktu
itu sedang terjadi penghambatan yang besar terhadap pengikut Reformasi dari
raja setempat yang setia kepada RK. Akhirnya dia meninggalkan negerinya itu dan
menjadi pendeta di kota Jenewa Swiss. Di tempat inilah dia menjalankan
reformasinya. Dan di sinilah dia tahun
1536 menyelesaikan bukunya yang sangat terkenal yang diberi judul: “Pengajaran agama Kristen”, yang biasa disebut Institutio, karena judul aslinya dalam bahasa Latin adalah: Institutio Christianae Religionis. Buku yang
pada mulanya diterbitkan tanpa nama pengarangnya itu, yang dipersembahkan kepada Raja Perancis,
Frans I, untuk
menerangkan keikhlasan dan kejujuran ajaran
Kristen yang Injli, dan mempertahankan
kebenaran ajaran-ajaran itu, serta membela pengikut-pengikut ajaran itu dari fitnahan yang dikenakan kepada mereka.
Tetapi buku ini disambut dengan pembakaran
resmi di Perancis oleh sang raja.
Di
Jenewa dia banyak memperbaiki kehidupan moral
masyarakat di kota itu yang sangat buruk: suka mabuk, berjudi, berzinah
dan lain-lain. Untuk itu Calvin berusaha mengatur kehidupan masyarakat Jenewa
menurut cita-cita teokrasi.
Dalam
banyak hal, Calvin mengikuti ajaran Luther, misalnya ajarannya yang
mengatakanbahwa Alkitab sebagai dasar
satu-satunya kebenaran, dan ajaran tentang Pembenaran oleh iman. Dan
pikiran-pikirannya dalam buku Institutionya itu
banyak didasarkan pada pikiran-pikiran Paulus dalam surat Roma. Tetapi pengajaran Calvin
yang berbeda dengan Luther ada dua hal, yakni: tentang Gereja dan Perjamuan
Kudus.
Pertama, tentang gereja:
Bagi Luther gereja yang benar terdiri dari
orang-orang percaya yang benar dan hanya
Allah yang tau dengan sesungguhnya siapa
mereka. Gereja yang kita lihat di dunia adalah lembaga yang kelihatan, yang
mempunyai bangunan di mana orang dapat
berkumpul untuk mendengar Firman Allah dan merayakan sakramen. Sedangkan Calvin percaya bahwa gereja
menjadi suatu lembaga bagi pendidikan
Kristen, di mana orang-orang dipangil bukan hanya bertobat dan percaya, tetapi
juga mengajarkan bagaimana hidup Kristen
dalam jalan yang praktis. Karena itu gereja yang dapat dilihat sangat penting
bagi Calvin. Dia percaya bahwa gereja itu harus diatur dengan sungguh-sungguh sesuai dengan
ajaran Pejanjian Baru. Tidak cukup kalau
Firman diberitakan, dan Sakramen dirayakan, tetapi seluruh kehidupan, baik
hidup perorangan, maupun hidup masyarakat, harus diatur sesuai dengan kehendak
Allah. Pemerintah ikut bertanggung-jawab untuk ini, yakni untuk mendukung
gereja dan menghilangkan segala sesuatu
yang berlawanan dengan pemberitaan yang sejati. Mereka yang tetap
membandel harus dikucilkan. Untuk
inilah dia tahun 1541 menyusun sebuah
tata gereja yang baru, yang diberi nama: Undang-undang
gerejawi. Di samping jabatan pendeta, Calvin juga mendirikan jabatan
penatua dan diakon (syamas) seperti yang ada dalam P.B. Penatua melaksanakan
pemerintahan dalam gereja dan secara khusus melaksanakan disiplin gereja ;
sedangkan diakon-diakon bertugas memelihara orang-orang miskindan orang sakit.
Penatua dipilih dari dan oleh jemaat
untuk waktu tertentu. Dengan bentuk pemerintahan gereja oleh para penatua ini,
di mana pemerintahan gereja bukan dari bawah
dan bukan dari atas, tetapi oleh majelis
penatua. System ini disebut Presbyterial.
Ajarannya tentang Perjamuan Kudus:
Sebagaimana halnya reformator yang mendahuluinya di Swiss
yakni Zwingli, Calvin juga mempunyai pandangan yang berbeda dari Luther tentang
Perjamuan Kudus, walaupun mereka sama-sama menolak ajaran “transubstansiasi”
RK. Dalam ajaran transubstansiasi RK, zat dari roti dan anggur benar-benar
berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah imam yang melayani mengucapkan kata-kata yang
pernah diucapkan oleh Yesus pada waktu melakukan Perjamuan dengan
murid-muridnya. Ajaran Luther masih mirip dengan ajaran RK, di mana dia
mengatakan bahwa Yesus Kristus benar-benar hadir dalam Perjamuan Kudus dengan tubuh dan darahnya bersama-sama dengan
roti dan anggur, dengan tindakan Allah bukan tindakan manusia. Sedangkan Calvin
mengajarkan, kehadiran Kristus dalam Perjamuan itu adalah kehadiran rohani, dan
Kristus itu hanya datang bagi orang-orang percaya.
Reformasi Martin Luther dan kawan-kawannya
13.1.
Situasi
umum di Eropa menjelang terjadinya reformasi
M.Luther
Menjelang terjadinya reformasi M.Luther,
telah banyak terjadi perubahan dan kemajuan di dalam hekdupan masyarakat Eropa,
antara lain:
§ Hubungan dengan dunia luar semakin terbuka.
Sejak ditemukannya benua Amerika oleh
Colombus tahun 1492, semakin banyak
orang-orang Eropa yang hijrah dari Eropa ke
benua yang baru ditemukan itu.
§ Bidang ilmu pengetauan dan tenologi semakin
maju. Orang-orang Eropa semakin banyak yang
berpendidikan tinggi, karena universitas-unverisitas dan badan-badan
pendiidikan tinggi lainnya semakin banyak berdiri di Eropa. Dalam kemajuan teknologi, alat-alat
percetakan buku-buku telah ditemukan sejak abad 15. Adanya percetakan-percetakan buku itu
sangat menunjang dalam mepercepat
penyebaran karya-karya atau tulisan-tulisan
reformasi M.Luther untuk masyarakat Kristen Eropa.
§ Dalam bidang kerohanian dan keagamaan, juga
telah terjadi banyak perubahan. Pada akhir abad 15 sampai dengan awal abad 16, usaha-usaha
pembaharuan gereja semakin banyak dilakukan, walaupun cara-cara pembaharuan itu
masih dilakukan dengan jalan yang berbeda-beda. Misalnya ada yang mengusahakan
pembaharuan itu dengan membina kesucian
pribadi, seperti dilakukan oleh golongan mistik Kristen. Ada yang mengkritik teologia dan ajaran gereja yang resmi bertolak dari ajaran
Alkitab seperti dilakukan oleh perintis-perintis reformasi. Ada juga yang
mengkritik kuasa-kuasa paus yang terlalu
besar dan mengembangkan peranan dari konsili-konsili gereja, seperti
dikembangkan oleh aliran konsiliarisme.
§ Dalam bidang sosial politis terlihat bahwa kedudukan bangsa-bangsa di
Eropa semakin kuat, sejajar dengan pertumbuhan nasionalisme di benua itu.
Raja-raja dari masing-masing bangsa
berusaha mengatur urusan negara dan bangsa masing-masing tanpa harus
dicampuri oleh paus lagi. Peranan dari bahasa-bahasa nasional dari masing-masing bangsa semakin menonjol,
dan peranan bahasa Latin sebagai bahasa umum di gereja dan masyarakat Kristen
Eropa semakin mundur dan ketinggalan. Sejalan dengan itu tulisan-tulisan ilmiah
juga telah diterbitkan dalam bahasa nasional, bukan lagi dalam bahasa Latin.
13.2. Perkembangan kehidupan Martin Luther
(mengenai riwayat hidup yang lebih lengkap
dari Martin Luther baca: W.J. Kooiman, Martin Luther, BPK Jakarta).
Martin
Luther lahir 10 Nopember 1483 di kota Eisleben Jerman dalam sebuah keluarga
yang miskin, tetapi setia kepada gereja Roma Katolik. Ayahnya yang bernama Hans Luther
bekerja sebagai seorang pekerja tambang di kota itu . M.Luhter meninggal tahun 1546. Perkembangan kehidupan M.Luther sampai
permulaan usaha reformasinya tahun 1517, ditentukan oleh tiga lingkungan
pengalaman, yakni:
1)
Pendidkan
yang diterima pada masa mudanya
2)
Pengalamannya
dalam kehidupan di biara
3)
Pengalamannya
sebagai mahaguru teologi di Universitas Wittenberg.
11.2.1.
Pendidkan
yang diterima pada masa mudanya.
Pendidikan
yang diterima Martin Luther semasa anak-anak sangat keras. Seperti anak-anak
yang lain pada zamannya dia dibimbing oleh orang tuanya mengikuti cra-cara
kesalehan Katolik Roma, yakni kepatuhan
kepada aturan-aturan gereja. Dan seperti
anak-anak lainnya juga pada umur tujuh
tahun, dalam persiapan menerima Konfirmasi sebagai salah satu Sakramen yang
diajarkan gereja RK, dia telah dapat
menghafal Dasa Titah, Pengakuan Iman
Rasuli, Doa Bapa Kami dan sejumlah ayat-ayat tertentu yang diucapkan pada
hari-hari suci. Pada masa anak-anak dia juga sudah dipersiapkan mengenal bahasa
gereja yakni bahasa Latin.
Di
kemudian hari orang tua Martin Luther mendapat kemajuan di bidang sosial
ekonomi. Karena itu dia berusaha agar M.Luther bisa sekolah di sekolah yang
baik. Tetapi adalah suatu kebiasaan pada waktu itu anak-anak sekolah pergi
bernyanyi ke lorong-loring kota untuk
mencari biaya sekolahnya. Untuk itu tidak ada perbedaan, baik anak-anak dari
keluarga yang kaya maupun dari keluarga
yang miskin. Setiap anak sekolah harus melaksanakannya.
Pada
umur tujuh belas tahun dia sudah lulus
Sekolah Menengah dan kemudian dia memasuki sebuah Universitas di Erfurt. Orangtuanya menginginkan agar dia kelak
menjadi seorang sarjana hukum, dengan harapan dia akan dapat memperoleh suatu
jabatan yang penting dalam pemerintahan
di negerinya. Untuk itu dia
memasuki Fakultas Hukum, yakni suatu fakultas yang banyak diminati orang pada
waktu itu. Dalam empat tahun dia sudah
menyelesaikan tingkat Artes (semacam sarjana muda). Setiap orang
yang akan melangkah ke tingkat Sarjana Penuh dalam berbagai bidang, harus lebih
dulu lolos dalam tingkat ini.
Tetapi
sebelum melangkah ke tingkat Sarjana Penuh di bidang Hukum, pada umur 21 tahun, yakni tahun 1505,
M.Luther tiba-tiba mengalami suatu perubahan
dalam hidupnya. Di tengah jalan ketika dia pulang dari mengunjungi orang tuanya untuk kembali
ke tempat sekolahnya di Erfurt, dia merasa sangat ketakutan sekali karena
datangnya guruh dan halilintar yang sangat keras yang dirasakan hampir
menyambar dirinya. Karena takut akan dosa-dosanya dan akan penghukuman yang
terakhir, maka dia berseru: “Santa Anna yang baik, tolonglah aku. Aku mau
menjadi seorang rahib kalau aku selamat !”. Setelah dia tiba di kota Erfurt
dengan selamat, janjinya itu segera ditepati. Dia memutuskan untuk berhenti
dari studinya dan memasuki sebuah biara yang sangat keras aturanya di kota itu,
yang bernama biara Ordo Augustinus.
Mendengar hal ini maka bapanya sangat marah, karena khawatir bahwa dia
akan kehilangan anaknya yang sangat berbakat itu.
11.2.2.
Pengalamannya
di biara
Biara
Ordo Augustinus yang dimasuki M.luther itu adalah sebuah biara yang baru
dibuka pada waktu itu, tetapi terus
menjadi sebuah biara yang terkenal, karena peraturan dan disiplinnya yang sangat
keras. Ada dua hal yang mendorong M.Luther
mengapa dia memilih biara itu, yakni:
1)
Harapan
untuk memperoleh ketenangan jiwa dengan jalan mematuhi peraturan-peraturan yang
keras itu.
2)
Keinginan
untuk dapat menuntut ilmu teologi.
Dalam
biara itu M.Luther memang segera dikenal oleh pemimpin biara, karena
kesungguhannya memenuhi semua tuntutan biara itu. Dan pemimpin biara juga
mendorong dia untuk menuntut ilmu teologi. Tetapi langkah untuk itu dia harus
lebih dulu memperoleh jabatan imam. Dan untuk bisa menjadi imam, dia harus
belajar dua tahun. Hal itu dia jalani
dengan sungguh-sungguh, sehingga tahun 1507, dia telah ditahbiskan menjadi
seorang imam. Seorang imam telah diperbolehkan
untuk melayani missa atau Ekaristi dan mendalami Alkitab.
Tetapi
dalam biara itu ada suatu pertanyaan yang selalu mengganggu hati dan fikiran
Martin Luther, yakni: “bagaimana saya dapat memperoleh rahmat Allah”.
Pertanyaan itulah yang mendorong M.Luther mengerjakan segala tuntutan atau
peraturan dari biara itu. Namun ia belum pernah menemukan jawaban dari
pertanyaan itu, namun hatinya semakin gelisah.
Tahun
1510 dia mendapat kepercayaan dari pimpinan biara untuk pergi ke kota Roma
mengurus sesuatu hal yang menyangkut ordo mereka. Kesempatan ini sangat
menggembirakan dirinya, karena di Roma dia mengharapkan akan memperoleh rahmat Allah yang melimpah. Tetapi sepulang
dari Roma dia tidak memperoleh apa yang diharapkan. Malah pergumulan batinnya
semakin hebat. Pembimbingnya di biara itu, Johan von Staupitz yang mengetahui
hal itu menasehatkan agar M.Luther menerima rahmat Allah itu dalam sakramen
tanpa ragu-ragu. Itu semua dituruti oleh Luther, tetapi tidak menolong sama
sekali bagi dirinya.
Namun
demikian, dia tetap mendalami Alkitab itu dengan sungguh-sungguh. Dan karena
ketekunannya itu, maka tahun 1512, dia telah berhasil mendapat gelar “doktor dalam bidang Alkitab atau Kitab
Suci”. Segera setelah itu, maka dia diangkat menjadi seorang guru-besar dalam bidang ilmu teologi
di Universitas Wittenberg. Pekerjaan itu dipegangnya sampai saat
meninggalnya tahun 1546.
11.2.3.
Pengalamannya sebagai mahaguru di Universitas Wittenberg
Sebagai seorang doktor dalam bidang Alkitab
dan mahaguru dalam bidang ilmu teologi, dia banyak mendalamai isi Alkitab itu
dan menafsirkannya. Terutama dia banyak menfsirkan Kitab Mazmur. Metodenya dalam menafsirkan Alkitab itu ialah dengan
lebih dahulu menerapkan perkataan-perkataan Mazmur itu kepada Kristus, baru
kemudian kepada orang-orang percaya.
Dengan penafsiran seperti itu maka dia menimpulkan
bahwa apa yang terjadi atas diri Kristus, juga akan terjadi bagi orang-orang
percaya, karena Kristus adalah kepala dari tubuh itu, yakni orang-orang
percaya. Penderitaan yang dialami oleh Kristus juga akan dialami orang-orang
percaya. Dan bagi M.Luther orang-orang yang percaya kepada Kristus pada waktu
yang sama adalah orang-orang berdosa tetapi juga adalah orang benar. atau
dengan istilah Latinnya disebut: “simul iustus et peccator”, yang
artinya pada waktu yang sama benar dan
berdosa. Teologi M.Luther ini kemudian juga disebut ‘teologi crusis” atau teologi penderitaan. Teologi itu
diformulasikan sbb: “siapa yang tidak mati bersama-sama Kristus dan turun ke
neraka, ia tidak bangkit dan tidak naik ke sorga bersama-sama dengan Dia”.
Inilah jalan penderitaan yang dilalui Yesus menurut M.Luther, yang juga harus
dilalui oleh orang-orang percaya.
Mazmur yang banyak digumuli oleh M.Luther
mengenai kebenaran Allah ialah Mazmur 71 ( atau dalam terjemahan Yunani dan
Vulgata yang banyak dipakai oleh M.Luther, Mazmur 70). Dalam Mazmur ini terdapat kata “benar” dan “kebenaran” (iustus
dan isutitia), yang dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, diterjemahkan
dengan “keadilan”. Dalam salah satu ayatnya
dikatakan: “Di dalam kebenaranmu tertolonglah aku”. (Terjemahan LAI: “… luputkanlah aku oleh karena keadilanmu”)
(Maz.71: 2). Berdasarkan itu maka M.Luther memahami bahwa kebenaran Allah
adalah suatu sifat Allah yang menyelamatkan, bukan yang membalaskan. Kebenaran
itu adalah suatu rahmat Allkah, yang tidak bisa dicari melalui kepatuhan kepada
hukum-hukum gereja, tetapi hanya sebagai pemberian Allah dalam Kristus.
Pemahaman yang baru inilah yang kemudian
mempertemukan dia kepada Surat Roma 1: 16-17 dan 3: 21. Ayat-ayat inilah yang dirasakan M.Luther
sebagai jawaban atas pertanyaan yang sudah lama dipergumulkan yakni:
“bagaiamana saya dapat memperoleh rahmat Allah”. Berdasarkan Roma 1: 16-17 itu
jelas bagi dia bahwa kebenaran Allah tidak sama dengan kebenaran seorang hakim
duniawi. Kebenaran Allah itu tidak lain dari pada anugerah Allah yang bersedia
untuk membenarkan orang-orang berdosa. Dan kebenaran seperti itu hanya dapat
diterima melalui iman. Dengan pemahaman
baru yang ditemukan tahun 1514 itu, M.Luther merasa seakan-akan telah lahir kembali dan masuk ke
dalam Firdaus. Dan dengan pemahaman ini maka dia merasa telah bebas dari
ketakutan akan murka Allah dan penghakiman
yang terakhir, karena rahmat Allah baginya adalah pengampunan yang membebaskan.
11.3.
Jalan
Reformasi M.Luther
Pandangan baru yang ditemukan M.luther itu
segera tersiar di Wittenberg. Oleh pengaruh pandangan itu, maka Alkitab dan
teologi Augustinus makin banyak dipelajari orang. Dan sebaliknya teologi
skolastik yang cukup berpengaruh sampai
akhir Zaman Pertengahan makin
ditolak. Pandangan baru yang berdasarkan
Alkitab itulah yang menjadi titik tolak Reformasi M.Luther.
Ada suatu peristiwa besar yang mendorong
dirinya melakukan reformasi itu dengan cepat, yakni praktek penjualan Surat
Penghapusan Siksa dalam Gereja Katolik Roma. Dengan Surat Penghapusan Siksa itu
dinyatakan bahwa setiap orang yang membelinya, dosanya telah diampuni dan bebas
dari siksaan di api penyucian setelah orang meninggal. Di Jerman penjualan
Surat Pengahpusan Siksa itu dipelopori
oleh Johan Tetsel. Menurut ajaran resmi gereja pada waktu itu, penghapusan
siksa hanya berlaku bagi seseorang yang
telah menyesali dosanya secara sungguh-sungguh di hadapan imam dan telah
menerima pengampunan dosa melalui Sakramen Pengampunan Dosa . Tetapi demi
meningkatkan penjualan surat-surat itu,
syarat itu tidak diikuti lagi, sehinga timbul kesan bahwa pengampunan dosa dan
pendamaian dengan Allah bisa dibeli
dengan uang. Kesan seperti itu memang nampak dari propaganda penjualan yang
dilakukan, di mana Tetsel mengatakan
bahwa pada saat mata uang berbunyi di peti, jiwa (roh) yang membelinya
melompat masuk ke dalam sorga.
Praktek penjualan Surat Penghapusan Siksa
itu ditentang oleh Martin Luther melalui khotbah-khotbahnya. Dan untuk itu dia
menulis 95 dalil di sehelai kertas yang
ditulis dalam bahasa Latin (bahasa kaum cendekiawan pada waktu itu) dan
ditempelkkan di pintu gereja Wittenberg, 31 Oktober 1517. Tanggal inilah kemudian ditetapkan
sebagai hari Reformasi. Diharapkanke 95
dalil itu akan dapat dibaca oleh orang banyak yang akan memasuki gereja itu
tgl. 1 Nopmeber, yakni hari perayaan segala orang kudus bagi gereja RK. Dalil
–dalil M.Luther ini yang terpusat pada penjelasan akan arti pertobatan dan
pengampunan dosa, segera tersebar luas. Dan dengan adanya dalil-dalil itu, maka
penjualan Surat Penghapusan Siksa
menjadi berkurang. Akibatnya, Luther dituduh sebagai penyesat dan Paus
Leo XX di Roma menuntut supaya M.Luther
menarik kembali ajaran-ajarannya itu, namun M.Luther tidak mau melakukannya.
Situasi politis di Jerman pada waktu itu memberi dukungan kepada reformasi
M.Luther, karena Jerman sudah lama ingin membebaskan diri dari kekuasan Paus di Italia. Raja dari Kerajaan
Saksen ( suatu negara bagian Jerman) yang bernama: Friderick yang
Bijaksana, berjanji akan tetap
melindunginya.
Pandangan reformasi M.Luther ini kemudian dieperkembang melalui tiga
tulisannya yang terbit tahun 1520, yakni:
1)
Kepada
kaum bangsawan Kristen Jerman mengenai perbaikan masyarakat Kristen
2)
Pembuangan
Babel terhadap gereja
3)
Kebebasan
seorang Kristen.
Dalam
buku yang pertama, M.Luther mengajak
seluruh penguasa di Jerman ,yakni
kaisar dan raja-raja, supaya mereka selaku
anggota gereja dan orang-orang Kristen, turut serta berusaha memperbaiki
keadaan gereja yang sangat memburuk pada waktu itu, karena kaum klerus (pejabat
gereja) tidak mau melakukan pembaharuan
itu. Dalam tulisan itu dia juga menyangkal kuasa paus yang mengatasi kedudukan
konsili dan Alkitab. Dengan mengajarkan imamat
am seluruh orang percaya, dia mengatakan bahwa seluruh orang Kristen adalah
juga imam dan ikut bertanggung-jawab dalam gereja.
Dalam
buku yang ke dua , dia mengajak seluruh teolog gereja supaya
berusaha menyelamatkan seluruh orang Kristen dari cengkeraman ajaran-ajaran
sesat dalam gereja, khususnya ajaran tentang Sakramen. Di sini M.Luther
mengatakan bahwa, hanya Baptisan dan Perjamuan Kuduslah yang bisa didasarkan
atas Alkitab sebagai Sakramen. Tentang Sakramen Pengakuan Dosa, M.Luther masih
ragu-ragu. Tetapi seluruh sakramen
lainnya ditolak. Cara Sakramen itu dipergunakan dan anggapan bahwa
Sakramen ibisa bekerja secara otomatis
dan magis menyalurkan anugerah ke dalam diri manusia, juga ditolak. Ke
tujuh Sakramen gereja RK itu menurut M.Luther sudah bagaikan tujuh mata rantai
yang mengikat dan membelenggu kehidupan orang-orang Kristen dari sejak lahir
sampai ke liang kubur. Sakramen yang sesunguhnya menurut M.Luther adalah penyaluran atau tanda dari apa yang
dinyatakan Firman Itu. Sebutan lain
yang dipakai M.Luther untuk Sakramen itu adalah Firman dalam rupa tanda ( bd.
Augustinus yang mengtakan Sakramen itu
adalah Firman yang kelihatan). Dan jawaban kita atas penerimaan Sakramen itu
adalah iman.
Dalam
buku yang ke tiga, M.Luther menulis untuk seluruh orang Kristen, khususnya
mereka yang masih buta akan isi Alkitab itu, agar mereka dapat mengerti apa
artinya mereka sebagai orang Kristen, dan bagaimana seorang Kristen
diselamatkan oleh Kristus dan bagaimana dia menyatakan dirinya sebagai orang
Kristen di tengah-tengah dunia dan sesamanya. Dalam buku
yang berjudul “kebebasan seorang Kristen” itu, dia
menyimpulkan arti kebebasan seorang Kristen dalam dua dalil, yakni nampaknya
bertentangan ,tetapi aling berkaitan satu sama lain, yakni:
§ Seorang Kristen adalah tuan yang sama
sekali bebas atas segala hal dan tiada mengabdi kepada siapa pun.
§ Seorang Kristen adalah hamba yang sama
sekali patuh atas segalanya dan mengabdi kepada semua.
Rumusan
dalil ini didasarkan atas perkataan
Paulus dalam I Korint 9: 19; Roma 13: 8; Gal. 4: 4; Fil. 2: 6-7. Dalam I Korint
9: 19, dikatakan: “Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,
supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang”. Bertitik tolak dari ke dua dalil tersebut,
M.Luther menerangkan arti kebebasan seorang Kristen dengan dua perkataan
teologis yakni: iman dan kasih; tetapi tekanannya adalah atas
iman itu sendiri, karena menurut dia, dari imanlah mengalir cinta kasih. Dari
sinilah timbul ajarannya yang mengatakan : "hanya oleh iman saja” (Sola
fide). Dalam iman seorang Kristen
menjadi tuan yang merdeka, tetapi oleh iman pula seorang Kristen masih
mengikatkan diri kepada sesamanya dalam ikatan cinta kasih.
Secara
ringkas pokok-pokok ajaran M.Luther selama reformasinya itu adalah sbb:
1)
Ajarannya
tentang tiga kebenaran azasi, yakni:
§ Hanya oleh iman (Sola fide); dikatakan bahwa setiap orang percaya
dibenarkan di hadapan Allah hanya oleh iman.
§ Hanya oleh anugerah (Sola gratia); Allah mengampuni dan
membenarkan manusia, hanya oleh anugerahnya saja, bukan karena perbuatan baik
manusia itu.
§ Hanya Alkitab (Sola Scriptura): Alkitab sebagai
satu-satunya dasar kebenaran, di mana Allah menyatakan Firmannya.
2)
Ajaran-ajaranya
yang lain ialah:
§ Keterikatan kehendak manusia: Manusia
secara total tidak mampu mematuhi Allah.
§ Sakramen dan imamat seluruh orang percaya:
seluruh orang percaya adalah imam, sehingga tidak perlu lagi ada imam yang
menjadi perantara manusia dengan Allah. Dan setiap orang boleh melayani jemaat
atau gereja, asalkan jemaat atau gereja itu sendiri memberi izin kepadanya.
§ Persekutuan orang-orang kudus: tidak seorangpun mempunyai hak melayani
sakramen, tanpa persetujuan jemaat itu sendiri.
§ Mengenai ibadah atau missa: Ibadah boleh
dilayani dalam bahasa setempat, karena bahasa Latin sulit dimengerti. Dalam
ibadah, khotbah atau pemberitaan Firmanlah yang menjadi sentral dan dalam ibadah itu warga jemaat turut
berpartisipasi secara aktif melalui nyanyian. Untuk itulah M.Luther menyusun
nyanyian-nyanyian dalam gereja.
11.4.
Hukuman
yang dikenakan kepada M.Luther
§ Karena M.Luther bertahan dengan
ajaran-ajarannya maka tanggal 15 Yuni1520, Paus mengeluarkan bulla kepada
M.Luther. ( bullah adalah surat resmi dari paus tentang sesuatu pokok
persoalan). Dalam bulla itu 41 ucapan M.luther ditolak, dan jika dia tidak
bersedia menarik kembali perkataan-perkataannya
dalam waktu 60 hari, maka dia
akandipandang sebagai penyesat yang harus dikenakan hukuman gereja. Tetapi
bulla itu dijawab oleh M.Luther dengan sebuah surat yang berjudul: “Melawan
bulla yang terkutuk dari si Anti
Kristus”. Lalu bulla itu dibakarnya tanggal 10 Desember 1520 di depan pintu
gerbang kota Wittenberg, di hadapan
koleganya para guru-besar dan para mahasiswa. Dan bersama dengan bulla
itu dia juga membakar kitab Undang-undang Gereja RK, karena menurutnya kitab
itulah yang mendasari banyak kekeliruan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan
oleh paus.
§ Tanggal 3 Januari 1521, paus mengeluarkan lagi bulla yang kedua,
yakni sebuah bullah kutuk kepada M.Luther, tetapi bulla itu tidak banyak lagi
mendapat perhatian orang banyak.
§ Tanggal 18 April 1521, Kaisar Karel V
memanggil M.Luther agar datang ke sidang kekaisaran yang diadakan di kota
Worms untuk memberi pertanggung-jawaban
atas perbuatan-perbuatan dan tulisan-tulisannya. Walaupun pada waktu itu Kaisar
memberi jaminan atas keselamatan M.Luther dalam perjalanan pulang-pergi ke
sana, namun sahabat-sahabatnya takut bahwa dia akan ditangkap dalam perjalanan,
yang oleh sebab itu M.Luther diminta untuk tidak pergi ke sana. Tetapi
M.Luther berkata kepada
sahabat-sahabatnya itu: “Biarpun di Worms ada setan sebanyak genteng di atas
rumah, aku akan pergi juga.” Pembelaan
M.Luther di hadapan kaisar dan raja-raja pada sidang kekaisaran itu menjadi
terkenal. Wakil paus menuntut supaya M.Luther memungkiri serta menarik segala
pandangannya yang dianggap sesat itu. Tetapi M.Luther menjawab: “Sebagai
manusia saya yakin bahwa saya bisa
sesat. Tetapi hendaklah saya diperbolehkan menuntut supaya dari Firman Allah
dibuktikan bahwa saya sesat”. Tetapi bukti yang dituntut oleh M.Luther tidak
pernah ada diberikan oleh pihak paus. Karena itu M.Luther tidak mau menarik
ajaran-ajarannya dan di hadapan kaisar, paus dikecam oleh M.luther telah berkali-kali
sesat.
§ Walaupun masyarakat Jerman menghormati
M.Luther selaku pahlawan mereka, namun Kaisar Karel V yang memimpin kekaisaran
Jerman pada waktu itu mengeluarkan Edik Worms.
Dalam Edik yang dikeluarkan tanggal 26 Mei 1521 itu Luther dan
pengikut-pengikutnya dikucilkan dari masyarakat dengan “kutuk kekaisaran”.
Segala karangan M.Luther diperintahkan
harus dibakar, dan M.Luther dinyatakan bisa ditangkap atau dibunuh oleh
siapapun yang menemukannya. Dari sidang di Worms itu M.Luther disuruh pulang
lebih dahulu, sebelum edik itu dikeluarkan. Tetapi ketika kereta kudanya
melintasi hutan, keretanya disergap sepasukan orang berkuda yang bersenjata.
Orang menyangka bahwa musuhnyalah yang menangkap M.Luther, tetapi sebenarnya
raja Fiederick yang Bijaksanalah yang menyuruh pasukan itu untuk menyelamatkan
M.Luther. Dia kemudian disembunyikan di
rumah seorang bangsawan di Wartburg.
Selama sepuluh bulan dia tinggal di sana dengan berpakaian kesatria dan memakai
nama samaran yaitu: “Pangeran George”.
Tetapi selama itu, dia mulai menerjemahkan Alkitab itu ke dalam bahasa Jerman,
yang selama beberapa bulan saja, dia sudah selesai menerjemahkan Kitab
Perjanjian Baru. Dan selain itu dia juga
menulis buku-buku yang lain, antara
lain: Kitab rencana khotbah, yang dimaksudkan untuk para pendeta yang membutuhkan tuntunan dalam hal
berkhotbah.
11.5.
Kembali
ke Wittenberg
Setelah hampir satu tahun di Wartburg, dia
kembali lagi ke Wittenberg, meneruskan pekerjaannya sebagai mahaguru di sana, dan juga meneruskan pekerjaan reformasi itu.
Setelah mereformasi banyak ajaran gereja RK, sekarang dia mulai memperbaharui
tata ibadah. Sesuai dengan prinsip
reformasinya bahwa yang perlu diubah
hanyalah apa yang nyata bertentangan dengan Alkitab, maka dalam tata
ibadah itu, M.luther masih banyak mempertahankan bentuk tata-ibadah yang lama.
Sesudah salam-berkat, jemaat mengaku dosanya dan pengampunan diberitakan, lalu
Alkitab dibacakan, khotbah disampaikan,
kemudian ada perayaan sakramen. Beberapa
perubahan yang terjadi dalam tata-ibadah itu
yakni:
Pertama, perubahan bahasa. Karena ibadah
menurut dia juga dimaksudkan untuk
menyampaikan Firman kepada warga jemaat, maka bahasa ibadah yang lama yaitu
bahasa Latin diganti menjadi bahasa Jerman, agar bisa dimengerti oleh warga
jemaat itu.
Kedua,
pengertian mengenai makna ibadah
berubah secara asasi. Sepertti sudah disinggung di atas, dalam ibadah
yang lama (RK), yang menjadi pusat adalah perayaan Sakramen, dimana diyakini
terjadi lagi pengulangan korban Kristus secara tidak berdarah. Dan melalui
penerimaan Sakramen itu, berlangsung penyaluran anugerah yang menjadikan orang
yang menerimanya sanggup berbuat sesuai dengan kehendak Allah. Tetapi menurut M.luther, makna ibadah bukan
pengorbanan Kristus dalam Missa, dan bukan juga penyaluran anugerah, tetapi
pemberitaan rahmat Tuhan bagi setiap orang yang mau mendengar. Pemberitaan
rahmat Tuhan itu terjadi dalam
Pemberitaan Firman, dan dalam pelayanan Sakramen yang menandai dan
memperlihatkan apa yang dinyatakan dalam Pembeitaan Firman itu. Karena itu
dalam setiap ibadah pemberitaan Firman atau khotbah harus ada.
Ketiga, adanya kegiatan atau partisipai
aktif dari warga jemaat di dalam ibadah itu. Pada zaman gereja mula-mula,
ibadah diselingi dengan nyanyian jemaat.
Pada zaman Pertengahan warga jemaat
semakin tidak aktif. Tetapi M.luther memulihkan kembali keaktifan dari warga
jemaat, terutama melalui nyanyian.
13.6. Sedikit mengenai bapak-bapak Reformator lain:
Reformasi yang dicetuskan Martin Luther
ternyata tidak hanya berpengaruh di
Jerman, tetapi juga di daerah-daerah lain, khususnya di Swiss. Oleh
pengaruh M.luther, di sana muncul dua orang reformator, yakni UlrichZwingli dan
Yohannes Calvin.
Reformasi
di Swiss dimulai oleh Ulrich Zwingli
(1484- 1531), seorang imam di kota Zurich. Dia dididik sebagai seorang
humanis, dan termasuk salah seorang teman dari humanis yang terbesar pada waktu
itu, yakni Desiderius Erasmus. Walaupun dia juga terpemgaruh oleh pengajaran
Luther, tetapi Zwingli mungkin dapat juga disebut sebagai seorang “humanis yang radikal”. Zwingli memang mempunyai banyak pandangan
yang sama dengan Luther, tetapi
kadang-kadang dengan alasan-alasan yang berbeda. Misalnya, walaupun Luther dan
Zwingli percaya mengenai "“predestinasi", dalam arti bahwa Allah sendirilah yang
menyelamatkan kita, karena apa yang kita perbuat. Tetapi Luther mempercayai hal
ini karena dia yakin, bahwa kasih Allah lebih besar dari dosa kita. Sedang di
pihak lain, Zwingli mempercayai ini karena dia berfikir bahwa Allah adalah
sumber dari segala sesuatu yang terjadi, termasuk keselamatan kita. Pandangan
Zwingli ini masih banyak dipengaruhi
oleh pandangan Thomas Aquinas.
Zwingli
adalah orang yang banyak berkecimping dalam pertempuran, dan yang banyak melayani sebagai seorang imam
khusus bagi tentera-tentera di Zurikh. Pada waktu itu Swiss dikenal sebagai
gudang tentera-tentera bayaran bagi Paus, dan dia sendiri mati dalam peperangan
antara kota-kota Katolik dan kota-kota reformatoris tahun 1531. Dia sangat
populer di tengah-tengah masyarakat Zurich karena dia bertahan di kota itu
ketika berjangkitnya wabah penyakit pes di sana dan merawat orang yang sakit.
Zwingli
memulai karya sebagai seorang Reformator
dengan mengkhotbahkan serangkaian
khotbah yang didasarkan langsung kepada
teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Dua pokok pengajaran Zwingli yang paling penting ialah:
1.
Alkitab
itu adalah penuntun yang lengkap bagi kehidupan Kristen
2.
Pengajaran
pokok dari Alkitab itu ialah
pemerintahan langsung dari Allah atas dunia dan kehidupan manusia.
Dalam
pengajarannya bahwa Alkitab itu
benar-benar sebagai penuntun yang lengkap kepada kehidupan, maka menurut Zwingli orang-orang Kristen terikat kepada apa yang Alkitab ajarkan dan
yang lain sama sekali tidak ada. Sehubungan dengan kepercayaan ini, suatu
ibadah yang sama sekali baru dan sederhana, didasarkan sama sekali atas
Alkitab, Walaupun Zwingli tergolong
kepada seorang ahli teologi yang radikal, tetapi dia juga seorang konservatif dan praktis dalam cara-cara yang
lain. Dia merasa bahwa Dewan Kota mempunyai hak untuk memutuskan bagaimana
ibadah yang seharusnya. Dalam dalil-dalilnya yang terdiri dari 67 artikel, dia menekankan bahwa
hanya Kristus Juruselamat dan pengantara. Dia menolak primasi kepausan, menolak
missa, menolak pemujaan orang-orang kudus, puasa, selibat, api penyucian, dll.
Dalil-dalilnya itu dipertahankan dalam perdebatan yang diundang oleh Dewan kota di Zurich tahun
1523. Dewan kota mendukung kepada
ajaran-ajarannya, yang sejak itu terjadilah
pembaharuan yang besar di
kalangan jemaat dan orang-orang Kristen di Zurikh.
Suatu
pandangannya yang sangat berbeda dan
yang tidak bisa diperdamaikan dengan Martin Luther ialah mengenai Perjamuan
Kudus. Bagi M.luther Perjamuan Kudus adalah perbuatan yang paling penting dalam gereja,
yang di dalamnya Kristus hadir secara nyata
dalam tubuhnya. Tetapi dia percaya bahwa itu terjadi hanya karena kasih setia Allah kepada
umatnya, bukan karena kata-kata yang diucapkan oleh imam yang melayani. Dan
menurut Luther, Allahlah yang
mempersembahkan tubuh dan darah Kristus, bukan Gereja. Dan Perjamuan Kudus
bukan suatu korban Kristus yang baru
bagi dosa-dosa manusia, sebagaimana diajarkan oleh gereja RK. Perjamuan Kudus
itu adalah persekutuan dengan Kristus. Dan dalam Perjamuan Kudus zat dari roti dan anggur tidak berobah,
tetapi Kristus hadir bagi setiap yang
makan dan minum , di bawah, bersama dan di dalam roti dan anggur itu.
Tetapi
Zwingli memahami Perjamuan Kudus dalam cara yang berbeda. Dia mengajarkan
bahwa Perjamuan Kudus itu adalah suatu peringatan akan kematian Kristus, suatu janji kesetiaan kepada Juruselamat itu,
dan suatu proklamasi umum mengenai
keselamatan yang dibawanya. Untuk itu roti dan anggur hanyalah sebagai simbol atau tanda dari tubuh dan darah Kristus. Simbol atau tanda
tidak dapat menjadi satu dan sama dengan
hal yang disimbolkan atau ditandakan.
Perbedaan
pandangan dari M.Luther dan Zwingli pernah dipercakapkan dalam Percakapan di Marburg tahun 1529, yang
diprakarsai tokoh-tokoh reformator lainnya yang lebih moderat, seperti Martin
Bucer. Dari lima belas fasal perdamaian
yang dikemukakan pada waktu itu, empat
belas dapat mereka sepakati, tetapi satu
pokok yang tidak dapat memperoleh kesepakatan ialah mengenai Perjamuan Kudus,
yang juga banyak menjadi pokok persengketaan di kalangan golongan Protestan,
termasuk juga antara Luther dengan Calvin di kemudian hari.
Yohannes
Calvin (1509 – 1564).
Di adalah salah seorang Sarjana Hukum Perancis, tetapi mulai tahun 1533 dia berminat pada ilmu teologi karena pada waktu itu dia merasa terpanggil untuk
menjadi pelayan Allah. Sejak tahun 1524, ketika dia belajar ilmu hukum di Orleans Perancis, dia telah berjumpa
dengan seorang pengikut Luther, dan tertarik kepada reformasi M.Luther. Dia
kemudian menjadi salah seorang pengikut reformasi Luther. Tetapi akibat dari
ketetapan hatinya itu, dia harus
meninggalkan Perancis, karena pada waktu
itu sedang terjadi penghambatan yang besar terhadap pengikut Reformasi dari
raja setempat yang setia kepada RK. Akhirnya dia meninggalkan negerinya itu dan
menjadi pendeta di kota Jenewa Swiss. Di tempat inilah dia menjalankan
reformasinya. Dan di sinilah dia tahun
1536 menyelesaikan bukunya yang sangat terkenal yang diberi judul: “Pengajaran agama Kristen”, yang biasa disebut Institutio, karena judul aslinya dalam bahasa Latin adalah: Institutio Christianae Religionis. Buku yang
pada mulanya diterbitkan tanpa nama pengarangnya itu, yang dipersembahkan kepada Raja Perancis,
Frans I, untuk
menerangkan keikhlasan dan kejujuran ajaran
Kristen yang Injli, dan mempertahankan
kebenaran ajaran-ajaran itu, serta membela pengikut-pengikut ajaran itu dari fitnahan yang dikenakan kepada mereka.
Tetapi buku ini disambut dengan pembakaran
resmi di Perancis oleh sang raja.
Di
Jenewa dia banyak memperbaiki kehidupan moral
masyarakat di kota itu yang sangat buruk: suka mabuk, berjudi, berzinah
dan lain-lain. Untuk itu Calvin berusaha mengatur kehidupan masyarakat Jenewa
menurut cita-cita teokrasi.
Dalam
banyak hal, Calvin mengikuti ajaran Luther, misalnya ajarannya yang
mengatakanbahwa Alkitab sebagai dasar
satu-satunya kebenaran, dan ajaran tentang Pembenaran oleh iman. Dan
pikiran-pikirannya dalam buku Institutionya itu
banyak didasarkan pada pikiran-pikiran Paulus dalam surat Roma. Tetapi pengajaran Calvin
yang berbeda dengan Luther ada dua hal, yakni: tentang Gereja dan Perjamuan
Kudus.
Pertama, tentang gereja:
Bagi Luther gereja yang benar terdiri dari
orang-orang percaya yang benar dan hanya
Allah yang tau dengan sesungguhnya siapa
mereka. Gereja yang kita lihat di dunia adalah lembaga yang kelihatan, yang
mempunyai bangunan di mana orang dapat
berkumpul untuk mendengar Firman Allah dan merayakan sakramen. Sedangkan Calvin percaya bahwa gereja
menjadi suatu lembaga bagi pendidikan
Kristen, di mana orang-orang dipangil bukan hanya bertobat dan percaya, tetapi
juga mengajarkan bagaimana hidup Kristen
dalam jalan yang praktis. Karena itu gereja yang dapat dilihat sangat penting
bagi Calvin. Dia percaya bahwa gereja itu harus diatur dengan sungguh-sungguh sesuai dengan
ajaran Pejanjian Baru. Tidak cukup kalau
Firman diberitakan, dan Sakramen dirayakan, tetapi seluruh kehidupan, baik
hidup perorangan, maupun hidup masyarakat, harus diatur sesuai dengan kehendak
Allah. Pemerintah ikut bertanggung-jawab untuk ini, yakni untuk mendukung
gereja dan menghilangkan segala sesuatu
yang berlawanan dengan pemberitaan yang sejati. Mereka yang tetap
membandel harus dikucilkan. Untuk
inilah dia tahun 1541 menyusun sebuah
tata gereja yang baru, yang diberi nama: Undang-undang
gerejawi. Di samping jabatan pendeta, Calvin juga mendirikan jabatan
penatua dan diakon (syamas) seperti yang ada dalam P.B. Penatua melaksanakan
pemerintahan dalam gereja dan secara khusus melaksanakan disiplin gereja ;
sedangkan diakon-diakon bertugas memelihara orang-orang miskindan orang sakit.
Penatua dipilih dari dan oleh jemaat
untuk waktu tertentu. Dengan bentuk pemerintahan gereja oleh para penatua ini,
di mana pemerintahan gereja bukan dari bawah
dan bukan dari atas, tetapi oleh majelis
penatua. System ini disebut Presbyterial.
Ajarannya tentang Perjamuan Kudus:
Sebagaimana halnya reformator yang mendahuluinya di Swiss
yakni Zwingli, Calvin juga mempunyai pandangan yang berbeda dari Luther tentang
Perjamuan Kudus, walaupun mereka sama-sama menolak ajaran “transubstansiasi”
RK. Dalam ajaran transubstansiasi RK, zat dari roti dan anggur benar-benar
berubah menjadi tubuh dan darah Kristus setelah imam yang melayani mengucapkan kata-kata yang
pernah diucapkan oleh Yesus pada waktu melakukan Perjamuan dengan
murid-muridnya. Ajaran Luther masih mirip dengan ajaran RK, di mana dia
mengatakan bahwa Yesus Kristus benar-benar hadir dalam Perjamuan Kudus dengan tubuh dan darahnya bersama-sama dengan
roti dan anggur, dengan tindakan Allah bukan tindakan manusia. Sedangkan Calvin
mengajarkan, kehadiran Kristus dalam Perjamuan itu adalah kehadiran rohani, dan
Kristus itu hanya datang bagi orang-orang percaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar